NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. Regu Serigala

Matahari sore mulai condong ke arah barat, memancarkan warna jingga keemasan yang panjang menembus celah-celah menara pengawas kompleks militer Trowulan. Setelah menyelesaikan penempaan formasi tombak yang melelahkan hingga tengah hari, dua ratus prajurit Tamtama baru tidak dikembalikan ke barak hunian mereka. Mereka tetap ditahan di lapangan utama Barat, berdiri berjejer rapi dalam lingkaran besar yang memutari sepuluh bintara instruktur senior yang sedang membawa beberapa gulungan perkamen kulit domba yang baru dicap oleh dewan perwira menengah.

Aroma minyak kelapa pelumas senjata dan debu tanah yang kering mengapung di udara pelataran, bersahutan dengan derit konstan dari kereta logistik yang melintas di luar gerbang pagar jati. Langkah kaki bintara kepala yang bertubuh raksasa terdengar menghentak keras di atas tanah liat saat ia melangkah maju ke tengah lingkaran, memegang sebilah tongkat komando kayu yang ujungnya diukir berbentuk kepala naga Majapahit.

“Dengarkan seluruh prajurit!” teriak bintara kepala tersebut, suaranya yang parau melengking membuat keheningan sore mendadak merayap naik di antara barisan pemuda yang kelelahan. “Kalian telah menyelesaikan fase pengenalan dasar perorangan selama satu pekan ini. Namun, di dalam struktur militer resmi kerajaan, tidak ada prajurit yang berjalan tanpa adanya ikatan regu yang tetap! Mulai sore ini, dua ratus orang di lapangan ini akan dipecah secara permanen menjadi empat puluh regu tempur kecil yang masing-masing berisikan lima orang! Regu ini akan menjadi keluarga kalian, tameng kalian, dan ikatan darah kalian selama sisa waktu pelatihan di kompleks Barat ini!”

Riuh bisik-bisik langsung terdengar dari beberapa banjar barisan. Banyak pemuda dari kota yang mulai saling melempar pandangan mata ke arah teman-teman sekampung mereka, berharap bisa dimasukkan ke dalam satu regu yang sama agar bisa saling melindungi. Ragajaya berdiri tegak di barisan banjar depan dengan melipat kedua lengannya di dada, sementara Lembu Sora tampak merapikan kain ikat pinggangnya yang longgar dengan wajah penuh percaya diri.

“Sistem pembagian regu ini tidak didasarkan pada keinginan manja kalian!” bentak bintara kepala sambil memukulkan tongkat jatinya ke permukaan perkamen di tangannya. “Dewan perwira telah membagi kalian berdasarkan keseimbangan kemampuan urat raga, ketajaman insting simulasi kemarin, serta hasil evaluasi ketangkasan senjata! Setiap regu akan diberikan nama sandi hewan untuk membedakan tugas taktis kalian di lapangan palagan!”

Pembacaan nama anggota regu pun mulai diteriakkan satu demi satu dengan lantang. Regu-regu awal kebanyakan diisi oleh kombinasi para taruna bangsawan daerah dan pemuda kota yang memiliki silsilah keluarga militer yang bagus. Mereka diberikan nama-nama yang gagah seperti Regu Garuda, Regu Banteng, atau Regu Singa Laut, yang langsung membuat para anggotanya mendongak dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan.

Ketika pembacaan nomor urut sudah melewati angka tiga puluh, nama Ragajaya akhirnya dipanggil ke depan panggung bintara. Pemuda pesisir itu melangkah maju dengan gerakan yang sangat mantap, melakukan hormat secara teratur sebelum akhirnya menerima selembar kain pengenal regu yang bersulam benang perak.

“Regu nomor tiga puluh lima, nama sandi Regu Serigala!” teriak bintara pencatat dengan suara lantang. “Anggota regu: Ragajaya dari pesisir utara, Wiranata dari kadipaten timur, Jaka Wulung dari lereng gunung, Lembu Sora dari wilayah barat, dan Mada dari Hutan Tarik!”

