Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan
Devan tengah menikmati secangkir kopi hangat di ruang keluarga, ia tersenyum ketika melihat Nesa dan Manda tertawa secara bersamaan, tawa Nesa terlihat menarik, membuat Devan tak kuasa menahan senyumnya. Istrinya itu begitu cantik ketika tertawa.
Devan menggelengkan kepala, dan terus menatap Nesa yang kini tengah bercerita dengan Manda.
Tawa Nesa terlihat cantik, bahkan Devan tanpa sadar ikut tertawa.
Gani dan Alwi menoleh dan melihat Devan tengah tertawa seraya menatap lekat Nesa.
Gani menyikut Alwi, mereka ikut tersenyum melihat Devan yang terus saja tersenyum.
Gani berdeham, dengan cepat Devan memalingkan wajah, berharap tawanya tadi tak terlihat oleh adik dan sahabatnya.
"Istriku memang cantik," ucap Gani, menatap Manda.
"Nesa pun terlihat cantik, Bro," sambung Alwi, membuat Devan menoleh melihatnya. "Gimana, Dev? Istri lo cantik, 'kan?"
"Apaan sih kalian? Lebay banget." Devan menggelengkan kepala.
"Lebay gimana, Bro? Kita nggak lebay, emang kenyataan, 'kan?" Gani menyikut Alwi, sengaja menggoda Devan.
"Apaan sih kalian, nggak usah banyak ngomong," kata Devan.
Gani dan Alwi saling menyikut, membuat Devan terus saja menahan tawanya.
Suara ponsel Devan terus saja terdengar, namun Devan tak mendengarnya sejak tadi, ia bukan mengabaikan, namun benar-benar tak mendengarnya.
Lestari saat ini sedang dalam perjalanan menuju Depok untuk menyusul Devan, ia tak bisa menunggu esok, ia harus bertemu Devan dan melepaskan rasa rindu.
Sesaat kemudian, Ningrum dan Winda masuk ke rumah.
Ningrum memberi kode kepada Winda agar tak sampai mengatakan hal tentang penyakitnya.
"Mama dari mana? Kenapa pagi sekali perginya?" tanya Alwi.
"Mama pergi sama Tante Winda ke rumah kerabat. Mama nggak sempat membangunkan kalian," jawab Ningrum.
"Mama kok pucet banget?" tanya Devan menatap wajah ibunya, Winda hanya menundukkan kepala, ia tak mau mengkhianati kakaknya, ia sudah berjanji tak akan mengatakan apa pun pada semuanya.
"Pucet? Ah kamu, Mama baik-baik aja kok," jawab Ningrum.
"Mama sama Tante belum sarapan, 'kan? Ayo sarapan dulu," kata Nesa, merangkul ibunya.
Ningrum menganggukkan kepala, lalu melangkah menuju dapur di susul dengan Manda juga Winda.
Suara ponsel Devan terus saja berdetar, namun Devan tak juga kunjung menjawabnya.
Lestari mengirimi pesan -Aku di Depok. Kamu dimana? Cepat temui aku di Hotel UL, kamar 78. Jika tidak, aku akan ke rumahmu.—
Hanya itu yang bisa dilakukan Lestari agar bisa bertemu kekasihnya yang sudah menjadi suami orang lain, semua hal yang terjadi adalah salahnya, jadi ia akan melakukan apa pun untuk membuat Devan kembali kesisinya.
Lestari merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit kamar hotel yang kini menjadi temannya, hanya ini yang bisa ia lakukan, ia bisa saja kembali ke kost, namun salah jika ia melakukan itu. Ia sudah ke sini, jadi ia akan pulang setelah bertemu Devan.
***
Nesa masuk ke kamar, seraya meregangkan ototnya agar lebih segar, hari ini tak melelahkan sama sekali, namun karena kehamilannya sudah 6 bulan, jadi ia jadi lebih mudah capek.
Nesa melihat ponsel suaminya yang ada di atas nakas, sejak tadi ponsel itu terus saja berdetar, membuat Nesa menoleh kanan kiri melihat suaminya tak ada.
Devan memang sedang mandi, jadi tak akan masalah jika Nesa mengangkat telpon tersebut.
Nesa melihat nama Lestari, dan mengangkatnya, meski ia pasti akan terkena marah oleh Devan karena mengangkat telponnya sembarangan.
'Halo. Assalamu'alaikum,' ucap Nesa.
