Pernikahan bahagia yang diimpikan Anna berubah menjadi tragedi, kala seorang pria merenggut kesuciannya di malam pertama pernikahannya.
Anna yang terpuruk akibat kejadian itu pun mencoba bangkit kembali dan melanjutkan hidupnya.
Namun, takdir berkata lain, ia harus kembali mengingat peristiwa kelam malam itu saat dirinya dinyatakan hamil.
Akankah pria itu bertanggung jawab padanya?
Atau ada malaikat lain yang akan datang menolongnya?
Dan bagaimana dengan suami dan pernikahannya?
Ikuti kisah Anna selengkapnya dalam menjalani kehidupannya dalam Tiga Pria, Ayah Anakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Michael atau Jonathan?
Lantai 1 Di Kediaman Alex
"Selamat pagi, Tuan Besar, Nyonya Besar." Charlie membungkuk menyapa orang tua majikannya itu.
"Dimana Alex?!" tanya Rose pada Charlie.
Dia merasa sangat kesal karena setelah menelepon Leo pun, Alex belum juga mengabarinya. Jadi dia segera pulang ke kota C dan mencari Alex.
Dia sudah mencari Alex di kantor dan apartemennya, tetapi anak sulungnya itu tidak berada di sana. Hanya rumah pribadi Alex ini saja yang belum dikunjunginya. Dan benar saja ternyata Alex memang berada di sini.
"Tuan Muda masih tidur, Nyonya. Saya akan segera membangunkannya."
"Tunggu, aku ikut. Ayo, Sayang." Rose menarik tangan suaminya itu.
"Untuk apa kita ikut? Biarkan Charlie saja yang menyuruhnya untuk turun."
Daniel menolak ajakan istrinya itu, tetapi Rose dalam kondisi yang bad mood jadi penolakannya sia-sia. Dia pun akhirnya ikut ke lantai 2 untuk membangunkan Alex.
"Alex! Alex! Cepat bangun!" Rose mengetuk kamar putranya itu dengan keras, tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari Alex.
"Nyonya Besar, sepertinya Tuan Muda tidak tidur di kamarnya semalam. Tetapi, di kamar sebelah." Charlie menunjuk ke arah kamar Anna.
"Mengapa Alex tidur di kamar tamu? Apa kamarnya sedang direnovasi?" tanya Rose penasaran.
"Bukan, Nyonya, itu karena ada Nona--"
Belum sempat Charlie menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar Anna pun terbuka. Anna terkejut melihat dua orang yang sedang berada di depan pintu kamarnya itu.
"Tuan Besar, Nyonya Besar?!"
Sama seperti Anna, mereka pun terkejut.
"Anna?! Mengapa kamu di sini? Dimana Alex?" tanya Rose padanya.
"Ehm, itu Kak Alex ... ah, maksudku Tuan Muda Alex masih tidur."
Anna menoleh menunjuk ke arah kamarnya. Rose dan Daniel terkejut melihat bercak-bercak kemerahan di leher Anna. Anna menyadari jika ada yang salah dengan tatapan mereka, ia pun segera menutupi lehernya dengan rambutnya.
"Ah, ini ... ini bukan ...."
"Ayah, Ibu? Mengapa kalian datang sepagi ini?" Kata-kata Anna terpotong oleh Alex yang baru saja keluar dari kamar Anna.
"Alex ... kamu ... kalian ...!" Tunjuk Rose ke arah putra dan mantan menantunya itu.
Ia begitu terkejut karena Alex tidur di kamar Anna. Namun, Rose juga tidak bisa meminta penjelasan kepada Alex, karena putranya itu sudah berjalan turun melewati mereka begitu saja. Sementara, Anna hanya tertunduk malu dan canggung dengan situasi ini.
'Semoga mereka tidak salah paham,' gumamnya.
.
.
.
Ruang Keluarga
"Alex, ada apa ini?" Daniel bertanya pada putra sulungnya itu.
"Kami sudah melakukan test DNA. Mickey adalah putraku, Ayah."
Alex menyalakan rokoknya dan mengembuskan asapnya ke udara.
"Benarkah?! Bagaimana mungkin?!" Rose sangat senang mengetahui bahwa dia mempunyai seorang cucu, tetapi dia masih bingung.
"Aku mabuk malam itu dan tidak tahu jika wanita itu adalah Anna."
"Tetapi, mengapa Anna juga ada disini? Bukankah dia tunangan Nathan?"
"Bu, aku tak mungkin memisahkan Anna dan Mickey."
"Lalu apa rencanamu?" tanya Daniel.
"Aku akan menikahi Anna, Ayah," tegas Alex.
"Tetapi, bagaimana dengan Andrew?" Rose memikirkan perasaan putra bungsunya jika sampai Alex menikahi mantan istrinya itu.
"Ibu, Anna tidak bersalah. Akulah yang menyerangnya. Maka, aku akan bertanggung jawab padanya. Andrew sudah dewasa, dia pasti akan mengerti."
Alex memberi penjelasan pada ibunya dan berharap jika orang tuanya akan menyetujui rencananya.
"Semua sudah terjadi. Andrew harus mengerti situasi ini. Lagi pula dia juga sudah bercerai dengan Anna. Kau memang harus bertanggung jawab padanya dan memberikan status pada anak itu." Daniel mendukung rencana Alex, tetapi Rose masih merasa ragu.
"Tetapi, Sayang--"
"Cukup! Aku sudah memutuskannya. Alex harus segera menikahi Anna." Daniel menghentikan kekhawatiran istrinya itu.
"Baiklah. Aku akan memberi pengertian pada Andrew nanti."
"Bu, masalah Andrew biar aku yang bicara padanya. Ini adalah masalah kami berdua."