Mendengar pengumuman nama-nama anggota Regu Serigala tersebut, suasana di sudut barisan barak nomor empat mendadak menjadi sangat sunyi. Ragajaya tertegun di tempatnya berdiri, menoleh ke arah belakang dengan sepasang mata menyipit tajam menatap Mada yang masih berdiri dengan posisi membungkuk keluguan di banjar kelima. Guratan kekecewaan yang sangat dalam tidak bisa disembunyikan dari garis wajah Ragajaya; ia merasa bahwa statusnya sebagai lulusan seleksi tombak terbaik harus dinodai karena dimasukkan ke dalam satu kelompok dengan anak desa yang dianggapnya paling lamban dan paling tidak memiliki harga diri di seluruh angkatan baru.

Mada sendiri perlahan melangkah keluar dari barisannya, berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat agak goyah dan berat menuju ke arah tempat Ragajaya dan tiga rekan lainnya berkumpul di dekat tiang pembatas timur. Wajah polosnya dipenuhi oleh sisa-sisa keringat palsu, dan tangan kirinya tampak terus meremas tali kulit perisai bambunya yang telah kotor oleh lumpur lapangan.

(Regu Serigala. Sesuai dengan pembagian taktis yang dirancang di dalam dokumen militer kuno, nama sandi serigala biasanya diberikan untuk satuan regu yang dianggap memiliki potensi paling lemah dalam benturan otot depan, namun ditugaskan untuk melakukan pengintaian dan penyergapan malam di jalur buta. Dan penempatan diriku di dalam regu ini bersama Ragajaya, Wiranata, Jaka Wulung, dan Lembu Sora... ini adalah formasi inti yang sangat sempurna untuk mengunci cikal bakal pengikut setia bawah tanahku tanpa perlu memicu kecurigaan perwira luar.)

Begitu kelima anggota Regu Serigala berkumpul di sudut lapangan bawah naungan pohon mangga tua, atmosfer di antara mereka langsung terasa sangat dingin dan penuh dengan benturan ego kelompok. Lembu Sora mendengus kasar sambil melemparkan perisai bambunya ke atas rumput kering, menatap Mada dengan pandangan mata yang sangat tidak puas.

“Sialan!” umpat Lembu Sora sambil melipat kedua tangannya di pinggang dengan wajah memerah. “Bagaimana mungkin dewan perwira memasukkan kita ke dalam satu kelompok yang sama lagi? Aku mengira setelah kita memenangkan simulasi jepitan kemarin, aku akan dipindahkan ke Regu Garuda bersama para anak bangsawan kaya dari kota pusat! Tapi sekarang, kita justru harus memikul beban tubuh jangkung anak desa ini selama sisa tiga bulan ke depan!”

“Jaga bicaramu, Lembu Sora,” kata Wiranata dengan suara yang pelan namun memiliki ketegasan yang matang. “Mada mungkin lamban dalam gerakan formasi massal tadi pagi, namun dialah yang membisikkan siasat udang sungai yang menyelamatkan punggung kita dari hukuman seratus ember kemarin fajar. Memiliki dia di dalam regu kita setidaknya memberikan kita keuntungan dalam ingatan alami tentang jalur hutan.”

“Ingatan alami itu tidak akan ada gunanya jika kita harus bertarung dalam ujian benturan perisai antarkelompok besok fajar!” timpal Jaka Wulung sambil mengepalkan tinjunya yang besar dengan gusar. “Tadi sore aku mendengar kabar dari barak sebelah bahwa Raden Daniswara telah membentuk Regu Rajawali bersama empat taruna bangsawan terkuat lainnya. Mereka sengaja mengincar regu kita untuk dihancurkan di tengah lapangan agar dendam kekalahan Daniswara kemarin bisa terbayar lunas!”

Ragajaya memutar tombak kayunya dengan satu hentakan pergelangan tangan yang sangat keras, menatap Mada langsung ke arah matanya yang tertutup poni rambut berantakan. “Dengarkan aku baik-baik, nomor nol empat puluh tents. Di dalam Regu Serigala ini, akulah yang memegang komando resmi sebagai pemimpin regu berdasarkan keputusan bintara kepala! Aku tidak peduli seberapa besar keberuntungan yang menyelamatkan nyawamu di dua ujian sebelumnya, namun mulai besok pagi, seluruh langkah kakimu harus mengikuti ritme tombak air milikku! Jika kamu terlambat sedetik saja dalam menurunkan perisaimu saat Regu Rajawali menyerang lambung kita, aku sendiri yang akan mengusirmu keluar dari barak hunian ini!”

