Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: BELANJA KEDAULATAN
Bab 30: Belanja Kedaulatan
Matahari tengah hari itu bersinar terik, memantul di permukaan kaca gedung-gedung pencakar langit Jakarta, menciptakan ilusi kota yang terbakar oleh ambisi. Namun, bagi Valerie Vespera, udara di luar sana terasa jauh lebih segar daripada oksigen yang pernah ia hirup selama delapan belas tahun terakhir di dalam "penjara" bernama Mansion Menteng.
Hari ini adalah hari pertama dalam kalender hidupnya sebagai manusia yang berdaulat. Setelah sukses meruntuhkan harga diri Gilbert Elrod di Gala Dinner semalam, Valerie memutuskan untuk melakukan ritual pembersihan. Bukan sekadar mandi kembang atau meditasi, melainkan sebuah ritual penghapusan jejak. Dia ingin menghapus setiap atom debu gudang, setiap bekas luka emosional, dan setiap memori kemiskinan yang dipaksakan keluarga Elrod ke atas pundaknya.
Valerie melangkah masuk ke lobi Plaza Indonesia. Langkah kakinya stabil, menekan lantai marmer dengan irama yang tenang namun pasti. Dia masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai saat kabur dari rumah—sebuah blus putih dengan jahitan yang mulai lepas di bagian lengan dan celana kain murah yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Penampilannya adalah antitesis dari kemewahan yang memenuhi lobi mal tersebut.
Kehadirannya di sana seperti noda hitam di atas kanvas putih yang bersih. Para penjaga toko meliriknya dengan alis terangkat, sementara pengunjung lain—para sosialita yang hidup dari uang suami atau warisan—menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan pertanyaan: Bagaimana bisa orang seperti dia berani menginjakkan kaki di tempat ini?
Di depan butik luxury yang memajang tas edisi terbatas, Valerie berpapasan dengan dua sosok yang sangat familiar. Sarah dan Tiffany. Mereka adalah "burung kakatua" yang selalu mengekor di belakang Alethea, gadis-gadis yang hidupnya didedikasikan untuk menjatuhkan harga diri orang lain demi kepuasan semu.
"Ya Tuhan, lihat siapa yang datang," suara Sarah melengking, memecah kesunyian lobi yang megah. Dia berhenti melangkah, menatap Valerie dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang penuh racun.
Tiffany, yang berada di sampingnya, tertawa kecil sembari menutup mulut dengan tangan yang dihiasi cincin berlian besar. "Valerie? Bukannya kamu sudah diusir dari rumah Elrod? Apa kamu ke sini cuma buat mengemis atau mencari sisa makanan di food court? Jangan masuk ke toko ini, nanti baunya nular ke koleksi terbaru musim ini!"
Valerie berhenti tepat di depan mereka. Dia tidak menunduk. Dia tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun. Sebaliknya, dia menatap mereka dengan tatapan datar—tatapan yang sama yang ia gunakan saat melihat grafik saham Elrod Corp yang sedang anjlok.
"Apa kalian selesai?" tanya Valerie, suaranya dingin, seolah-olah dia sedang berbicara dengan mesin penjual otomatis yang rusak.
Sarah terhenyak, tidak menyangka Valerie akan membalas dengan begitu tenang. "Apa? Kamu berani melawanku? Kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma sampah panti asuhan yang beruntung diangkat anak, dan sekarang, setelah kamu dibuang, kamu kembali ke wujud aslimu sebagai orang tidak berguna."
Tiffany maju selangkah, mencoba mengintimidasi. "Kamu tahu kan, kalau Alethea sudah menyebarkan berita bahwa kamu itu pencuri? Kami di sini sedang sibuk belanja barang seharga ratusan juta. Kamu? Kamu mungkin bahkan tidak punya uang untuk membeli segelas kopi di sini."
