Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.
Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.
"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.
Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mesin ATMmu
Maira dan Azzam sangat beruntung karena saat berkunjung ke konservasi ada sekitar 50 penyu yang siap dilepas ke perairan. Tentunya Maira sangat gembira, dia senang melihat kegiatan itu. Setelah puas melihat penyu-penyu di pusat konservasi dan ikut serta melepaskan penyu ke perairan mereka langsung berburu oleh-oleh untuk dibagikan pada kerabat dan teman dekat.
Mereka pergi ke pusat oleh-oleh di Mataram, dimana mereka harus menyebrang pulau lagi untuk sampai ke sana, karena di Gili tidak menyediakan toko khusus untuk oleh-oleh. Untungnya pusat konservasi berada di sebelah dermaga fast boat.
"Mas Rae oleh-oleh yang paling khas dari Lombok apa?" tanya Maira dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan, sekarang mereka sudah berada di dalam mobil menuju Kota Mataram.
"Hmmm apa yaah... Ada banyak sih Mai mulai dari makanan sampai perhiasan" jawab Rae dengan mimik muka sedikit berpikir.
"Ini mah jawaban ga membantu sama sekali... anak sd juga tau mas kalo oleh-oleh itu ga cuma makanan aja" gerutu Maira sembari menendang kursi jok depan yang di duduki Rae.
"Udah tenang aja... aku jamin kalian bisa kalap nanti kalo udah nyampe di toko hahaha" ucap Rae dengan tertawa lebar.
"Ehhhh serius Mas Rae... duh mana list yang dapet oleh-oleh satu kertas full lagi" Maira meneplok jidatnya. Azzam yang melihat kelakuan Maira malah merasa terhibur, dia ikut tertawa cekikan.
"Udah Maiii... tenang aja kan mesin ATMnya aku hahaha" Azzam tertawa dengan penuh percaya diri.
"Oh gitu yaaa.... baiklah aku siap menghabiskan isi dalam atmmu"
"Tapi kakak ga boleh protes.... just silent and watch" titah Maira sembari mengangkat jari kelingkingnya dan mengarahkannya pada Azzam. Azzam tampak mengernyitkan dahinya.
"Kamu kenapa?" tanya Azzam dengan bingung.
"Aku mau kakak janji ga bakal protes jika memang aku benar-benar menghabiskan seluruh isi atmmu" Azzam ber-oh lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Maira. Sementara Rae hanya bisa menelan ludah kepahitannya karena melihat kelakuan dua sejoli itu. Tak lama mereka sampai di Mataram, Rae menghentikan mobilnya tepat di toko oleh-oleh makanan.
Maira langsung bergegas keluar dari mobil meninggalkan kedua laki-laki yang menatapnya dengan bingung, kemudian ikut menyusul Maira.
Maira sudah asik memilih berbagai macam makanan untuk oleh-oleh yang akan diberikan pada kerabat dan teman dekatnya, juga anggota BEM tak luput dari daftar list penerima oleh-oleh. Ditangannya terdapat kertas dan pena.
"Kak mau cobain dodol rumput laut?" tanya Maira setelah Azzam menghampirinya. Maira menyodorkan dodol khusus tester.
"Ehmmm ini enak... rasanya beda dari dodol biasanya" ucap Azzam setelah menggigit dodol yang diberikan Maira.
"Ya jelas beda lah Ka... inikan dodol rumput laut, beda sama dodol betawi. Oke mba saya mau 70 box yang ini, terus yang ditaruh dianyaman 10" Azzam yang mendengar ucapan Maira langsung membelalakkan matanya, mulutnya sudah terbuka lebar, Maira menimpuk mulut Azzam.
"Kebiasaan deh jangan buka mulut lebar-lebar... Kan tadi kakak udah janji ga bakal protes!" seru Maira.
"Iya iyaaa kakak duduk aja deh kamu bebas milih" Azzam segera menunjuk tempat duduk yang ada di samping kasir, di sana sudah ada Rae.
Maira melanjutkan sesi memilah-milih, dia berjalan menyisiri koridor yang tersekat dengan rak-rak makanan. Pandangan Maira tertuju pada terasi yang ada di rak toko.
"Waaah lumayan nih dapet terasi khas Lombok... bundakan suka bikin sambel terasi" ucap Maira, Azzam masih mendengar ucapan Maira tapi tidak berani berkomentar. Maira mengambil 5 buah terasi seukuran kepalan tangan dan memasukkannya ke dalam ranjang belanjaan.
"Ehhh ada susu kuda liar... jadi penasaran gimana rasanya... Mba yang ini ada testernya engga?" ucap Maira pada salah satu pelayan yang mengikuti Maira.