Mada segera menurunkan pandangan matanya ke arah tanah liat, menjatuhkan pundaknya ke bawah dan menampilkan senyum polosnya yang paling canggung serta ketakutan seorang abdi desa rendahan yang patuh.

“Siap, Tuan Ragajaya,” jawab Mada dengan nada suara yang dibuat sedikit bergetar rendah dan pelan. “Hamba bersumpah akan selalu berjalan di belakang punggung Anda dan memegang perisai hamba setinggi mungkin agar tidak ada tebasan tombak Raden Daniswara yang bisa menyentuh kain kelat bahu Anda. Hamba hanya ingin menyelesaikan pelatihan ini dengan selamat tanpa perlu memicu kemarahan para taruna bangsawan yang agung itu.”

Melihat sikap Mada yang sangat lemah, penakut, dan tidak memiliki sisa-sisa harga diri sebagai seorang ksatria tersebut, Ragajaya mendengus sangat remeh dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa muak yang mendalam. Rasa penasaran yang sempat mengusik batinnya mengenai asal-usul strategi jepitan kemarin mendadak tertutup kembali oleh keangkuhan kasta pesisirnya yang tebal; ia semakin yakin bahwa kemenangan kelompok mereka kemarin murni karena faktor keberuntungan acak yang kebetulan berpihak pada kebodohan Mada.

“Mundur dua langkah ke belakang, Mada. Bau asam lumpur di bajumu mengganggu sirkulasi napasku,” perintah Ragajaya dengan angkuh sembari membalikkan tubuhnya, melangkah pergi menuju ke arah barak hunian untuk membersihkan sisa perlengkapan latihannya sebelum lonceng makan malam berdentang.

Lembu Sora dan Jaka Wulung segera mengikuti langkah kaki Ragajaya dengan terus membicarakan persiapan taktis mereka untuk menghadapi ancaman Regu Rajawali milik Daniswara besok fajar. Hanya Wiranata yang tetap berdiri sejenak di samping Mada, menatap pemuda jangkung dari Hutan Tarik itu dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan pikiran yang sangat dalam dan penuh selidik.

“Mada,” panggil Wiranata dengan suara yang sangat rendah, hampir tenggelam oleh suara angin sore yang menggoyang dedaunan mangga tua. “Jangan terlalu memasukkan kata-kata Ragajaya ke dalam hatimu. Dia hanya terlalu terobsesi untuk menjadi lulusan Tamtama terbaik agar bisa mengangkat derajat keluarganya di pesisir utara.”

Mada mendongakkan kepalanya sedikit, menampilkan wajah keluguannya yang berkerut polos. “Saya tidak marah sama sekali, Tuan Wiranata. Tuan Ragajaya sangat hebat dan memiliki hawa murni yang sangat indah seperti air sungai. Saya justru merasa sangat beruntung karena bisa berada di dalam satu regu dengan orang-orang kuat seperti kalian.”

Wiranata tidak membalas jawaban Mada dengan kata-kata lagi. Ia hanya menepuk pundak jangkung Mada sekali dengan telapak tangannya, merasakan kekokohan struktur otot alami di balik baju katun kasar Mada yang terasa bagaikan sebongkah batu hitam purba yang tertanam dalam di dasar hutan, sebuah kepadatan fisik yang sangat tidak wajar untuk ukuran seorang anak petani yang kekurangan makanan di desa miskin. Wiranata membalikkan badannya melangkah menyusul rombongan Ragajaya dengan pikiran yang kian dipenuhi oleh teka-teki mengenai sosok prajurit nomor 047 tersebut.

Mada tetap berdiri diam di bawah naungan pohon mangga tua hingga seluruh peserta seleksi di lapangan utama telah bubar masuk ke dalam barak masing-masing. Angin malam mulai berembus kencang dari arah perbukitan luar, membawa hawa dingin yang menusuk tulang bersamaan dengan mulai dinyalakannya obor-obor dinding di sepanjang pos penjagaan kompleks militer Barat.

Wajah keluguan, ketakutan, dan kebingungan Mada mendadak luntur dalam sekejap mata tanpa menyisakan bekas sedikit pun. Sepasang matanya kembali berkilat dingin, memancarkan pendaran batin emas Batara Niti Mandala yang sangat tipis namun memiliki ketajaman yang begitu mutlak di dalam kegelapan sore yang kian pekat.

