Seorang pemuda bernama Rendi Irawan yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas hanya bisa pasrah pada saat sebuah mobil truk yang kehilangan kendali menabraknya pada saat perjalanan pulang menuju rumah kontrakannya. Awalnya ia sudah pasrah akan keadaan yang menimpanya dan hanya bisa melihat truk tersebut yang perlahan menuju ke arahnya sampai akhirnya truk tersebut menabrak dan melindas hingga kepalanya hancur, namun sebuah keajaiban terjadi, sebelum ia benar-benar mati, tiba-tiba saja sebuah tangan bercahaya menarik rohnya hingga melintasi ruang dan waktu dan masuk kedalam tubuh seorang pemuda yang terdampar di atas batu dalam sungai, sampai akhirnya sebuah suara aneh terdengar di telinganya
DING!!!! Sistem Beladiri Terhebat telah menemukan player terpilih, tekan tombol YA jika ingin melanjutkan penyatuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aras507, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Sebungkus Roti
Sama seperti dugaan Mei Lan di awal perjalanan, keduanya akan keluar tepat dimana ia pertama kali masuk kedalam hutan tersebut. "Ini adalah tempat dimana aku pertama kali memasuki hutan."
"Baguslah, kalau begitu kau pasti tau arah menuju jalan raya bukan?"
"Ya... Jika melewati jalan lurus ini, maka kita akan menemukan jalan raya setelah berlari selama 20 menit."
Rendy mengangguk pelan kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju arah yang Mei Lan tunjukkan, namun ia kembali menghentikan langkahnya pada saat menyadari Mei Lan yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Ada apa?" Rendy bertanya sambil melihat ke arah dimana pandangan gadis itu tertuju, dan alangkah terkejutnya ia pada saat mendapati mayat seorang pemuda berpakaian sekte mata air jernih dengan wajah buruk dan tidak dapat dikenali lagi.
"Ini....." Rendy berjalan mendekati mayat tersebut sementara Mei Lan hanya bisa jatuh terduduk karena sangat mengenali mayat itu dari pakaian dan pedang yang ada di genggamannya.
"Long Gege!!!" Teriakannya sebelum jatuh terduduk dengan air matanya yang mulai mengalir perlahan.
Rendy yang melihat ekspresi wajah Mei Lan sontak saja mengerti kalau pemuda itu mungkin salah satu teman dekat dari gadis ini, ia kemudian mengambil pedang itu dari genggaman tangannya dan menyerahkannya pada Mei Lan.
"Sepertinya pada saat kau melarikan diri, ia sempat berniat mengulur waktu untuk melindungimu, sayang sekali ia harus berakhir seperti ini." Rendy bisa menebak kalau orang yang melakukan ini pada mayat pemuda tersebut tidak lain adalah Xiao Feng dan para perampok macan hitam lainnya.
"Dia adalah kakak seperguruan yang paling dekat denganku selain si penghianat itu, hari itu..... Seandainya saja aku mengikuti perkataannya, mungkin aku masih bisa melihat senyumannya saat ini." Mei Lan mulai menyalahkan dirinya sendiri karena di hari kepulangan mereka waktu itu, Long memang sempat berkata ingin menunggu gurunya lebih dulu sebelum kembali ke kota giok suci.
Namun karena desakan dari Xiao Feng yang berkata kalau akan berbahaya jika tidak kembali ke kota dalam waktu dekat membuat Mei Lan memutuskan untuk mengikuti saran Xiao Feng, dan pada akhirnya orang yang sangat ia percaya itu malah menjadi orang yang mengkhianatinya dan bahkan membunuh semua anggota sekte saudara seperguruan yang ikut bersamanya.
Rendy berlutut dan menyerahkan pedang itu pada Mei Lan lalu berkata. "Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, kau sama sekali tidak bersalah, yang seharusnya kau salahkan adalah kelompok perampok macan hitam. Lebih baik sekarang kita berikan pemakaman yang layak untuknya."
Setelah menenangkan gadis itu, keduanya kemudian menggali lubang dan menguburkan mayat long sebagaimana mestinya. Mei Lan menancapkan pedang biru milik Long di atas makam tersebut dan tak lupa berdoa sebelum meninggalkan tempat itu bersama Rendy.
Karena hari sudah gelap, akhirnya Rendy dan Mei Lan pun memutuskan untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan besok pagi, menurut penjelasan Mei Lan, jika keduanya berlari menyusuri jalan raya dengan kecepatan normal seperti tadi, keduanya bisa sampai ke sebuah desa kecil yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang dalam waktu setengah hari.
Seperti biasa, Rendy kembali memanggang daging monster dan membagikan sepotong daging itu pada Mei Lan, akan tetapi gadis itu hanya menatap daging tersebut dan tidak menyantapnya, Rendy bisa melihat ekspresi gadis itu berubah drastis pada saat menatap daging panggang yang ia genggam.
