NovelToon NovelToon
Bukan Darah Biru

Bukan Darah Biru

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Ambu

Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.

Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.

Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.

Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?

Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?

Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?

Mari kita ikuti kisahnya!!

NB: Siapkan tissue!

***

Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤

Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.

Aamiin...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuh Hati pada Adik Palsu

Sinar matahari di pagi itu terasa hangat, beberapa pasien di dampingi oleh suster dan bruder nampak sedang berjemur di area belakang ruang perawatan yang sengaja di desain agar bisa memanfaatkan cahaya matahari.

***

Di depan ruangan bagian kasir, Bu Nasih terlihat sedang menelpon.

"Segera transfer uangnya sekarang Bang! Dia hari ini sudah boleh pulang. Aku lagi ada di depan kasir nih!"

"Oke... oke... ingat bunganya harus kau bayar tiap bulan tiap tanggal 15, atau akan ku bawa gadis itu jadi istri ketiga ku, hahahaha." Suara di balik telpon terbahak-bahak.

.

.

Setelah menyelesaikan bagian administrasi, Bu Nasih bergegas ke ruangan perawatan tempat Susi di rawat.

Dia memberikan kwitansi bukti pembayaran pada perawat di ruangan tersebut.

Sementara Susi sudah bersiap untuk pulang, senyuman kebahagiaan nampak di wajahnya.

Infusnya sudah di lepas, gadis itu sekarang sedang duduk di kursi roda, seorang suster dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya siap mengantar Susi ke pintu keluar.

"Terima kasih atas perawatannya Pak, suster, semoga Tuhan membalasnya" kata Susi, sambil melambaikan tangan pada para perawat yang sedang berada di bagian depan ruangan tersebut.

Merekapun tersenyum dan melambaikan tangan.

"Cantik, ramah pula, semoga ingatannya cepat pulih," ucap salah satu perawat.

Susi sudah berada di parkiran Rumah Sakit tersebut.

"Ibu siapa yang mau jemput kita?"

"Kakak iparmu."

"Ibu aku pegal, boleh tidak kita duduk di sana?" Menunjuk sebuah bangku di samping parkiran.

"Manja banget sih kamu, baru berdiri sebentar aja udah gak sanggup, huuh" Ibu menggerutu.

"Maaf Bu," Susi menimpali berharap ibu tirinya tidak kesal.

Akhirnya suami Liana datang, dia kaget saat melihat wajah Susi, dia memang baru kali ini melihat Susi.

"Hallo Kakak ipar, senang bertemu lagi denganmu."

Susi berpikir mungkin sebelum amnesia ia telah bertemu dengannya.

"Baik." Meraih tangan Susi lalu mereka berjabat tangan.

"Dia memang cantik dan imut, wajahnya juga ceria. Semoga saja Bapak dan Ibu mertua tidak benar-benar memanfaatkannya," gumam suami Liana.

(Yeey, orang baik nambah lagi).

Mereka menaiki mobil yang di bawa suami Liana, mobil tersebut adalah mobil milik sahabatnya yang digunakan untuk mencari nafkah sebagai pengemudi taksi online.

.

.

Tibalah mereka di rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota tersebut.

Susi dan Bu Nasih turun, sedangkan suami Liana melanjutkan lagi laju kemudinya.

Susi nampak terpesona dengan rumah tersebut, entah kenapa ia merasa rumah itu bagus dan besar.

"Waaaah...ini rumahnya? Besar sekali, bagus juga rumahnya Bu..., waah...," Susi berdecak sambil memegang beberapa tangkai bunga yang ada di pekarangan rumah tersebut, matanya melirik ke sana kemari.

Melihat tingkah Susi, sontak saja Bu Nasih dan Liana melongo mereka berdua saling bertatapan.

Mereka tak habis pikir dan tidak menyangka akan ada orang yang memuji rumahnya besar dan bagus.

