Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.
Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.
Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.
IG : nona_vie90
FB : Nevi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin ayah membuat sedih
Aku dan Satria sudah duduk berhadapan dengan ayah, tapi sedari tadi aku masih belum berani menyampaikan rencana kami itu.
"Sebenarnya ada? Apa yang ingin kau katakan, nak?" Ayah bertanya karena sudah tak sabar menungguku untuk mulai berbicara. Aku bingung bagaimana cara mengatakannya, aku takut sekali ayah marah.
"Ehem ... begini, pak ... saya menawarkan pekerjaan di perusahaan saya kepada Amanda dan dia sudah setuju." Akhirnya Satria yang memulai percakapan ini. Sementara aku hanya diam bergeming, mengantisipasi jika mendadak ayah marah.
"Wah ... bagus dong! Lalu kenapa mau menyampaikan berita baik ini kau sampai grogi begitu, nak?" Ayah tampaknya senang sekali mendengar putri semata wayangnya ini bekerja di kantoran, tapi ayah belum mendengar kelanjutannya.
"Tapi, pak ... jarak kantor saya kesini lumayan jauh, jadi saya menyarankan Amanda dan bapak untuk tinggal di apartemen saya saja yang kebetulan dekat dari kantor. Bagaimana bapak setuju?" Hati-hati Satria menjelaskan tujuan utamanya. Mendadak wajah ayah berubah muram. Itu kan, aku bilang juga apa? Setelah ini ayah pasti marah!
"Maaf, nak Satria ... bapak tidak bisa meninggalkan rumah ini! Terlalu banyak kenangan yang tak bisa bapak tinggalkan begitu saja." Ucap ayah lirih. Aku tahu ayah akan berkata seperti itu, dia tak akan mau meninggalkan rumah ini.
Aku dan Satria hanya saling pandang, seolah berusaha menyampaikan kekecewaan masing-masing.
"Tapi jika Amanda ingin tinggal disana, bapak izinkan! Asalkan dia bisa menjaga dirinya." Kali ini ucapan ayah membuat aku dan Satria melongo tak percaya. Apa aku tidak salah dengar?
Ayah mengizinkan aku tinggal di apartemen itu, kenapa tiba-tiba hatiku merasa sedih?
"Lalu ayah bagaimana? Siapa yang akan menemani ayah disini?" Aku bertanya dengan cemas. Tak bisa kubayangkan jika ayah harus hidup tanpa aku.
"Manda anakku, ayah bisa menjaga diri ayah sendiri. Kau sudah dewasa, cepat atau lambat kau juga akan meninggalkan ayah jika suatu saat kau menikah nanti atau mungkin ayah yang akan meninggalkanmu lebih dulu. Suatu saat kita pasti berpisah juga kan, nak?" Ayah memandang lekat wajahku. Kata-kata ayah sungguh membuat aku semakin sedih mendengarnya, seketika air mataku jatuh tak tertahankan.
"Ayah ...!" Aku spontan memeluk tubuh kurus ayahku yang lemah itu, meluapkan semua rasa di hatiku. Sejak wanita yang tak pantas ku sebut ibu itu pergi dari hidup kami, aku hanya memiliki ayah seorang, berbagi suka dan duka bersama. Aku pasti sangat merindukannya.
"Sudah ... sudah ... kenapa kau menangis? Kita kan masih bisa bertemu lagi, yang penting kau wujudkan impianmu untuk menjadi pegawai kantoran dan nikmatilah hidupmu, nak. Ayah tak bisa memberikan apa-apa untukmu, ayah tak sanggup membahagiakanmu dan ayah tak ingin menjadi penghalang impianmu." Suara ayah mulai bergetar, wajah tuanya kini mulai menyedih. Ayah tahu sejak dulu aku selalu memimpikan untuk jadi pegawai kantoran dan punya gaji besar, agar bisa menyenangkan hati ayah, dan mungkin inilah saatnya.
"Ayah jangan bicara begitu! Kebahagiaan terbesarku adalah ayah, yang terpenting itu adalah ayah. Bisa menjadi putri ayah saja sudah satu kebahagiaan untukku, aku bangga menjadi anak ayah." Aku kembali memeluk tubuh renta nya, menumpahkan semua air mata dan kesedihan yang selama ini sudah bersemayam di dadaku. Sedikit berlebihan memang, hanya ingin pindah tempat tinggal saja seperti akan mati. Tapi sungguh aku sangat sedih jika harus berpisah dari ayah.
"Hahaha ... jangan membuat ayah sedih!" Ayah menepuk-nepuk pelan pundak ku, mencoba memberikan rasa nyaman dan tenang.
"Atau aku tidak jadi saja menerima pekerjaan itu! Aku mau disini saja bersama ayah!" Mendadak aku berubah pikiran, lupa kalau aku sudah jadi pengangguran sekarang gara-gara ulah Satria.
