"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Rangga duduk di kursi sebelah kiri, sementara Renal, Dimas, Andika, dan Januar duduk berjajar di seberangnya.
Pintu terbuka. Emily masuk dengan langkah gontai, wajahnya pucat, matanya sembab, seperti habis menangis.
"Ada apa, Pak?" tanya Emily dengan suara bergetar.
"Silakan duduk, Nona Emily," ucap Pak Bambang. "Ada laporan mengenai foto-foto tidak senonoh yang tersebar di papan pengumuman. Dan Anda ada di dalam foto itu bersama Rangga."
Emily menunduk. "Maaf, Pak. Saya... saya malu sekali."
Ia mengangkat wajahnya, dan tiba-tiba menangis..
"Saya tidak tahu akan begini. Rangga... dia yang memaksa saya semalam. Saya sudah bilang tidak, tapi dia terus memaksa saya, dan saya memang memotretnya untuk dijadikan bukti, agar semua orang tahu kelakuan dia "
Ruang kantor hening. Pak Bambang mengernyit. Rangga terdiam, mulutnya terbuka sedikit, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Emily, lo bohong! Lo sendiri yang—" seru Rangga sambil bangkit dari kursinya, suaranya memekakkan telinga.
"Cukup!" potong Pak Bambang dengan suara lantang. Ia menepuk mejanya sekali, membuat semua orang di ruangan itu terdiam. "Duduk, Rangga! Ini bukan tempat untuk saling tuduh tanpa bukti."
Rangga menghela napas kasar, lalu duduk kembali. Tangannya mengepal di atas pahanya. Wajahnya merah menahan amarah yang hampir meledak lagi.
Pak Bambang menghela napas panjang. Ia mengambil ponsel dari atas meja, lalu menekan beberapa tombol.
"Saya akan memanggil orang tua kalian berdua. Biar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan, tidak perlu melibatkan pihak berwajib dulu," ucapnya tegas.
Emily menunduk, air matanya masih mengalir deras. Namun di balik tirai rambut panjang yang menutupi wajahnya, tersembunyi senyum tipis penuh kemenangan.
*
Tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan terbuka dengan suara yang tidak terlalu keras namun terasa berat.
Pak Raden Soerya melangkah masuk. Wajahnya tegang, garis-garis kerutan di keningnya tampak semakin dalam. Ia baru saja datang dari kantornya setelah menerima telepon dari Pak Bambang.
Tanpa berbasa-basi, Pak Soerya berjalan langsung menuju Rangga. Wajah anaknya yang pucat dan mata sembab tidak membuatnya merasa iba. Yang ia lihat hanya seorang pemuda yang telah mencoreng nama keluarga.
"APA INI YANG KAMU LAKUKAN, RANGGA?" bentak Pak Soerya, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Tamparan pertama mendarat di pipi kiri Rangga. Keras. Menyisakan bekas merah yang langsung membengkak.
"KAMU INGAT KAMU SUDAH PUNYA—"
"Tolong Ayah!" Rangga cepat-cepat memotong ucapan Ayah Soerya. Ia mengangkat kedua tangannya, bukan untuk membela diri, tapi untuk menghentikan ayahnya sebelum kata-kata tentang pernikahannya dengan Meysa keluar di depan umum. "Percaya sama Rangga. Rangga tidak pernah melakukan hal itu. Rangga dijebak, Ayah!"
Pak Soerya terdiam. Dadanya naik turun. Ia menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara marah, dan kecewa..
"Pak Soerya, duduklah dulu," ucap Pak Bambang sambil berdiri, mencoba menenangkan. "Kita selesaikan ini dengan kepala dingin. Memanggil Bapak ke sini bukan untuk memperkeruh suasana, tapi untuk membantu mencari solusi."
Pak Soerya menghela napas berat, lalu duduk di kursi yang tersedia di samping Rangga. Ia masih menatap putranya dengan pandangan tajam, seperti elang yang mengawasi mangsanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka lagi.
Sepasang suami istri masuk dengan langkah tergesa-gesa. Pria itu memakai kemeja batik lengan panjang, sementara wanitanya berhijab dengan tas tangan mahal. Wajah mereka panik, kusut, dan penuh kekhawatiran.