Lestari membulatkan matanya, ketika mendengar suara seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah istri Devan, Lestari mengelus dadanya agar tak bersikap santun pada Nesa.
Sejak siang ia menelpon Devan, namun tidak pernah di angkat, pas di angkat yang berbicara adalah Nesa. Tentu saja itu menyakitkan.
'Salam. Kenapa ponsel Devan kamu yang angkat?'
'Oh iya. Mas Devan sedang mandi. Ada perlu apa? Nanti akan saya sampaikan," kata Nesa menguatkan diri.
'Mandi? Kalian habis ngapain?'
'Jangan salah paham, Mbak. Mandi ya karena hari sudah sore,' kata Nesa.
Lestari menghela napas panjang.
'Berikan padanya jika dia sudah selesai mandi.'
'Maaf, Mbak, tapi Mbak ini siapa ya?' Nesa berpura-pura bertanya, meski ia sudah tahu jika Lestari adalah kekasih Devan.
'Pakai tanya segala lagi, kamu nggak liat namaku di ponsel Devan?'
'Saya tahu, Mbak, mama Mbak kan Lestari ya.'
'Lah iya, pakai tanya segala lagi. Jangan membuatku marah ya, kamu itu kalau sudah tahu ya diam saja. Jangan banyak omong.'
'Mbak, saya—'
Sesaat kemudian, pintu kamar mandi terbuka, membuat Nesa membulatkan mata karena melihat tatapan Devan ke arahnya.
"Kamu mengangkat telponku?" tanya Devan.
"Ini terus berdetar, Mas, jadi aku angkat siapa tahu saja penting, 'kan?" Nesa berspekulasi, membuat Devan menghela napas dan merebut ponselnya dari tangan Nesa.
Devan melihat nama Lestari di layar ponselnya.
'Halo.'
'Sayang, kenapa kamu nggak angkat telponku? Sejak siang aku menelponmu, mungkin sudah 100x aku menelponmu,' celetuk Lestari di seberang telpon.
'Sayang, bentar aja ya, aku akan menelponmu.'
'Tapi, Sayang, aku di—"
Devan memutuskan sambungan telpon, membuat Nesa menelan ludah karena ia pasti kena marah telah mengangkat telponnya diam-diam. Devan menghela napas dan menatap ke arah Nesa yang kini menundukkan kepala.
"Lain kali, kalau denger ponselku, bilang ke aku ya," kata Devan, membuat Nesa mendongakkan wajah.
"Kamu nggak marah?"
"Marah sih, tapi nggak apa-apa," jawab Devan, membuat Nesa tersenyum.
"Maafin aku, aku hanya—"
"Hanya apa?"
"Hanya ingin mendengar suara Lestari," jawab Nesa membuat Devan menautkan alisnya.
"Kok bisa gitu?"
"Siapatahu saja anak yang ku kandung bisa bereaksi ketika mendengar suara kekasih ayahnya," sindir Nesa yang sengaja menyindir.
"Ya udah. Aku ke bawah dulu," sambung Nesa, lalu hendak melangkah melintasi suaminya, namun genggaman tangan Devan menghentikan langkah kakinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Devan.
"Aku mau ke bawah bantuin Bi Ijah nyiapin makan malam. Ada apa?"
"Aku—" Devan menggaruk leher belakangnya, membuat Nesa menautkan alis. Ketika sadar, Devan melepaskan genggaman tangannya pada lengan istrinya.
"Aku ke bawah dulu," kata Nesa lagi, lalu benar-benar tak lagi terlihat.
Sepeninggalan Nesa, Devan duduk di tepian ranjang, dan menghela napas panjang. Ponselnya kembali bergetar, membuat Devan menoleh melihat nama Lestari.
'Iya, Sayang?' tanya Devan.
'Kenapa dimatiin sih? Apa sih yang kamu lakuin?'
'Aku baru selesai mandi dan pakai baju.'
'Sayang, aku di Depok.'
Ekspresi Devan berubah. 'Apa? Depok? Ngapain kamu di Depok?'
'Nemuin kamu. Aku kangen banget, Sayang. Please, kita ketemu, ya.'
'Baiklah. Aku akan menemuimu, tapi nggak bisa lama karena aku nggak enak sama Mama.'
'Iya. Nggak apa-apa kok, asalkan kita ketemu dulu.'
.
.
Bersambung.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