Daniel dan Rose mengangguk setuju dengan usul Alex. Mereka sudah sama-sama dewasa, mereka harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Om Alex," panggil Michael pada Alex. Alex melihat putranya yang baru saja turun bersama Anna, dia pun segera mematikan rokoknya.
"Kemarilah, Mickey." Michael berlari menghampiri Alex, tetapi Anna mencegahnya.
"Tidak boleh! Kau bau asap rokok. Jika kau masih merokok, maka kau tidak boleh mendekati Mickey lagi!"
Anna menatap Alex tajam. Pria itu pun terdiam dan tidak membalas Anna, dia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Daniel dan Rose kaget melihat tingkah Alex yang mati kutu karena Anna. Mereka pun berkomunikasi lewat tatapan mata.
'Danny, sepertinya putramu menemukan lawannya.'
'Ya, kurasa memang tepat membiarkan Alex menikahi Anna. Dia pasti bisa mengontrol sifat Alex.'
"Duduklah, Anna." Rose meminta Anna untuk duduk di sampingnya.
"Mickey, ayo sapa kakek dan nenekmu," ujar Alex pada putranya. Namun, Michael hanya diam saja, dia ingat sewaktu Rose datang ke kamarnya dan membuat ibunya menangis.
"Mickey, ayo sapa mereka." Alex mengulangi perkataannya.
"Aku tidak mau! Nenek itu jahat! Dia membuat ibuku menangis."
Michael memasang wajah cemberut dan memandang tajam ke arah Rose. Persis seperti saat Alex kecil merajuk padanya dulu.
"Kau pernah menemui Anna?!" Daniel bertanya pada istrinya.
"Ehm, aku ... aku ...." Rose terbata. Dia takut Daniel marah padanya.
"Mickey, jangan seperti itu. Waktu itu nenek tidak menyakiti Ibu. Ayo, sapa kakek dan nenekmu." Anna memberi pengertian kepada putranya.
"Mickey, apa kau suka bermain sepak bola? Bagaimana kalau kita bermain bersama?"
Daniel berinisiatif mendekati Michael. Michael pun senang karena Daniel mau menemaninya bermain. Ia lalu membawa cucunya itu bermain di halaman belakang.
Rose yang melihat Michael lebih cepat akrab dengan suaminya itu pun terlihat kecewa. Padahal, dia yang sangat menginginkan seorang cucu, tetapi kini setelah mendapatkannya malah lebih dekat kepada kakeknya. Rose menghela napas pasrah. Cucu yang diidamkannya malah membenci dirinya.
"Nyonya Besar, maafkan Mickey dia masih kecil, belum mengerti tentang situasinya. Kuharap Anda tidak menyalahkannya."
"Anna, kalau begitu kalian cepatlah lahirkan lebih banyak cucu untukku. Aku yakin salah satu dari mereka pasti ada yang menyukaiku," bujuk Rose pada Anna.
"Hah?! Nyonya Besar, Anda pasti salah paham. Aku dan Tuan Muda Alex tidak ada hubungan apapun. Untuk masalah cucu, Anda pasti akan mendapatkan cucu lainnya yang sayang pada Anda nanti."
Rose melihat ke arah Alex yang sedari tadi diam saja.
"Anna, apakah kau mau Mickey memiliki keluarga yang utuh?" Rose bertanya pada Anna. "Mickey adalah darah daging Alex, maka dia harus menjadi bagian dari keluarga Williams bukan yang lain. Begitu pun dengan kamu, kau tidak rela bukan jika dia memanggil wanita lain dengan sebutan 'ibu'?"
Anna mengerti arah pembicaraan Rose, tetapi dia tak mungkin meninggalkan Jonathan begitu saja. Pria itu sudah terlalu baik padanya dan Michael. Belum lagi, ibunya dan nenek Jonathan juga tidak mengetahui kalau Michael bukan anak Jonathan.
Rose tahu apa yang dipikirkan Anna, sepertinya kini masalah Alex bukan hanya harus menjelaskan hal ini kepada adiknya saja, tetapi juga harus memenangkan hati Anna dari Jonathan.
"Ibu, biar aku yang menyelesaikan masalah ini dengan Anna."
"Baiklah, kalian berbincanglah dulu. Aku akan menemani ayahmu dan Mickey."
Rose pun pergi mencari suami dan cucunya itu di halaman belakang.
"Anna, aku sudah bilang padamu, aku yang akan merawat Mickey. Jika kau ingin tetap bersama dengan putramu, maka sebaiknya kau meninggalkan keluarga Collin atau kau bisa melupakan Mickey," ancam Alex.
Anna sangat bingung, dia tidak bisa mengkhianati Jonathan, tetapi dia juga tidak mau kehilangan putranya. Michael adalah jiwanya, kehidupannya. Tak terbayang jika dia sampai harus berpisah dari buah hatinya itu.
"Kak Alex, tolong beri aku waktu. Aku akan menjelaskannya kepada Nathan dan ibuku."
"Aku beri kamu waktu satu minggu. Selesaikan semua urusanmu dengan keluarga Collin, atau aku yang akan melakukannya. Pilihan ada di tanganmu, Anna."
Setelah menyelesaikan perkataannya, Alex pun pergi meninggalkan Anna sendiri dalam kegelisahannya.
'Satu minggu?! Ya Tuhan!'
.
.
.
jadi ikutan nangis deh
Andrew bukan cinta sama anna tapi terobsesi aja nikmati tubuhnya 😣
andrew kelihatan egois cuma butuh anna sebagai istri bukan ibu dari seorang anak yg dlm kenyataan sama keponakan aja andrew jahat gimana sama anak orang lain dan anaknya nanti