(Regu Serigala telah resmi terbentuk, dan konflik persaingan kasta di antara kami kini telah dikunci di dalam satu wadah yang sama. Ragajaya akan terus membakar energinya di garis depan sebagai umpan paling mencolok, sementara aku akan menggunakan ketajaman mata sakral Niti Sastra untuk memperbaiki seluruh lubang taktis pergerakan mereka dari arah barisan belakang. Biarkan Daniswara dan Regu Rajawali miliknya datang membawa seluruh kemarahan api mereka besok fajar; lapangan benturan perisai itu justru akan menjadi tempat terbaik bagiku untuk menguji ketahanan mentalitas awal dari orang-orang yang kelak akan menjadi jajaran perwira bayanganku di bawah tanah Majapahit.)

Mada melangkah dengan ritme kaki yang sangat konstan dan teratur, menyusuri jalan setapak berbatu kembali menuju ke arah barak hunian nomor empat yang remang-remang, siap menyambut malam pertama pembentukan Regu Serigala di tengah pusaran arus disiplin besi Trowulan yang kian hari kian mengarah pada pusat pergolakan kekuasaan terbesar di tanah Nusantara.

 

 

BAB 23. Pemimpin yang Tidak Diinginkan

Kabut malam yang tebal masih menyelimuti seluruh sudut pelataran barak pelatihan Barat ketika bel penanda latihan fajar berdentang keras tiga kali berturut-turut. Udara pagi ini terasa jauh lebih lembap, membawa bau tanah basah yang menyengat dari arah perbukitan luar Trowulan. Di dalam barak hunian nomor empat, lima pemuda yang kini telah resmi menyandang nama Regu Serigala bergerak dengan ritme yang berbeda-beda untuk mempersiapkan perlengkapan latihan mereka.

Ragajaya berdiri di dekat pintu, mengikatkan kain kelat bahu peraknya dengan sentakan tangan yang sangat keras, membiarkan rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang masih tersisa sejak sore kemarin. Di belakangnya, Jaka Wulung dan Lembu Sora sibuk memeriksa permukaan perisai bambu mereka, memastikan lapisan kulit lembu di bagian depan tidak mengalami keretakan setelah benturan keras simulasi palagan besar. Sementara itu, Wiranata duduk di tepi amben sambil meluruskan otot betis kirinya yang masih terasa sedikit kaku sisa dari sirkulasi udara fajar sebelumnya.

Mada sendiri memilih untuk tetap berada di posisinya yang biasa di sudut paling gelap ruangan. Ia memakai baju katun desa kasarnya yang sudah dipenuhi guratan garam kering, sengaja membiarkan poni rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah polosnya. Tangan jangkungnya memegang gagang tombak kayu tumpulnya dengan gerakan yang dibuat agak canggung, menampilkan sosok prajurit nomor nol empat puluh tujuh yang tidak memiliki gairah bertarung sama sekali.

"Ingat posisi kita pagi ini," ucap Ragajaya sambil membalikkan tubuhnya menatap keempat anggota regunya, suaranya terdengar sangat tajam dan dingin memecah keheningan barak. "Ujian fajar ini adalah pembentukan barisan taktis tingkat lanjut untuk setiap regu baru. Bintara kepala akan melihat bagaimana kemampuan pemimpin regu dalam mengarahkan formasi bertahan dan menyerang di bawah tekanan langsung. Aku tidak ingin melihat ada satu orang pun di antara kalian yang melangkah keluar dari garis komando tombak airku, terutama kamu, Mada!"

Mada segera menundukkan kepalanya, menampilkan senyum polosnya yang canggung sambil mengangguk patuh beberapa kali. "Siap, Tuan Ragajaya. Hamba akan selalu berdiri tepat di belakang perisai besar Trowulan milik Anda agar tidak salah melangkah."

Ragajaya mendengus remeh melihat sikap mengalah Mada yang dianggapnya sangat memuakkan tersebut, lalu melangkah keluar pintu barak dengan langkah kaki yang dihentakkan keras ke atas tanah liat. Lembu Sora dan Jaka Wulung segera menyusul di belakangnya dengan memikul senjata mereka, menyisakan Wiranata yang sempat menatap Mada sejenak dengan pandangan mata yang penuh selidik sebelum ikut berjalan keluar menuju lapangan utama.

