Esref Seorang pria yang cukup misterius namun banyak ditakuti oleh beberapa orang penting.
Esref hidup dalam pandangan yang runtuh semenjak kematian ibunya, sebagai putra tunggal dari keluarga yang sangat kaya-raya, ia hidup dengan sangat bermewah-mewah, namun itu tetap tidak memberikan emosi lain di hidupnya yang kaku.
Sampai datang lah seorang gadis cantik bernama Rubby Josephine North, gadis manis yang langsung mencuri perhatian esref.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...****************...
Fero melirik lantai dansa yang semakin ramai, lalu menoleh ke Audrey dan Jennie yang berdiri tak jauh darinya.
“Baiklah, nona-nona,” ujar Fero sambil merapikan jasnya dengan gaya sok percaya diri. “Bagaimana kalau kita bertiga berdansa? Aku bisa jadi penengah yang adil.”
Audrey mengernyit.
“Bertiga? Maksudmu kamu di tengah?”
“Jelas,” jawab Fero santai. “Kalian beruntung malam ini.”
Jennie menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, lalu tertawa kecil.
“Terima kasih, tapi tidak.”
Fero berkedip.
“Hah?”
Audrey menyeringai tipis.
“Kami lebih tertarik berdansa, tanpa kamu.”
“Apa?” Fero menunjuk dirinya sendiri. “Kalian menolak pria setampan dan seterampil aku?”
Jennie sudah menggandeng tangan Audrey.
“Yup.”
Audrey menambahkan dengan nada ringan tapi menusuk,
“Lagipula, kami nggak butuh pemandu yang terlalu banyak bicara.”
Mereka langsung melangkah ke lantai dansa. Musik yang lebih ceria mengiringi gerakan mereka,tidak rapi, tidak elegan, tapi penuh tawa.
Audrey berputar terlalu cepat dan hampir menabrak pasangan lain.
“Oops!”
Jennie tertawa keras.
“Kita memang nggak bisa dansa!”
“Tapi seru,” balas Audrey sambil tertawa lepas.
Dari kejauhan, Fero hanya bisa terperangah.
“Serius?” gumamnya.
Ia menghela napas panjang.
“Menari nggak jelas seperti itu lebih dipilih daripada aku?”
Seorang pria di sampingnya yang kebetulan lewat melirik.
“Masalah hati, Bro?”
Fero mendengus.
“Mereka buta. Jelas-jelas.”
Ia menyilangkan tangan, memperhatikan Audrey dan Jennie yang hampir menabrak lagi—kali ini malah tertawa makin keras.
“Lihat itu,” omelnya sendiri. “Langkahnya ngawur. Irama? Tidak ada. Postur? Hilang.”
Pelayan yang lewat menahan senyum.
Fero akhirnya mengibaskan tangannya.
“Sudahlah. Kalau mereka nggak tahu kualitas, aku cari yang tahu.”
Ia melirik sekeliling, menyisir para tamu wanita di ballroom.
“Oke, target baru.”
Seorang wanita bergaun merah berdiri sendirian di dekat bar. Fero menarik napas, kembali memasang senyum percaya diri.
“Waktunya bangkit,” katanya pelan. “Pria sepertiku tidak diciptakan untuk ditolak.”
Ia melangkah pergi, masih mengomel kecil,
“Tunggu saja. Nanti juga nyesel.”
Sementara itu, Audrey dan Jennie tertawa terbahak-bahak di lantai dansa.
“Kita jahat nggak sih?” tanya Jennie sambil terengah.
Audrey menggeleng.
“Sedikit. Tapi sepadan.”
Ballroom malam itu dipenuhi tawa, bisikan, dan ketegangan yang samar—
dan setiap orang, tanpa sadar, sedang melangkah menuju peran masing-masing dalam permainan yang lebih besar.
####
Rubby berdiri di dekat meja minuman, tangannya meraih gelas jus jeruk yang dingin. Ia menghembuskan napas pelan, seolah sedikit lega menjauh dari keramaian lantai dansa.
“Setidaknya di sini lebih bisa bernapas,” gumamnya pelan sebelum meneguk jus itu.
