Arraitz, seorang remaja penggemar game yang tinggal di dunia modern, secara tak sengaja terhisap ke dalam sebuah game misterius bernama Chrono Trials—sebuah RPG kuno yang tak pernah tercatat di manapun. Saat ia menekan tombol "START", dunia di sekelilingnya berubah menjadi Terranova, sebuah semesta digital yang penuh keajaiban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjar Sutrisno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Hilangnya Sinyal Chrono
(Masih) Hari ke-197
Udara malam terasa dingin di atas bukit berbatu tempat mereka mendirikan tenda. Angin timur yang membawa aroma garam laut seakan menjadi tanda perjalanan mereka yang masih panjang. Arraitz duduk di samping api unggun yang berkerlip pelan, ditemani Elric dan Lyra yang sibuk mempersiapkan makan malam sederhana: sup daging kering dan roti pemberian dari Nyonya Elma saat di kota Rinthal.
PixBit, yang melayang di atas kepala mereka seperti kunang-kunang kecil, mengamati radar di dalam sistem Gauntlet. Sementara itu, Elric terlihat lebih tenang malam ini, meski sedikit lelah setelah pertempuran sengit di Sanctum of Echoes.
“Supnya sudah jadi,” kata Lyra, tersenyum hangat sambil menyerahkan mangkuk sup ke Arraitz. Uap panas menenangkan, membuat mereka sedikit melupakan rasa pegal di tubuh.
Arraitz menarik napas dalam-dalam. “Hari ini sungguh berat. Tapi setidaknya kita berhasil mendapatkan Artefak Chrono yang kedua. Aku merasa… kita semakin dekat dengan jawabannya.”
“Dan mungkin juga semakin dekat dengan bahaya yang belum kita pahami,” sahut Elric, sambil mengaduk supnya dengan pelan. “Semakin banyak Chrono Artefak yang kita kumpulkan, rasanya makin berat juga beban yang harus kita pikul.”
Lyra menatap keduanya sambil mengusap bahu Arraitz. “Kita sudah sejauh ini. Aku percaya kita pasti bisa”
PixBit, yang biasanya tenang, tiba-tiba melayang lebih rendah. Ia mengeluarkan suara khasnya—klik klik—lalu bicara dengan nada cemas, “Uh, Ma—Master, aku… mendeteksi sesuatu yang aneh.”
Arraitz segera menoleh. “Ada apa, Pix?”
PixBit menampilkan proyeksi holografik kecil di atas telapak tangannya. Radar yang biasanya menunjukkan titik Chrono Fragment tampak kosong. “Sinyal dari Chrono Fragment ketiga… tiba-tiba hilang. Aku tidak tahu kenapa. Itu seharusnya tidak terjadi.”
Suasana menjadi hening seketika. Api unggun berkerlip perlahan, menari di antara gelapnya malam. Angin laut yang datang dari timur membawa aroma garam dan hembusan dingin, melintasi bebatuan besar yang mengelilingi mereka seperti benteng alami. Di atas nyala api yang memantulkan rona oranye ke wajah mereka, Arraitz menatap layar holografik yang ditampilkan PixBit dengan dahi berkerut.
“Apakah mungkin hanya gangguan?” tanya Elric, suaranya berbisik seakan takut mengusik keheningan yang mendadak turun.
PixBit melayang turun, memancarkan cahaya kebiruan yang redup. Ia menggeleng pelan. “Tidak seperti biasanya, Master. Ini… seperti benar-benar terputus. Seolah-olah… sumber sinyalnya telah lenyap.”
Lyra menarik napas dalam-dalam, tangannya meremas lembut mangkuk sup yang hampir kosong. “Kalau benar sinyalnya hilang, itu hanya berarti satu hal: ada sesuatu di luar jangkauan kita sedang terjadi.” Suaranya lembut namun sarat dengan kegelisahan yang tak terucapkan.
