Tolong tinggalkan Like Dan comment yah ❤😍
Danny sudah memantapkan pilihannya pada Rose, gadis yang lebih mudah darinya. Rose sudah terlanjur hidup dalam gelapnya masa lalunya, begitu berhasil mendapatkan Rose, ada saja cobaan dalam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesicca26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
"Senang bisa bekerja sama pak Danny, semoga proyek kita bisa menggebrak industri pasaran." kata Leo seorang investor
"Trima kasih, senang bisa bekerja sama." balas Danny sambil menjabat tangan Leo
Disamping Danny berdiri Stevany, mereka baru saja selesai meeting dengan Leo dan beberapa investor lainnya. Hari itu hari pertama mereka diMalang, kedatangan mereka langsung disambut pekerjaan yang cukup padat. Danny jadi lebih mengenali sosok ambisius Stevany dari caranya menghadapi client, dia masih terus menjaga jarak dengan Stevany yang terus mencoba mendekatinya.
"Pak Sam, tolong kosongkan jadwal malam ini. Saya ada urusan pribadi."
Telinga Stevany dipasang baik-baik saat mendengar permintaan Danny barusan, mulutnya mengembangkan senyum tipis. Rencana liciknya baru saja terlintas, dia nggak akan menyerah dengan mudah hanya karna penolakan-penolakan yang dilakukan Danny. Stevany sudah terbiasa mendapatkan semua keinginannya, baginya yang memiliki status sosial tinggi dan fisik yang cantik, mendapatkan Danny bukanlah hal yang sulit.
"Oh yah, kamu.." Danny menghadap Stevany sambil tersenyum licik "Malam ini Kevin investor dari kalimantan kebetulan ada disini, diMalang. Tolong tunjukkan kemampuan kamu mendapatkan minat dia dengan proyek ini." ucapnya.
Stevany terlihat tersenyum kesal, rencananya sepertinya akan gagal. Dan Danny benar-benar sengaja mau membuatnya sibuk, jadi dia nggak akan sempat mengganggu Danny.
"Kenapa nggak sama kamu juga?" tanya Stevany ramah
"Kevin seorang pria mudah seperti saya, dia paling suka ditemui sesama pengusaha mudah. Apalagi kalian sama-sama single, pembicaraan kalian akan lebih lancar tanpa saya."
"Wah, kamu benar-benar terlalu jujur. Okey kalo begitu, saya pastikan Kevin akan datag kesini dan menjadi investor kita."
"Bagus, lebih baik kamu siap-siap."
Stevany berbalik kasar, membuat high heelsnya patah dan mendadak oleng. Refleks tangan Danny menangkap Stevany, posisi mereka kini seolah berpelukan dengan posisi Stevany dibawah. Mendadak Stevany seolah terbawa suasana, Danny juga jadi salah tingkah.
"Ternyata, kamu lebih enak dipandang dari dekat." ucap Stevany sambil menatap mata coklat milik Danny
Bukk...
"Ahhh..." jerit Stevany menahan sakit karna jatuh kelantai
Danny sengaja melepaskan tangannya dari pinggang Stevany, membuat gadis itu terjatuh kelantai. Dia lalu berjalan menjauh meninggalkan Stevany yang masih terduduk meringis menahan sakit dibokongnya, pak Sam yang merasa serba salah, ingin membantu namun sosok Danny dengan cepat melangkah menjauh. Terpaksa pak Sam ikut meninggalkan Stevany yang menatapnya berharap pertolongan.
"What???? sekertarisnya juga ngacuin gue??" seru Stevany nggak percaya. Dia lalu mencoba bangun sendiri tanpa bantuan "Awas lo Danny, lo pasti bakal menyesal!!" umpat Stevany sambil meremas handbagnya
Dengan langkah pincang Stevany berjalan menuju mobilnya, mulutnya nggak berhenti mengoceh. Dia benar-benar kesal dengan perlakuan Danny, dia yang selama ini jadi pujaan banyak lelaki, malah mendapat penolakan mentah-mentah dari Danny.
"Awas lo Dan!! Bakal gue bikin lo menyesal, jangan panggil gue Stevany kalo nggak bisa dapetin lo!"
Mobil Stevany lalu meninggalkan halaman parkir, Stevany benar-benar merasa terhina sekaligus semakin berniat mencoba mendapatkan perhatian Danny yang sejak awal sudah menunjukkan penolakannya.
"Hahhh bener-bener tuh cowok yah, nggak ada ramahnya sedikitpun. Apa dia sok jual mahal?? Cihhh!! Sok jual mahal sama gue? apa kurangnya gue? gue pinter, sukses, cantik. Gue bahkan selalu senyum didepan dia. Iihhhhh sebeeellll!!!" jerit Stevany kesal sambil mengendarai mobilnya. Tangannya sesekali menggebrak stir mobil.