"Apa katamu rumah ini bagus dan besar, apa matamu picek? Ya ampuuun semiskin apa emang dia? Kok bisa-bisanya bilang rumah ini besar dan bagus, aku yakin sekali rumah dia dulunya mungkin hanya terbuat dari kardus. Tapi wajah dan tubuhnya seperti telah terawat dengan baik...ckckckc" Bu Nasih mengumpat keheranan dalam hatinya.

Begitulah manusia, kadang mereka merasa sangat kesulitan dan miskin, padahal jika saja dia bisa menyempatkan dirinya untuk melihat ke bawah dalam urusan duniawi, mungkin saja manusia tersebut akan lebih bersyukur pada hidupnya.

Di luaran sana bahkan ada orang yang hanya mampu minum dan memakan rebusan daun demi menghilangkan rasa laparnya.

"Dia memang lugu dan lucu, sepertinya dia juga ramah, baru dua kali ketemu aku langsung suka sama dia, tapi seperti apa ya kehidupannya? Aku jadi mau ajak dia jalan-jalan ke mall deh, heemmm....dia pasti pingsan lihat bangunan mall". Liana tersenyum melihat tingkah adik tiri palsunya.

"Bu biar aku aja yang ngajak Susi melihat-lihat rumah kita." Liana menarik pergelangan tangan Susi.

Ibu hanya mengangguk tanda setuju.

Hatinya masih merasa heran dan tak habis pikir.

"Tembok rumah ini aja sudah ada yang retak, genteng di bagian dapur malah bocor kalau hujan teralu besar, siapa bilang rumah ini bagus, dasar gadis bodoh!"

Susi menurut saat dia di ajak masuk ke dalam, ia mengekor di belakang Liana, matanya masih memperlihatkan kekaguman saat melihat beberapa barang di rumah itu.

Setiap Liana berbicara, Susi menjawabnya dengan kata "waaah" sesekali Susi juga berkomentar dan menurut Liana itu sangat lucu, beberapa kali Liana memegang perutnya karena terlalu sering tertawa.

"Ini ruang tamu, sofanya sudah lama gak di cuci, jadi warnanya kusam."

"Waaah, aku sesekali boleh kan Kak tidur di sofa itu? Nanti kalau aku sudah benar-benar pulih, biar aku aja yang nyuci sofanya."

Liana melongo.

"Nah ini kamar Kakak dan suami Kakak, ini sebenarnya kamar tamu, tapi karena Kakak belum punya rumah jadi sementara tinggal di sini."

"Wah baju Kakak banyak sekali sampai numpuk di tempat tidur gitu! Kakak pasti bisa ganti baju berkali-kali." Tangan Susi memegang beberapa baju.

"Apa...? Dia bilang bajuku banyak, padahal baju itu aku simpan di situ kan karena kamarku sempit dan gak punya lemari yang besar."

"Hahahaa ..., kamu lucu banget sih." Menarik tangan Susi menuju ke ruangan lain.

Belum sempat Liana mengatakan sesuatu, Susi sudah berlari menuju salah satu barang yang ada di ruangan keluarga, matanya membulat, tangannya sibuk mengelus-elus barang tersebut.

"Waaah ada kulkas! Kak aku senang sekali di rumah ini ada kulkas! Kak aku boleh kan nanti minum air dingin kapanpun aku mau? Aku juga mau bikin es loli terus menjualnya boleh kan Kak?"

"Oh dinginnya ...," Susi memeluk kulkas.

"Hahaha...itu kan hanya kulkas kecil satu pintu, malah bagian atasnya sering mengembun dan mencair tiba-tiba, Susi! Susi dari planet mana sih kamu Sus? Tapi kalau dia alien pasti gak akan seudik ini kan?"

Batin Liana, lalu menarik Susi.

"Nah ini kamar kamu dan Nia, nanti kalian satu kamar."