"Eeh ... kenapa begitu? Inikan impianmu, ayah akan sangat sedih jika kau menolaknya cuma karena ayah!"
"Hmmm ... jangan khawatir, aku akan mengirim asisten rumah tangga dan pengawal yang bisa dipercaya ke rumah ini untuk menemani ayahmu." Kali ini Satria mencoba ikut-ikutan merayuku. Aku sudah tahu rencananya itu, tapi tetap saja aku sedih jika harus berpisah dari ayah.
"Tidak usah repot-repot, nak Satria! Bapak bisa sendiri kok!" Ucap ayah sungkan.
"Tidak apa-apa, pak! Tidak merepotkan sama sekali!"
"Ayah juga harus menurut, agar aku tenang meninggalkan ayah. Nanti setiap ada waktu, aku pasti datang kesini." Aku sudah melepaskan pelukanku kepada ayah. Ada perasaan lega sekaligus bingung karena semua di luar dugaan ku.
"Iya, nak! Kali ini ayah akan menurut."
"Kalau begitu malam ini kau berkemas lah, besok pagi aku jemput! Kita ke kantor bersama." Satria sepertinya semangat sekali. Pasti lelaki ini bahagia karena rencananya berjalan sempurna. Jika bukan karena aku butuh uang dan teror itu, aku pasti menolak permintaannya.
"Lalu kapan asisten rumah tangga dan pengawalnya akan datang?" Aku menautkan alisku menanti jawaban dari mulut Satria.
"Saya usahakan besok pagi mereka sudah ada disini." Apa bisa dipercaya ucapan lelaki ini, terdengar tidak masuk akal jika dalam semalam dia bisa menemukan asisten rumah tangga dan pengawal yang bisa dipercaya.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu masak makan malam sana! Biar nak Satria bisa makan bersama kita." Ayah memerintah ku. Dan aku sempat melirik Satria yang tersenyum bangga karena ayah mengajaknya makan malam bersama.
Aku beranjak dari dudukku dan melangkah ke kamar untuk berganti baju. Berselang lima menit kemudian, aku keluar kamar lagi dan segera menuju dapur. Aku olah bahan makanan yang tersedia di kulkas, walaupun sederhana, mudah-mudahan rasanya tak mengecewakan.
Beberapa saat kemudian, makanan sudah terhidang di atas meja makan, seperti biasa aku mengambilkan nasi dan lauk untuk ayah dan begitu juga untuk Satria.
"Maaf ya, nak Satria ... lauknya cuma ada ini." Ayah sedikit tak enak hati karena hanya bisa menyediakan lauk yang sederhana. Telur balado, sayur asam dan tempe goreng. Hanya itu menu makan malam kami.
"Tidak apa-apa, pak! Apapun makanannya jika dimasak dengan ketulusan dan cinta, pasti sangat nikmat." Satria berbicara sambil melirik ke arahku. Ciih ... pandai sekali lelaki ini berbicara, belum makan saja, aku sudah merasa kenyang dengan kata-katanya itu.
"Hahaha ... betul sekali itu!" Ayah tertawa dengan riang. Sejak ibu pergi, belum pernah kulihat ayah seceria ini.
Sementara aku hanya terdiam, malas membalas ucapan Satria, bakal panjang nanti jika aku ladeni.
Selesai makan malam, Satria pun memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan ayah, aku mengantarkan Satria sampai ke teras rumahku.
"Aku senang sekali hari ini! Aku tak sabar menunggu besok datang." Satria berbicara sambil tertawa senang, memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.
"Ya sudah sana pulang! Terus tidur! Biar kau tidak terlalu lama menunggu besok datang." Aku meledek Satria yang sedang berdiri di hadapanku.
"Kau ini ...! Mau aku cium lagi seperti tadi?" Ucap Satria gemas dengan nada mengancam. Dasar ya mulut lelaki yang satu ini, bisa tidak sih dia jangan mengungkit hal yang tadi? Kan aku jadi teringat lagi. Aku malu!
"Ciihh ... dasar mesum!" Aku memakinya dan dia tertawa senang. Dasar aneh!
"Hahaha ... aku pulang ya?" Setelah puas tertawa, Satria akhirnya pamit juga.
"Hemmm ... hati-hati!"
Cuuupp ...
Satu kecupan mendarat di dahiku tanpa permisi, aku benar-benar terkejut dengan aksi tiba-tiba Satria ini. Benar-benar ya lelaki ini tidak tahu malu, bagaimana kalau ada yang melihat?
Setelah mengecup dahiku, Satria melenggang pergi begitu saja dan masuk ke dalam mobilnya lalu melaju meninggalkan pekarangan rumahku dan tentunya aku yang masih terpaku mencoba menenangkan hatiku yang bergemuruh karena ulahnya.
Semakin hari semakin menjadi saja kelakuan lelaki yang satu ini.
***
sukses
semangat
mksh