"Ada kak Mari saya ambilkan yang dingin" jawab pelayan dengan sopan. Maira sudah memegang gelas yang berisi susu kuda liar, dia mengamati warnanya, kemudian menggigit bibir bawahnya takut kalau rasanya tidak sesuai dengan lidahnya.
"Tenang aja mbaa... rasanya dijamin manis dan gurih beda dengan susu sapi maupun kambing, khasiatnya juga bagus" ucap pelayan itu menenangkan kekhawatiran Maira.
"Oke aku coba, bismillahirrahmanirrahim..." Maira meneguknya, lidahnya mengecap-ngecap kemudian menuntaskan sisa susu yang belum dia minum. Dia mengajungkan jempolnya pada pelayan itu. "Beda dari yang lain hehehe... saya mau 10 ya mbaa yang expnya masih lama"
"Oke mba.... mba mau coba madu juga?" tawar pelayan itu.
"Emm engga usah dicoba mba insyaaallah rasanya pasti manis... kecuali kalo disabotase sih hehe, saya mau 10 juga"
"Oke, mba mau permen dari susu kuda juga?"
"Ehmmm.... boleh deh 25 box ya mbaa"
"Baik, Kalo telur asin bakar?"
"Ehmmmm" Maira tampak berpikir sejenak. "Bolehlah 100 pcs deh... bentar deh mba saya samperin suami saya dulu siapa tau dia mau yang lain lagi" Pelayan itu mempersilahkan Maira menghampiri Azzam.
"Kak, kakak mau beli apa? oiya Mas Rae kalo mau pilih aja yaaa... tenang duitnya dari Kak Azzam hehe"
"Hmmmm" Azzam hanya berdehem. "Sana deh Rae saya ga mau Maira marahin saya kalo ga nurutin dia" Akhirnya Rae mencari makanan cemilan yang ada di rak.
"Kak... kakak mau kopi engga? tadi Maira lihat ada di etalase depan" Azzam mengganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia teringat kopi buatan Maira yang rasanya seperti buatan barista handal.
"Oke Maira ambil 10 bungkus yaaa, buat kita 4, buat bunda 3, buat mama 3, satunya buat kak Fathan hehehe tapi kak Fathan di Bandung... biarin ah nanti tinggal dipaketin aja" Azzam hanya memperhatikan Maira tanpa protes karena sesuai dengan janjinya.
"Mas Rae udah belum? kalo udah taro aja dikasir... " tanya Maira ketika melihat Rae sudah ada di depannya.
"Kak bayarin yaaa.... nanti Maira kasih hadiah deh" bisik Maira di telinga Azzam.
"Hadiah apa?" tanya Azzam dengan penasarannya.
"Ada deh... secret hanya Maira dan Allah yang tahu" ucapnya kemudian mengerlingkan mata kanannya.
"Kamu kok genit sih Mai..."
"Gapapa biar kak Azzam luluh... hahaha" Maira sudah tertawa dengan lebar lalu segera pergi mengambil kopi di etalase. Sementara itu Azzam langsung ke kasir.
"Mbaa udah ditotal semua? eh tunggu istri saya belum selesai belanjanya"
"Oh iya mas sebentar ini sedang di scan" jawab sang kasir sembari menscan belanjaan Azzam dan Maira.
"Rae mana belanjaanmu... sini taroh di kasir" Rae langsung meletakannya di kasir.
"Yang ini dipisah ya mba plastiknya" imbuh Azzam menunjuk belanjaan Rae, kasir menggangguk sopan.
"Mba ini terasi sama kopinya juga yaa..." Maira menyerahkan belanjaan yang dibawa di keranjang. Sang kasir dengan sigap dan teliti menscan belanjaan tamunya. Sementara pelayan yang lain sibuk mengpackingnya dalam kardus.
"Oke total semuanya Rp5.321.800,- "
Azzam langsung menyerahkan debit cardnya. Setelah selesai mereka melanjutkan berburu oleh-oleh berupa souvenir di art shop. Maira memilih beberapa tas, tatakan gelas, dan kotak tisu yang terbuat dari anyaman.
"Mas Rae kalo ga salah liat tadi disekitar jalan aku liat ada toko yang jual kain tenun deh" ucap Maira setelah selesai belanja di art shop. Mereka sudah kembali ke dalam mobil
"Oh iya itu nanti kita mampir... terus di pasar Senggigi kalo Maira mau beliin baju/kaos buat temen-temen bisa" jawab Rae yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Oke, terus tujuan kita sekarang ke mana?"
