NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:54.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Hening.

Semua pelayan menunduk serempak, tak ada yang berani mengangkat wajah sedetik pun.

Vana tertegun. Hatinya mencelos mendengar pembelaan Aksa yang begitu dingin namun penuh proteksi. Ia menatap para pelayan yang tampak ketakutan, lalu kembali menatap Aksa.

"Abang." tegur Vana lembut.

Dalam sekejap, sikap Aksa berubah total. Ia menunduk lagi, seperti anak kecil yang ditegur ibunya.

Para pelayan buru-buru menunduk lebih dalam.

"Maaf, Tuan Muda." jawab mereka serempak.

Vana hanya bisa menghela napas panjang, campuran antara gemas, tersentuh, dan tak tahu harus memarahi atau memeluk mereka.

Ia berdiri tegap.

"Sekarang kalian berdua berdiri. Mami nggak mau kalian begini."

Tapi keduanya tetap diam. Tetap berlutut. Tetap menunduk.

Seolah takut bergerak sedikit saja akan membuat Vana menghilang.

Vana mengerjapkan mata, lalu menghembuskan napas keras.

"Kalau kalian nggak berdiri juga…" ia memutar badan seolah hendak pergi,

"…Mami pulang aja."

"JANGAN!"

Dalam hitungan detik, Aksa dan Aska langsung bangkit berdiri. Begitu cepat hingga Vana sempat terkejut dan mundur selangkah. Keduanya berdiri tepat di depannya, wajah tegang, mata memohon, seolah dunia runtuh kalau Vana pergi sekarang.

Mereka tidak peduli dengan kemarahan Leo yang mungkin mengancam nyawa mereka. Tidak peduli hukuman apa yang akan menunggu. Yang mereka tahu, mereka ingin Vana tetap di sana. Dekat. Bersama mereka.

Vana hendak membuka mulut ketika—

GROOOOKK—

Suara itu bergema keras, bukan dari langit, bukan dari petir, tetapi dari… perut seseorang.

Vana berkedip.

Aksa melirik ke samping.

Aska menunduk mati-matian,wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

"Mi… itu bukan petir… itu perut Adek."bisiknya pelan tapi masih bisa didengar.

Aksa menepuk kening. "Serius, Dek? Bukannya makanan yang Om Kenan kasih tadi udah kamu habisin?" Tanya Aksa.

Aska menggeleng cepat.

"Makanannya… ada di bawah tempat tidur Adek." jawabnya pelan.

Vana mengerutkan kening, "Dibawah tempat tidur?. " tanya Vana bingung.

Aksa menghela napas panjang, seolah sudah terlalu sering menghadapi keanehan adiknya ini.

"Dia emang gitu, Mi. Kalau nggak suka sama makanan, Adek selalu sembunyiin di bawah kasur. Terus kalau Papi atau siapa pun nanya, dia bilang udah habis." ungkap Aksa.

 Aska menunduk makin dalam.

"Maafin Adek, Mi… tapi masakan Chefnya nggak enak."jawab jujur Aska.

Vana menghela napas.

"Nggak boleh gitu, sayang. Chef-nya masak buat kalian. Masa makanannya malah disimpan di bawah kasur?”

Aska memegang perutnya yang kembali berbunyi.

"Tapi Adek lapar, Mi… Adek mau makan ayam kecap yang waktu itu Mami masak."

Aksa mengangkat tangan.

"Abang juga mau, Mi!"

"Ayolah, Mi…" rengek Aska dramatis. "Adek lapar… kasihanilah anakmu ini"

Vana akhirnya tersenyum pasrah.

"Ya udah… Mami masakin."

Sekejap, keduanya langsung memeluk Vana erat-erat.

"Terima kasih, Mami sayang!" ucap mereka kompak, penuh semangat.

Vana menepuk punggung mereka pelan.

"Iya… sama-sama. Tapi Mami mau ganti baju dulu."

Aska buru-buru bertanya,

"Mami bawa baju ganti?"

Vana menggeleng.

"Nggak. Mami pinjam baju salah satu dari mereka aja." Ia melirik para pelayan.

Aksa langsung menggeleng cepat.

"Nggak usah! Mami pakai kaos Abang aja."

"Nggak usah, Abang. Mami—"

"Tunggu, Mi! Abang ambilin dulu!"

