NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Setelah mengantar Linda, Restu masuk lagi ke dalam pusat perbelanjaan itu. Matanya nyalang mencari seseorang.

(Kenapa hati kecilku mengatakan kalau itu Anisa. Alasan apa apa kalau nanti dia nanya Linda itu siapa)

Restu masih berjalan ke mari sana ke mari mencari sosok Anisa. Dia yakin istrinya tadi masih ada di dalam. Tapi setelah hampir satu jam Restu mencari, sosok Anisa tak di ketemukan juga. Restu mengacak rambutnya frustasi.

( Parkiran. Kenapa nggak kepikiran ke sana).

Restu bergegas menuju ke area parkir mobil, langkahnya yang tergesa dan tangannya yang sibuk menghubungi nomer istrinya membuat dia tak memperhatikan jalan di depannya.

Bruggh..

Tubuhnya bertumbukkan dengan seseorang dan menyebabkan belanjaannya jatuh berantakan.

" Hei... hati-hati mas kalau jalan, jangan sibuk main hp terus lihat belanjaanku jatuh dan berantakan semua.'

'Anisa. Mas, tadi nyari kamu ke sana ke mari ternyata ketemu di sini." Restu langsung memegang tangan wanita yang di tabraknya.

" Hei...jangan kurang ajar yaa..,main pegang-pegang aja. Anisa...Anisa... siapa hah! Selingkuhan kamu." wanita itu emosi.

" M..m..maaf mbak. Saya kira mbak orang yang saya cari, istri saya, soalnya warna bajunya sama dan pakai kaca mata juga."

Wanita itu memperhatikan Restu dari atas sampai bawah. Tatapannya tajam , senyum sinis terbit di sudut bibirnya.

" Laki-laki macam apa yang sampai nggak mengenali sosok istri sendiri. Sudah hidup bersama berapa tahun, sampai-sampai lupa mengenali bentuk tubuh istri sendiri." wanita itu terus menatap Restu.

Restu salah tingkah, apalagi saat mendengar kalimat yang di lontarkannya tadi.

" Tadi...saya lagi panik dan buru-buru,jadi salah mengenali orang." Restu memberi alasan.

"Makanya punya istri itu di jaga, jangan malah sibuk jaga orang lain." wanita itu masih melontarkan kata-kata pedas.

Bagi Restu kalimat-kalimat yang di lontarkan wanita di depannya, seperti di sengaja memojokkannya. Padahal mereka tidak saling kenal, mungkin karena Restu berada di posisi yang di katakan wanita itu , jadi dia merasa terpojok dan tersindir.

" Ini bagaimana, belanjaan saya mas.' wanita itu menatap Restu lagi.

" Saya akan ganti rugi, Bu. Maaf, saya lagi buru-buru." Restu mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya dan di berikan pada wanita itu.

" Mas...ini bukan ganti rugi, belanjaan saya tadi habis 10 juta. Mas cuma ganti rugi segini, ini cukup buat makan bakso sama seblak aja."

" Bu... belanjaan ibu kan nggak kotor, cuma keluar dari kantong doang. Itu ada 3 juta, bisa buat jajan seblak SE RT" kata Restu sambil jongkok merapikan belanjaan yang berantakan.

" Lain kali hati-hati, jangan sibuk main hp kalau jalan." kata wanita itu hendak melangkah pergi.

" Dan satu lagi...kalau punya istri baik itu jangan di sia-siakan, nyesel kau nanti." ucap wanita itu sambil meninggalkan Restu yang masih berdiri mematung.

Tak jauh dari tempat mereka tadi, sepasang mata memperhatikan mereka. Berdiri di antara patung manekin yang berjejer milik salah satu toko.

Kakinya gemetar, bukan karena takut, hatinya hancur saat mengetahui langsung pengkhianatan suaminya. Awalnya dia meyakinkan dirinya sendiri, dia pasti akan tegar , dan kuat.

Mungkin iya...jika hatinya terbuat dari batu.

Saat Restu sibuk merapikan belanjaan yang berserakan di lantai, Anisa perlahan meninggalkan tempat persembunyiannya.

Meski kakinya gemetar dia tetap melangkah , pandangannya sedikit kabur terhalang oleh air mata yang mulai menggenang di ke dua pelupuk matanya.

