Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak berpisah.
Keesokan harinya didepan ruang sidang pengadilan negri...
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cahaya dengan nada kesal.
"Aku tak melakukan apapun," jawab Fery dengan tenang.
"Tak melakukan apapun," ulang Cahaya menarik sudut bibir atasnya, muak.
"Dokter Fery, kita sepakat untuk bercerai. Kenapa tiba-tiba?" tanya Cahaya kian menaikkan nada suaranya.
Wanita itu sudah berusaha menahan amarahnya, karena ini masih ditempat umum. Tapi, suaminya justru hanya bisa diam.
Cahaya mulai geram, perkataan Fery diruang sidang tadi tak sesuai dengan kesepakatan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia diancam oleh wanita yang jadi selingkuhannya, ia mengaku tak pernah selingkuh dan tak ingin berpisah dengan istrinya.
Dada wanita itu kembang kempis, ia tak tahu akan jadi seperti ini. Ia menatap lelaki itu dengan tajam, tangannya mengepal kuat menahan gejolak api yang terus meletup-letup.
Ia pun melangkah pergi meninggalkan lelaki itu tanpa mengatakan apapun.
Fery mengulurkan tangannya hendak menahannya pergi, tapi tenggorokannya serasa kering untuk memanggil istrinya lagi.
"Ia hanya marah sebentar, nanti juga pasti akan reda. Cahaya itu sangat menyukaiku, tak mungkin bisa hidup tanpa aku," Fery tersenyum yakin.
"Cahaya aku tak akan pernah melepaskanmu, sekalipun pria itu menculikmu. Aku akan membawamu kembali padaku," gumamnya menatap wanita itu sampai hilang dibalik tembok pengadilan.
**
Dikantor Cahaya masuk keruangannya yang mana sangat sepi, karena ini jadwal istirahat jadi semua rekannya pasti sedang mencari makan siang.
Sampai dimejanya Cahaya langsung duduk dikursinya, ia menyandarkan keningnya diatas meja dan menyembunyikan wajahnya yang masih geram. Pikirannya masih melayang pada hasil sidang pertama, dimana gugatan perceraian belum ada hasil yang memuaskan untuknya.
Jika terus begitu maka hasilnya ia bisa kembali dengan Fery, tentu ia tak mau mengulang rasa sakit itu. Tak pernah ada kekerasan, nafkah lahir dari fery pun tercukupi hanya satu yang belum pernah lelaki itu beri yakni nafkah batin.
Tapi, sialnya ia sudah tak perawan mana bisa ia melakukan tes hymen. Artinya akan sulit untuk menggugatnya.
"Bukti perselingkuhan," Cahaya bangun dan duduk dengan tegak, sayangnya waktu itu ia tak berpikir panjang soal bukti itu.
Bukan kah pria itu selingkuh, ia baru menyadari satu hal. Perceraian ini terjadi kerena Fery selingkuh, kini ia hanya tinggal mencari bukti kuat perselingkuhan mereka.
Tapi
Ia pernah mengaku selingkuh juga, apa bosnya tak akan masuk ke dalam masalahnya.
Cahaya menggigit bibir bawahnya, hari ini sial banget karena Fery berubah pikiran.
Duar!
Cahaya memekik pundaknya ditepuk kasar sekaligus, ia melirik ke sebelahnya. Ada Yumi yang terkikik melihatnya terkejut.
"Astaga Mimi! Kau membuatku kaget saja," ujar Cahaya dengan nafas yang tak teratur dan menyentuh dadanya yang tegang.
Yumi duduk dibangkunya sambil menaruh camilan kesukaannya, "Lagi mikirin apa, neng? Dari tadi aku panggil gak nyaut-nyaut."
"Hasil sidang tadi," jawab Cahaya singkat, lagi malas soalnya. Ia menyalakan komputernya dan mulai mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya.
"Benar juga hari ini ijin masuk siang karena kamu lagi sidang, jadi hasilnya tak sesuai harapan atau bagaimana?" Yumi mengambil makanan ringannya dan memakannya sambil mengobrol.
"Dia tak ingin berpisah, dia juga mengaku tak selingkuh," jawab Cahaya sembari memainkan mouse komputernya.
"Wah, benar-benar pria brengsek. Kalau begitu kau minta bantuan pria satu malam itu, untuk mencari bukti perselingkuhannya. Siapa tahu, dia bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan lawannya," ujar Yumi semudah jalan pikirannya.
Sejenak Cahaya menghentikan aktivitasnya lalu melirik Yumi, "Pria satu malam apa?"
"Yang ngasih kamu makan siang, camilan dan juga bunga. Aku gak sebodoh itu, Yaya. Walau kamu gak pernah cerita," Yumi mengambil camilannya dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.
"Pria seperti itu harus dipertahankan, dari pada si bapak dokter yang emaknya matre itu. Aku yakin ntar kamu kena mental," lanjut Yumi sambil mengunyah.
Cahaya memutar bola matanya, kalau Yumi tahu siapa pria itu entah akan pingsan atau koma. Yang jelas ia tak ingin meminta bantuan Rayyan untuk masalah rumah tangganya. Kemarin sore saja ia yang mengaku selingkuh dengan bosnya itu, sudah membuatnya kesulitan menjelaskan pada lelaki itu.
