NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:94.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beri aku waktu untuk sendiri

Tiara sedang berjalan pulang menuju rumahnya sambil membawa dua bungkus nasi uduk.

Saat hendak memasuki halaman rumah, ia melihat seorang pria berdiri tak jauh dari pagar. Pria itu tampak mondar-mandir sambil sesekali melirik ke arah rumah mereka. Karena sama-sama tidak memperhatikan langkah, keduanya nyaris bertabrakan.

“Punya mata nggak sih?” bentak Tiara kesal.

“Ups... maaf,” jawab pria itu sambil mengangkat kedua tangannya.

Namun alih-alih segera pergi, pria tersebut justru memperhatikan Tiara beberapa saat. Tanpa sadar, matanya mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Baginya, Tiara adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat dari jarak sedekat itu. Tubuhnya ramping, kulitnya cerah, dan rambut panjangnya yang terurai tampak berkilau terkena sinar matahari pagi.

Meski hanya mengenakan pakaian rumah dan rambutnya masih sedikit berantakan, kecantikannya tetap sulit diabaikan. Pria itu sampai berdecak kagum dalam hati.

“Ngapain lihat-lihat?” bentak Tiara lagi.

Pria itu tersentak.

“Nggak kok.”

Tiara menatapnya tajam selama beberapa detik sebelum akhirnya berlalu menuju rumah.

Sementara itu, pria berambut gondrong yang membawa gitar tersebut masih berdiri mematung. Pandangannya terus mengikuti sosok Tiara hingga gadis itu menghilang di balik pintu rumah.

“Siapa ya, nama gadis itu?” gumamnya.

Entah kenapa ia jadi penasaran.

“Tunggu dulu... kenapa dia masuk ke rumah Yudha? Jangan-jangan dia saudaranya Yudha?”

Pria itu tak lain adalah Ucok, pengamen yang kemarin disewa Yudha untuk menjebak Kinanti. Sayangnya, rencana itu gagal total karena Daffa lebih dulu menemukan dirinya tertidur di kamar Yudha.

Ucok menggaruk tengkuknya sambil terus menatap rumah bercat biru itu. Saat itulah seorang ibu paruh baya melintas di depannya.

“Maaf, Bu,” panggil Ucok.

Perempuan itu berhenti dan menoleh.

“Iya?”

“Saya mau tanya. Yudha itu punya saudara berapa?”

Perempuan itu langsung mengernyit curiga.

“Kamu siapa kok tanya-tanya soal keluarganya Yudha?”

Ucok terkekeh canggung.

“Ehm... Saya cuma penasaran saja.”

Perempuan itu masih menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.

“Yudha itu anak sulung. Dia punya adik perempuan namanya Tiara dan adik laki-laki namanya Daffa.”

“Oh... begitu ya.”

“Sudah ya. Saya buru-buru.”

Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu kembali melanjutkan langkahnya.

“Ternyata benar... gadis itu adiknya Yudha,” gumam Ucok.

Beberapa detik kemudian ia menggeleng cepat.

“Ngapain juga mikirin cewek segala?”

Ia menertawakan dirinya sendiri.

Padahal tujuan kedatangannya pagi itu bukan untuk memikirkan Tiara. Ia datang untuk menagih upah yang dijanjikan Yudha. Meski tugasnya gagal, menurutnya ia tetap berhak mendapatkan bayaran.

Ucok lalu kembali menatap rumah Keenan. Hari itu akhir pekan. Sekolah sedang libur. Kalau beruntung, Yudha pasti ada di rumah dan ia bisa langsung meminta penjelasan sekaligus menagih uang yang sampai sekarang belum ia terima.

Pria itu merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponsel jadul miliknya. Dengan cepat ia mencari nomor Yudha dan menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar beberapa kali, namun, tak ada jawaban. Ucok mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Tetap tidak diangkat.

"Sial! Pasti anak itu sengaja menghindar!" gerutunya kesal.

Ia kembali menekan tombol panggil berkali-kali. Sayangnya hasilnya tetap sama. Yudha tak pernah menjawab teleponnya. Rasa kesal mulai menguasai dirinya. Dengan rahang mengeras, Ucok mencoba menghubungi nomor itu sekali lagi.

Kali ini panggilannya bahkan tak tersambung.

Ucok terdiam beberapa saat. Lalu ia mencoba sekali lagi. Tetap gagal. Seketika wajahnya berubah muram.

"Brengsek!" umpatnya geram.

Ia akhirnya sadar. Nomornya telah diblokir.

