Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Orang yang Membunuh Leon
BOOOOOM!
Ledakan kedua mengguncang gudang.
Jauh lebih keras dari yang pertama.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Beberapa lampu tua pecah.
Suara logam berderit memenuhi bangunan.
"Keluar!"
teriak Ravian.
Seluruh anggota tim langsung bergerak.
Senjata terangkat.
Mata mengawasi setiap sudut.
Namun Kael tidak bergerak.
Ia masih menatap Adrian.
Karena ada satu hal yang belum selesai.
Satu jawaban yang selama bertahun-tahun dicarinya.
"Kau tahu siapa yang membunuh Leon."
ucap Kael.
Bukan pertanyaan.
Melainkan pernyataan.
Adrian tersenyum.
Dan senyum itu membuat suasana semakin dingin.
"Akhirnya kau bertanya."
Ledakan lain terdengar di kejauhan.
Namun tidak ada yang peduli.
Tidak saat ini.
Karena nama Leon jauh lebih penting.
Jauh lebih berbahaya.
Arda merasakan jantungnya berdetak keras.
Selama hidupnya...
Ia selalu mendengar versi yang sama.
Leon mati karena pengkhianatan.
Leon dibunuh.
Namun tidak pernah ada nama.
Tidak pernah ada wajah.
Hanya luka.
Dan sekarang...
Mungkin ia akhirnya akan mengetahui kebenarannya.
"Aku tahu."
jawab Adrian.
SUNYI.
Rahang Arda menegang.
"Siapa?"
Adrian memandangnya.
Beberapa detik.
Seolah sedang menilai sesuatu.
Kemudian ia berkata.
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Jawab."
ucap Kael.
Suaranya lebih dingin dari biasanya.
Adrian tertawa kecil.
"Lihat dirimu."
"Kau masih sama."
"Masih berpikir kebenaran akan menyelesaikan semuanya."
"Jawab."
ulang Kael.
Senyum Adrian perlahan menghilang.
Kemudian ia mengucapkan nama itu.
Nama yang mengubah suasana gudang dalam sekejap.
"Marcus."
SUNYI.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bernapas.
Arda merasa dunia berhenti.
Ravian membeku.
Darius memejamkan mata.
Kael berdiri tanpa ekspresi.
Marcus.
Nama itu kembali muncul.
Nama yang selama ini menjadi misteri.
Nama yang selalu berada di balik semua cerita.
"Itu bohong."
ucap Arda.
Refleks.
Otomatis.
Karena otaknya menolak menerima jawaban itu.
Marcus adalah sahabat Leon.
Marcus membangun Valdarez bersama Leon.
Marcus menghilang setelah perang lama.
Tidak masuk akal.
Namun Adrian hanya tertawa.
"Tepat seperti reaksi yang kuharapkan."
"Kau berbohong."
ulang Arda.
"Kuharap begitu."
jawab Adrian.
Kalimat itu membuat suasana semakin buruk.
Karena terdengar seperti penyesalan.
Bukan kebohongan.
Kael akhirnya berbicara.
"Ceritakan semuanya."
Adrian menatap pria itu.
Lalu menghela napas panjang.
"Leon tidak mati karena musuh."
ucapnya.
"Leon mati karena seseorang yang ia percayai."
Arda mengepalkan tangan.
"Kenapa?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Karena jika Marcus benar-benar melakukannya...
Maka harus ada alasan.
Harus ada.
"Keserakahan."
jawab Adrian.
"Ketakutan."
"Dan ambisi."
"Tiga hal yang selalu menghancurkan manusia."
Tatapan Adrian menjadi jauh.
Seolah kembali ke masa lalu.
"Malam itu."
lanjutnya.
"Leon menemukan sesuatu."
"Apa?"
tanya Ravian.
"Sebuah rahasia."
Semua langsung diam.
Karena kata itu terasa sangat penting.
Rahasia.
Rahasia yang cukup besar untuk membunuh seseorang.
Rahasia yang cukup besar untuk memulai perang selama puluhan tahun.
"Marcus tidak ingin rahasia itu terbongkar."
ucap Adrian.
"Jadi dia membuat pilihan."
Arda merasa darahnya mendidih.
Pilihan.