Ketika kelima anggota Regu Serigala tiba di lapangan utama Barat, atmosfer di pelataran sudah sangat menekan. Dua ratus prajurit baru telah berkumpul membentuk lingkaran besar berdasarkan regu mereka masing-masing. Di tengah lapangan, sebaris balok kayu jati raksasa sepanjang tiga depa telah ditata membentuk labirin pertahanan tiruan yang rumit, dikelilingi oleh parit-parit kecil berisi lumpur hitam yang cukup dalam.

Bintara kepala yang memimpin latihan fajar ini melangkah maju ke tengah labirin kayu, memegang sebilah cambuk kulit lembu di tangan kanannya. "Hari ini, kalian tidak lagi berlatih formasi statis yang membosankan! Ujian fajar ini dinamakan Siasat Penyelamatan Panji Labirin! Setiap regu akan dimasukkan ke dalam jalur labirin kayu ini untuk merebut lima buah panji kecil yang dijaga oleh para instruktur senior! Peraturan utamanya adalah mutlak: seluruh pergerakan regu berada di bawah tanggung jawab komandan regu kalian masing-masing! Jika pemimpin kalian salah dalam mengambil keputusan arah atau terlambat memberikan perintah perisai, seluruh regu dinyatakan gagal dan jatah makan malam kalian akan ditiup angin fajar!"

Regu Serigala mendapatkan giliran pada putaran ketiga, dimasukkan ke dalam jalur labirin kayu bagian selatan yang jalurnya sangat sempit dan dipenuhi oleh sudut-sudut buta yang tajam. Ragajaya memimpin di barisan paling depan dengan tombak kayunya yang sudah mulai dialiri oleh hawa murni aliran air berwarna kebiruan tipis, sementara Jaka Wulung dan Lembu Sora menjaga sisi kanan dan kiri menggunakan perisai bambu mereka. Wiranata berada di tengah, dan Mada berjalan di posisi paling belakang dengan menyeret tombaknya di atas tanah liat.

"Maju! Jaga kerapatan perisai!" perintah Ragajaya dengan lantang saat mereka mulai melangkah memasuki celah balok kayu pertama.

Namun, ketidak kompetenan Ragajaya sebagai seorang pemimpin sejati mulai terlihat jelas begitu mereka melewati sudut labirin kedua. Sebagai seorang petarung pesisir yang terbiasa dengan ruang terbuka dan duel satu lawan satu, Ragajaya tidak memiliki wawasan yang cukup mengenai manajemen pergerakan regu di dalam ruang yang sempit dan berliku. Ia terlalu bernafsu untuk segera merebut panji pertama demi membuktikan kemampuannya kepada para perwira yang mengawasi dari atas menara tengah.

"Ragajaya, tunggu dulu!" seru Wiranata dengan nada khawatir dari barisan tengah. "Sudut di depan kita terlalu sunyi, ada kemungkinan para instruktur senior sedang menyiapkan jebakan sergapan atas!"

"Jangan banyak bicara, Wiranata!" balas Ragajaya dengan angkuh tanpa menghentikan langkah kakinya. "Hawa murni airku bisa merasakan pergerakan musuh di depan! Kita harus menembus jalur ini secepat mungkin sebelum Regu Rajawali merebut seluruh panji tengah!"

Ragajaya melompat melewati sudut balok kayu dengan sangat agresif. Namun, begitu tubuhnya melintasi celah tikungan, prediksi taktis Wiranata terbukti dengan sangat tepat. Dua orang instruktur senior bertubuh raksasa mendadak muncul dari balik bayangan balok kayu atas, menjatuhkan dua bilah gada kayu latihan yang sangat berat langsung ke arah dada Ragajaya.

Brak!

Meskipun Ragajaya berhasil menahan hantaman pertama menggunakan gagang tombaknya, dorongan tenaga fisik kasar para instruktur senior membuat sirkulasi hawa murni airnya mendadak pecah berantakan. Tubuh Ragajaya terdorong mundur dengan sangat keras, menabrak tubuh Lembu Sora yang berada di belakangnya hingga mereka berdua jatuh terlentang di atas parit lumpur hitam.