Kalau begitu terus Rayyan bisa jadi orang ketiga, mungkin juga akan mempengaruhi reputasinya.
"Aku pikirkan lain kali aja," ucap Cahaya kembali fokus pada pekerjaannya.
^
Hari kian larut, Cahaya masih berada didepan komputernya. Pekerjaannya sudah selesai tapi pikirannya masih nyaman berada disana. Seketika ia melihat jari manisnya, jari itu masih kosong dan tak pernah terisi oleh cincin nikah.
Ingatannya mulai melayang pada hari pernikahannya. Benar-benar tak ada niat, Fery tak membelikannya cincin untuk menunjukan bahwa mereka sudah menikah. Ia memaklumi alasannya, tapi itu membuatnya merasa tak dianggap.
"Kita tak butuh cincin. Aku seorang dokter bedah, cincin hanya mengganggu pekerjaanku. Yang ada nanti malah hilang." ujar Fery kala itu, tanpa senyum kebahagiaan sama sekali yang tergambar diwajahnya.
Cahaya tersenyum miris, ia begitu bodoh mengingat kata pria itu. Seharusnya ia paham dengan perkataan pria itu, sekarang malah baru menyadarinya. Bahkan perkataanya di rumah sakit kembali terngiang, ia pun melepaskan alat bantu telinganya dan menaruhnya diatas meja. Ia tak ingin mengingatnya.
Sementara dibalik pintu ruangan itu, Rayyan melihatnya sejak tadi. Sudah dari sore ia menunggu wanitanya, tapi tak terlihat turun sama sekali. Jadilah ia menyusulnya ke ruangannya, ternyata wanita itu tengah melamun sendirian.
Chandra datang menghampirinya, ia sempat melihat ke arah mana bosnya memandang. "Bos," panggilnya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Rayyan tanpa menoleh.
"Katanya dokter Fery tak ingin berpisah, dia bahkan tak mengakui perselingkuhannya. Ia juga sudah dipecat dari rumah sakit dan sudah putus hubungan dengan Cinthya, karena masalah pasien meninggal dimeja operasi," jawab asisten itu dengan jelas.
Rayyan mengepalkan tangannya, ia sudah geram melihat Cahaya diperlakukan seperti itu. Dulu ia membiarkan mereka menikah, walau katanya mereka dijodohkan. Ia pikir selama ini Cahaya bahagia, karena memang wajah wanita itu tak pernah menampakkan kesulitan dan kesedihan.
Namun faktanya ...
Andai malam itu tak terjadi apa-apa, mungkin ia tak akan pernah tahu tentang penderitaan wanita itu.
"Lakukan apapun agar semua orang melihat perselinguhannya," ujar Rayyan berupa perintah.
"Tapi, tuan Rayyan. Ini sudah termasuk mencampuri urusan pribadi karyawan, ini sama saja ...." Chandra ingin menasehatinya, ia hanya tak ingin bosnya terlalu ikut campur.
Chandra memghela nafas sejenak, sebelum ia melanjutkan kalimatnya.
"Masalah didepan gedung Galeri Tama sudah saya selesaikan, itu hampir membuat anda terseret pada kasus rumah tangga mereka. Jika anda terlalu ikut campur, reputasi anda akan rusak karena jadi orang ke tiga," ungkap Chandra menjelaskan.
"Masa bodoh!" umpat Rayyan.
"Kau ingin aku diam saja melihatnya dimanfaatkan oleh mereka, ibu dan anak itu hanya ingin uangnya bukan untuk mencintainya," ujar Rayyan membungkam asistennya dan menatapnya dengan tajam.
Chandra terdiam.
"Lakukan sesuai arahanku, aku ingin ia berhenti menyakiti wanitaku," titah Rayyan kembali menatap cahaya yang masih melamun.
***
Keesokan harinya ...
Saat Cahaya datang ke kantornya, ia dikejutkan oleh tatapan para rekan sesama kantornya. Awalnya ia mengabaikannya, tapi bisik-bisik mereka seolah membicarakan dirinya.
Ini masih dilobi.
Saat dilift gosip pun mulai terdengar jelas, bahwa yang mereka bicarakan adalah dirinya, rumah tangganya dan suaminya yang dokter. Tapi ia tak ingin berprasangka buruk, jadi ia pura-pura tak mendengarnya.
Ia pun sampai diruangannya, kini makin kental saja gosip yang beredar. Cahaya menelan ludahnya, ia berpikir mungkin itu adalah gosip diGaleri tama. Saat ia mengakui bosnya sebagai selingkuhannya, ia menggigit bibir bawahnya.
"Hancur sudah reputasi pak Rayyan," gumam Cahaya dalam hati.
Namun Yumi datang mendekatinya yang masih termangu didepan pintu.
"Yaya, apa kau sudah melihat berita viral?" tanya Yumi menatapnya iba.
"Memangnya berita viral apa? Tentang pak bos lagi atau ...." tanya Cahaya dengan ragu, ia berharap bukan masalah diGaleri tama.
"Bukan gosip tentang bos, tapi tentang suamimu," jawab Yumi merasa tak enak hati untuk memberitahukan.
"Apa?!" pekik Cahaya pelan.