Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C022: Ibu Alexander
...Selamat Baca...
Suasana di ruang tamu kediaman itu menjadi hening, seolah udara pun menahan napas. Viviane duduk tegak namun lembut di kursi utama,
Menatap bergantian ke arah Alexander dan Liana yang duduk di hadapannya — keduanya penuh rasa ingin tahu, sekaligus sedikit gugup.
Di luar, cahaya matahari sore mulai miring, menyinari sudut‑sudut ruangan yang kini menyimpan makna baru.
Viviane menghela napas panjang, lalu mulai bercerita perlahan, seolah membuka lembaran buku sejarah yang tertutup rapat selama puluhan tahun.
“Segalanya bermula berabad‑abad yang lalu, di tanah asal kami, Kerajaan Virlan,” ucapnya pelan namun jelas.
“Saat itu tatanan bangsawan sangat teratur. Leluhurku bergelar Adipati Agung Yulien, kedudukan tertinggi tepat di bawah Raja."
"Sedangkan leluhur Tuan Tua Theodore hanya bergelar Adipati Sterling, yang kala itu berada di bawah perlindungan dan pangkat keluarga kami."
"Namun ada satu garis keturunan yang paling istimewa, darah kerajaan murni langsung dari raja terdahulu: keluarga van Eldoria."
"Leluhur mereka adalah Pangeran Ketiga, Adipati Agung Louis van Eldoria. Dari garis inilah lahir ibumu, Alexander — wanita yang bernama Seraphine van Eldoria.”
Alexander menegang. Nama itu akrab namun terasa jauh, seolah baru kini ia mendengarnya sepenuhnya.
“Dia sungguh luar biasa,” lanjut Viviane dengan pandangan menerawang.
“Kecantikannya bukan sekadar manis, melainkan berwibawa, tegas, dan dingin — persis seperti sifat dasarmu."
"Tatapannya tajam layaknya seorang pemimpin, tenang, namun menyimpan kelembutan yang hanya muncul pada orang yang benar‑benar dia percayai."
Pada masa remajanya, Seraphine bersekolah di tempat yang dulu bernama Akademi Kerajaan Virlan, yang kini telah berubah menjadi Sekolah Menengah Atas Virlan.
Di sanalah takdir mulai bermain. Di sana ia bertemu dengan seorang pemuda cerdas, ramah, namun sederhana — Gerald Varella, ayah Liana.
Keluarga Varella juga bangsawan, bergelar Adipati, setingkat dengan leluhur Sterling. Namun bagi keluarga Eldoria, perbedaan cukup terasa.
Meski begitu, Seraphine dan Gerald menjadi sahabat yang sangat dekat, hingga semua orang mengira mereka sepasang kekasih.
Dan benar saja, perlahan benih‑benih cinta tumbuh diam‑diam. Mereka menjalin hubungan yang murni, penuh pengertian, tanpa pamer kemewahan.
Ketika rahasia itu terbongkar, badai datang. Keluarga Seraphine menolak keras, menganggap Gerald belum cukup sejajar.
Tanpa banyak bicara, Seraphine dikirim jauh ke negeri Arlen, terpisah ribuan kilometer, tanpa kabar, tanpa kesempatan berpamitan. Komunikasi terputus sama sekali.
Ketika ia kembali setelah menyelesaikan pendidikannya, Gerald sudah tidak ada lagi di tempat itu. Ia telah menerima tugas perusahaan besar ke negeri Auronia.
Dan bekerja bertahun-tahun di Auronia. Di sana, Gerald bertemu dengan Elena, ibu, Liana. Mereka saling mencintai, menikah, lalu kembali menetap di Virlan dengan hidup yang damai.
Sementara itu, Seraphine yang pulang tanpa tujuan yang jelas, akhirnya datang ke Auronia untuk mengurus cabang perusahaan keluarganya.
Di sanalah ia bertemu dengan Theodore Sterling. Awalnya hanya sekadar mitra kerja dan rekan bisnis. Namun Theodore terpesona habis‑habisan.
Ia mengejar Seraphine dengan sungguh‑sungguh, penuh perhatian dan janji manis — tanpa pernah menceritakan bahwa ia sebenarnya sudah memiliki istri dan anak‑anak yang besar.
Saat itu usia Seraphine baru sekitar dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, sama persis seperti usia Liana sekarang.
Karena merasa diperhatikan, dihargai, dan perlahan jatuh hati juga, akhirnya ia menerima lamaran itu.
Ia baru mengetahui kebenaran pahit itu setelah ia melangkahkan kaki masuk ke kediaman utama keluarga Sterling — ia ternyata menjadi istri kedua.
Hatinya hancur seketika. Namun Seraphine tetap Seraphine: tenang, sopan, menjaga harga diri setinggi langit, meski luka itu terasa sampai ke tulang.
Viviane pun saat itu terkejut menyambut kedatangannya, namun kami perlahan menjadi sahabat baik — sama‑sama merasakan kesendirian di rumah besar yang penuh aturan kaku itu.
Awalnya, Theodore sangat memanjakan Seraphine. Ia melupakan Viviane, melupakan anak‑anak pertamanya: Arthur, Eleanor, hingga Edmund.
Tentu saja hal itu menimbulkan kebencian yang mendalam. Mereka bersikap dingin, menyindir, menyakiti hati, bahkan pernah berusaha melukai Seraphine secara fisik.
Ketika Theodore akhirnya sadar akan ketidaksukaan itu, bukannya melindungi wanita yang ia janjikan akan bahagiakan dia,
Ia malah mundur perlahan demi menjaga nama baik keluarga. Itulah awal mula segalanya menjadi kelam.
