Diana seorang gadis pintar dan cantik. Ia dipertemukan dengan seorang bos yang ternyata adalah teman masa kecilnya. Ya teman kecil yang sangat usil padanya.
Selama menjadi salah satu karyawannya, hal-hal konyol selalu terjadi dan membuat si bos dingin itu menjadi bobrok. Adu mulut dan pertengkaran kecil pun tak terhindarkan.
Hingga suatu hari mereka harus menyetujui pernikahan yang tak berlandaskan cinta satu sama lain.
Bagaimana kelanjutannya?
Yuk kita kepoin cerita sama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22
"Siapa yang kau jenguk di rumah sakit? " Tanya Diana.
"Ibuku." Rifki menjawab singkat pertanyaan Diana.
"Memangnya ibu mu kenapa? " Tanya Diana lagi.
"Kau tahu kan kalau rumah sakit itu pasti orang sakit yang di rawat! " Ucap Rifki.
"Maksudku itu ibu mu sakit apaan? " Tanya Diana melarat ucapannya tadi.
"Ibu ku stroke. " Rifki tak bisa membendung air matanya. Ia pun meneteskan air matanya.
Baru kali Diana melihat teman kecil nya yang usil menangis sejadi-jadinya. Diana yang melihat pun merasa iba pada bosnya itu.
"Sudah-sudah jangan menangis, ini itu ujian. " Diana berusaha menyemangati Rifki.
Rifki masih saja menangis.
"Apa aku boleh menjenguk ibu mu? " Tanya Diana.
Rifki pun mengangguk kan kepalanya. Ia dan Diana pun pergi menuju ruangan Ibu Rifki. Sesampainya di sana, terlihat Pandu ayahnya Rifki, dan nyonya Hanum yang masih berbaring di atas kasur rumah sakit.Seluruh tubuh bagian kanan nyonya Hanum tak bisa digerakkan. Bibir Nyonya Hanum pun juga miring. Jadi kalau nyonya Hanum berbicara sedikit kurang jelas.
Diana menghampiri nyonya Hanum.
"Apa kau Diana? " Tanya Pandu melihat dengan seksama orang yang sedang berada di samping istrinya.
"Iya om saya Diana. " Jawab Diana.
Pandu pun mengangguk kan kepala.
"Tante ingat kan sama saya? " ucap Diana dengan senyum manisnya.
Nyonya Hanum tersenyum pada Diana yang mengisyaratkan kalau Nyonya Hanum masih ingat dengan teman kecil anaknya itu.
Rifki menghampiri ibunya nya untuk membersihkan keringat yang ada pada wajah ibunya.
Nyonya Hanum kemudian menunjuk ke arah Diana dan Rifki. Mereka bingung apa maksud dari Nyonya Hanum.
"Rifki, Diana, ayo kita keluar sebentar ada yang harus di bicarakan. " Ucap Pandu. Diana dan Rifki pun ke luar ruangan dan menghampiri Pandu.
"Apa kalian tahu apa maksud dari mami? " Ucap Pandu.
Rifki dan Diana menggeleng kan kepala tidak paham isyarat yang di berikan nyonya Hanum.
"Kalian tahu kan kalau saya ini teman baik ayah mu Diana. " Ucap Pandu bertele-tele.
"Ya saya tahu, memangnya kenapa? " Tanya Diana bingung. Rifki pun juga begitu.
"Saat kalian masih kecil, saya dan Baron telah membuat perjodohan antara Rifki dan kamu Diana. " Tutur Pandu.
Mata Diana dan Rifki terbelalak saat mendengar ucapan Pandu.
"Jadi maksud papi ini apa? " Selidik Rifki.
Rifki sudah dapat menyimpulkan apa arah pembicaraan ayahnya itu.
"Papi mau kalian menikah. " Ucap Pandu cepat.
"APA! " Ucap Rifki dan Diana bersamaan.
"Gak bakalan lah aku mau nikah sama dia. " Ucap Rifki menunjuk wanita yang berada di sampingnya.
"Betul tuh om mana mungkin saya nikah sama dia. Lagian kan jaman sekarang gak ada lagi perjodohan, anak jaman sekarang itu udah bisa mencari pasangan hidup masing-masing dengan di dasari oleh cinta bukan paksaan orang tua. " Tutur Diana agar Pandu mengerti.
"Tapi perjodohan ini sudah ada sebelum kalian di lahir kan. " Ucap Pandu tak mau kalah dalam berargumen.
Pandu menghembuskan nafasnya kasar.
"Rifki, mami itu maunya kamu nikah sama Diana. Apa kau tidak sayang dengan mami mu? " Ucap Pandu agar Rifki mempertimbangkan nya.
" Diana, apa kau tidak sayang dengan ayahmu? ini adalah permintaan ayahmu yang tidak ke sampaian. " Ucap Pandu lagi.
Rifki dan Diana di buat bimbang dengan perjodohan ini. Rifki memang sangat menyayangi ibunya, tapi untuk permintaan ini membuat Rifki linglung. Begitu juga dengan Diana.
kata Khan peta ,,,
😅😂🤣 ithu Khan kata Dora ,,,
smga kedepan'a lebih seru dan menghibur,,,😅