NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Makan Malam

...----------------...

Sore itu, langit Jakarta tampak kontras dengan kegugupan yang merayap di dadaku. Aku menjemput Astrid tepat di depan rumahnya. Dia sudah menunggu di teras dengan pakaian yang sangat sederhana namun sopan; dress selutut berwarna navy yang dipadukan dengan kardigan rajut. Dia tampak anggun, namun aku bisa melihat sorot cemas di matanya.

Astrid masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang sedikit kaku. Aku bisa melihat tangannya gemetar di atas pangkuan. Untuk meredakan ketegangan, aku mulai menjelaskan medan perang yang akan kami hadapi malam ini.

"Strid, lu tenang aja ya," ucapku sambil menjalankan mobil. "Gue bakal kasih tahu briefing singkat soal kakak-kakak gue biar lu gak kaget."

Astrid menoleh, matanya yang menatapku cemas. "Gue beneran takut, Ka. Kalau nanti mereka nolak gue gimana? Kalau mereka ngetawain latar belakang gue gimana?"

"Enggak bakal. Dengerin gue dulu," aku menarik napas panjang. "Kak Andra, dia yang tertua. Dia tipe orang yang dingin, jarang senyum, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya itu kayak silet tajem banget. Dia bakal nanya hal-hal yang paling penting soal hidup lu. Jadi, jawab aja jujur, jangan pernah bohong sama dia, dia punya insting detektif yang gila."

Astrid menoleh padaku, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Terus yang cewek? Kak Zalya?"

"Zalya itu ratu dominasi. Dia bakal nanya hal-hal yang bikin lu merasa diinterogasi kayak lagi di kantor polisi. Dia suka banget mendominasi perbincangan. Mungkin dia bakal nanya soal cita-cita, masa lalu, bahkan mungkin cara lu ngadepin masalah. Kuncinya? Jawab dengan percaya diri. Jangan kelihatan takut, dia paling gak suka sama orang yang lemah."

"Oke, oke... terus Kak Hendra?"

"Hendra paling santai di antara kita semua. Dia gak terlalu mendominasi, tapi dia jenius. Dia bakal nanya hal-hal yang mungkin terdengar remeh, tapi sebenarnya itu pertanyaan jebakan buat ngetes logika dan integritas lu. Dia tipe yang tenang tapi mematikan kalau lu kasih jawaban yang gak masuk akal."

"Terakhir, Ellisya," aku tertawa kecil. "Dia masih SMP, pikirannya masih anak-anak. Jangan kaget kalau dia nanya hal-hal yang di luar konteks, kayak 'Kak Astrid suka kartun apa?' atau 'Kenapa mata Kakak warnanya beda?'. Jawab aja seadanya, dia justru yang paling polos di antara kita semua."

Astrid tersenyum kecil, justru terlihat bersemangat. "Wah, kayak lagi mau ikut audisi masuk perusahaan besar ya? Lucu juga bayangin mereka semua duduk di satu meja."

Aku tertawa getir. "Bukan audisi, Strid. Ini lebih mirip sidang terbuka tanpa pengacara."

Astrid terdiam, jemarinya bertaut erat. "Gue cuma cewek biasa, Arka. Kenapa gue harus ngelewatin semua ini?"

"Karena lu bukan cuma cewek biasa buat gue sekarang," jawabku pelan. Astrid tertegun, wajahnya sedikit bersemu merah, namun kecemasannya belum hilang sepenuhnya.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah, aku berusaha menenangkan diri dengan memberi briefing soal "medan perang" yang akan kami hadapi.

...****************...

Begitu mobil memasuki gerbang rumah yang luas dan mewah itu, Astrid terperangah. Dia menatap arsitektur bangunan yang megah dengan mulut sedikit terbuka. "Ka, ini rumah lu? Gila, kayak istana."

"Iya. Ayo," aku menggandeng tangannya. Tangan Astrid sedingin es.

Kami berjalan pelan menuju ruang makan. Udara di dalam rumah terasa dingin menusuk, entah karena pendingin ruangan atau karena aura ketegangan yang menanti kami. Tiba-tiba, langkahku terhenti. Aku menatap mata Astrid yang tampak jernih, tanpa tertutup oleh softlens yang biasanya dia pakai.

Di tengah lorong panjang yang menuju ruang makan, langkah kami melambat. Aku baru menyadari sesuatu yang krusial. "Astrid, tunggu," aku berhenti dan menatap matanya. "Tumben lu gak pake softlens?"

Astrid menatapku balik dengan tatapan yang tenang namun tegas. "Hmm, gue mau tampil sejujur-jujurnya di hadapan saudara-saudara lu, Ka. Kalau mereka mau nerima gue, mereka harus nerima gue apa adanya, termasuk kekurangan gue ini. Gue gak mau pura-pura sempurna di depan mereka."

Aku tertegun. Keberaniannya membuatku merasa sangat kecil. "Lu yakin? Mata itu... bakal jadi hal pertama yang mereka perhatiin."

"Gue yakin. Kejujuran adalah satu-satunya senjata yang gue punya malam ini," jawabnya mantap.