"Wah Kak, ada banyak buku pelajaran di kamar Kak Nia, semoga Kak Nia gak apa-apa kalau bukunya aku pinjam." Tangannya mengambil beberapa buku, lalu membukanya, matanya berbinar bahagia.

"OMG, makasih Tuhan Kau sudah ngasih aku adik secantik dan seimut dia. Dia kayanya seneng baca, beda banget sama si Nia, punya buku tapi cuma jadi pajangan."

"Kalau yang itu kamar Ibu dan Bapak, sekarang kita dapur yukk!"

"Waaah...Kak...rumah ini ada dua kamar mandi, nanti pasti aku kebingungan mau mandi di mana, dapurnya pakai kompor gas, wah, wah, wah, hehehe."

Gadis itu terus berdecak kagum, matanya lalu melihat ke salah satu ruangan di mana ada banyak baju tersusun rapi."

"Waaah Kakaaak! Itu baju siapa banyak sekali??"

Matanya semakin berbinar.

"Hehehe, itu kantor Kakak. Kakak bekerja di sini. Kakak jadi tukang setrika baju tetangga, kadang juga suami Kakak bawa orderan setrikaan pakaian teman-temannya."

"Kaak...!" Susi merengek.

"Nanti boleh kan aku ke kantor Kakak? Bantuin Kakak??"

"Apaa?? Tentu saja boleh sayang." Liana mencubit pipi mulus adik palsunya.

"Sejak kapan kamar pengap itu jadi kantor, aku kan hanya iseng bilang kantor."

"Hahaha" Liana tertawa lagi.

Hari itu juga Liana telah jatuh hati pada gadis itu, keceriannya mampu menghapus rasa bosan yang dirasakan Liana karena celotehan ibunya yang setiap hari menyalahkan dirinya karena menikah dengan laki-laki miskin.

Begitulah Aiza, ketulusan hatinya telah membuat seseorang tersenyum dan mencintainya.

♡♡ Bersambung ....

1
Atun Nasa
siapa ya kira2 kaki2 ini🤔
Moertini
terimakasih thor ceritanya sudah tamat menarik mantap asyik dan seru berakhir semua bahagia yang jahat menerima hukumannya dilanjutin seasen ke 2 anak Deanka dan Aiza ditunggu semangat
nyai ambu: terima kasih kak, dan salam kenal🥰🥰🥰. oiya ditunggu kunjungannya ke karya nyai yg lain
total 1 replies
Dewi Eka
bagus
Dewi Saskia
visual Aiza jelek thor...beda banget dgn imajinasi sy karena gambaran2 yg ditulis...lihat gambar visualnya gak sesuai banget dgn gambar visual deanka...
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
zainiyah hamid
baru nyambung baca LG nyai ....🤭
sambil nunggu TBR
Ganuwa Gunawan
tambah terasi betong dikit ja thor.. biar sedap jus nya
Ganuwa Gunawan
aduh nih s susi.. mau. bobo aja kok ya repot amat
Ganuwa Gunawan
kaya nya klu d jdiin satu jdi TIK TOK
Ganuwa Gunawan
kemanusiaan yg adil dan beradab
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
Ganuwa Gunawan
hahahaha..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
Ganuwa Gunawan
aku juga ga tau bu
tanya aja tuh sama s thor
Ganuwa Gunawan
entah lah dokter...
aku juga bingung
Ganuwa Gunawan
jadi ayam geprek
Ganuwa Gunawan
bukan cuman beli hp nya doang thor
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
Ganuwa Gunawan
dasar kalian serigala berbulu ketek
Ganuwa Gunawan
waduh
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
Ganuwa Gunawan
ya betul
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
Ganuwa Gunawan
kenapa mesti d lap sih thor..
d jilat ge ngapa aaah
Ganuwa Gunawan
oh tak kira megangin kartu KIS thor..
Ganuwa Gunawan
ya karena mertua nya galak.. sadis.. seperti acan bing maung.. klu kga nurut bangsa nya d caplok ku mertua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!