Sementara itu dikamar hotel Danny menelfon ke nomor Rose, dikamarnya Rose tiba-tiba duduk dikasurnya saat melihat nama pemanggil diHPnya. Dia menggigit ujung kukunya sambil berpikir untuk mengangkat telfon dari Danny, tangannya gemetar karna gugup.
"Halo.." Danny beranjak dari sofa saat telfonnya diangkat
Rose ragu mau bersuara, jantungnya berdebar cepat "Yah." ucapnya akhirnya meski singkat
Diseberang jantung Danny nggak kalah berdebar cepat "Rr..rrr.. Rose.. Slamat malam." ucapnya dengan nafas berat
"Malam." ditempatnya Rose masih gugup dan mulai bernafas berat karna jantungnya terasa sesak
"Kamu sudah makan malam?" Danny membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang dianggapnya konyol untuk dipertanyakan pada gadis dewasa yang jelas-jelas sudah tau kapan makan dan kapan nggak makan.
Duh Dan, jangan gugup. Bathin Danny.
"Sudah, tadi mama masakin sup."
"Ohh, terus obatnya udah minum?"
Plak! Danny menepuk jidatnya sendiri karna kembali bertanya hal yang baginya terlalu kentara kekanakan.
Yang masuk akal dong pertanyaannya Dan, masa ngadepin client boleh, ngadepin cewek kikuk! Protes Danny dalam hatinya
"Sudah, mama bilang kamu keluar kota?"
"Ii..Iya, lagi diMalang sekarang. Kenapa??"
Mulut Rose mendadak terkunci, jantungnya berdebar. Antara malu dan gengsi harus jujur jika dia mulai merasa kehilangan jika Danny nggak muncul sehari saja.
"Nggak, nggak apa-apa!"
"Ohh.." suara Danny terdengar kecewa
"Kapan balik?"
"Kemana?"
"Jakarta."
"Ohh secepatnya, sesuai jadwal dua hari. Kalo selesai cepat. Tapi kalo masih ada yang belum selesai, kemungkinan lebih dari dua hari."
"Ohh.." kalo ini suara Rose terdengar kecewa
"Tapi semoga cepat selesai, jadi bisa cepat balik ke Jakarta." lanjut Danny. Dia bisa mengetahui dari suara Rose kalo Rose terdengar kecewa.
Tangan Danny menepuk-nepuk dadanya karna berdebar cepat dan nafasnya terasa berat menahan gugup. Kali pertamanya bisa bicara dengan Rose ditelfon, dan kali pertamanya bicara dengan cewek yang disukai ditelfon.
"Rose??"
"Yah?"
"Ini terdengar aneh, tapi, bisa nggak mulai sekarang kita rajin saling ngasih kabar?" tanya Danny. Yah! Jantungnya kali ini benar-benar berdebar jauh lebih cepat.
Sejenak Rose terdiam.
"Rose?"
"Hmm.. Bisa."
Seketika Danny serasa terbang, seperti baru saja memenangkan tender besar, bahkan lebih! Mulutnya mangap-mangap menahan agar nggak terdengar ditelinga Rose jika nafasnya berat, dia bahkan nyaris berseru karena senang.
"Tapii.." ucapan Rose menghentikan nafas Danny yang nggak karuan
"Kamu, jangan bosan. Karna hubungan ini mungkin nggak akan semenarik seperti yang kamu tonton didrama korea." lanjut Rose lagi. Meski begitu bibir Rose mengembangkan senyuman yang nggak bisa dilihat Danny
"Nggak akan! Aku pastikan, perasaan aku sama kamu nggak akan pernah luntur, nggak akan pernah bosan."
"Yaudah kalo gitu."
"Yaudah??" Danny mengulang ucapan Rose barusan
"Iyaa, yaudah kalo gitu kita coba jalani."
YYEEESSSSS!!! Teriak Danny dalam hati.
Rose akhirnya benar-benar memberikan lampu hijau, Danny merasakan kebahagiaan yang nggak terkira.
"Kalo gitu, aku tutup dulu. Mau tidur." sambungan telfon langsung diputus Rose tanpa sempat dibalas Danny
Tangan Rose masih gemetar karna gugup, dia menempelkan HPnya kedadanya sambil mengatur nafasnya untuk kembali normal. Sementara Danny, dia duduk disofa sambil tersenyum penuh kemenangan, dia akhirnya bisa menembus perisai yang dipasang Rose dihatinya.
Danny sadar, pernyataannya benar-benar nggak jantan karna dilakukan lewat telfon. Semua mengalir begitu saja, dia juga nggak menyangka akan mendapat lampu hijau walau hanya bicara lewat telfon. Danny benar-benar nggak ingin kehilangan kesempatan.
Sekalian kasih rekomen novel yang rapi juga, judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib pakek tanda kurung ya nyarinya
mampir juga di ceritaku yh thor
"love with enemy