"Ayah, Ibu..." Emily langsung berdiri dan berlari memeluk ibunya. Tangisnya pecah kembali, lebih keras dari sebelumnya. "Emily tidak tahu harus bagaimana. Emily malu, Bu..."
Ibu Emily ikut menangis, memeluk putrinya erat-erat. "Kata Ibu jangan terlalu percaya sama orang, Nak... lihat sekarang, kamu jadi korban."
Ayah Emily berdiri di depan meja Pak Bambang, kedua tangannya bersilang di dada. Wajahnya merah menahan amarah.
"Saya minta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada anak saya!" ucapnya tegas, matanya menatap tajam ke arah Rangga. "Anak perempuan saya baru pindah ke sini, belum genap dua minggu, sudah diperlakukan seperti ini. Ini namanya pelecehan, Pak!"
Rangga tetap kukuh. Ia berdiri, menatap langsung ke arah ayah Emily. Wajahnya tidak gentar meskipun pipinya masih perih bekas tamparan ayahnya sendiri.
"Saya tidak melakukan apa pun pada Emily," kata Rangga dengan suara datar namun tegas. "Saya dijebak. Emily yang terus memaksa saya minum di klub malam. Emily yang memotret saya dalam keadaan tidak sadar. Dan sekarang Emily yang membuat cerita palsu untuk menjatuhkan saya."
Emily terisak lebih keras di pelukan ibunya. "Dia... dia masih tega berbohong, Bu... padalah buktinya sudah jelas..."
"Apa buktinya, Em?" tanya Rangga cepat. "Foto-foto itu? Siapa yang mengambil foto itu? Siapa yang menyebarkannya? Siapa yang menempelkannya di papan pengumuman? Kamu sendiri, kan?"
"AARRGGHHHHH!" Rangga menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Tubuhnya yang sejak tadi tegang mulai terlihat lelah. Matanya sayu, napasnya tidak teratur.
"AARRGHHHH!"
Ia memejamkan mata, menahan sakit yang bukan hanya dari tubuhnya, tapi juga dari hati dan pikirannya yang kacau.
*
Di bangku taman dekat kantin, Meysa duduk dengan sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya. Matanya menatap deretan huruf, tapi tidak ada satu kata pun yang benar-benar ia baca. Pikirannya terus melayang ke gedung fakultas, ke ruang kepala jurusan, ke tempat di mana suaminya sedang dihakimi oleh semua orang.
"Kenapa aku terus memikirkannya? batinnya kesal pada diri sendiri.'
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangan ke buku lagi. Tiga kali ia membaca paragraf yang sama, tetap tidak paham isinya.
Di sampingnya, Wulandari dan Aqeela duduk berdua di bangku yang sama. Sebuah ponsel berada di tangan Wulandari, sementara Aqeela menempelkan wajahnya hampir menyentuh layar.
"Lihat ini, Qeela," Wulandari, memperlihatkan ponselnya pada Aqeela, "Foto ini jelas banget. Rangga sama Emily berduaan di sofa, posisi mereka..."
"Nggak mungkin cuma berteman," sambung Aqeela sambil menggeleng. "Aku lihat juga tadi pagi di grup. Udah tersebar ke mana-mana. Bahkan anak fakultas ekonomi juga pada komentar."
Wulandari memperbesar foto itu, mengamati setiap detailnya. "Rangga selama ini terlihat begitu dingin dan sulit didekati. Tapi ternyata..."
"Ternyata dia sama saja seperti cowok lain," potong Aqeela"Malah lebih parah, karena Emily baru datang belum lama."
"Cha, kamu lihat belum fotonya?" tanya Wulandari tiba-tiba, mengarahkan ponsel ke hadapan Meysa.
Meysa menoleh. Matanya menatap layar ponsel itu. Foto Rangga dan Emily dalam pelukan. Posisi yang sangat mesra. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat di apartemen, karena Rangga tidak pernah mendekatinya seperti itu.
"Sudah," jawab Meysa datar. "Aku lihat tadi pagi."
"Kok kamu tenang banget sih?" Aqeela mengernyit. "Padahal kita biasa lihat Rangga itu sombong dan dingin, tapi sekarang ketahuan aslinya. Kamu nggak merasa aneh?"
Meysa tersenyum."Bukan urusanku. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri." ujarnya..
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey