"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bohong
"Sayang, ayo dong makan. Bunda jadi sedih, kalau kamu nggak mau makan begini", kata Sita sambil menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Gala yang masih terkunci.
Sudah dua hari ini Gala nampak murung dan tidak mau makan, karena kecewa Dimas sudah mengingkari janjinya. Sebelumnya Dimas sudah menyampaikan pada Sita dan Gala bahwa ia ada urusan bisnis ke Singapura selama seminggu. Namun, sudah 10 hari, pria itu belum juga kembali. Bahkan memberi kabar saja tidak.
"Ya udah, sekarang Gala maunya apa? Mau beli mainan, beli es cream, atau mau main di t**e z***?" Sita berusaha merayu Gala.
Gala menggelengkan kepalanya lemah, lalu meletakkan kepala itu di meja dengan kedua tangannya yang di lipat sebagai bantalan. "Gala mau Omm Dimas aja", kata bocah itu.
"Kan kemarin Omm Dimas sudah janji kalau kerjaan Omm Dimas sudah selesai, pasti Omm Dimas bakal pulang. Jadi Gala harus Sabar ya, pasti bentar lagi Omm pulang", kata Sita meyakinkan Gala sembari mengusap lembut kepala putranya itu.
Gala mengangkat kepalanya. "Tapi Omm Dimas bohong sama Gala. Katanya perginya 7 hari tapi sudah 10 hari, Omm Dimas belum pulang", kata Gala sambil menunjukkan jari-jarinya sesuai jumlah hari yang ia sebutkan.
"Mungkin pekerjaan Omm Dimas belum selesai. Jadi belum bisa pulang", Sita berusaha menjelaskan pada Gala. Tapi Gala tetap tak mau menerima.
"Omm Dimas bohongin Gala", teriak Gala sambil berlari naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
"Mbak Saroh, tolong buatkan Gala susu saja. Jangan lupa vitaminnya", kata Sita pada Mbak Saroh yang hendak menyusul Gala.
Sita memilih untuk masuk ke kamarnya juga, untuk menenangkan diri, karena kondisi kantor yang terlalu sibuk tadi, membuatnya sedikit lelah dan pusing.
"Dimas!" Seru Sita saat ponsel yang baru saja ia nyalakan, memperlihatkan riwayat bahwa Dimas telah 3 kali melakukan panggilan via video call satu jam yang lalu.
Wanita itu segera bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Dengan cekatan jari-jarinya bergerak mengetik pesan. 'Kamu kapan pulang? Gala ngambek nggak mau makan karena kamu nggak pulang-pulang'.
Lagi-lagi Sita harus kecewa, sudah sekitar 15 menit sejak pesan terkirim, namun Dimas tak membuka pesan itu, apalagi membalasnya.
Karena lelah menunggu, Sita memutuskan untuk tidur saja meski waktu belum terlalu mala. Setelah mengganti bajunya dengan piyama, ia segera merebahkan diri di atas tempat tidur.
Baru saja Sita hendak memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar bunyi nyaring dari ponselnya yang ada di atas nakas. Dengan malas Sita menggeser tubuhnya, meraih ponsel itu.
Sita segera menggeser tombol hijau, tatkala melihat bahwa Dimas tengah melakukan panggilan via video call kepadanya.
"Malam Sita, kamu sudah tidur ya?" Nampak di layar ponsel wajah Dimas yang sedang tersenyum sumringah.
"Kamu sekarang dimana? Kapan pulang? Gala nanyain kamu terus", kata Sita sambil bergerak turun dari tempat tidur.
"Tanyanya atu-atu bu Sita, bikin gedeg aja", kata Dimas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, sekarang kamu dimana?" Tanya Sita kata per kata.
"Buka pintu kamarmu, buruan!" Perintah Dimas.
"Nggak mau, di luar dingin. Lebih baik kamu ngomong sama Gala dulu, biar ponselnya kukasih ke dia" Kata Sita sambil berjalan mendekati pintu.
"Kubilang buka jendela sekarang, buruan, nggak pake lama!" Perintah Dimas lagi, yang akhirnya membuat Sita terpaksa menuruti permintaan Dimas.
"Udah" Kata Sita ketus.
"Maju dan terus!" Kata Dimas.
"Mau apa lagi sih", kata Sita protes, namun tetap menuruti perintah Dimas.
Sita menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya. Ia tak percaya orang yang berbicara dengan dirinya di ponsel, kini sudah ada di halaman rumahnya sambil melambaikan tangan kepadanya.
"Ayo cepat turun!" Kata Dimas dengan tangan yang masih melambai ke arah Sita berdiri.
Tanpa menunggu lama Sita keluar dari kamarnya dan berlari menuju pintu utama rumahnya.
"Dimas!" Seru Sita yang baru saja membuka pintu dan berjalan ke halaman.
Dimas yang sedang berbincang dengan sopirnya, menoleh ke arah suara orang yang memanggilnya. "Hai", kata Dimas sambil menggoyangkan tangannya.
Tak lama pria yang kini tengah mengubah sedikit penampilannya itu menghampiri tuan rumah yang masih berdiri diam di halaman. "Kenapa diam saja? Tersepona sama aku ya", goda Dimas sambil menaik turunkan alisnya.
Jengkel dengan ucapan Dimas, Sita membalikkan badannya, hendak masuk kembali ke dalam rumah. Tapi dengan cepat Dimas menarik tangan wanita itu dan memeluknya.
"Jangan pergi, biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku sangat merindukan Gala, juga dirimu", kata Dimas. " Sebagai sahabat", lanjutnya, membuat Sita yang hendak meronta, mengurungkan niatnya.
"Apa kamu tidak merindukanku?" Tanya Dimas.
Sita terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Gala yang merindukanmu", kata Sita.
Mendengar jawaban Sita, perlahan Dimas melepaskan pelukannya. "Ayo, aku tidak sabar ingin bertemu Gala", kata Dimas sambil berjalan meninggalkan Sita yang masih terdiam di halaman. Namun, tak lama wanita itu segera ikut masuk ke dalam rumah.
Dimas naik tangga perlahan agar Gala tidak menyadari kehadirannya, kemudian membuka pintu kamar Gala dengan hati-hati. "Gala", kata Dimas sambil berjalan mendekati Gala yang hampir tertidur karena punggungnya terus diusap oleh Mbak Satoh.
Gala segera turun dari tempat tidur tatkala netranya menangkap orang yang baru saja memanggilnya. "Omm Dimas", teriak Gala sambil memeluk Dimas yang juga tengah bersiap memeluknya.
"Omm kangen banget sama Gala", kata Dimas.
"Gala juga kangen sama Omm. Omm jangan pergi-pergi lagi ya nanti nggak ada yang jemput sekolah Gala lagi", kata Gala.
"Biasanya juga sopir atau Bunda yang jemput. Gala lebay ya", sahut Sita, yang membuat Gala memanyunkan bibirnya.
"Kata Bunda Gala nggak mau maem. Ayo sekarang maem, Omm yang nyuapin", kata Dimas yang kemudian di setujui oleh Gala dengan anggukan kepala.
Dengan telaten Dimas menyuapi Gala, hingga makanan satu piring yang diambilkan Mbak Saroh habis. Setelah itu ia menidurkan Gala. Karena rasa lelah yang begitu besar dirasakan oleh Dimas, Pria itupun ikut tidur bersama Gala di sampingnya.
########
Happy Reading 😘😘😘
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"