"Setelah nolak ngasih upah, sekarang nomor gue diblokir? Kurang ajar banget tuh bocah!"

"Kamu kan yang kemarin di rumah Pak Keenan. Ngapain di sini?"

Ucok menoleh cepat. Seorang warga yang kemarin ikut berkumpul saat Daffa berteriak memanggilnya perampok sedang berdiri beberapa meter darinya.

Ucok langsung memasang senyum canggung.

"Nggak apa-apa, Pak. Kebetulan lewat saja."

Meski pria itu tidak terlihat sepenuhnya percaya, ia tidak bertanya lebih jauh.

Ucok pun tak punya pilihan selain meninggalkan tempat itu. Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju pada rumah bercat biru itu. Rumah yang menjadi awal dari semua kekesalannya.

Beberapa detik kemudian, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Kamu mau main-main sama Ucok ya?"

Matanya menyipit.

"Baiklah... gue ikuti permainan lo."

Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

"Kalau lo nggak mau main secara baik-baik, berarti kita main dengan cara yang lebih kasar."

Ucok melanjutkan langkahnya. Sementara itu, tanpa Yudha sadari, masalah yang selama ini berusaha ia tutupi perlahan mulai berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dan ketika saat itu tiba... Bukan hanya dirinya yang akan terkena akibatnya.

Sementara itu, Kinanti baru saja selesai membereskan kamar kostnya yang sederhana. Meski tidak luas, tempat itu cukup nyaman untuk ditinggali.

Di sudut kamar, Daffa sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan dan robot kesayangannya. Wajah bocah laki-laki itu tampak ceria, seolah tak pernah terjadi apa pun. Kepolosan anak-anak memang sering kali menjadi penawar luka bagi orang-orang dewasa di sekitarnya.

“Daffa... ikut Tante belanja, yuk,” ajak Kinanti sambil merapikan jilbabnya.

Daffa langsung menoleh dengan mata berbinar.

“Aku boleh beli es krim nggak, Tante?”

Kinanti tersenyum.

“Boleh dong.”

“Asyik!”

Bocah itu segera bangkit dari lantai. Sebelum pergi, ia menoleh ke arah mainan-mainannya yang masih berserakan.

“Kalian aku tinggal sebentar ya. Jangan berkelahi.”

Kinanti tak kuasa menahan senyum melihat tingkah lucu Daffa.

“Ayo, Tante.”

Kinanti baru saja hendak melangkah menuju pintu ketika ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Ia meraih ponsel itu dan melihat nama pengirim pesan….Keenan.

Perlahan ia membuka pesan tersebut.

>>Terima kasih... makanannya enak sekali. Aku berharap kamu mau kembali ke rumah ini dan kita bisa makan bersama lagi>>

Mata Kinanti seketika terasa panas. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya. Jujur saja, ia tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan Keenan. Apalagi setelah pria itu selalu berusaha membelanya dan memperlakukannya dengan begitu baik.

Namun, apa yang dilakukan Yudha dan Tiara sudah melampaui batas kesabarannya. Ia butuh waktu. Butuh ruang untuk menenangkan hati dan pikirannya.

“Pesan dari Ayah ya, Tante?” tanya Daffa yang berdiri di sampingnya.

Kinanti mengangguk pelan.

“Ayah bilang apa?”

“Ayahmu mengucapkan terima kasih. Katanya masakan Tante enak.”

Beberapa saat kemudian Daffa kembali berkata,

“Ehm... Tante.”

“Ya?”

“Gimana kalau kita ajak Ayah tinggal di sini?”

Kinanti mengernyit heran.

“Tinggal di sini?”

“Iya. Biar Tante nggak capek-capek kirim makanan buat Ayah setiap hari.”

Ucapan polos itu membuat hati Kinanti menghangat sekaligus terasa nyeri.

“Nggak bisa begitu, Sayang. Karena Mas Yudha dan Mbak Tiara nggak mungkin tinggal sendirian di rumah.”

Daffa langsung menggembungkan pipinya. “Mas Yudha sama Mbak Tiara sudah jahat sama Tante. Biarin saja mereka tinggal berdua.”

Kinanti hanya tersenyum tipis. Ia paham Daffa sedang kecewa. Namun, bagaimanapun juga Yudha dan Tiara tetap kakak-kakaknya.

“Ayo, kita belanja sekarang.”

Daffa mengangguk semangat.