Arraitz memandang jauh ke timur, ke arah di mana sinyal Chrono Fragment ketiga sebelumnya berkedip di radar PixBit. Malam yang gelap seakan menyatu dengan pikirannya yang berkecamuk, menumbuhkan rasa penasaran yang menggelitik sekaligus membebani dadanya. Perlahan, ia mengeluarkan sehelai peta lusuh yang sempat ia beli di pasar Aurendale. Peta itu terbentang di pangkuannya, disinari kelip api unggun yang menari.
“Sesuai peta ini…” gumamnya pelan, jari telunjuknya meluncur di atas garis-garis yang menandai pegunungan, hutan, dan jalur sungai, “…di timur, ada sebuah kota pelabuhan: Port Vandis. Kota besar dan sibuk, tempat di mana pedagang dan pelaut dari segala penjuru berkumpul. Mungkin di sana kita bisa menemukan informasi… atau setidaknya, mengisi ulang persediaan sebelum melangkah lebih jauh.”
Elric menatap peta itu, sorot matanya tampak penuh pertimbangan. “Port Vandis… aku pernah mendengar tentang kota itu. Pusat perdagangan besar di ujung timur. Jika ada petunjuk apa pun tentang Chrono Fragment itu, kemungkinan besar akan berembus ke sana lebih dulu.”
Percakapan mereka mereda, tergantikan suara desir api yang pecah pelan dan nyanyian samar angin laut. Mereka menyantap sisa makan malam dalam diam, masing-masing terbenam dalam pikiran sendiri. Hanya sesekali terdengar suara peralatan makan yang bergesekan, atau desahan lembut Lyra saat ia merapikan mangkuk-mangkuk yang kotor.
Selesai makan, mereka bergantian menjaga malam. Arraitz duduk di samping celah batu, matanya menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Angin malam menampar lembut wajahnya, membawa kesejukan yang menenangkan sekaligus menyadarkan betapa jauh rumahnya kini. Jauh di dasar hatinya, pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab berputar tanpa henti.
Akhirnya, saat giliran berjaga selesai, Arraitz merangkak masuk ke dalam tenda. Ia membenamkan diri di atas matras tipis, mencoba memejamkan mata. Namun pikirannya tetap menari, terus-menerus terbayang pada sinyal Chrono Fragment ketiga yang lenyap. Apakah ini pertanda malapetaka, atau justru petunjuk baru yang akan membimbing mereka?
Malam itu, mereka tertidur dengan hati yang cemas namun tekad yang tak tergoyahkan. Di luar tenda, angin malam terus berhembus, membawa bisikan dan janji petualangan yang menanti di Port Vandis—gerbang ke dunia baru yang mungkin memegang kunci rahasia takdir mereka.
...----------------...
Hari ke-198
Menuju Port Vandis
Pagi itu, matahari baru saja menyingkapkan dirinya di ufuk timur, memandikan puncak-puncak batu yang mengelilingi tempat perkemahan mereka dalam cahaya keemasan. Arraitz, Elric, dan Lyra duduk melingkar di sekitar api unggun yang tinggal bara. Aroma roti pipih yang dipanggang di atas api samar menyatu dengan wangi herbal dari teh panas yang diseduh Lyra, memberikan kehangatan yang mereka butuhkan sebelum memulai perjalanan panjang.
Mereka makan sederhana: roti, sedikit potongan daging kering, dan teh herbal-kali ini dengan ekstrak berry. Setiap suap menenangkan perut sekaligus memupuk semangat. Selesai makan, mereka segera membereskan tenda dan perlengkapan—Elric memeriksa ikatan di ranselnya, Lyra memastikan semua vial potion tersimpan aman, sementara Arraitz mengecek Gauntlet of Retryer yang menempel di lengannya, memastikan tidak ada kerusakan setelah pertempuran di hari sebelumnya.
Setelah semuanya siap, mereka menuruni lereng bukit yang mengarah ke lembah. Kabut tipis masih melayang di antara rerumputan tinggi, meninggalkan embun yang membasahi sepatu mereka. Suara burung liar bersahutan di kejauhan, memecah kesunyian pagi. Sinar mentari perlahan menembus kabut, menyingkap jalur setapak yang berliku di antara bebatuan besar.
