Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: RASA YANG MULAI GOYAH
...BAB 22...
...RASA YANG MULAI GOYAH...
Berbagai cara telah dicoba Aditya untuk membujuk putrinya pulang. Ia berbicara dengan nada lembut, meyakinkan bahwa rumah akan disiapkan sepenuhnya sesuai keinginan Alina, bahkan menawarkan untuk mengatur ruangan khusus agar gadis itu merasa nyaman. Ia juga berjanji akan menjaga keamanan Alina sepenuhnya, memastikan tidak ada orang yang bisa mengganggunya lagi. Namun, hati Alina masih tertutup rapat. Meskipun ia rindu pada Papanya, meskipun ia merasa aman di pelukan Aditya, bayangan Kirana yang ada di rumah itu masih membuatnya ragu. Gengsi akan harus berhadapan dengan wanita yang selama ini ia anggap sebagai orang asing itu masih terasa kuat di dadanya.
“Alina, Papa tidak akan memaksamu lagi untuk menerima apa pun secara tiba-tiba. Tapi rumah itu adalah tempat tinggalmu, Nak,” bujuk Aditya sekali lagi dengan nada penuh harap.
Alina hanya menggeleng pelan, menundukkan wajahnya. “Maaf, Pah. Alina belum siap. Biarkan Alina tinggal di sini sebentar lagi.”
Melihat keteguhan hati putrinya, Aditya akhirnya menghela napas panjang. Ia sadar memaksanya justru akan membuat Alina semakin menjauh. Dengan perasaan berat, ia berdiri dan berpamitan.
"Baiklah, kalau begitu Papa pamit pulang. Jaga dirimu baik-baik sayang. Telepon Papa bila butuh sesuatu ..." pesannya.
Kali ini Aditya pulang dengan tangan kosong, hatinya terasa perih melihat keadaan putrinya yang harus hidup jauh dari kata mewah dan dalam kesendirian.
Sesampainya di rumah, Aditya disambut oleh pemandangan yang membuatnya tertegun. Di ruang tamu, sudah tersusun rapi beberapa koper besar berisi barang-barang milik Kirana dan Dimas. Sejak kemarin, wanita itu memang sudah bersiap untuk pergi sesuai keputusannya. Namun, Aditya menahan kepergian mereka, berharap ada keajaiban—berharap kata-katanya pada Alina bisa meluluhkan hati gadis itu, sehingga mereka tidak perlu berpisah.
“Mas, kenapa kau kembali sendirian?” tanya Kirana lembut penuh keprihatinan. Matanya menatap wajah suaminya yang tampak lesu.
Aditya menggeleng pelan. “Ia belum mau pulang. Masih butuh waktu.”
Kirana tersenyum tipis, senyum yang terasa pahit namun ikhlas. “Sudah kuduga. Tidak apa-apa, Mas. Kita tunggu saja sampai ia benar-benar siap. Sementara itu, biarkan aku dan Dimas tinggal di tempat lain dulu, agar ia merasa tidak ada halangan untuk kembali.”
“Belum, Kirana. Tahan dulu kepergianmu. Aku percaya, lama-kelamaan ia akan mengerti. Kita tunggu sebentar lagi,” potong Aditya tegas, tidak rela membiarkan istri dan anaknya pergi begitu saja.
Tapi tekadnya Kirana sudah bulat dia tetap akan memilih tinggal di tempat lain demi keselamatan Alina.
Sementara itu, di kamar kosan yang sempit itu, Alina kembali sendirian. Pandangannya tertuju pada gantungan di sudut ruangan, tempat seragam sekolahnya tergantung lusuh. Bagian bahunya masih terlihat koyak, dan kancing di bagian kerahnya hilang entah ke mana—bekas perlakuan kasar Raka beberapa hari lalu. Ia mengambil baju itu, memegangnya pelan, dan tanpa sadar kenangan dua tahun silam tiba-tiba melintas di benaknya.
Saat itu, ia akan menghadiri pesta perpisahan sekolah bersama teman-teman sekelasnya. Ia mengenakan gaun pesta berwarna hitam yang elegan, namun dua kancing di bagian belakang gaun hilang. Ia kesal, karena gaun itu gaun yang paling ia sukai, karena mengira gaun itu tidak bisa dipakai lagi. Waktu itu, hanya ada Kirana di rumah—Aditya sedang pergi ke luar kota. Setelah resign mengajar Kirana memang selalu menyibukkan dirinya dengan menjahit pesanan orang.