Kinanti kembali menatap layar ponselnya. Matanya berhenti pada pesan dari Keenan selama beberapa detik. Jarinya sempat bergerak, seolah ingin membalas. Namun akhirnya ia mengurungkan niat itu. Perlahan ia mengunci layar ponselnya.

“Maaf, Mas. Aku masih butuh waktu untuk sendiri.”

1
Rosmazita Imah
ayu selfish.
Arin
Semoga keputusan yang di ambil Ibu Salma, Kinanti dan Kenaan benar. Dengan mengikatkan dulu Mahesa dan Kalila dalam pertunangan. Biar mereka melakukan penjajakan perasaan, apakah akan di lanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak berjodoh.
Dan untuk Ayu lebih baik Mahesa kasih pemahaman kepadanya. Jangan buat Ayu terus berharap kepada nya....
sri hastuti: mahesa hrs tegas ,jngn lemah, jd laki2 hrs tegas ,ada batasan. terangkan , jngn dibiarkan ayu semaunya sendiri, dasar egois .
betul bu salma,disegerakan saja antara mahesa dngn kalila , gak sabar thor , 😡😡😡
total 1 replies
sri hastuti
alaaahhh drama, awas ya thor kl smp mahesa sm Kalila batal, biar dirasakan ayu, aku gak simpati sama sekali, dasar arogan dan egois, kyk ibunya, biar dirasakan, suka kok dipaksakan, 😡😡😡
sri hastuti
bagus thor akhirnya mahesa sm kalila ,aku kasih 👍 buat bu salma yg tegas , jd hrs ada batasan , 👍👍👍
pokoknya mahesa cm cocok sm kalila ,gak ada yg lain 👍👍👍
Arin
Lebih baik sakit pas baru memulai. Daripada sakit terjadi ketika sudah menjalin hubungan tapi di sakiti
My_Sunshine: betul-betul-betul😅
total 1 replies
sri hastuti
ayo thor, segera mahesa sm kalila , biar ayu sadar, dan ternyata sifat ayu jelek spt ibunya , tambah gak cocok sm mahesa 😡😡
Arin
Segerakan perjodohan dengan Kalila dan Mahesa. Biar Ayu segera sadar, kalau memang dari awal Mahesa bukan hanya menghindarimu dan tidak pernah memberi harapan dengan membalas pesan-pesanmu.
Rosmazita Imah
bagus. mahesa tetap jaga jarak. jangan di layan si ayu tu. sama je perangai dgn mak dia
sri hastuti
semoga segera terlaksana ,antara mahesa sm kalila thor, biar mereka berdua bahagia, singkirkan ayu , yg sombong itu 🙏😡😡
sri hastuti
lha gitu mahesa km hrs tegas ,gak usah ragu2, tolak aja ayu, perempuan kok gak punya harga diri , sombong ,gak cocok kl sm mahesa😡😡😡
Rosmazita Imah
ayu eh. kalau org x respone tu. maksudnya, org x berminat la ke awak. malu eh.
sri hastuti
alaaahh emang km sombong bu, sdh aku jugabgak suka kl ayu sm mahesa thor, lbh baik sm kalila aja thor,
dasar ayu juga gakbtau diri sdh gak di respon kok msh kejar2 mahesa 😡😡
sri hastuti
tolak aja ayu, mahesa,jangan mau ,km lebih baik sm kalila aja, buat sm ayu km akan diremehkan nanti ,
ayo thir ,jangan mahesa sm ayu lho ya 😡😡
Rosmazita Imah
terus terang je la mahesa. balik nanti saya akan menikah dgn kalila. biar ayu sedar diri. yg dia x ada makna pun.
Rosmazita Imah
jgn bermimpi la bu elina. mahesa pun x pandang dgn si ayu anak awak.
Arin
/Heart/
sri hastuti
bagus ozi, sdh relakan yg penting km sdh jadi baik, tata kembali masa don mu , 👍
thor ingat lho ,mahesa jangan sm ayu ,gak pas 🙏😡
Rosmazita Imah
bagus la. x nak. mahesa pun x tertarik pun pada anak awak bu elina oi. anak awak yg terhegeh2
ika
bagussss....
emang Mahesa bukan jodoh ayu
Mahesa mau nya ma Khalila
Arin
Bagus Bu Elina jangan sampai merestui hubungan Ayu. Biar Mahesa berjodoh dengan Kalila saja
sri hastuti: sdh betul itu jangan setuju ayu sm mahesa ,aku juga gak setuju,buar mahesa sm kalila aja thor, orng sombong gitu biar dpt karmanya 😡😡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!