NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Kembali yang Membakar Darah Amarah

Matahari sore di pinggiran ibu kota mulai tenggelam, memancarkan rona merah darah yang pekat di balik barisan pohon pinus yang mengelilingi mansion megah aliansi Alberto. Cahaya senja yang temaram itu menyusup masuk melalui celah tirai brokat emas di ruang rawat VIP paviliun barat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas lantai granit steril. Namun, keanggunan visual pantulan senja itu sama sekali tidak mampu menghalau atmosfer yang mendadak berubah menjadi sangat mencekam, panas, dan sarat akan silsilah ketegangan psikologis tingkat tinggi.

​Pintu ganda ruang perawatan berdesain neoklasik itu terbuka lebar tanpa suara ketukan. Langkah kaki yang terdengar kasar, pincang, dan terseret-seret memecah kesunyian lorong yang steril.

​"Lepasin gue, bangsat! Kalian gak tahu siapa gue, hah?!" Sebuah raungan parau, kasar, dan dipenuhi kepanikan yang liar menggema memekakkan telinga.

​Dua orang pria tegap berpakaian taktis hitam tanpa atribut melangkah masuk ke dalam kamar. Di antara mereka, tubuh Rian diseret secara paksa. Kondisi kakak kandung Alessa itu kini bener-bener hancur berantakan, jauh lebih mengenaskan daripada penampilannya di warung kopi kumuh Surabaya tadi siang. Kaos oblong putihnya yang dekil dipenuhi noda tanah merah, robek di bagian bahu, dan wajahnya bengkak-bengkak dengan darah segar yang masih merembes dari sudut hidungnya.

​Rian dihempaskan ke atas lantai granit yang dingin tepat di tengah ruangan dengan posisi berlutut paksa. Kedua tangannya terikat kencang ke belakang menggunakan cable ties plastik tebal yang mengunci pergelangan tangannya hingga memutih kehabisan darah. Napasnya memburu kasar laksana lokomotif karatan, dan sepasang matanya yang merah menyala oleh kombinasi sisa alkohol dan ketakutan massal bergerak liar mengitari ruangan mewah tersebut, sebelum akhirnya pandangan matanya terkunci telak pada sosok yang sedang duduk di atas ranjang medis.

​Alessa mematung. Jemari tangannya yang sedang memegang gelas kristal berisi air putih hangat mendadak kaku laksana es. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis dalam satu detik linear saat visual di depannya mengonfirmasi kehadiran monster domestik yang selama berbulan-bulan telah merenggut martabat kemanusiaannya.

​Seketika itu juga, memori malam berdarah kemarin langsung berputar gila di dalam otaknya: suara hantaman ikat pinggang kulit yang membelah udara, rasa linu yang menghunjam saat tulang belikatnya robek, dan rasa dingin yang mencekik batin saat dia harus berlari bertelanjang kaki di atas kerikil aspal Terminal Pasar Turi demi menyelamatkan nyawanya. Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa trauma neurologis yang masif mendadak membubung tinggi di dalam dada Alessa, membuat napasnya yang pendek-pendek terasa kian menyempit di balik balutan gaun sutra putih gadingnya.

​Amarah yang pekat, murni, dan membakar darah seketika meledak dari dasar jiwa Alessa, menghancurkan sisa-sisa ketenangan medis yang baru beberapa jam dia nikmati di tempat ini. Darahnya berdesir kencang, memicu denyut linu yang luar biasa hebat di sepanjang jalur jahitan mikro di punggungnya. Sepasang manik mata cokelat Alessa yang biasanya redup oleh kepasrahan, kini menyala dengan kilatan kebencian yang begitu tebal—sebuah konfrontasi emosional terbesar yang belum pernah dia tunjukkan selama hidupnya sebagai samsak hidup di rumah petak Surabaya.

​"K-Kak... Rian..." desis Alessa, suaranya terdengar sangat parau, bergetar di frekuensi kemarahan tertinggi yang sanggup dia keluarkan dari tenggorokannya yang kering.