Ada satu kejadian yang paling menyakiti hatinya Seraphine. Suatu hari ia keluar berjalan‑jalan berbelanja, dan tanpa sengaja melihat Gerald bersama istrinya, Elena,
Sedang berjalan bergandengan tangan, tertawa bahagia menuju gedung bioskop. Pemandangan itu bagaikan pisau yang merobek sisa‑sisa harapannya.
Ia pulang ke kediaman utama, mengurung diri, dan menangis sendirian seharian dikamarnya — tanpa ada yang mengetuk pintu, tanpa ada yang bertanya kabarnya.
Dua tahun setelah menikah, akhirnya ia mengandung, Alexander. Saat itu Theodore sempat bersukacita luar biasa, namun anak‑anak tiri Seraphine makin membenci kehadiran janin itu.
Bahkan sempat ada usaha menyakiti kandungannya, untunglah tidak sampai membahayakan nyawa. Ketika Theodore menanyakan itu,
Mereka berani menjawab terus terang bahwa mereka tidak menginginkan anggota baru, dan bahkan menyebut Viviane — yang duduk tenang — sebagai orang yang tersakiti.
Bukannya memperbaiki keadaan, Theodore malah semakin menjauhkan diri dari Seraphine.
Saat waktunya melahirkan, Theodore sibuk bekerja jauh di luar kota. Anak‑anaknya tidak peduli sedikit pun.
Hanyalah Viviane yang sigap, membawanya ke tempat aman yaitu rumah sakit Dunhill. Ia melahirkan Alexander dengan susah payah.
Tubuhnya menjadi semakin lemah, namun hatinya jauh lebih lemah lagi karena rasa dikhianati dan dilupakan.
Setelah pulang, Viviane menyiapkan kediaman terpisah — rumah tempat mereka tinggal sekarang — agar ia bisa tenang dan jauh dari gangguan.
Hanya Viviane yang sering datang menjenguk, mendengarkan ceritanya, sama seperti ia dulu mendengarkan kesedihannya.
Ia bertahan hidup dan berjuang semata‑mata demi membesarkan Alexander. Dulu saat masih kecil,
Alexander sebenarnya ceria di dalam rumah ini, namun begitu melangkah keluar, sikap dingin dan tegas persis seperti ibunya langsung muncul.
Namun beban kesepian, kekecewaan, pengabaian, hingga rasa sakit hati yang menumpuk perlahan menggerogoti kesehatan Seraphine.
Ia jatuh sakit parah, terjangkit depresi berat yang tak terlihat mata namun terasa di setiap sudut rumah ini.
Saat Alexander berusia delapan tahun — ia pergi selamanya. Viviane lah yang memandikan, merapikan, dan mengurus pemakamannya.
Sejak saat itu, Alexander yang dulunya masih memiliki senyum, berubah sepenuhnya menjadi tertutup, dingin, dan tak tersentuh — kehilangan cahaya wajahnya bertahun‑tahun lamanya.
Sedangkan Theodore? Ia baru menyadari betapa besar kesalahannya berbulan‑bulan kemudian, saat kabar itu sampai padanya.
Penyesalan itu masih terasa hingga hari ini, namun harga diri yang tinggi menahannya untuk meminta maaf secara terus terang.
Ia makin kaku, makin keras memimpin keluarga, seolah berusaha menutupi rasa bersalahnya dengan kekuasaan.
"Aku menyimpan rahasia ini puluhan tahun lamanya,” tambah Viviane, suaranya melembut penuh haru.
“Saat pernikahanmu dengan Alistair dulu, Liana, aku melihat tatapan Alexander. Awalnya aku hanya berpikir ia sedang menilai apakah kau pantas masuk keluarga ini."
"Namun baru tiga tahun kemudian, kepingan‑kepingan itu mulai tersusun kembali dalam ingatanku."
"Dan hari ini, saat melihat kalian berdua berdiri bergandengan tangan tanpa ragu, tanpa topeng, aku sadar sepenuhnya: ini bukan sekadar kebetulan."
Viviane menatap mereka bergantian, matanya berbinar lembut.
“Cinta pertama ibumu adalah ayahmu, Liana. Kisah yang terputus, yang tidak sempat menjadi utuh, kini disambung kembali oleh takdir lewat kalian berdua."
"Putra Seraphine menemukan kebahagiaannya pada putri Gerald. Semua rasa dingin, semua kesepian, semua penyesalan masa lalu — kini akhirnya menemukan jalan pulang.”
Ruangan itu hening sejenak. Alexander dan Liana saling memandang, keduanya terkejut luar biasa namun sekaligus merasa seolah banyak hal yang selama ini terasa asing atau tidak terjelaskan, kini menjadi terang benderang.
Lengkung cerita yang panjang dan penuh luka akhirnya tertutup rapat, dan di situlah Babak Keempat berakhir, membuka jalan yang bersih, terang, dan bebas bagi masa depan mereka berdua.
"Jadi... Begitulah masa lalu ibu Alex, dan ayah saya?"
"Benar, dan sekarang bagaikan benang merah, takdir itu kembali bersama lagi, dan benang merah itu adalah kalian. Alexander dan Liana."
"Takdir memberkati kalian..." kata Viviane, mengenggam tangan putra angkatnya, Alexander dan cucu menantunya, Liana.
Hanya dari kata-kata itu, Alexander dan Liana sadar. Viviane telah merestui hubungan mereka, keduanya saling berpandangan lagi, dan senyuman bahagia pun terukir pada keduanya.
Dengan begitu, Alexander tanpa ragu atau malu lagi memeluk Liana erat bahkan di depan ibu angkatnya sekali pun.
Liana juga membalasnya merasakan senang ketika ia dan Alexander bisa bersama. Hanya karena restu dari Viviane, meski masa jeda Liana masih jauh dari sekarang.