Di sekeliling mereka, orang-orang mulai berhenti dan menonton drama itu dengan antusias. Valerie melihat ke arah toko perhiasan dan jam tangan ultra-luxury di samping mereka. Toko itu dikenal sebagai tempat yang paling eksklusif, di mana pelanggan harus membuat janji temu tiga hari sebelumnya hanya untuk masuk.
Valerie tidak menggubris kata-kata kotor mereka. Dia justru berjalan melewati kedua gadis itu, langkahnya menuju langsung ke pintu kaca toko perhiasan tersebut.
"Hei! Kamu mau ke mana? Kamu tidak boleh masuk ke sana! Itu toko privat!" teriak Sarah, merasa dipermalukan karena Valerie mengabaikannya begitu saja.
Valerie tidak peduli. Dia mendorong pintu kaca itu. Manajer toko, seorang pria paruh baya dengan setelan jas bespoke yang tampak sangat kaku, segera menghampiri Valerie dengan raut wajah yang penuh penghinaan.
"Nona, saya harap Anda sadar di mana Anda berada. Toko kami tidak melayani... penonton," ucap sang manajer dengan nada yang menghina.
Valerie tidak menjawab. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku blazer tuanya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam yang baru ia beli dari sebuah toko duty-free di bandara tadi pagi. Dengan gerakan yang sangat elegan, ia mengeluarkan kartu logam berwarna hitam legam—Black Card dari Pecunia Corp. Kartu itu bukan sekadar kartu kredit; itu adalah sebuah benda logam yang terasa berat, dengan desain minimalis yang memancarkan aura kekuasaan mutlak.
Saat manajer toko itu melirik logo yang terukir di kartu tersebut, raut wajahnya berubah total. Pucat pasi. Matanya membelalak ketakutan, seolah-olah ia baru saja melihat hantu yang sangat nyata. Dia tahu kartu itu. Itu adalah kartu akses khusus yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di dunia, dan yang paling mengejutkan, kartu itu terdaftar atas nama Pecunia Corp—pemilik mayoritas gedung mal ini sendiri.
Manajer itu segera membungkuk sembilan puluh derajat, sangat dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nona! Saya benar-benar tidak mengenali Anda! Silakan masuk, silakan, Nona!"
Sarah dan Tiffany yang berdiri di depan pintu kaca itu ternganga. Mereka tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat.
Valerie masuk ke dalam, diiringi oleh manajer yang kini gemetaran. "Saya mau semua koleksi terbaru musim ini," ujar Valerie datar, sambil menunjuk ke etalase utama yang berisi jam tangan edisi limited dan perhiasan berlian high-end. "Bungkus semuanya. Saya tidak mau melihat satu pun barang tersisa di etalase ini. Saya ingin semuanya dikirim ke alamat saya sebelum jam empat sore."
"Tentu, Nona! Tentu saja! Apa ada hal lain yang bisa kami bantu?"
Valerie menoleh ke arah pintu, menatap Sarah dan Tiffany yang masih mematung di luar. "Satu hal lagi," ucapnya, suaranya cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di luar. "Tolong usir dua 'sampah' di depan toko ini. Suara mereka berisik dan mulut mereka bau kemiskinan. Mereka mengganggu suasana belanja saya."
Manajer toko itu tanpa ragu memanggil dua orang satpam mal yang berjaga di dekat sana. "Kalian berdua! Seret dua orang itu dari depan toko saya sekarang juga! Jangan biarkan mereka mendekat lagi!"
"Apa?! Kamu tidak bisa melakukan ini! Aku pelanggan setia di sini!" teriak Sarah histeris saat satpam mal menarik lengannya.
"Tidak! Lepaskan aku! Valerie, kamu ini apa-apaan!" teriak Tiffany saat mereka diseret pergi di depan ratusan mata pengunjung mal.
Valerie sama sekali tidak menoleh. Dia justru sedang sibuk memilih bros berlian dengan tenang, seolah-olah dia sedang memilih sayuran di pasar. Baginya, ini bukan tentang barang-barangnya. Ini tentang membalikkan posisi. Dia sudah selesai menjadi korban. Sekarang, dunia akan bertekuk lutut di hadapannya.
