Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bak Mandi Bintang Jatuh dan Inspeksi Tiran Fana
Matahari kembar perlahan mulai bersembunyi di balik garis cakrawala Benua Awan Surgawi, mengubah warna langit menjadi lautan darah yang menyala terang. Sinar jingga kemerahan itu menembus celah-celah daun pinus biru, menciptakan bayangan siluet yang memanjang mengerikan di atas halaman paviliun.
Angin senja berhembus membawa udara kering yang bercampur dengan debu hitam kosmik dari Batu Meteorit Bintang Jatuh. Hawa panas yang menyiksa belum juga reda, seolah alam semesta ikut bersekongkol untuk menyiksa para dewa persilatan yang sedang dihukum tersebut.
Suara dentingan logam yang beradu dengan batu keras akhirnya mulai melambat, digantikan oleh suara napas tersengal-sengal yang menyayat hati. Kepala Sekte Zhao Wuji menjatuhkan pedang emasnya ke tanah dengan sisa tenaga yang benar-benar sudah terkuras habis.
Pria paruh baya itu menatap bongkahan batu angkasa yang kini telah berubah bentuk menjadi sebuah bak mandi raksasa berukir awan. Kedua telapak tangannya hancur berdarah, kulitnya terkelupas parah memperlihatkan daging merah yang berdenyut menyakitkan di setiap embusan angin.
Korset baja yang mengikat perut buncitnya kini terasa seperti lingkaran setan yang perlahan-lahan meremukkan tulang rusuknya menjadi serpihan debu. Zhao Wuji memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata keputusasaan menetes melewati hidungnya dan jatuh membasahi tanah merah yang gersang.
Di sisi lain bak mandi raksasa itu, Tetua Lin masih merangkak dengan lutut yang bergetar hebat menahan kebas. Pria tua berjubah putih itu baru saja selesai memoles bagian dalam bak mandi menggunakan telapak tangannya yang sudah kehilangan lapisan kulit luarnya.
Darah segar dari tangannya sempat menodai permukaan hitam batu meteorit itu, namun dia buru-buru mengelapnya menggunakan ujung jubah sutranya sendiri. Tetua Lin sangat ketakutan jika noda darah itu terlihat oleh pemuda iblis di dalam paviliun, yang pasti akan menggunakannya sebagai alasan untuk memberikan hukuman baru.
Janggut palsu kebanggaan Tetua Lin kini sudah benar-benar miring ke satu sisi, menempel menyedihkan pada pipinya yang dipenuhi oleh keringat dingin. Dia meremas dadanya yang sesak, mencoba mengatur aliran energi spiritualnya yang kacau balau akibat tekanan mental yang tidak ada habisnya.
Sementara itu, pintu paviliun mewah yang terbuat dari Kayu Besi Seribu Tahun perlahan terbuka dengan suara derit pelan. Li Zhen melangkah keluar dari dalam ruangan yang sejuk, wajah pucatnya memancarkan kebosanan tingkat dewa yang sangat menyebalkan.
Pemuda bermulut sampah itu masih memegang botol sampo merah muda fana di tangan kirinya, mengayun-ayunkannya dengan ritme yang lambat. Dia menyipitkan matanya menatap siluet bak mandi hitam pekat yang berdiri gagah di tengah halaman yang dipenuhi oleh debu kosmik.
"Apakah kalian sudah selesai bermain-main dengan batu hitam itu, sekumpulan kakek-kakek yang pergerakannya lebih lambat dari siput lumpuh?" suara Li Zhen memecah keheningan senja. Bentakan santai itu langsung membuat seluruh tetua di halaman tersebut menahan napas mereka secara serempak layaknya pasukan yang diancam hukuman mati.
Zhao Wuji memaksakan dirinya untuk berlutut menghadap beranda, mengabaikan rasa sakit yang merobek jalur meridian di kedua tangannya. Pria perkasa itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi dan penuh dengan noda debu kosmik yang menjijikkan.
"S-Senior Agung, bak mandi dari Batu Meteorit Bintang Jatuh telah selesai kami pahat sesuai dengan desain yang Anda perintahkan," lapor Zhao Wuji dengan suara parau. Tenggorokannya terasa sangat kering seperti padang pasir, membuatnya harus menelan ludah berkali-kali untuk sekadar mengeluarkan suara.