"Serang lambung mereka!" tergah salah seorang instruktur senior dari arah atas balok kayu.

Dua instruktur lainnya mendadak muncul dari arah celah buta sebelah kiri, melepaskan tebakan tombak kayu beruntun yang mengincar posisi Jaka Wulung yang kini kehilangan arah komando. Jaka Wulung mencoba bertahan menggunakan perisai bambunya, namun karena posisi berdirinya terlalu terbuka akibat tidak adanya aba-aba penyelarasan dari Ragajaya, perisainya mulai retak dan tubuh besarnya terdesak mundur hingga terpojok di dinding balok kayu.

Situasi Regu Serigala berada di ujung tanduk kekalahan mutlak dalam hitungan sepuluh pulsa nadi pertama. Ragajaya yang berada di dalam parit lumpur tampak panik dan berteriak-teriak memberikan perintah yang sangat simpang siur, membuat Jaka Wulung dan Lembu Sora menjadi semakin kebingungan dalam menjaga arah pertahanan perisai mereka.

Mada yang berada di barisan paling belakang tetap mempertahankan ekspresi wajah polosnya, namun di balik pelupuk matanya, mata sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya telah membaca seluruh peta kelemahan pergerakan para instruktur senior di depan mereka. Di bawah analisis taktis Mada, ia melihat bahwa para instruktur tersebut terlalu maju ke depan untuk menekan Jaka Wulung, membuat tumpuan kaki belakang mereka di atas balok kayu atas menjadi sangat longgar dan tidak seimbang.

(Ragajaya benar-benar buta dalam taktik ruang sempit. Perintahnya hanya didasarkan pada amarah dan kepanikan, yang justru akan menghancurkan keutuhan urat raga regu ini dalam lima hitungan napas ke depan. Aku harus mengambil alih kendali situasi ini secara tersembunyi, memberikan solusi taktis melalui mulut Wiranata agar kewibawaan pengikut intiku mulai terbentuk tanpa perlu memicu kecurigaan luar.)

Mada segera menggeser langkah kakinya yang jangkung, merendahkan tubuhnya mendekati telinga kanan Wiranata yang sedang bersiap untuk melompat maju membantu Jaka Wulung. Mada berbicara dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan tipis yang menyelinap di antara suara benturan kayu, namun mengandung ketukan tekanan yang begitu padat, mantap, dan dipenuhi oleh kejelasan komando seorang panglima sejati.

"Tuan Wiranata, jangan melompat ke arah depan tengah," bisik Mada dengan cepat, membuat Wiranata mendadak menoleh sedikit dengan mata melebar. "Perintahkan Jaka Wulung untuk menurunkan perisainya tiga jari ke bawah dan bergeser setengah langkah ke arah kanan untuk membiarkan tebasan instruktur meluncur bebas menghantam balok kosong. Pada detik yang sama, Anda dan Lembu Sora harus melesat masuk dari arah celah buta bawah bawah untuk mengetuk pergelangan kaki kiri instruktur sayap kanan yang tumpuannya sedang rapuh. Cepat katakan pada mereka sekarang sebelum perisai Jaka Wulung patah sepenuhnya!"

Wiranata merasakan sebuah getaran kewibawaan yang sangat magis merayap masuk ke dalam sanubarinya setelah mendengar bisikan Mada. Tanpa membuang waktu untuk berpikir lagi, ia langsung menggunakan seluruh sisa kekuatan suaranya untuk meneriakkan komando taktis yang baru saja diterimanya dari Mada.

"Jaka Wulung! Turunkan perisaimu tiga jari ke bawah sekarang dan geser langkahmu ke kanan!" teriak Wiranata dengan lantang, suaranya yang tegas mendadak memotong seluruh kepanikan teriakan Ragajaya. "Lembu Sora! Bangkit dan ikut aku! Kita tusuk celah bawah lambung kiri mereka sekarang juga!"

Mendengar komando Wiranata yang terdengar sangat jelas, terstruktur, dan penuh dengan kepastian arah tersebut, Jaka Wulung yang sudah hampir kehabisan tenaga seolah mendapatkan pasokan energi baru. Ia segera menarik kaki kirinya setengah langkah ke kanan dan menurunkan perisai bambunya sesuai aba-aba Wiranata.