"Ke Sekarbela siapa tau mas Azzam mau beliin sesuatu buat kamu" jawab Rae santai.
Hening, karena mereka tidak tahu daerah itu dan apa yang dihasilkan dari sana. Tak butuh waktu lama, mobil mereka sudah memasuki kawasan Sekarbela. Di sepanjang jalan terdapat toko-toko perhiasan. Rae memarkirkan mobilnya di depan salah satu toko.
"Yuk kita udah sampe..."
Azzam langsung turun terlebih dahulu, menuju toko perhiasan di depannya. Dia melihat-lihat perhiasan yang terdapat mutiara di etalase. Pandangannya mengedar ke seluruh etalase. Kemudian pandangan itu jatuh pada kalung yang terbuat dari emas yang di kaitkan dengan 5 buah mutiara putih, dan tepat di mutiara ketiga terdapat bandul berbentuk bunga di sana. Dengan 22 k % dan berat 10.480 gram.
"Mas mau yang ini yaa..." ucap Azzam pada pemilik toko dan menunjuk kalung yang dia pilih.
"Kakak mau beli buat siapa?" tanya Maira yang sedari tadi hanya memperhatikan Azzam.
"Buat seseorang...." jawab Azzam tanpa menyebutkan nama.
"Ohhh" Maira membulatkan mulutnya.
"Mai... yang ini bagus ga?" tanya Azzam menunjuk gelang emas yang dibandul dengan bentuk kerang dan didalamnya terdapat mutiara sebesar biji jagung.
"Bagus kok kak..." ucap Maira dengan tersenyum.
"Oke mas yang ini juga yaaa...."
"Berapa semuanya?" tanya Azzam yang sudah siap memegang kartu sakti berwarna hitam, dengan tulisan visa signature di sana.
"Semuanya Rp 19.899.900,-.... " Azzam menyerahkan kartu kreditnya
"Atas nama siapa mas?"
"Ohhh itu.... Adeeva Humaira Alamsyah"
Maira membelalakkan matanya dan sontak menutup mulutnya yang menganga, dia tercengang.
"Kak.... Maira lemes nih" ucapnya dengan sedikit terbata, dia masih tidak percaya. Maira kira Azzam ingin membelikan untuk mamanya.
"Udah ga boleh protes... Masih lama ga mas nulis sertifikatnya?"
"Sebentar mas... ini on process" jawab pemilik toko. Tak lama pemilik toko menyerahkan paper bag dan mengembalikan kartu Azzam.
"Terimakasih mas sudah berbelanja disini... semoga puas yaa"
"Iya mas... yaudah saya mau lanjut perjalanan lagi. Ayok Mai" Azzam menggandeng tangan Maira kembali ke mobil.
"Ayo Rae... Kita beli kain tenun dulu terus ke sengigi" ucap Azzam setelah masuk ke dalam mobil.
"Iya mas... gimana Maira, kamu dibeliin apa?"
tanya Rae penasaran karena dia tidak ikut turun.
"Ehmmm ituu.... tanya aja sama Kak Azzam langsung hehehe"
Rae langsung melajukan mobilnya, karena dia sudah tau apa yang dibeli oleh Azzam. Raelah yang merekomendasikannya. Tak lama mereka sampai di toko penjual kain tenun, Maira langsung memilih kain dengan berbagai macam motif.
"Udah kak Maira udah selesai milih... yuk ke kasir hehe" ucap Maira lalu mengajak Azzam menuju kasir.
"Kamu beli berapa potong Mai?" tanya Azzam sembari menatap lurus jalan menuju kasir.
"100 kak hehehe maaf yaaa mungkin totalnya bisa lebih dari Rp10.000.000 karena masing-masing diatas Rp100.000"
"Oh yaudah.... ini mba" Azzam menyerahkan kartu kreditnya pada kasir. Setelah selesai dengan itu mereka menuju mobil di parkiran, sementara barang-barangnya dibawakan oleh pelayan toko dan dimasukkan ke dalam bagasi.
"Kak makasih yaaaa... Maira seneng deh kakak baik banget udah nurutin kemauan Maira... maaf Maira boros, tapi besok-besok lagi engga kaya gini, tenang aja sehari Maira cuma dikasih uang jajan Rp25.000 kok sama bunda"
"Iya gapapa yang penting kamu seneng" Azzam tersenyum melihat kegembiraan Maira.
Mereka melanjutkan perjalanan ke pasar Senggigi mencari berbagai pernak-pernik serta kaos untuk oleh-oleh yang akan diberikan pada teman-teman Maira.
***