"Ada apa? Apa kau tidak lapar." Rendy mengerutkan dahinya pada saat mendengar jawaban gadis itu.
"Apakah tidak ada makanan lain selain daging, aku...... Emm....."
Rendy yang melihat itu seketika mengerti kalau gadis itu terlihat ngeri pada saat melihat daging tersebut. "Sepertinya mayat pemuda yang mengerikan itu membuatnya tidak berselera." Batin Rendy pada saat mengingat kembali mayat Long yang kulit wajahnya sudah di kuliti, dan sepertinya itu juga berhasil membuat Rendy kehilangan selera makannya.sepe
Melihat Rendy yang sepertinya juga tidak memiliki selera makan membuat Mei Lan tertawa kecil. "Aku pikir tadinya kau tidak peduli dengan hal itu, ternyata kau hanya sedikit melupakannya selama beberapa saat." Ucap gadis itu membuat Rendy menggaruk kepalanya.
Namun suara perut keduanya tiba-tiba terdengar, menandakan keduanya masih sangat lapar. "Sepertinya tidak ada pilihan lain." Mei Lan kembali meraih sepotong daging panggang tersebut dan menatapnya lekat sambil mencoba menghilangkan rasa tidak enak di dalam pikirannya.
Namun belum sempat ia menggigit daging panggang itu, tiba-tiba saja Rendy menyodorkan sebungkus roti besar yang ia beli dari toko sistem beberapa waktu lalu.
"Eh...... Kau...... Dari mana kau mendapatkan roti seperti ini."
"Kalau kau masih mau makan daging itu daripada roti ini, itu tidak masalah, tapi apa kau pikir bisa memakan daging itu dengan pikiran seperti sekarang, mungkin setelah kau menggigitnya kau akan memuntahkannya sebelum berhasil menelannya." Ucap Rendy.
Mei Lan menatap roti dan daging panggang itu secara bergantian dan mendapati bentuk roti itu sama sekali tidak sama dengan kebanyakan roti yang dijual di kota giok suci.
Namun rasa penasarannya tersebut dikalahkan oleh rasa laparnya dan tanpa pikir panjang gadis itu langsung menyambar roti dari tangan Rendy. Rendy hanya menggeleng kepalanya sebelum mengeluarkan 3 bungkus roti lain sebelum menyantapnya bersama.
"Enak sekali!!!." Mei Lan yang baru pertama kali memakan roti yang berasal dari dunia Rendy terlihat begitu menikmati roti tersebut dan dalam sekejap menghabiskan jatahnya yaitu dua bungkus besar roti berbentuk kotak, ia berniat mengambil satu bungkus roti lagi namun secara bersamaan Rendy juga melakukan hal yang sama membuat kedua tangan mereka tidak sengaja saling menggenggam.
Selama beberapa detik keduanya saling pandang dan pada saat Mei Lan tersadar dari lamunannya, ia dengan cepat menarik tangannya dan memalingkan wajahnya yang mulai memerah padam.
Rendy yang juga tidak sengaja memandang wajah Mei Lan nampak tersipu namun kemudian menyodorkan bungkus roti terakhir pada Mei Lan.
Mei Lan yang tadinya nampak malu tiba-tiba terkejut pada saat Rendy menyodorkan sebungkus roti terakhir padanya.
"Emmm.... maaf, tapi bukankah itu jatah untukmu, aku sudah menghabiskan 2 bungkus besar roti itu tadi." Ucap gadis itu dengan wajah yang masih merona.
Rendy tersenyum tipis lalu berkata. "Ini adalah roti khusus yang di buat di kota tempatku berasal, ini kuberikan padamu karena aku masih memiliki banyak bungkusan besar lainnya." Rendy mengeluarkan 2 bungkus roti lagi dengan varian warna yang berbeda dari sebelumnya dan seketika kedua mata gadis itu langsung berbinar.
Dan dengan kejadian itu, Rendy mulai merasakan sedikit penyesalan setelah gadis itu menghabiskan semuanya, karena menurut apa yang ia lihat, ini bukanlah terakhir kali gadis itu akan meminta roti miliknya yang ia dapatkan dari toko sistem.
"Untungnya harga dari bahan makanan di dalam toko sistem tidak terlalu mahal, hanya 1 koin sistem saja untuk 1 kardus roti besar." Batin Rendy sambil tersenyum.
Namun di detik berikutnya ia mulai sadar akan kesalahan berpikir yang ia lakukan, karena 1 koin sistem berarti setara dengan 500 koin perak di dunia nyata, dan itu adalah harga yang sangat fantastis untuk sekardus roti tersebut.
"Ugh......... sialan!!!! tidak terlalu mahal apanyaa." Batin Rendy lagi.