​Rian melotot tak percaya menatap Alessa. Skala syok budaya finansial yang dialami Rian saat ini seribu kali lebih akut daripada apa yang dirasakan Alessa tadi siang. Dia melihat adiknya—gadis yang kemarin dia siksa hingga bersimbah darah, gadis yang dia buru tanpa alas kaki—kini duduk dengan anggun di atas ranjang yang seprainya terbuat dari katun Mesir mewah, mengenakan gaun sutra mahal, dan dirawat di dalam kamar yang luasnya setara dengan seluruh area sirkuit judi bawah tanah pelabuhan Surabaya.

​"Alessa?! Anak haram sialan!" Raungan beringas Rian kembali pecah, kepanikan psikologisnya bermutasi menjadi sebuah amukan gila untuk menutupi rasa kerdilnya di tengah kemewahan ini. "Jadi di sini lu sembunyi, hah?! Lu naik bus malam cuma buat jadi piaraan orang kaya di Jakarta?! Kurang ajar lu ya! Gara-gara lu kabur, malam ini kepala gue mau dipotong sama orang-orang pelabuhan! Lu bener-bener adek gak tahu diri! Sini lu! Turun dari kasur itu! Lu harus balik ke Surabaya malam ini buat bayar utang-utang gue!"

​Rian mencoba bangkit berdiri dengan kakinya yang pincang, namun salah satu eksekutor taktis berbaju hitam di belakangnya dengan cepat melayangkan satu hantaman lutut yang sangat presisi ke arah tulang rusuk kanan Rian.

​Bughhh!

​"Arghhh!" Rian kembali tersungkur mencium lantai granit, meludahkan air liur bercampur darah segar. Tubuhnya melungkur menahan sakit yang luar biasa, namun sepasang matanya yang beringas masih terus menatap Alessa dengan silsilah dendam yang belum padam.

​Meskipun badai trauma psikologis hampir meruntuhkan logika Alessa melihat amukan beringas kakaknya, sekring pelindung anomali di dalam otaknya menolak untuk membiarkan dirinya terlihat lemah di hadapan Rian. Tameng sarkasme radikal miliknya kembali terpasang secara paksa di garda terdepan, mengubah rasa takut dan amarahnya menjadi barisan kalimat komedi gelap yang setajam silet.

​Alessa meletakkan gelas kristalnya ke atas meja nakas dengan bunyi dentang yang sengaja diperkeras. Dia menegakkan punggungnya yang kaku, menatap Rian dari atas ranjang dengan seulas senyuman ironis yang dipaksakan di sudut bibirnya yang pecah.

​"Waduh, Kak Rian..." kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang menyengat, memotong udara kamar yang panas. "Penampilan lu sore ini bener-bener fasyun fisioner banget, Kak. Kaos oblong dekil dikasih aksen noda tanah merah, ditambah dekorasi lebam di wajah. Konsepnya apa nih? Gelandangan elit yang gagal melakukan ekspansi bisnis ke ibu kota? Lagipula, suara lu masih saja cempreng ya, padahal sirkulasi udara di kamar mewah ini sudah bagus banget. Hampir saja lampu gantung kristal di atas kepala gue ini pecah dengar gonggongan lu."

​Rian menggeram, giginya saling bergelatuk mengeluarkan bunyi berderit yang menjijikkan. "Lu berani menghina gue, Alessa?! Lu lupa siapa yang kasih lu makan dari hasil sisa judi gue selama ini, hah?! Tanpa gue, lu sudah mati kelaparan di selokan sejak bokap mampus!"

​"Kasih makan lu bilang?" Alessa tertawa pendek, sebuah tawa getir nan parau yang sarat akan silsilah penderitaan masa lalu yang kelam. "Menu makanan yang lu kasih ke gue selama ini cuma sabetan ikat pinggang buat sarapan, makian kasar buat makan siang, dan balok kayu buat makan malam, Kak. Manajemen nutrisi domestik lu bener-bener kriminil. Lihat nih telapak kaki gue," Alessa memajukan sepasang kakinya yang dibungkus perban mumi steril ke ujung kasur. "Ini adalah hasil dari fasyun tanpa alas kaki yang lu paksa gue pakai semalam. Bagus kan hasilnya? Sekarang penanganan kosmetiknya ditangani langsung oleh tim medis pribadi miliarder Jakarta. Kelas sosial gue mendadak naik kasta karena kreativitas penyiksaan lu yang gak punya otak itu."

​"Kurang ajar—"

​"Cukup."

​Sebuah suara berat, rendah, dan sedingin es kutub tiba-tiba memotong perdebatan panas tersebut dari arah ambang pintu.

