NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Proyek Besar Pertama

Hari Senin pagi berjalan seperti biasanya.

Luna baru saja menyalakan komputer ketika Sisil datang membawa dua gelas kopi.

"Nih."

Luna tersenyum.

"Makasih."

Sisil duduk di kursinya lalu menghela napas panjang.

"Aku berharap hari ini tenang."

Luna tertawa kecil.

"Baru jam delapan pagi."

"Aku tahu."

Sisil menyandarkan kepala ke kursi.

"Tapi instingku bilang bakal ada sesuatu."

Luna hanya menggeleng geli.

Namun ternyata beberapa menit kemudian ucapan Sisil terbukti.

Pukul delapan tiga puluh.

Pintu ruang kerja Amanda terbuka.

Wanita itu keluar dengan langkah cepat sambil membawa beberapa map.

Ekspresinya terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.

"Semua ke meeting room lima menit lagi."

ucap Amanda.

Tidak ada yang berani bertanya.

Karena nada bicaranya menunjukkan bahwa ini bukan rapat biasa.

---

Sepuluh menit kemudian.

Seluruh tim Public Relations sudah berkumpul.

Termasuk Rita, Adel, Luna, Sisil, dan beberapa staf lainnya.

Amanda berdiri di depan layar presentasi.

Wajahnya terlihat campuran antara tegang dan bersemangat.

"Aku baru selesai rapat dengan direksi."

katanya.

Ruangan langsung hening.

Biasanya informasi dari direksi berarti proyek besar.

Dan memang benar.

Amanda menarik napas.

"Dua bulan lagi perusahaan akan merayakan ulang tahun ke-35 Dimitri Group."

Beberapa orang langsung saling pandang.

Luna ikut memperhatikan.

Ia pernah mendengar acara ulang tahun perusahaan ini cukup besar setiap tahunnya.

Namun belum pernah melihatnya secara langsung.

Amanda melanjutkan.

"Dan tahun ini..."

Ia berhenti sejenak.

"Divisi kita ditunjuk menjadi pelaksana utama Family Gathering."

Ruangan langsung ramai.

"Serius?"

"Yang seluruh grup perusahaan itu?"

"Astaga..."

Bisikan terdengar di mana-mana.

Bahkan Rita dan Adel terlihat terkejut.

---

Family Gathering Dimitri Group bukan acara biasa.

Perusahaan itu memiliki ribuan karyawan yang tersebar di berbagai cabang.

Setiap tahun acara ulang tahun perusahaan selalu diadakan besar-besaran.

Tidak hanya dihadiri karyawan.

Tetapi juga pasangan, anak-anak, keluarga, direksi, komisaris, hingga tamu undangan penting.

Dengan kata lain...

Ini proyek raksasa.

---

Amanda menampilkan slide pertama.

Di layar muncul tulisan besar.

FAMILY GATHERING & ANNIVERSARY 35th DIMITRI GROUP

Luna langsung menelan ludah.

Ini jauh lebih besar dari acara kampus yang pernah ia tangani dulu.

---

"Kita punya waktu delapan minggu."

kata Amanda.

"Dan percaya atau tidak, itu waktu yang sangat singkat."

Semua langsung mengangguk.

Karena mereka tahu Amanda tidak berlebihan.

---

Amanda mulai menjelaskan hasil rapat direksi.

Tema besar acara tahun ini adalah:

Growing Together, Building The Future

Tema yang menekankan perjalanan perusahaan selama tiga puluh lima tahun bersama seluruh karyawan.

Mulai dari perusahaan kecil hingga menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia.

---

"Kita bertanggung jawab atas seluruh konsep acara."

jelas Amanda.

"Mulai dari rundown."

"Media publikasi."

"Dekorasi."

"Hiburan."

"Games."

"Koordinasi vendor."

"Sponsor."

"Sampai komunikasi dengan seluruh cabang."

Luna hampir pusing mendengarnya.

Daftarnya panjang sekali.

---

"Tunggu."

kata Sisil pelan di sebelah Luna.

"Aku baru dua bulan kerja."

Luna menahan tawa.

"Aku juga."

"Aku belum siap."

"Aku juga."

Mereka saling pandang.

Lalu tertawa pelan.

---

Amanda kemudian mulai membagi tim.

Rita dan Adel langsung mendapatkan posisi sebagai koordinator lapangan.

Sesuai pengalaman mereka yang cukup panjang.

Tidak ada yang keberatan.

Sampai kemudian Amanda menyebut nama berikutnya.

"Lunaria."

Luna langsung menegakkan badan.

"Iya, Bu."

"Kamu bagian konsep komunikasi dan publikasi."

Luna membeku.

"Hah?"

Amanda tersenyum.

"Ada masalah?"

"Nggak..."

Luna hanya tidak menyangka.

Tugas itu cukup penting.

Bahkan sangat penting.

---

"Bu Amanda."

Rita tiba-tiba mengangkat tangan.

Amanda menoleh.

"Iya?"

"Menurut saya posisi itu terlalu besar untuk staf baru."

Ruangan langsung hening.

Luna langsung tahu arah pembicaraan itu.

