NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: gustinara

Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22 PEKERJAAN

Kantor Gibson Golden Corp.

Beberapa karyawan wanita terlihat sedang bercengkrama di meja resepsionis. Cika sendiri sedang menunggu ojek online mengantarkan camilan berupa brownies untuk sang direktur.

"Mbak Cika. Tadi ada perempuan muda dateng sini nemuin bos. Terus dipanggil sama si bosnya langsung. Itu keknya memang istri mudanya deh. Mbak Cika ketemu sama dia gak tadi diatas?" ucap Desi sang resepsionis yang tadi siang sempat bertemu dengan Luna. Cika hanya pura-pura tidak tahu saja tentang status perempuan itu.

Karena Cika tak banyak membalas pertanyaan-pertanyaan tentang wanita misterius itu, karyawan lain yang ikut mengobrol hanya berdecak sebal. Masa sih sang sekertaris tak tahu apa-apa mengenai hal pribadi bosnya.

Tukang ojek yang mengantarkan makananpun datang bersama satpam. Setelah kotak kue didalam keresek itu beralih tangan di tangan Cika, Cika pamit berlalu dan langsung menuju lantai tujuh. Ia mengetuk dan langsung masuk ke ruangan direktur tampan itu.

"Pak. Rumornya makin buming semenjak mbak Luna kesini. Saya di tanya-tanyain tentang dia terus" keluh Cika sembari membuka kotak brownies tersebut.

"Terus kamu bilang apa sama mereka?" Ucap Anggara yang tak beralih pandang dari laptopnya.

"Ya saya gak bilang apa-apa lah. Kalau saya bocorin, bisa-bisa saya dipecat sama bapak. Hehe" ucap Cika sembari bercanda. Anggara hanya menarik sebelah bibirnya.

"Bilang aja dia sepupu saya" Cika mengangguk dan menyodorkan brownies coklat tersebut. "Hari ini ada kerjaan lain buat saya?" Ucapnya.

"Gak kok. Bapak sudah free. Lagi pula rapat tentang pembangunan resort kan besok. Pak Richard juga keliatannya gak kekantor" ucap Cika. Anggara mengangguk dan berdiri bersiap untuk pergi.

"Browniesnya buat kamu Cik. Saya duluan" ucap Anggara. Cika hanya berdecak kesal karena brownies yang sang bos pesan tak sama sekali tersentuh, di lirik pun tidak.

***

Luna sudah berada di Jardin cafe karena sudah janjian dengan Safira. Safira juga terlihat sudah menuggu Luna di salah satu meja juga sudah ada minuman pesanannya.

"Lo ngelamar dimana emang Fir?" Ucap Luna setelah selesai memesan makanan dan minuman.

"Di perusahaan tempat kerja om gue. " ucap Safira

"Perusahaan apa emang?" Ucap Luna bingung.

"Semacam produk properti gitu. Dan ya nyambung banget sama gue yang lulusan Spesialis Interior mah" ucap Safira. Luna ber-oh-ria.

"Kalo ada loker lagi, kasih tau gue ya" ucap Luna dan Safira mengangguk.

"Btw, lo mau ngomong apa? Tentang pernikahan lo" ucap Safira yang mengingatkan Luna perihal tujuan mereka untuk bertemu. Tak lama datang pelayan meletakkan cappucino ice dan camilan tahu dan kentang.

"Oke. Lo inget sama dosen seni rupa si bu Silvi itu? Yang lagi bawa mahasiswa kita ke Philipina dan China?" Ucap Luna. Safira yang tak mengerti alur pembicaraannya hanya mengangguk bingung.

"Dia punya suami kan? Nah-" Luna memenggal ucapannya dengan satu tarikan nafas dan membuangnya pelan. "Suaminya itu sekarang suaminya gue juga" ucap Luna. Safira masih memandang Luna dengan wajah datar.

"Jangan canda lo!" Ucap Safira yang tak percaya dan langsung menyeruput minuman asamnya.

"Errr gue serius. Gue ini jadi istri muda, alias istri kedua dari Bu Silvi sebagai istri pertama" ucap Luna.

"Gue gak percaya" ucap Safira.

"Gue juga baru tahu pas udah nikah dua hari dan bu Silvi dateng dan nampar gue! Lo masa gak percaya sih" ucap Luna berusaha meyakinkan sahabatnya itu.

"Gak! Gue kenal sama lo Lun. Lo mana mau dijadiin istri kedua begitu. Dan gue tau mimpi lo buat jadi istri yang istimewa dimasa depan. Gue juga tau impian lo jadi istri tuh kayak gimana. Suami lo udah pantes kok, dia ganteng juga kaya dan mapan. Mana ada istri kedua, cih" ucap Safira. Luna hanya menarik nafasnya dan menunduk. Safira benar, pernikahan yang sebenarnya Luna harapkan bukan seperti ini. "Cuma gue juga sedikit heran sih. Lo pernah tunjukkin desain gaun pernikahan lo ke gue tapi lo gak pake waktu nikah, terus lo pengen pesta sederhana yang di lakuin di outdoor tapi malah indoor. Kesannya buru-buru gitu" ucap Safira sembari menggedikkan bahunya.

"Iya lo bener fir. Pernikahan yang gue inginkan bukan kayak gini. Tapi ini demi ayah gue yang di jogja. Lo tau kan ayah gue sakit ginjal akhir-akhir ini?"