​Aura kematian yang sangat masif seketika merayap masuk ke dalam ruangan, menurunkan suhu interior kamar rawat VIP hingga ke titik beku dalam hitungan satu detik linear. Giovanni Alberto melangkah masuk dengan keanggunan seorang kaisar tertinggi dunia malam. Setelan jas hitam pekatnya yang bersih dari noda memancarkan jarak sosial dan otoritas mutlak yang tak tersentuh oleh manusia biasa. Sepasang matanya yang hitam kelam menatap lurus ke arah Rian yang masih terkapar di lantai dengan tatapan datar laksana seorang hakim agung yang sedang melihat seekor serangga kotor di atas meja kerjanya.

​Rian mendadak bungkam total. Insting hewannya yang biasa mendominasi kawasan pelabuhan tua Surabaya seketika menciut drastis saat mendapati dirinya berhadapan langsung dengan manifestasi fisik dari Il Miliardario. Tekanan psikologis yang dipancarkan oleh Giovanni begitu masif hingga Rian merasa paru-parunya seperti dihimpit oleh sebongkah batu raksasa.

​Giovanni berjalan perlahan, menghentikan langkah kakinya tepat di samping ranjang Alessa. Dia menunduk sedikit, menatap lembar perban di telapak kaki Alessa sejenak sebelum mengalihkan pandangan matanya kembali ke arah Rian.

​"Jadi... ini pria yang bertanggung jawab atas kerusakan fungsional pada aset teka-tekiku?" tanya Giovanni datar, suaranya terdengar sangat tenang namun mengandung getaran bahaya yang sanggup membekukan aliran darah siapa saja yang mendengarnya.

​Dion, yang berdiri di belakang Giovanni, maju satu langkah sambil membawa map kulit buaya hitam berisi dokumen perjanjian berlapis emas yang tadi siang ditandatangani Alessa.

​"Benar, Tuan muda," jawab Dion patuh. "Pria bernama Rian ini adalah kakak kandung dari Alessa. Berdasarkan hasil operasi pembersihan tim taktis sektor utara di Surabaya dua jam yang lalu, seluruh jaringan penagih utang pelabuhan yang mengejar Alessa telah kami lumpuhkan secara total. Dan utang judi pria ini sebesar dua ratus juta rupiah... telah resmi dialihkan menjadi piutang pribadi di bawah nama aliansi Alberto."

​Rian terbelalak hingga matanya hampir keluar dari kelopaknya. "U-Utang gue... dilunasi? Siapa... siapa kalian sebenarnya?!"

​Giovanni tidak menjawab pertanyaan kerdil Rian. Dia merosokkan tangan kanannya ke dalam saku celana jas hitamnya, lalu menatap Rian dengan silsilah tatapan yang hampa dari segala bentuk belas kasihan manusia.

​"Di dalam duniaku, Rian... segala sesuatu memiliki harga dan konsekuensi," desis Giovanni dingin, artikulasi suaranya begitu presisi. "Aku telah membayar dua ratus juta rupiah untuk melunasi utang judimu di pelabuhan. Itu artinya, hidupmu, keselamatan kepalamu, dan seluruh sisa napasmu saat ini adalah properti finansial yang berada di bawah kendaliku. Dan hari ini, aku membawa dirimu ke hadapan Alessa... untuk memulai prosedur pembayaran bunga atas utang darah yang telah kamu torehkan di punggungnya selama berbulan-bulan."

​Alessa menatap punggung tegap Giovanni yang berdiri menghalangi pandangannya dari Rian. Aroma parfum mahal oud pria itu kembali menyerbak, berpadu secara frontal dengan bau amis darah dan tanah dari tubuh Rian, menciptakan kembali distorsi atmosfer sensorik yang sangat pekat di dalam kamar.

​Pertemuan kembali yang membakar darah amarah sore ini tidak lagi menjadi panggung intimidasi bagi Rian. Di bawah hukum internasional yang dikendalikan oleh kekuatan absolut Il Miliardario, selembar kertas berlapis emas yang ditandatangani Alessa tadi siang kini telah resmi bermutasi menjadi sebuah dekrit kematian yang siap meruntuhkan seluruh silsilah kesombongan domestik milik Rian dalam hitungan menit ke depan.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!