“Keramaian memang tidak selalu ramah.”
Suara berat itu membuat Rubby tersentak ringan. Ia menoleh, dan mendapati Esref berdiri tepat di belakangnya, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam.
“Oh, Tuan Esref,” ucap Rubby agak kaget. “Aku tidak menyadari Anda di sini.”
Esref melirik sekeliling ballroom yang penuh tamu.
“Kau terlihat seperti sedang mencari tempat berlindung.”
Rubby tersenyum kecil, sedikit malu karena tertangkap basah.
“Sejujurnya, iya. Pesta seperti ini, terlalu ramai untukku.”
Esref mengangguk pelan.
“Aku menduganya. Sejak tadi kau tampak menahan diri.”
Rubby meneguk jusnya lagi.
“Aku tidak pandai bersosialisasi di tengah keramaian seperti ini.”
Esref terdiam sejenak, lalu tanpa banyak basa-basi, ia mengulurkan tangannya ke arah Rubby.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berpindah ke tempat yang lebih, terarah?”
Rubby menatap tangan itu, lalu mengangkat wajahnya.
“Maksud Anda?”
“Berdansa,” jawab Esref singkat, nadanya datar namun tegas.
Rubby refleks menggeleng.
“Oh, tidak. Aku benar-benar tidak bisa berdansa.”
“Semua orang bisa berdansa,” balas Esref tenang. “Masalahnya hanya mau atau tidak.”
Rubby terkekeh kecil.
“Percayalah, kakiku tidak sependapat dengan pernyataan itu.”
Esref sedikit mencondongkan tubuhnya, suaranya direndahkan.
“Aku akan memandumu. Kau hanya perlu mengikutiku.”
Rubby ragu, matanya melirik lantai dansa yang penuh pasangan.
“Aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri.”
“Selama kau bersamaku,” kata Esref mantap, “tidak akan ada yang memperhatikan kesalahanmu.”
Ada jeda singkat. Rubby menatap mata Esref, lalu akhirnya menghela napas pasrah.
“Baiklah, tapi jangan tertawa jika aku menginjak kakimu.”
Sudut bibir Esref terangkat tipis.
“Aku berjanji akan menahannya.”
Rubby akhirnya meletakkan gelas jusnya dan menyambut tangan Esref.
“Ini pertama kalinya aku menerima ajakan dansa dari seseorang yang begitu… langsung.”
“Biasanya aku tidak bertele-tele,” jawab Esref.
Mereka melangkah ke lantai dansa. Esref menempatkan tangannya dengan sopan, sementara Rubby tampak sedikit kaku.
“Tenang,” bisik Esref. “Tarik napas, ikuti langkahku.”
Rubby mengangguk pelan.
“Jika aku salah langkah..?”
“aku yang akan menyesuaikan,” potong Esref.
Perlahan, gerakan Rubby mulai mengikuti irama. Kekakuan di bahunya mengendur.
“Oh,” ucap Rubby terkejut kecil. “Ini, ternyata tidak sesulit yang kupikirkan.”
“Kau belajar cepat,” jawab Esref. “Atau mungkin kau hanya butuh pasangan yang tepat.”
Rubby tersenyum tipis.
“Kalimat itu terdengar berbahaya.”
“Anggap saja pujian,” balas Esref datar.
Dari kejauhan, beberapa tamu mulai memperhatikan.
“Lihat itu,” bisik seorang wanita. “Esref berdansa?”
“Dan dengan wanita itu,” sahut yang lain, terkejut.
Rubby yang mulai sadar akan tatapan sekitar berbisik,
“Sepertinya kita menarik perhatian.”
“Biarkan saja,” kata Esref. “Malam ini bukan tentang mereka.”
Rubby menatap Esref sesaat, lalu tersenyum lebih lepas.
“Kalau begitu terima kasih sudah menyelamatkanku dari jus jeruk dan kesepian.”
Esref menatapnya singkat.
“Aku senang kau menerima ajakanku.”
Di lantai dansa, langkah mereka menyatu tenang, selaras.
...****************...