Sepanjang perjalanan, mereka beberapa kali berhadapan dengan monster yang tiba-tiba muncul di jalanan sempit. Seekor Ironback Lizard, monster Rank B dengan punggung baja alami, menerjang mereka dari balik semak. Arraitz melompat cepat, menebas dengan Ignis Fang yang menyala merah, membelah pertahanan keras itu. Elric berdiri di belakang, tangan kanannya terangkat memanggil kilatan petir yang menghantam sisik baja monster, membuatnya terhuyung. Sementara itu, Lyra memanggil mantra LuxBolt, cahaya suci yang memaku tubuh monster itu ke tanah, menyisakan aroma logam terbakar di udara.
Mereka mengalahkan monster itu dengan cepat, dan dari tubuh yang jatuh, beberapa item berharga berkilauan: sebutir Core of Ironback yang bisa memperkuat logam, dan sisik baja yang cocok untuk melapisi pelindung mereka. PixBit mencatat setiap temuan itu, matanya berkilau ceria. “Master, ini bisa jadi bahan yang sangat berguna untuk menempa senjata atau memperbaiki peralatan,” ujarnya, suaranya antusias.
Sesekali, Lyra berhenti sejenak di tepi jalan, memetik daun hijau tua dari semak berbunga putih. “Ini Mirith Leaf,” katanya sambil menyelipkan daun itu ke dalam kantongnya. “Akan kubuatkan potion penyembuh saat kita tiba di Port Vandis.” Arraitz dan Elric mengangguk, mengagumi ketelitian gadis itu yang selalu melihat peluang di balik setiap langkah.
Perjalanan itu panjang, namun semangat mereka tetap terjaga. Mereka terus berjalan melewati padang rumput yang mulai menguning, lalu menuruni lembah curam di mana batu-batu mineral mencuat dari tanah—biru kehijauan, ungu gelap, kilauan samar yang menarik perhatian Arraitz. Ia berhenti sejenak, mengambil beberapa serpihan batu dan menyimpannya. “Bahan yang sempurna untuk penempaan nanti,” gumamnya, dan Elric hanya menepuk pundaknya setuju.
Matahari perlahan merunduk di balik awan saat senja tiba. Sinar oranye dan ungu membanjiri cakrawala, memantul di permukaan laut yang berkilau di kejauhan. Angin asin mulai terasa di udara—angin laut yang menjadi pertanda bahwa Port Vandis sudah dekat.
Dari balik deretan pepohonan dan bukit yang landai, akhirnya mereka melihatnya: Port Vandis, kota pelabuhan yang ramai dan penuh cahaya. Gerbang besar kota itu berdiri megah, dihiasi ukiran jangkar dan gelombang laut. Di baliknya, tampak rumah-rumah kayu bertingkat yang berdempetan, menara pengawas dari batu kokoh, dan lampu-lampu lentera yang mulai dinyalakan di sepanjang dermaga.
Arraitz merasakan denyut kehidupan yang berbeda di kota itu—riuh suara pedagang, deru ombak yang memecah di pelabuhan, dan aroma rempah-rempah yang terbawa angin. Mereka mempercepat langkah, jalan kaki mereka kini ringan di bawah harapan baru yang membara.
Sebelum langit benar-benar gelap, mereka akhirnya menjejakkan kaki di gerbang Port Vandis. Penjaga kota menyambut mereka dengan tatapan awas, namun segera melonggarkan sikap saat melihat simbol petualang di dada Arraitz dan Elric. Arraitz menatap ke arah jalan utama kota yang dipenuhi lentera gantung, menandai awal dari petualangan baru yang membentang di hadapan mereka.
Malam itu, Port Vandis berdiri seperti sebuah janji—janji petunjuk yang hilang, janji peluang baru, dan mungkin… jawaban yang telah lama mereka cari.
...****************...
Bersambung...
Terus berarti ignis fang dan night fang sama-sama dibawa hanya saja pemakaiannya dipakai satu pedang aja?