Alina melempar gaunnya dan meminta Kirana untuk memperbaikinya. Tanpa kata tolong. Namun Kirana datang mendekat dengan senyum lembut. “Jangan khawatir, Nak. Ibu jahitkan kembali, sebentar saja selesai.”
Alina saat itu bersikap dingin. Namun Kirana tidak peduli. Ia mengambil kotak jahitnya mengambil jarum dan benang, lalu mulai menjahitnya dengan gerakan tangan yang cekatan dan penuh hati-hati. Di bawah cahaya lampu ruang tamu, Alina melihat wajah Kirana yang tampak fokus dan tenang, tidak ada sedikit pun rasa kesal meski Alina memandangnya dengan tatapan tidak ramah. Esoknya saat akan dipakai, gaun itu kembali terlihat rapi dan kuat.
“Sudah selesai. Sekarang gaunnya bisa kamu pakai lagi,” ucap Kirana waktu itu, lalu tersenyum dan pergi begitu saja tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Kenangan itu membuat Alina terdiam. Ia menggelengkan kepala, berusaha mengusirnya. Namun bayangan itu tidak hilang begitu saja.
Sudah lebih dari seminggu Alina tidak menginjakkan kaki di sekolah. Rasa takut akan bertemu orang asing, atau bahkan melihat sosok yang mirip Raka, membuatnya mengurung diri terus-menerus. Namun, tubuhnya mulai memberontak. Perutnya terasa lapar, dan persediaan makanan instan di kamarnya sudah habis. Ia sempat mencoba memesan makanan secara daring, namun rasanya terasa hambar di lidahnya. Beberapa makanan yang rasanya enak memiliki harga yang cukup mahal, dan Alina sadar ia harus belajar menghemat uang yang dimilikinya.
Tanpa sadar, ia teringat masakan Kirana yang sering ia sia-siakan dan membuangnya tanpa perasaan—sayur bening yang segar, ayam goreng yang bumbunya meresap sempurna, atau bubur ayam hangat yang selalu disiapkan saat ia tidak enak badan. Rasanya sederhana namun sebenarnya itu jauh lebih nikmat di lidah. Jauh lebih nikmat daripada makanan apa pun yang pernah ia beli sendiri.
Rasa lapar yang semakin menjadi, ditambah dengan kenyataan hidup yang tidak semudah yang ia bayangkan, perlahan membuat gengsi di hatinya mulai luntur. Ia berpikir, nyawanya dan kenyamanannya jauh lebih berharga daripada rasa benci atau gengsi yang ia pelihara selama ini.
“Mungkin Papa benar. Rumah itu memang tempatku,” gumamnya pelan.
Sore itu, dengan langkah yang ragu namun tegas, Alina membereskan sedikit barangnya dan berangkat menuju rumah Mamanya tempat ia dibesarkan. Jantungnya berdebar kencang saat ia berdiri di depan pintu yang sudah sangat dikenalnya. Ia menarik napas panjang, lalu menekan bel pintu.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Terlihat Aditya yang berdiri di ambang pintu, matanya terbelalak kaget sekaligus bahagia melihat kehadiran putrinya.
“Alina… Kau pulang,” ucapnya dengan suara bergetar.
Alina mengangguk pelan, menundukkan wajahnya. “Iya, Pah. Alina pulang.”
Aditya segera mempersilakannya masuk. Saat melangkah melewati ruang tamu, Alina menyadari ada sesuatu yang berbeda. Ruangannya tampak rapi dan bersih. Terakhir kali Alina menginjak rumah itu setelah kepergian Mamanya. Rumah dulu tampak tak terurus. Namun rumah itu terasa sunyi karna memang Papa sudah tidak lagi mempekerjakan pembantu.
Alina menatap sekeliling ruangan, tidak terlihat sama sekali ada barang-barang milik wanita itu. Bahkan sosok orangnya pun tak tampak. Sepi.
Alina menoleh ke arah Papanya, ragu-ragu bertanya. “Pah… di mana mereka? Di mana_ Bu Kirana dan Dimas?”
Aditya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada tenang namun terasa berat. “Mereka tidak tinggal di sini lagi, Nak. Mereka sudah pindah ke tempat lain..."
Mendengar jawaban itu, hati Alina terasa aneh. Ada perasaan lega yang samar, namun disusul dengan rasa hampa yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia tidak mengerti, mengapa justru saat ia memutuskan pulang, sosok yang selama ini ia hindari justru tidak ada lagi di rumah itu.
Bersambung...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