Aksa langsung berlari secepat angin menuju kamarnya sebelum Vana sempat menolak lagi.

Vana hanya bisa menghela napas sambil tersenyum kecil, sementara Aska menatapnya sambil memegangi perut yang masih keroncongan.

🍁🍁🍁

Sementara itu diruang kerja Leo, Agam dan Kenan baru saja sampai, keduanya langsung masuk setelah mengetok pintu itu.

Pemandangan yang pertama kali mereka lihat adalah Leo yang sedang mondar mandir diruang itu, seperti orang yang sedang gelisah. Agam dan Kenan saling melempar pandang. Kemudian mereka segera mendekati Leo.

"Lo kenapa Le? Mondar mandir kayak setrika gitu.? Ada masalah?. " tanya Agam penasaran.

Leo berhenti seketika. "Ken, tolong periksa jantung gue. Kayaknya gue ada masalah sama jantung."

Agam dan Kenan mengerjap. "Sakit jantung?" ucap keduanya kompak.

"Buruan, Jantung gue udah berdebar dari tadi. " Desak Leo dengan kesabaran nya yang setipis tisu.

Agam dan Kenan kembali saling melempar pandang,kali ini lebih bingung dari sebelumnya. Tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi dengan sahabat mereka itu.

Meski begitu, Kenan tetap bergerak cepat. Ia pergi mengambil peralatan medisnya ke kamar, lalu kembali beberapa menit kemudian. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeriksa Leo dengan telaten.

Tak lama kemudian Kenan mengangkat wajah. “Semuanya aman kok. Nggak ada masalah sama kesehatan lo.”ucap Kenan setelah memastikan kesehatan Leo.

Leo mengeryit. "Lo yakin? " ucap Leo yang tak percaya.

Kenan menghela napas. “Menurut lo gimana, Le?”tanya balik Kenan.

Leo menjawab dengan suara datar. “Gue sehat. Olahraga tiap hari. Gizi seimbang. Nggak pernah sakit.”

Agam yang sedari tadi hanya memperhatikan, akhirnya angkat suara. “Le, gue boleh nanya sesuatu nggak?”

Leo mengalihkan pandangan sebentar. “Tanya apa?.”

“Kapan jantung lo mulai deg-degan nggak jelas gitu?”tanya Agam sambil mengangkat alis, nada curiganya kentara.

Tanpa jeda, tanpa drama, tanpa emosi, Leo menjawab, “Saat Vana deket sama gue.”jawab singkat nya.

Hening. Tapi bukan hening dramatis,hening karena Agam dan Kenan butuh tiga detik buat yakin kalau yang diucapkan oleh sahabatnya ini serius.

Agam langsung menunjuk Leo. “ Sesuai sama tebakan gue!” kata Agam.

Kenan menatap Leo sambil tenganga. “Jadi… lo deg-degan karena Vana?”

Leo tetap datar. “Kayaknya.”singkat.

Agam menghela napas panjang. “Le, itu namanya jatuh cinta,bukan masalah jantung.”ucap Agam, Namun Leo hanya diam tanpa ingin menanggapi.

Kenan mengangguk-angguk sambil menahan ketawa. “Iya, cinta memang sering gitu,bro.”

“Ngerepotin,” komentar Leo, kemudian ia bangkit dan berpindah duduk dikursi kerja nya.

“Tapi wajar, Le. Deg-degan kalau deket orang

yang lo suka.”ucap Kenan.

Leo hanya berkata, “Ganggu konsentrasi.”balasnya.

Kenan tertawa kecil. “Terus mau lo apain? Mau operasi perasaan lo biar mati rasa lagi, gitu?”

Leo menatapnya lama, datar. “ Kalau bisa,kenapa tidak?”ucapnya. Padahal dilubuk hati Leo yang paling dalam ia juga sedang mempertanyakan tentang perasaannya ini.

Agam langsung membalas cepat. “NGGAK BISA, LEONARDO PRADIPTA!”

Leo menatap datar Agam. "Gue nggak sebodoh lo. " ucap Leo langsung menusuk kejantung Agam.

"Jantung gue. " ucap Agam dramatis sambil memegang dada nya.

