Sinopsis:
Liu Bai berusaha sekuat tenaga untuk mencapai puncak bela diri. Dalam menghadapi kesulitan, Liu Bai harus bertahan dan pantang menyerah. Hanya dengan begitu Liu Bai dapat menerobos dan melanjutkan perjalanan untuk menjadi yang terkuat. Suatu hari murid rendahan Liu Bai menemukan bela diri terkuat yang tidak pernah di sangkanya dan menempatkan dirinya di jalan menuju puncak dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAN JF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 21 - Menuju Ibukota Kekaisaran Biru Langit
Ketika Liu Bai sedang mencium wanita itu, Liu Bai mulai memainkan lidahnya dan memasukkan Pil yang sudah berada di dalam mulutnya ke dalam mulut wanita itu.
Gulp-!
Wanita itu pun berhasil menelan Pil yang di masukkan oleh Liu Bai melalui mulutnya.
Setelah itu, Liu Bai melepaskan ciumannya dari wanita itu.
"Selanjutnya." ujar Liu Bai sambil memasukkan lagi Pil tingkat Bumi yang berada di genggaman tangannya ke dalam mulutnya. Kemudian Liu Bai kembali mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu.
"...!" Wanita itu sontak terkejut saat pria itu akan menciumnya lagi dan wanita itu dengan cepat menutup kedua matanya.
Bersamaan dengan itu, Liu Bai mencium wanita itu. Kemudian Liu Bai kembali memainkan lidahnya dan memasukkan Pil yang berada di dalam mulutnya ke dalam mulut wanita itu.
Tubuh wanita itu mulai bergetar saat Liu Bai mencium dan memainkan lidahnya di dalam mulutnya.
Gulp-!
Pil tingkat Bumi kedua milik Liu Bai berhasil di telan oleh wanita itu.
Kemudian, Liu Bai melepaskan ciumannya dari wanita itu. Sesaat setelah Liu Bai melepaskan ciumannya, wanita itu terengah-engah dengan wajah yang memerah.
"Baiklah, ini yang terakhir." ujar Liu Bai.
'Eh?! Masih ada lagi?!' seru wanita itu di dalam hatinya yang terkejut saat pria yang ada di hadapannya mengatakan hal tersebut.
Bersamaan dengan itu, wanita itu pun mengangkat tangan kanannya dan membuka lebar telapak tangannya di hadapan Liu Bai.
"Aku akan melakukannya sendiri." ujar wanita itu kepada Liu Bai sambil memalingkan wajahnya yang memerah ke sisi lain. Tangan kiri Liu Bai yang sudah sejak tadi memegang dagu wanita itu pun terlepas dari wajahnya sesaat wanita itu memalingkannya.
"Baiklah. Lagipula kau sudah mampu untuk menggerakkan tanganmu dan berbicara kembali. Ini Pilnya." ujar Liu Bai kepada wanita itu sambil memberikan sisa Pil tingkat Bumi yang berada di genggaman tangannya ke telapak tangan kanan wanita tersebut.
Setelah memberikan sisa Pil tingkat Bumi tersebut, Liu Bai pun bangkit dan pergi menuju ke gerobak.
'Tidak ku sangka ciuman pertamaku akan di ambil oleh pria yang tidak ku kenal. Ti-Tidak hanya sekali, tapi dua kali.' gumam wanita itu di dalam hatinya sambil memasukkan Pil yang di genggamnya ke dalam mulut.
Gulp-!
Wanita itu pun menelan Pil tingkat Bumi yang di berikan oleh Liu Bai kepada dirinya.
'Aku sudah mengonsumsi 3 buah Pil ini. Tak ku sangka khasiatnya sangat luar biasa. Pil ini melebihi Pil yang biasanya ku konsumsi di kediamanku.' gumam wanita itu di dalam hatinya saat merasakan keefektifan 3 buah Pil tingkat Bumi pada seluruh tubuhnya yang baru saja di konsumsi oleh dirinya.
"...!" Wanita itu tersentak saat melihat Liu Bai sedang melihat-lihat gerobak tersebut.
'Apa yang ingin di lakukannya pada gerobak itu?' gumam wanita itu di dalam hatinya.
Di sisi lain, Liu Bai yang telah selesai melihat-lihat gerobak tersebut pun menghela nafasnya.
'Di sini tidak ada barang berharga yang dapat ku jadikan uang nantinya.' gumam Liu Bai di dalam hatinya.
'Kekeke... Cobalah periksa tubuh 2 orang itu.' ujar Sun Wukong menanggapi perkataan Liu Bai.
'Ya. Itulah yang mau ku lakukan selanjutnya.' ujar Liu Bai membalas perkataan Sun Wukong sambil berjalan menuju ke tubuh Zen Fen setelah melepaskan ikatan pada kuda dari gerobak tersebut.
Sesaat setelah berdiri di samping tubuh Zen Fen, Liu Bai pun berlutut dan mengecek seluruh bagian tubuhnya.