Rafli sudah menunggunya di lobby, dia yang menyuruhnya menunggu di sana, karena Anisa yakin Restu pasti akan mencarinya ke tempat parkir.

Tepat di depan lobby pintu mobil sudah terbuka, Rafli bersandar di mobil menunggu Anisa keluar. Begitu melihat Anisa berjalan menuju ke arahnya , Rafli menegakkan tubuhnya.

Langkah Rafli cepat menyongsong Anisa, dia merasa ada yang tak beres dengan cara Anisa berjalan. Benar saja, Anisa terkulai lemas, beruntung Rafli susah ada di dekatnya dan langsung menangkap tubuh Anisa dan membopongnya masuk ke dalam mobil.

Beruntung di belakang tak ada antrian mobil, Rafli mendudukkan Anisa menutup , dia setengah berlari memutar dan membuka pintu mobil yang sebelah lagi. Menggeser tubuh Anisa perlahan dan membaringkannya ,tak lupa bantal mobil dia letakkan di bawah kepala Anisa, agar nyaman.

Dengan cekatan Rafli meraih minyak telon yang ada di pintu mobil. Di oleskan sedikit ke lubang hidung Anisa perlahan.

"Bu Anisa bangun, Bu." bisik Rafli.

Bergegas Rafli memasuki kemudi dan melaju meninggalkan tempat itu, sebentar sebentar dia melihat ke arah bangku belakang, berharap Anisa sudah tersadar.

Rafli mulai cemas, matanya celingukan melihat ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu. Matanya berbinar saat melihat ada plang bertuliskan klinik 24 jam, tak jauh di depannya.

Setelah mobil terparkir, Rafli membopong tubuh Anisa, walaupun dengan susah payah seorang diri mengeluarkan tubuh Anisa dari dalam mobil.

" Sus ..tolong saya." Rafli berteriak pada suster jaga yang tengah duduk.

" Siap pak." Dengan sigap suster itu menyiapkan brangkar yang sudah standby di sana ,di bantu salah satu rekannya.

Rafli ikut mendorong brangkar tersebut, wajahnya terlihat panik dan cemas. Keringat membasahi dahinya,

" Aduh..pak..maaf jangan kenceng-kenceng, saya nggak bisa mengimbangi." kata suster yang paling depan. Rafli tersenyum kecut, dia baru sadar kalau susternya perempuan. Bingung kan ??

" Oh..maaf, sus. Saya khawatir soalnya."

" Tenang pak, tarik nafas. Sepertinya istri bapak hanya pingsan." saran suster yang satu lagi.

Deg..

Jantung Rafli berdebar saat suster itu mengatakan Anisa adalah istrinya.

( Aamiin) Rafli mengaminkan dalam hati.

Setelahnya dia menggelengkan kepala dan tersenyum konyol.

" I..i..ya, sus."

Anisa di bawa masuk ke ruang tindakan.

" Apa bapak ikut masuk juga?" tanya suster.

" Oh...saya tunggu di depan saja, sus. Kalau sudah sadar tolong panggil saya."

Suster mengangguk sambil tersenyum.

" Baik pak. Silahkan bapak duduk dan istirahat dulu." Rafli mengangguk setuju.

Rafli duduk berselonjor meluruskan kakinya, menyeka keringat dengan sapu tangan ,menyandarkan punggung pada sandaran bangku matanya terpejam sebentar. Terbit senyum kecil di sudut bibirnya.

Seolah sadar Rafli duduk tegak, kepalanya celingukan , seolah takut ada yang melihatnya senyum senyum sendiri. Dia bernafas lega setelah memastikan tak ada orang di sekitarnya. Rafli merasa malu pada diri sendiri , harapannya terlalu tinggi.

" Pak...maaf, istri anda sudah sadar. Sekarang bapak di tunggu di dalam." salah satu suster memberitahukan kalau Anisa sudah sadar.

" I...iya..sus, saya segera ke sana." Rafli kembali salah tingkah. Suster itu memandang Rafli sambil mengulum senyum.

Rafli memasuki ruangan Anisa di tangani, dadanya berdebar, bukan karena takut. Tapi khawatir kalau suster yang ada di dalam nanti bilang lagi kalau Anisa adalah istrinya.

" Silahkan pak, ibu sudah sadar."

Rafli mengangguk . " Terima kasih, sus."

" Sama-sama, pak." suster pun undur diri dari ruangan itu.

Rafli melangkah pelan mendekati tempat tidur Anisa. Tampak Anisa sedang menatap lurus ke arah tembok putih di depannya. Seolah sedang menyaksikan adegan adegan yang perannya di mainkan dirinya sendiri.

Ehemmm... Rafli berdehem pelan, takut mengagetkan wanita di depannya.

Anisa menoleh sekilas, tatapannya yang kosong kembali lurus ke depan. Rafli menghela nafas.

" Bu Anisa sudah sadar, syukurlah. Tadi saya khawatir sekali." Rafli mencoba memecah kesunyian di antara mereka.

Anisa tak bergeming, hanya matanya yang bergerak dan berkedip-kedip.

Rafli yang melihatnya semakin khawatir dengan keadaan Anisa. Seolah ingat sesuatu Rafli bergegas ke luar ruangan, beruntung dia bertemu dengan salah satu suster tadi.

" Sus bisa minta tolong, saya mau ambil tas di mobil sebentar. Tolong temani pasien sebentar."

" Baik pak." suster pun setuju.

Setengah berlari Rafli menuju mobilnya, setelah mendapatkan yang dia cari , Rafli kembali ke tempat ruangan Anisa di rawat.

Dering ponsel terdengar dari dalam tas yang dia bawa, tas Anisa. Sampai di ruangan, Rafli bernafas lega, Anisa tengah duduk bersandar di temani suster di sampingnya.

Anisa tersenyum kecil melihat Rafli masuk membawakan tasnya.

" Kalau begitu saya permisi. Oh..iya maaf, pak Rafli di tunggu di ruangan dokter. Ada sedikit laporan tentang hasil pemeriksaan istri bapak." kata suster tersenyum.

Rafli dan Anisa saling berpandangan, tatapan mereka canggung.

" Ta..tapi sus, saya..." Rafli menggantungkan kalimatnya.

" Di tunggu ya, pak." kata suster memastikan sekali lagi.

Rafli garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap Anisa seolah minta persetujuan, bagaimana pun dia bukan suaminya.

" Apa Bu Anisa mau menghubungi pak Restu untuk datang ke sini?" tanya Rafli.

" Pergilah...sudah di tunggu dokter." pelan Anisa menjawab.

" Ta...tapi Bu." Rafli mengajukan protes.

Anisa menatap tajam ke arah Rafli. Di tatap seperti itu Rafli jadi serba salah.

" Saya cuma nggak enak Bu. Tapi.... baiklah." Rafli bergegas menuju ruangan dokter yang sudah di kasih tahu sebelumnya oleh suster tadi.

Anisa menatap punggung Rafli hingga menghilang di balik pintu. Anisa membuka tasnya, memeriksa telepon genggamnya, ternyata ada banyak panggilan salah satunya dari nomer restu. Anisa mengabaikan.

Dia hanya membalas chat wa yang di kirim oleh Arista, itu pun dari layar utama, tanpa harus membuka aplikasi WhatsApp.

Menanyakan kabar Hanif , rewel apa tidak.

( Hanif aman. Dia anteng nggak rewel, sekarang lagi main sama Dimas dan Dityan)

( Oh.. syukurlah. Sebentar lagi aku pulang, mbak. Masih ada satu urusan lagi. Tolong kalau Restu telepon, bilang aku di rumah mbak Arista, tapi lagi keluar beli keperluan Hanif).

( Siap. Kamu tenang aja. Pokoknya aman )

Anisa tersenyum, mulai dari sini dia berjanji hidupnya harus baik-baik saja.

1
falea sezi
lama amat g sat set cpet donk buat cerai dua duanya adek kakk kok bego bgt mempertahankan benalu 😒
ElQue ElQue: Masih milih waktu yang tepat, mungkin
total 1 replies
falea sezi
cpet cerai anisa😒 laki mokondo g tau diri
ElQue ElQue: masih demen k 🤭
total 1 replies
falea sezi
goblok g sat set
ElQue ElQue: waduh..😍
total 1 replies
falea sezi
adek kakak sama sama di selingkuh in😒
ElQue ElQue: miris ya k 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!