Kami berjalan kembali, dan aku bisa merasakan udara dingin yang menusuk dari ruang makan yang megah di ujung lorong. Setiap langkah terasa berat. Hati ku tidak tenang, dan aku tahu Astrid pun sedang menahan napas.

Saat kami sampai di depan pintu ruang makan, aku mendorongnya pelan. Pemandangan di depan kami sungguh mengintimidasi. Meja makan panjang yang mengkilap sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan mewah.

Di ujung meja, Kak Andra duduk dengan punggung tegak, menatap pintu dengan mata tajam yang seolah bisa menembus kulit. Kak Zalya duduk di sisi kiri dengan gaya elegan namun matanya sudah meneliti Astrid dari ujung rambut sampai kaki. Kak Hendra tampak sedang memutar-mutar gelas kristalnya, sementara Ellisya duduk dengan wajah penasaran yang polos.

Wajah mereka tampak begitu mengintimidasi, terutama tatapan Kak Andra yang tidak berkedip sejak kami masuk.

"Selamat malam saudara Saudara tercinta ku" ucapku dengan suara yang sedikit bergetar.

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Kak Andra meletakkan garpunya dengan suara denting yang nyaring, suara yang menggema di seluruh ruangan. "Duduk, Arka. Dan bawa temanmu itu ke sini."

Astrid melangkah pelan, menjaga postur tubuhnya tetap tegak meski aku tahu dia ingin sekali menghilang dari tempat itu. Saat Astrid duduk tepat di seberang Kak Andra, suasananya terasa seperti di dalam ruang interogasi.

Baru saja kami duduk, Ellisya, si bungsu, langsung melontarkan pertanyaan tanpa basa-basi. "Kakak, make softlens ya? Kok yang satu warnanya beda? Kenapa cuma pake satu?"

"El, itu bukan pertanyaan pembuka obrolan yang sopan!" tegur Kak Zalya tajam.

Namun, Astrid justru tertawa kecil. "Halo, kamu pasti Ellisya yaa. Mata ini namanya heterochromia, bawaan lahir. Keren kan, kayak punya dua dunia di mata?"

Kak Zalya tertegun sejenak sebelum tersenyum elegan. "Jujur, mata itu justru membuatmu tampak unik, Hanindya Astrid. Jarang sekali orang punya perpaduan warna seindah itu."

"wait, nama lu Hanindya astrid ?" tanya ku yang kebingungan Dengan nama itu.

"iyaa bener kok, Kenapa emang ?" tanya Astrid yang bingung.

"Kenapa lu gak bilang Dari awal ?" ucap ku kepada astrid "terus juga kenapa lu bisa tau nama dia kak ?" ucap ku kepada kak Zalya

"Arka Arka, ada pepatah 'Jika kamu punya banyak uang maka kamu punya banyak informasi' lu aja gak bisa pake uang itu dengan baik." ucap kak zalya "Tapi, mari kita kesampingkan itu dulu. Astrid"

Makan malam pun dimulai dengan interogasi yang sangat ketat. Kak Zalya memimpin "sidang" tersebut dengan sangat detail menanyakan nama latar belakang keluarga, hingga bagaimana dia membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Astrid menjawab semuanya dengan tenang, jujur, dan tanpa ada nada minder.

"Saya dengar kamu bekerja sekaligus kuliah? Di mana kamu bekerja dan apa posisi kamu?" tanya kak Zalya.

​Astrid menjawab dengan tenang, "Astrid kerja di sebuah cafe punya temen Astrid sebagai kasir, untuk sekarang Astrid lagi kerja Sambil kuliah"

​"Lalu, gimana dengan orang tua kamu? Arka bilang kamu tinggal sendiri," lanjut Kak Zalya, matanya menelisik seolah sedang mencari ke tidak jujuran.

​"Orang tua Astrid udah gak ada Kak. Astrid sudah Sendiri gak lama sejak lulus SMA," jawab Astrid singkat namun tegas. Kak Zalya terus menghujani Astrid dengan pertanyaan seputar visi hidup, pandangannya soal pernikahan, bahkan hingga pendapatnya tentang status sosial. Astrid menjawab semuanya dengan elegan, membuat Kak Zalya sesekali mengangguk, tampak kagum dengan keteguhan jawaban Astrid.

Setelah sesi tanya jawab panjang yang melelahkan, Kak Andra yang sejak tadi diam, tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan suara denting yang nyaring. Suasana mendadak hening total.

"Gue kasih lu satu miliar," ucap Kak Andra dingin, suaranya menusuk jantung. "Apa lu mau ninggalin Arka sekarang juga?"

Astrid merasa terhina. Namun, alih-alih meledak, dia justru mengelus perutnya perlahan. "Rencana Astrid awalnya ingin merawat anak ini sendirian, Kak. ngelahirin lalu rawat sampai besar, tanpa melibatkan Arka sedikit pun. Astrid ngelakuin Ini sebagai penebusan dosa Astrid. Tapi Astrid sadar bahwa Arka juga berhak tahu tentang anaknya."