"...!" Liu Bai tersentak saat tangannya menggeledah tubuh Zen Fen.
'Ketemu.' gumam Liu Bai di dalam hatinya sambil mengeluarkan kantung berisi sejumlah koin dari dalam pakaian yang di kenakan oleh Zen Fen dan menyimpannya ke dalam pakaiannya sendiri.
'Cukup merepotkan selalu menyimpannya seperti ini. Mungkin saat aku tiba di kota, aku akan mencari artefak penyimpanan agar memudahkanku untuk menyimpan barang-barang seperti ini.' gumam Liu Bai di dalam hatinya.
Kemudian Liu Bai pun pergi ke tempat tubuh Wei Doyun tergeletak dan melakukan hal yang sama.
'Yang ini tidak memilik apa-apa.' gumam Liu Bai di dalam hatinya dengan kecewa.
'Baiklah. Saatnya untuk pergi dari tempat ini.' gumam Liu Bai di dalam hatinya.
Setelah itu, Liu Bai pun berjalan ke tempat wanita itu yang sedang beristirahat.
"Seharusnya kau sudah lebih baik setelah mengonsumsi Pil yang ku berikan padamu sebelumnya." ujar Liu Bai kepada wanita itu.
"Di mana kau tinggal? Aku akan mengantarmu." Liu Bai bertanya kepada wanita itu.
"..." Wanita itu hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
'Aku akan bertanya kepadanya lagi nanti.' gumam Liu Bai di dalam hatinya sambil menghela nafasnya.
"Kita akan pergi dari tempat ini." ujar Liu Bai.
Bersamaan dengan itu, Liu Bai berlutut di samping wanita itu dan tanpa banyak berkata-kata lagi Liu Bai pun menggendong wanita itu di depannya.
"...?!" Wanita itu sontak terkejut seakan tak mempercayainya dengan mata terbuka lebar.
"Kita berangkat." ujar Liu Bai sambil menggunakan Teknik Langkah Ilahi miliknya dan mulai melompat ke atas dengan masing-masing kedua kakinya menendang pijakannya di udara.
Sesaat setelah Liu Bai berada di udara, Liu Bai menekan pijakannya di udara dengan kuat pada kedua kakinya.
Boom-!
Liu Bai pun terbang ke arah Utara menuju Kekaisaran Biru Langit dengan cepat saat melepaskan pijakannya.
"...!" Wanita itu pun terkejut dan dengan cepat merangkul Liu Bai dengan erat.
Saat Liu Bai mendapati dirinya di peluk dengan erat oleh wanita itu membuatnya tersenyum kecil.
***
Beberapa jam pun berlalu. Wanita itu masih memeluk erat Liu Bai selagi mereka terbang di udara.
'Aku tanpa sadar melewati desa yang sempat di beritahukan oleh pembunuh bayaran itu. Sayang sekali.' gumam Liu Bai di dalam hatinya.
"...!" Liu Bai tersentak saat melihat apa yang ada tak jauh di depannya.
'Ada danau di sana. Ngomong-ngomong, aku belum membersihkan diri dalam waktu yang cukup lama. Mungkin ini sudah saatnya.' gumam Liu Bai di dalam hatinya.
'Kekeke... Pantas saja wanita itu tak mau berbicara denganmu. Kau pasti tahu maksudku.' ujar Sun Wukong menanggapi perkataan Liu Bai.
'Huh... Mungkin saja. Tapi aku tidak yakin akan hal itu.' ujar Liu Bai di dalam hatinya membalas perkataan Sun Wukong.
Kemudian, Liu Bai terbang menuju ke arah danau yang ada di depannya. Setelah sampai, Liu Bai pun mendarat di tepi danau tersebut.
'Kenapa dia berhenti di tempat seperti ini?' tanya wanita itu di dalam hatinya sambil melihat sekitarnya.
"Bisakah kau menungguku di balik pohon besar itu?" ujar Liu Bai sambil menurunkan wanita yang di gendongnya.
"..." Wanita itu hanya diam saat mendengar perkataan Liu Bai dan berjalan menuju ke pohon besar tersebut sesuai dengan arahan yang di berikan padanya.
Sesaat setelah wanita itu berada di balik pohon besar tersebut, dengan cepat Liu Bai meletakkan seluruh barang yang di bawanya dan melepaskan pakaiannya, kecuali Kalung Giok peninggalan dari Zhou Ming.
Di sisi lain, wanita itu penasaran dengan perkataan Liu Bai.
'Kenapa dia menyuruhku untuk menunggu di balik pohon besar ini? Apa yang mau di lakukannya?' tanya wanita itu di dalam hatinya.
Tanpa berkata-kata lagi, wanita yang sedang menunggu di balik pohon besar itu pun membalikkan tubuhnya dan mencoba melihat apa yang ingin di lakukan oleh Liu Bai.
"...!" Wanita itu di kejutkan dengan pria yang ada di depannya tak mengenakan pakaian apapun sedang berjalan masuk ke dalam danau tersebut.