Kenan sampai menutup wajah dengan tangan melihat kebodohan kedua sahabatnya ini. “Gue nggak tahu harus kasian atau ketawa liat kalian berdua.”

Leo masih tanpa ekspresi. “Gue pilih jangan ketawa.”

Agam dan Kenan akhirnya ketawa juga.

Leo tetap diam. Datar. Seperti biasa.

Cuma jantungnya aja yang nggak.

🍁🍁🍁

Di dapur,

Vana sedang sibuk menyiapkan beberapa bahan untuk membuat ayam kecap permintaan Aksa dan Aska. Dua remaja itu berdiri di kiri dan kanan Vana seperti pengawal pribadi, lengkap dengan tatapan waspada.

Para chef dan pelayan hanya bisa mengintip dari dibalik rak bumbu. Tidak berani mendekat. Bukan karena Vana galak… tapi karena Aksa dan Aska sudah memberi ultimatum beberapa saat yang lalu:

"Nggak ada yang boleh bantu mami di dapur selain kami. Paham?! "

Kata-kata itu masih terngiang dibenak mereka semua, plus dengan tatapan datar, dingin dan intimidatif dari kedua remaja itu.... Siapa pun waras pasti pilih mundur dari pada menghadapi dua anak singa itu.

Vana mencuci ayam sambil melirik kedua remaja itu. Ia tidak habis pikir dengan keduanya yang melarang para pekerja untuk membantu nya.

“Kalian berdua tuh, kenapa sih sampai ngelarang yang lain bantu?”tanya Vana.

Aksa menegakkan dada. “Karena kalo Mami yang masak, rasanya beda.”jawabnya.

Aska mengangguk cepat. “Iya! Lebih enak! Kayak makanan surga!”sambung Aska sambil merentangkan tangannya seolah-olah sedang menikmati surga yang dimaksud.

Vana tersenyum geli, menahan tawa. “Lebay amat kalian berdua. Masakan Mami masih kalah jauh dari para chef di rumah ini.”

“Adek serius, Mi!” protes Aska sambil mulai mengiris bawang super cepat, wajahnya penuh tekad seperti peserta MasterChef yang takut dieliminasi.

Vana langsung menahan pergelangan tangannya. “Eh! Pelan-pelan, Nak. Kalo jarimu kepotong, gimana?” Nada suaranya lembut tapi tegas.

Aksa ikut mendekat sambil membawa talenan, ekspresinya serius. “Mami tinggal kasih perintah. Kami siap jadi asisten chef,” katanya dengan nada dedikasi total.

Vana menghela napas, tapi matanya terlihat hangat. “Kalian ini… kayak bodyguard yang overprotective.”

“Khusus buat Mami,” jawab Aksa tanpa ragu, wajahnya penuh kesetiaan.

Aska mengangguk mantap. “Iya! Mami kan… Mami kita.”

Kalimat itu membuat Vana tertegun. Senyum kecil muncul tanpa ia sadari. Rasa hangat menjalar di dadanya,perasaan tak terduga dari dua remaja yang dulunya hanya anak asing, kini menganggapnya seperti ibu mereka sendiri.

Di balik lemari bumbu, para chef dan pelayan masih mengintip.

Tika, pelayan perempuan, menatap adegan itu sambil menyeka mata dengan ujung apron. “Sepertinya Tuhan sudah mulai mengabulkan satu per satu doa kita,” katanya lirih, matanya berbinar haru.

Dirga, kepala koki, meletakkan sendok kayu di dadanya dramatis. “Akhirnya gue bisa bernapas selayaknya manusia di rumah ini,” keluhnya, tapi ada tawa tertahan di baliknya.

Dias, kepala pelayan, menatap langit-langit dapur seolah-olah sedang melihat cahaya suci turun dari atas. “Semoga ini akhir dari kegelapan di rumah ini,” ucapnya dengan nada super serius.

Tika menyikutnya. “Dias… lo tuh kayak narasi film exorcism.”

Dias mendelik. “Ya tapi bener, kan?!”

Vana mendengar gumaman mereka dan hanya bisa geleng-geleng sambil tersenyum.

Sementara itu Aksa dan Aska sibuk berdebat kecil soal kecap mana yang harus dipakai.

Dapur itu…

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, terasa hidup.

Terasa hangat.

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,, x

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!