Astrid menarik napas, matanya berani menatap Kak Andra. "Astrid kasih tau Arka bukan untuk meminta imbalan.Tapi kalo di pikir pikir kasih tau prihal ini tanpa meminta sedikit pun imbalan kepada seorang anak berstatus tinggi itu pasti sebuah penghinaan. Makanya astrid minta Arka buat biayain pendidikan anak ini sampe kuliah. Jadi walaupun memang astrid gak bisa bareng sama arka, astrid bakal balik lagi ke rencana astrid. Setidaknya itu rencana astrid"

"Lu sama sekali gak ngejawab pertanyaan gue," sindir Kak Andra meremehkan.

"Tapi Astrid ngejawab pertanyaan Kak Andra selanjutnya," balas Astrid tenang.

Kak Andra terdiam, lalu sedikit menyandarkan tubuhnya. Kak Zalya meledak tertawa. "Andra! Ini pertama kalinya gue liat lu kalah debat sama orang lain selain Ayah!"

Kring... Kring... Kring...!!!

Tiba-tiba, ponsel Kak Andra bergetar. Dia menjawabnya dengan nada dingin.

​"Ya, ada apa?"

​Suara di seberang telepon terdengar panik, itu adalah asisten pribadi Kak Andra, Pak Darma. "Maaf, Pak Andra, rapat mendadak dengan jajaran direksi akan dimulai 30 menit lagi di kantor. Semua sudah menunggu Anda."

​"Saya akan ke sana," jawab Kak Andra singkat. lalu kak andra bersiap untuk pergi.

"hey hey hey ayolah kak di saat kaya gini lu masih kerja ?" ucap kak hendra yang kecewa.

kak andra tidak mempedulikan kak hendra dia tetap beranjak pergi.

namun langkahnya terhenti saat Mendengar Suara lembut Astrid. "Sayang banget, padahal makanannya lagi anget."

Kak Andra berhenti di ambang pintu. "Emang kenapa kalo makanannya dingin?"

"Kalo makanannya dingin, nanti Kak Andra nyesel kenapa gak makan pas masih anget. Kalo di angetin atau di bikin lagi apa kak kak Andra bisa menjamin rasanya bakal sama ," ucap Astrid.

"pasti sama, karna makanan ini di buat oleh orang yang sama" ucap kak andra dengan dingin.

"itu lah ucapan orang yang selalu menilai makanan cuma pake rasa makanannya aja. kadang kita menikmati makanan bukan cuma pake rasa aja tapi momen yang bisa ngebuat kita melupakan rasa makanannya"

Kak Andra terdiam membisu mendengar ucapan ku Tanpa diduga, Kak Andra langsung menelepon asistennya dan membatalkan rapatnya "Darma, batalin aja rapatnya. Tunda sampai besok. Saya tidak bisa pergi sekarang."

Kami semua ternganga. Kak Andra, sang pekerja keras di kantor, baru saja memprioritaskan makan malam keluarga daripada rapat. Dia kembali duduk. Kami semua terkejut. Pria yang hidup untuk pekerjaan itu kini memilih menghabiskan makan malam bersama.

Kak Astrid keren!" celetuk Ellisya tiba-tiba.

"Ellisya! Diam," tegur Kak Hendra meski dia sendiri menatap Astrid dengan pandangan yang tidak lagi meremehkan.

Setelah itu, suasana menjadi jauh lebih hangat. Kami mulai berbincang tentang banyak hal.

Selesai makan, Kak Andra menatapku tajam. "Arka, setelah ini alangkah baiknya lu kasih tahu ke Ayah dan Ibu secepatnya."

...****************...

Malam pun berakhir dengan kehangatan yang tak terduga. Saat aku mengantar Astrid pulang, dia bersandar di kursi mobil, napasnya lega.

"Gila, Ka. Tegang banget tadi!" ucap Astrid sambil tertawa lepas.

"Lu keren banget, Strid. Lu bener-bener bikin Kak Andra mati kutu," ujarku kagum.

"Tadi tuh gue bener-bener kayak lagi di depan hakim, Ka!"

​"Tapi lu berhasil, Strid. Mereka semua terpukau, jujur aja," kataku sambil menyetir.

​Astrid menatap jendela, "Tadi tuh tegang banget, tapi pas Kak Andra batalin rapat, gue ngerasa... mungkin keluarga lu gak seburuk yang gue bayangin."

​"Iya, tapi nanti tantangan terbesarnya adalah Ayah. Lu siap?"

"Tapi Ka," ekspresinya berubah jadi cemas kembali, "kalau nanti ketemu orang tua lu... apa gue bakal bisa sekuat tadi?"

Aku menggenggam tangannya erat. "Lu udah ngelewatin ujian terberat hari ini. Apapun yang terjadi sama Ayah dan Ibu, kita hadapi bareng-bareng. Gue gak bakal biarin lu sendiri, Astrid. Janji."

Astrid tersenyum, menatap lampu kota yang berkilauan. Malam itu, aku tahu bahwa kami telah melewati satu rintangan besar, dan meskipun jalan di depan masih panjang, untuk pertama kalinya, aku merasa kami benar-benar bisa menaklukkannya bersama.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!