Wus!

Tebasan gada kayu instruktur senior meluncur bebas menghantam permukaan balok kayu jati kosong dengan suara prak yang keras, menimbulkan getaran yang membuat tangan sang instruktur menjadi sedikit bergetar kaku. Pada detik yang sama, Wiranata dan Lembu Sora yang sudah melesat masuk dari arah bawah lambung kiri segera mengayunkan pangkal tombak kayu mereka secara bersamaan, mengetuk tepat pada titik simpul saraf pergelangan kaki kiri instruktur tersebut.

"Aduh!" jerit instruktur senior tersebut ketika keseimbangan tubuh raksasanya runtuh seketika akibat ketukan presisi Wiranata. Tubuhnya terpelanting jatuh ke atas tanah liat, membuat formasi pengepungan para instruktur di dalam labirin mendadak renggang dan pecah berantakan.

Mada tidak tinggal diam di barisan belakang. Sembari berpura-pura terhuyung karena ketakutan melihat jatuhnya instruktur, tubuh jangkungnya bergerak maju dengan sangat natural. Ujung tombak kayunya yang tumpul secara tidak sengaja terdorong ke depan, mengenai bagian belakang lutut instruktur kedua yang sedang bersiap untuk menyerang Wiranata. Sentuhan Mada dilakukan tanpa hawa murni sedikit pun, namun karena kepadatan otot alaminya yang luar biasa, instruktur tersebut langsung kehilangan pijakan dan jatuh terduduk di atas lumpur parit bersama Ragajaya.

"Maju! Ambil panjinya!" teriak Wiranata yang melihat celah kemenangan telah terbuka lebar di depan mata mereka.

Jaka Wulung dengan cepat melompat melewati tubuh instruktur yang terjatuh, menyambar sebilah panji kecil berwarna merah yang tertancap di ujung sudut balok kayu jati dalam hitungan dua puluh pulsa nadi sebelum batas waktu peluit berakhir.

Regu Serigala berhasil menyelesaikan simulasi labirin tersebut dengan status lolos, meskipun pemimpin resmi mereka, Ragajaya, harus keluar dari parit labirin dengan sekujur tubuh yang dipenuhi oleh lumpur hitam yang bau dan wajah yang memerah padam karena rasa malu yang luar biasa mendalam.

Ketika mereka kembali ke tepi lapangan luar untuk mengembalikan perlengkapan latihan, seluruh penghuni barak nomor empat tampak berkumpul mengelilingi Wiranata, memberikan pujian atas ketepatan komando taktis yang ditunjukkannya di tengah kekacauan labirin tadi fajar.

"Wiranata! Komandomu tadi benar-benar luar biasa!" puji Lembu Sora sambil menepuk pundak Wiranata dengan bangga. "Jika kamu tidak mengambil alih perintah dari Ragajaya yang sedang sibuk mandi lumpur tadi, regu kita pasti sudah diusir dari pelataran ini sekarang!"

Ragajaya berdiri terpisah di dekat pagar pancang jati, mengesat lumpur hitam di wajahnya menggunakan sisa kain latihannya dengan gerakan yang sangat kasar. Sepasang matanya menatap ke arah Wiranata dan Mada dengan kilatan kemarahan dan kecurigaan yang kian menebal di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa meskipun ia memegang jabatan resmi sebagai pemimpin regu, di dalam situasi kritis yang nyata, arah pergerakan Regu Serigala mulai bergeser mengikuti ketukan suara yang bukan berasal dari tombak air miliknya.

Mada sendiri tetap duduk bersila di sudutnya yang paling gelap di bawah naungan pohon mangga tua, memegang kendi tanah liatnya sambil memasang senyum polos keluguannya yang tidak bersalah. (Tahap awal pembentukan kepemimpinan bayangan di dalam Regu Serigala telah resmi dimulai, Ragajaya. Teruslah memegang jabatan kosongmu itu sebagai pelindung luarku; karena seiring berjalannya fajar di Trowulan, seluruh urat raga regu ini akan belajar untuk hanya patuh pada satu komando tersembunyi yang akan membawa mereka melangkah menuju puncak kejayaan tertinggi di tanah Nusantara.)

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!