Jevandra Raksa Bumi, Seorang laki-laki tampan yang tidak banyak di ketahui orang jika di balik wajah tampannya terdapat sosok iblis yang sangat kejam.
Hidup dalam dendam masa lalu yang membuatnya begitu membenci keluarga besar Bagaskara hingga membuatnya terpaksa menikahi seorang gadis bernama Diara Bagaskara sebagai tumbal atas balas dendam masa lalu.
Akankah Diara berhasil membuat Jevandra melembut dan luluh akan kelembutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengawal Baru
Sarapan pagi ini terasa lebih hening dari biasanya. Karena mereka tidak turun untuk sarapan, karena Jevandra meminta para pelayan untuk datang ke kamar.
Diara yang baru saja keluar dari ruangan ganti hanya bisa berdiri diam menatap meja yang ada di kamar mereka di penuhi makanan.
Bahkan suaminya juga sudah duduk disana. Jevandra tau, jika istrinya sudah keluar sejak tadi.
"Apa kau ingin terus berdiri disana dan membuatku menunggumu?" tanya Jevandra menatap Diara.
Terpaksa Diara melangkah menuju suaminya yang sudah lebih dulu duduk disana. "Makan!" titahnya pada Diara.
"Aku tidak lapar suamiku. Nanti saja aku makan." tolak Diara secara halus.
"Aku bilang makan!" titahnya lagi, tapi Diara memang belum lapar. Lagi pula di bawah tadi dia sudah minum segelas susu hangat sebelum suaminya bangun.
Karena dia terkejut saat bangun, dia mendapati dirinya yang tidur di atas tempat tidur bersama laki-laki itu.
Walah berjarak, tapi Diara tidak berani mengatakan apapun saat ini.
"Maaf suamiku, tadi di bawa aku sudah-"
"Aku bilang makan!" sentak Jevandra mengebrak meja, hingga membuat jantung Diara seperti berhenti berdetak.
Dia terkejut, sampai nafasnya tercekat. Dia berdiri kaku di tempatnya, dengan kedua tangan yang terkepal erat.
Diara benar-benar ketakutan saat ini. Setidaknya jika laki-laki itu tidak bisa meminta maaf padanya, cukup bersikap baik saja mungkin Diara bisa melupakannya.
Tapi ini, dia kembali merasakan sakit yang luar biasa.
Melihat Diara yang kembali meneteskan air matanya membuat Jevandra kesal, dan memilih pergi meninggalkan wanita itu disana.
Brak!
Pintu kamarnya di banting dengan begitu keras hingga membuat para pelayan yang sedang melakukan tugasnya bisa mendengarnya.
Tya yang paling dekat dengan Diara langsung masuk ke kamar nyonya mudanya. Karena dia begitu mengkhawatirkan keadaannya saat ini.
"Nyonya..." panggil Tya yang melihat Diara duduk di lantai sambil menangis memukuli dadanya.
"Nyonya, hentikan." kata Tya yang berusaha menghentikan perbuatan Diara yang menyakiti dirinya sendiri.
"Apa salahku, Tya. Apa salahku hingga di perlakukan begini? Jika aku tau akan jadi seperti ini, lebih baik aku mati saja. Aku tidak bisa Tya. Aku benar-benar tidak bisa. Aku menyerahkan, Tya. Aku menyerah." tangis Diara pecah saat Tya datang memeluknya.
Jevandra yang berada di ruangan kerjanya melihat hal itu. Dia melihat Diara yang menangis dalam pelukan pelayannya.
Kedua tangannya terkepal erat saat Diara mengatakan dia ingin mati dan tidak sanggup lagi.
Entah mengapa Jevandra tidak terima. Dia marah saat tau Diara ingin mengakhiri hidupnya.
"Seumur hidupmu hanya aku yang bisa memilikinya. Kau tidak ku izinkan untuk mati begitu saja. Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan mu mati." ucapnya menatap tajam pada laptopnya yang menampilkan hasil bidikan kamera cctv yang tersembunyi di dalam kamar mereka.
"Nyonya tenang, nyonya. Saya yakin anda pasti kuat. Saya mohon jangan seperti ini. Sudah hentikan nyonya." kata Tya yang berusaha menghentikan Diara yang terus saja memukuli dadanya yang terasa begitu sesak.
Karena tidak tahan melihat itu semua, Jevandra memilih pergi ke kantornya. Dia bahkan juga melewatkan sarapan paginya karena Diara tidak mau makan.
"REMI!!!!" teriaknya menggelegar memanggil nama asisten pribadinya saya ini, karena Roy akan kembali ke Singapura siang nanti.
"Ya, tuan?" jawabnya datang terburu-buru.
"Pergi ke kantor sekarang!" titahnya tak terbantahkan membuat Remi langsung membuka pintu mobil untuk Jevandra.
Dia tau, pasti terjadi sesuatu lagi pada nyonya muda mereka saat ini. Karena sudah terlihat jelas dari raut wajah tuannya.
Dia melihat Jevandra yang menghubungi seseorang disana. "Jaga nyonya kalian, dan pastikan dia makan makanan-ya. Jika dia tidak makan, maka kalian yang akan menerima akibatnya!" ucapnya dengan penuh ancaman, membuat sang penerima telepon hanya bisa menghela nafasnya.
Apalagi saat Jevandra langsung memutuskan sambungan telepon mereka begitu saja. Dia mulai mengeluh tentang hal ini.
"Apa seperti ini yang di rasakan sih bungsu setiap harinya?" gumam Rocky setelah menerima panggilan telepon dari tuan muda.
"Lakukan saja apa yang tuan muda katakan. Kita hanya menjalankan tugas dengan baik." jawab Richard sebagai kakak tertua disini.
"Ayo kita berkeliling Villa. Aku penasaran, barang kali ada pelayang yang cantik." katanya genit membuat Richard muak.
"Pastikan saja senjata perang mu sehat!" sindir Richard yang tau kebiasaan adik keduanya ini.
***
keren ini mah calon mommy banyak pikiran gampang di bikin hamil
biasanya cepat Up nya..
laki jg pny ksbrn.... jd jgn uji ksbrn ny... jk gk mau hal keras trjd
dgn wajah yg tak sama kau dgr...
kalo mdel yak gn trs ya mt kau🤣