"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA ELANG DI BALIK KACA GELAP
Gemuruh mesin kendaraan di distrik komersial barat perlahan meredup seiring dengan malam yang merayap turun. Langit jingga kini telah sepenuhnya berganti menjadi kanvas hitam pekat yang dingin. Namun, di dalam Toko Kue Tradisional Nenek, ketegangan yang tak kasat mata justru baru saja dimulai. Di seberang ruko tua itu, di bawah bayang-bayang gelap pohon trembesi yang rindang, sebuah mobil sedan hitam mewah yang mengkilap terparkir dalam keheningan yang mencekam.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan sedingin es, Elian Gava Alaric duduk menyendiri di kursi belakang. Jas seragam hitam SMA Elit Gava miliknya terpasang sangat sempurna tanpa kerutan sedikit pun pada tubuh jangkungnya. Rambut hitamnya yang berpotongan comma hair tampak berkilau legam di bawah temaram cahaya lampu dasbor, membingkai wajah simetrisnya yang pucat dan sangat tampan menawan seperti patung pualam yang tidak memiliki jiwa.
Aroma parfum amberwood yang hangat, mewah, dan maskulin memenuhi seluruh ruangan kabin mobil, namun aura yang dipancarkan dari sepasang manik mata hitam jelaganya terasa sangat pekat, tajam, dan menusuk.
Kaca mobil bagian belakang diturunkan hanya sekitar dua sentimeter. Dari celah sempit itu, tatapan elang Elian mengunci pemandangan di dalam toko kue dengan ketelitian yang menakutkan. Melalui kaca etalase ruko yang terang, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Lyra sedang memegangi lengan Ryzan Jonarland.
"Dia berani menyentuh milikku lagi," bisik Elian dengan nada suara yang teramat rendah, berat, dan dingin, menyerupai desis ular di dalam kegelapan malam yang sunyi.
Tangan kanan Elian yang mengenakan jam tangan kronograf hitam mahal mencengkeram erat tepi kursi kulit di depannya hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Rahangnya yang tegas mengeras, dan setitik api cemburu yang teramat besar bergejolak hebat di dalam dadanya yang bidang. Sifat sosiopatik nya yang ekstrem mendidih seketika saat melihat Ryzan mencoba mengacak-acak rambut kuncir kuda Lyra.
Bagi Elian, seluruh warna indah yang ada pada diri Lyra adalah hak milik pribadinya yang mutlak. Ia tidak sudi, bahkan benci setengah mati, melihat ada lelaki lain terutama pemuda flanel dari SMA Taruna itu berada di dekat gadis penuh warnanya.
Namun, sedetik kemudian, ketegangan pada rahang Elian perlahan mengendur. Seutas senyuman asimetris yang teramat menawan namun menyimpan kegelapan mutlak perlahan terukir indah di wajah rupawannya yang pucat. Ia melihat gerakan refleks Lyra yang menarik diri dan menjauh dari sentuhan Ryzan.
"Anak pintar," gumam Elian dengan nada berbisik yang teramat intens pada kesunyian kabin mobil. Sifat egoisnya merasa sangat puas. Taktik Conditioning dan trauma yang ia ciptakan di gudang tua semalam ternyata telah bekerja dengan sangat rapi pada psikologis Lyra. Aroma amberwood miliknya telah berhasil menancapkan jangkar sensorik palsu di otak gadis itu, membuat kehadiran Ryzan yang beraroma sabun mint mendadak terasa asing dan ditolak secara bawah sadar.
Elian mengambil ponsel pintarnya dari saku kemeja dengan gerakan yang tenang namun sarat akan ketegasan mutlak yang menekan. Ia menekan nomor Devan dan menaruh ponsel itu di telinganya, sementara matanya tidak lepas dari sosok Lyra yang sedang berjalan ke dapur belakang toko kue.
"Ya, El? Ada instruksi baru dari pahlawan rahasia?" tanya Devan dari seberang telepon dengan nada santai, sedikit berbisik karena ia sedang berada di tempat umum.
"Devan," panggil Elian pendek, suaranya yang teramat dingin dan berwibawa langsung membuat Devan di seberang sana menghentikan tawa candanya seketika.
"I-iya, El? Kenapa lagi? Ada masalah sama cewek beasiswa itu?" tanya Devan gugup, mendadak merasa merinding hanya dari mendengar intonasi suara sahabat miliardernya dari balik telepon.
"Tikus Taruna itu nekat keluar dari ruang isolasi medisnya dan sekarang berada di toko kue Lyra. Kaki kanannya yang terkilir tidak menghentikannya untuk mengotori mataku," perintah Elian dengan nada suara yang sangat lambat namun penuh penekanan yang mematikan, memperlihatkan betapa ia sangat tidak menyukai kegagalan dalam rencana kontrolnya.
"Hah?! Si Ryzan nekat kabur lagi dengan kaki cedera? Gila tuh anak," sahut Devan terdengar sangat terkejut di seberang telepon.
"Hubungi Pak Baskoro sekarang juga. Katakan padanya bahwa kedisiplinan di SMA Taruna sangat buruk hingga seorang murid cedera bisa berkeliaran di distrik komersial barat. Pastikan malam ini juga Ryzan dijemput paksa dan diberikan hukuman tambahan yang membuatnya tidak akan bisa berjalan selama satu minggu ke depan," lanjut Elian lagi dengan ekspresi wajah yang teramat tenang seolah sedang mengatur bisnis biasa, menyembunyikan sisi kejamnya di balik alasan penegakan aturan sekolah militer.
Devan mengembuskan napas panjang di seberang sana, mengerti seberapa posesif dan sosiopatik nya sahabat donaturnya ini jika sudah menyangkut hal yang mengusik obsesinya. "Oke, oke, El. Gue bakal telepon Pak Baskoro sekarang. Dijamin lima belas menit lagi tim asrama Taruna bakal meluncur ke toko kue itu buat nyeret si Ryzan balik. Lo tenang aja."
"Terima kasih, Dev. Pastikan tidak ada kesalahan," ucap Elian dingin sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban penutup dari sahabatnya.
Elian menurunkan kembali ponselnya, lalu menaikkan kaca mobil sedan mewahnya hingga tertutup rapat tanpa celah sedikit pun. Ia kembali menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit yang empuk, menutup kedua matanya perlahan untuk menikmati kemenangan kecilnya malam ini. Di dalam benaknya yang sakit namun jenius, ia tersenyum membayangkan bagaimana Lyra akan terus memandangnya sebagai malaikat penyelamat tunggal di hidupnya, tanpa pernah tahu bahwa tangan dingin nya lah yang sedang memutar poros kemalangan dan menjebak gadis itu di dalam sangkar obsesinya yang terkutuk.