Hanya sebuah pilihan.
Dan pilihan itu membuatnya tumbuh tanpa ayah.
Pilihan itu menyebabkan ratusan kematian.
Pilihan itu menghancurkan hidup begitu banyak orang.
"Aku tidak percaya."
gumam Arda.
Adrian menatapnya.
Lama.
"Kau tidak perlu percaya."
"Karena aku membawa bukti."
Jantung semua orang seolah berhenti.
"Bukti?"
Adrian perlahan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah kunci kecil.
Berwarna perak.
Sudah tua.
Namun masih terawat.
"Ini milik Leon."
ucap Adrian.
Kael langsung mengenalinya.
Karena ia pernah melihat benda itu.
Bertahun-tahun lalu.
"Apa yang dibuka oleh kunci itu?"
tanya Darius.
Adrian tersenyum tipis.
"Sebuah kotak penyimpanan."
"Di dalamnya terdapat semua jawaban."
Tidak ada yang berbicara.
Karena semuanya memahami arti kalimat itu.
Semua jawaban.
Tentang Leon.
Tentang Marcus.
Tentang Victor.
Dan mungkin...
Tentang masa lalu yang selama ini disembunyikan.
Namun sebelum siapa pun sempat mengambil kunci tersebut...
Suara tembakan terdengar dari luar.
DOR!
DOR!
DOR!
Lalu teriakan.
"BANYAK ORANG!"
"MEREKA MENYERANG!"
Gudang langsung berubah menjadi kekacauan.
Ravian mengumpat.
Darius mengangkat senjata.
Kael bergerak menuju pintu.
Victor akhirnya datang.
Namun saat Arda menoleh ke arah Adrian...
Ia menyadari sesuatu.
Pria tua itu tersenyum.
Senyum damai.
Senyum seseorang yang sudah selesai dengan hidupnya.
Dan itu membuat firasat buruk muncul.
"Adrian—"
Terlambat.
DOR!
Suara tembakan tunggal menggema.
Bukan dari luar.
Dari dalam gudang.
Tubuh Adrian tersentak.
Darah muncul di dadanya.
Seluruh ruangan membeku.
Arda langsung berbalik.
Mencari penembaknya.
Namun yang terlihat hanya bayangan seseorang di atas jembatan logam gudang.
Sesosok pria.
Tinggi.
Berjaket hitam.
Dan memakai topeng.
Pria itu menatap ke bawah.
Tepat ke arah Adrian.
Lalu berkata pelan.
Namun cukup keras untuk didengar semua orang.
"Orang mati seharusnya tetap diam."
Jantung Arda berdetak keras.
Karena ada sesuatu yang aneh.
Sangat aneh.
Saat pria bertopeng itu berbicara...
Kael membeku.
Benar-benar membeku.
Seolah mengenali suara tersebut.
"Mustahil..."
gumam Kael.
Ravian langsung menoleh.
Karena ia juga mendengarnya.
Dan wajahnya berubah pucat.
Untuk pertama kalinya sejak Arda mengenalnya...
Ravian terlihat takut.
Benar-benar takut.
Pria bertopeng itu perlahan tersenyum.
Kemudian melompat mundur ke dalam kegelapan.
Menghilang.
Begitu saja.
Sementara Adrian terjatuh ke lantai.
Darah mulai mengalir.
Arda segera berlutut di sampingnya.
"Jangan mati."
Adrian tertawa pelan.
Meski darah keluar dari mulutnya.
"Terlambat."
Tangannya gemetar.
Namun ia tetap memegang kunci perak itu.
Lalu menyerahkannya kepada Arda.
"Dengarkan..."
Arda mendekat.
Karena suara Adrian semakin lemah.
"Sebelum Leon mati..."
"Bukan Marcus yang paling dia takutkan..."
Mata Adrian mulai kehilangan fokus.
Dan sebelum napas terakhirnya hilang...
Ia mengucapkan satu nama.
Nama yang membuat wajah Kael berubah drastis.
Nama yang bahkan lebih mengerikan daripada Marcus.
"...Kael."
Mata Adrian tertutup.
Dan ia tidak pernah berbicara lagi.
Sementara seluruh dunia Arda seolah runtuh dalam satu detik.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