---

Amanda terlihat tenang.

"Kenapa?"

Rita tersenyum tipis.

"Kita punya banyak staf yang lebih berpengalaman."

Amanda mengangguk pelan.

"Saya tahu."

"Lalu?"

"Saya yang memilih."

jawab Amanda tegas.

Rita langsung diam.

Tidak bisa membantah.

---

Luna sedikit terkejut.

Selama ini Amanda memang selalu profesional.

Namun ini pertama kalinya wanita itu secara terang-terangan membelanya.

Dan entah kenapa hal itu membuat Luna semakin ingin bekerja maksimal.

---

Rapat berlangsung hampir dua jam.

Saat selesai, semua orang langsung sibuk.

Telepon mulai berdering.

Email mulai berdatangan.

Dan suasana lantai 23 berubah drastis.

---

"Kita mati."

kata Sisil saat kembali ke meja.

Luna tertawa.

"Belum juga mulai."

"Aku udah bisa lihat masa depan."

"Masa depan apa?"

"Lembur."

Luna langsung tertawa lebih keras.

---

Sore harinya.

Amanda memanggil Luna ke ruangannya.

"Masuk."

Luna duduk di kursi depan meja kerja Amanda.

"Ada yang ingin Ibu sampaikan?"

Amanda mengangguk.

"Kamu tahu kenapa saya pilih kamu?"

Luna menggeleng.

Sejujurnya ia juga penasaran.

---

Amanda membuka beberapa dokumen.

"Selama satu bulan terakhir aku memperhatikan pekerjaanmu."

Luna langsung fokus.

"Kamu cepat belajar."

"Kamu teliti."

"Dan kamu punya cara berpikir yang berbeda."

Luna sedikit terkejut.

Karena tidak menyangka Amanda memperhatikannya sejauh itu.

---

"Jangan sia-siakan kesempatan ini."

kata Amanda.

"Acara ini bisa jadi batu loncatan besar buat kariermu."

Luna mengangguk.

"Saya akan berusaha semaksimal mungkin."

Amanda tersenyum puas.

"Itu yang ingin saya dengar."

---

Sementara itu.

Di lantai 40.

Ryan masuk ke ruang kerja Alex seperti biasa.

"Kabar baik."

katanya.

Alex bahkan tidak menoleh.

"Apa lagi?"

"Proyek Family Gathering."

Alex mengangguk.

Ia tentu sudah tahu.

Karena keputusan itu berasal dari rapat direksi.

---

"Divisi Luna jadi pelaksana."

Ryan tersenyum.

Alex tetap tenang.

"Iya."

"Luna dapat posisi penting."

Alex akhirnya mengangkat kepala.

"Bagus."

Ryan menyipitkan mata.

"Kamu nggak khawatir?"

"Kenapa harus khawatir?"

"Itu proyek besar."

Alex menutup laptopnya.

Lalu berkata dengan tenang.

"Aku percaya sama dia."

Ryan langsung tertawa.

Jawaban yang sama lagi.

---

Malam hari.

Luna pulang dengan tubuh yang terasa lelah.

Namun matanya justru terlihat bersemangat.

Begitu masuk rumah, Alex langsung menyadarinya.

"Capek?"

tanya Alex.

"Banget."

jawab Luna.

"Tapi senang."

Alex tersenyum kecil.

"Ada apa?"

Luna langsung duduk di sampingnya.

Kemudian mulai bercerita panjang lebar tentang Family Gathering.

Tentang tema acara.

Tentang pembagian tugas.

Tentang Rita yang sempat memprotes.

Dan tentang Amanda yang tetap mempercayainya.

---

Selama hampir tiga puluh menit Luna bercerita tanpa berhenti.

Alex hanya mendengarkan.

Sesekali tersenyum melihat antusiasme istrinya.

Karena sudah lama ia tidak melihat Luna sebersemangat ini.

---

"Aku takut gagal."

kata Luna akhirnya.

Alex menatapnya.

"Kamu akan gagal beberapa kali."

Luna langsung cemberut.

"Itu lagi."

Alex tertawa kecil.

"Dan setelah itu kamu belajar."

Luna menghela napas.

Kadang cara Alex memberi semangat memang aneh.

Tapi selalu berhasil.

---

Malam semakin larut.

Namun pikiran Luna masih dipenuhi berbagai ide untuk acara tersebut.

Ia bahkan mulai mencatat konsep-konsep kecil di buku catatannya.

Sementara Alex memperhatikannya dari samping.

Diam-diam tersenyum.

Karena ia tahu.

Tanpa disadari, Luna sedang berkembang menjadi seseorang yang jauh lebih percaya diri dibanding saat pertama kali masuk perusahaan.

Dan dua bulan ke depan...

Akan menjadi ujian terbesar sekaligus kesempatan terbesar dalam kariernya.

Sebuah proyek yang bukan hanya menentukan sukses tidaknya acara ulang tahun perusahaan.

Tetapi juga akan membuat banyak orang mulai memperhatikan nama Lunaria Wulandari.

Termasuk mereka yang selama ini meremehkannya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!