Setelah transaksi yang nilainya mencapai angka yang bahkan tidak bisa dihitung oleh kalkulator ponsel Sarah, Valerie berjalan keluar dari toko dengan dikawal oleh manajer toko itu sendiri. Dia tidak lagi terlihat seperti gadis panti. Aura kekuasaannya begitu kuat hingga orang-orang yang berpapasan dengannya secara refleks menyingkir ke sisi jalan, memberi jalan padanya seolah dia adalah seorang ratu yang sedang berjalan di koridor istananya sendiri.
Langkah berikutnya adalah gerai ponsel flagship. Valerie masuk, memilih ponsel edisi custom yang diproduksi terbatas—sebuah perangkat yang memiliki enkripsi tingkat militer—dan meminta kartu SIM baru. Begitu ponsel itu aktif, dia mengambil ponsel lamanya—benda retak yang selama ini menjadi sumber kecemasan, tempat dia menerima ancaman dari Alethea, tempat dia melihat pesan-pesan penghinaan dari ayahnya—dan melemparkannya ke tempat sampah dengan perasaan yang sangat puas.
Benda itu hancur di dasar tempat sampah, sama seperti harga diri keluarga Elrod yang ia hancurkan tadi malam.
"Julian," panggil Valerie pada Julian yang sejak tadi berdiri tak jauh di belakangnya, memastikan tidak ada gangguan.
"Ya, Nona?"
"Bagaimana dengan penthouse di SCBD?"
"Semua dokumen sudah ditandatangani secara digital. Anda bisa pindah kapan saja. Staf sudah siap di sana."
"Bagus," jawab Valerie.
Satu jam kemudian, Valerie sudah berdiri di balkon penthouse pribadinya yang terletak di lantai 55. Dari ketinggian ini, Jakarta tampak seperti sebuah papan catur yang luas. Dia bisa melihat gedung Elrod Corp di kejauhan—sebuah bangunan yang dulunya dia anggap sebagai "rumah", namun sekarang, dia melihatnya sebagai target yang sudah dikunci oleh sniper.
Dia meletakkan Black Card Pecunia Corp di atas meja marmer Italia yang harganya saja setara dengan biaya hidupnya selama sepuluh tahun di Mansion Menteng. Dia menuangkan segelas air mineral ke dalam gelas kristal mahal, lalu menyesapnya perlahan.
Setiap barang yang ia beli hari ini, setiap perhiasan yang ia kenakan, setiap sudut penthouse ini—semuanya adalah simbol dari satu hal: Kedaulatan. Dia tidak lagi meminta izin untuk hidup. Dia tidak lagi memohon untuk diakui. Dia adalah pemilik permainannya sendiri.
Dia melihat ke arah ponsel barunya yang kini kosong. Tidak ada lagi pesan ancaman. Tidak ada lagi perintah untuk mencuci piring atau membersihkan sepatu. Yang ada hanyalah notifikasi dari Aris dan tim intelijen yang sedang bekerja membongkar skandal pajak Elrod Corp.
Valerie Vespera telah kembali, dan kali ini, dia tidak akan berhenti sampai keluarga Elrod benar-benar musnah dari sejarah bisnis Indonesia. Dia menutup jendela kaca penthouse-nya, membiarkan kebisingan kota di bawah sana meredup, menyisakan keheningan yang megah di ruangan tersebut.
Malam ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia akan tidur dengan nyenyak. Bukan karena kelelahan bekerja, tapi karena dia tahu, besok pagi, dia akan bangun sebagai seorang penguasa. Dan musuh-musuhnya? Mereka mungkin sedang terbangun di tengah malam, keringat dingin membasahi tubuh mereka, bertanya-tanya kapan serangan selanjutnya akan datang.
Bersambung........
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
pas val ke dapur ketemu mbok darmi🤔
gk pd saat di panti🤔
aaaah.... mgkin kendala dr ponsel pintar ya💪