Li Zhen mendecakkan lidahnya keras-keras, berjalan menuruni anak tangga giok putih dengan langkah yang sengaja diseret untuk menciptakan teror psikologis. Dia mendekati bak mandi raksasa itu, melipat lengan kanannya di dada sementara tangan kirinya masih memegang botol sampo.
Dia mengitari bak mandi batu itu dengan sangat lambat, matanya meneliti setiap inci ukiran awan yang dibuat oleh pedang emas sang Kepala Sekte. Langkah kakinya yang menginjak serpihan batu menciptakan suara gemeretak yang membuat jantung Zhao Wuji berdetak dua kali lebih cepat.
"Ukiran awan ini masih terlihat seperti gumpalan kapas kotor yang dibuang ke tempat sampah, tapi aku sudah terlalu lelah untuk memarahi ketidakmampuanmu," kritik Li Zhen merendahkan. Dia menyentuh ukiran tersebut dengan ujung jarinya, lalu mengusapkan debu hitam di jarinya itu ke jubah emas Zhao Wuji yang sedang bersujud.
Penguasa sekte terbesar di benua itu hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya menahan hinaan yang meremukkan harga dirinya. Dia tidak berani bergerak sedikit pun saat jari kotor pemuda fana itu mengotori pakaian kebesarannya yang dulu selalu bersih dan suci.
Li Zhen kemudian melongok ke bagian dalam bak mandi, menguji tingkat kehalusan permukaannya yang telah dipoles dengan darah dan air mata Tetua Lin. Permukaan batu hitam itu memantulkan cahaya matahari senja dengan sangat sempurna, membuktikan betapa kerasnya usaha pria tua tersebut.
Namun, senyum licik segera menghiasi wajah tirus Li Zhen saat matanya menangkap sebuah goresan setipis rambut di sudut dasar bak mandi tersebut. Dia menunjuk goresan mikroskopis itu dengan jari telunjuknya, memutar tubuhnya perlahan untuk menatap Tetua Lin yang sedang gemetar ketakutan.
"Tetua Lin, apakah kau menggunakan mata tuamu yang rabun itu saat memoles bagian dalam bak mandiku ini?" tanya Li Zhen dengan nada yang sangat mematikan. Pria tua berjubah putih itu langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, wajah keriputnya berubah seputih kertas saat menyadari kesalahannya.
"L-lihatlah goresan mengerikan ini, apakah kau sengaja ingin menggores kulit suciku saat aku sedang berendam nanti?!" bentak Li Zhen sambil menggebrak pinggiran bak batu tersebut. Suara gebrakan tangannya menggema keras, membuat Dao Heart Tetua Lin retak seketika karena kepanikan tingkat dewa.
Tetua Lin menangis meraung-raung, merangkak mendekati kaki bak mandi itu sambil memukul-mukul kepalanya sendiri ke tanah merah yang keras. "Hamba mohon ampun, Senior Agung! Mata hamba tertutup oleh keringat dan darah, hamba sama sekali tidak bermaksud mencelakai kulit Anda!"
Pria tua itu mengusapkan tangannya yang sudah tidak berkulit ke atas goresan tipis tersebut, mencoba menghaluskannya kembali dengan sisa tenaganya yang menyedihkan. Darah segar kembali menetes dari telapak tangannya, menodai batu hitam pekat itu dengan warna merah yang sangat kontras.
Li Zhen menatap penderitaan fisik dan mental itu dengan tatapan kosong yang sama sekali tidak memancarkan empati sedikit pun. Sistem Pembicara Sampah Surgawi di dalam kepalanya langsung berdenting merdu, memunculkan notifikasi poin yang selalu dia nantikan.
[Ding! Target Tetua Lin mengalami degradasi mental ekstrem dan penyiksaan fisik sukarela. Mendapatkan +8.500 Poin Sampah.]
"Sudahlah, berhenti mengotori bak mandiku dengan darah kotormu itu, kau membuatku merasa mual," usir Li Zhen sambil menendang pelan bahu Tetua Lin. Pria tua itu langsung mundur dengan patuh, masih terus menangis tersedu-sedu sambil menyembunyikan tangannya yang hancur di balik lengan jubahnya yang robek.