"Apa?! Sejak kapan? Om Randy? Yaallah" ucap Safira terkejut. Luna langsung menceritakkan segala-galanya. Juga perihal alasan ia menikah dengan Anggara karena biaya rumah sakit. Sekarang Safira sedikit percaya, karena air mata Luna yang mengalir bebas disana.

***

Perut Luna semakin sakit saat menjelang malam. Ia juga sudah memeluk kantung karet berisi air panas yang ditempelkan di perutnya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Luna meminta izin untuk beristirahat duluan karena efek pmsnya ini pada seisi rumah. Lala dan bunda juga khawatir dan memberi makanan sehat pada Luna.

Luna masih meringis dan kepalanya ia rasakan pusing. Ponselnya terkapar tak ia lirik, padahal ada beberapa pesan yang masuk. Sudah dua jam Luna membolak-balik badan di ranjang. Pintu kamar terbuka dan Luna melihat Anggara masuk kedalam kamar.

"Tuan? Kenapa ada disini?" Ucap Luna pada Anggara dengan suara lemas. Anggara memang terlihat murung. Tetapi saat ia melihat Luna yang seperti kesakitan, Anggara langsung menghampirinya dan duduk di sisi ranjang.

"Kamu kenapa Lun? Saya liat kamu dikantor juga pucet dan ringis-ringis gitu" ucap Anggara kaku. Luna menatap Anggara lemah dan tak percaya suaminya ini menanyakan keadaannya. Luna hanya menggeleng dan membalikan badannya.

"Tuan. Maaf enggak bisa layanin dulu ya" hanya itu ucapan yang mampu keluar dari mulut Luna.

La-ya-ni. Apa? Pftt konyol. Batin Anggara.

Anggara hanya mengiyakan dan langsung membersihkan diri. Ia juga tidak berniat untuk makan atau meminta minum aneh-aneh karena sudah larut dan besok ada rapat pagi.

Anggara merebahkan tubuhnya disamping Luna. Ia mendengar ringisan berkali-kali dari Luna dan beberapa menit kemudian Luna menelfon seseorang di ponselnya.

"Mah.." ucap Luna dengan lemas dan pelan, takut mengganggu Anggara.

"Kenapa Luna? Udah malem gini telepon mama"

"Gimana papa?"

"Baik kok. Uang yang kamu kirim kebanyakan sayang."

"Simpen aja ma. Perut Luna sakit ma"

"Kenapa?"

"Biasa sss tamu bulanan"

"Kebiasaan ya kamu kalau mens. Yaudah coba nungging sayang, minum air anget yang banyak. "

"Ini tanggalnya maju ma. Apa gak papa?" Ucap Luna masih lemah disertai ringisannya. Anggara menyimak dan tak terlalu mengerti percakapan wanita itu.

"Itu tandanya kamu kecapean sayang. Istirahat yang bener, jangan stress. Jadi istri kedua itu gak mudah sayang. Kamu harus banyak sabar"

Ucapan ibunya membuat Luna bersedih. Ia tak menyangka, tanpa terasa Luna sendiri memang kelelahan. Apalagi ada rasa iba dari ibunya tentang posisi dirinya di keluarga ini. Luna mulai menangis karena hatinya tiba-tiba sakit ditambah perutnya yang masih perih.

"Anak ibu.. Kok nangis?"

"Sa-sakit bu" ucap Luna. Lintang menghela nafasnya dan membuangnya.

"Minum air anget dulu ya.. gih. Masmu tidur disitu?"

"Ada bu. Yaudah Luna tutup ya, takutnya ganggu mas Anggara juga. Assalamu'alaikum"

"Waalaikum salam. "

Anggara mendengar semuanya. Terlebih suara dari ponsel yang kecil tapi jelas untuk Anggara dengar karena saking heningnya kamar mereka. Luna terduduk dan hendak beranjak namun niatnya berdiri terhenti saat Anggara menegurnya.

"Mau kemana? Biar saya yang ambilin air angetnya" ucap Anggara yang berlalu langsung ke dapur. Luna menatap pinggung suaminya hingga menghilang drngan pandangan tak percaya. Beberapa menit kemudian, Anggara datang dengan satu gelas air mineral hangat. Ia berikan pada Luna dan Luna langsung meminum setengahnya.

"Makasih tuan. Maaf udah ganggu" ucap Luna. Tetapi Anggara menggeleng.

"Kamu sama kayak bunda. Kalau datang bulan, suka sakit rahimnya" ucap Anggara. Luna tersenyum lemah.

"Namanya juga perempuan. Udah biasa tiap bulan kayak gini " ucap Luna dan langsung hendak merebahkan tubuhnya. Namun Anggara menawarkan sesuatu yang benar-benar tak disangka olehnya.

"Saya pijitin pinggang kamu ya? Biar kamu bisa tidur" ucapnya lembut.

"Hah? G-gak usah tuan, maka-" bantahan Luna tak ia hiraukan. Anggara mulai memposisikan tubuhnya dengan tubuh Luna agar dirinya bisa memijat pinggang istrinya. Namun saat baru saja Anggara menemukan posisi tepat, suara ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka.

Anggara berdiri dan langsung membuka pintu. Dilihatnya bunda dengan satu cangkir jamu pereda nyeri menstruasi.

"Luna udah tidur? Bunda baru cari ternyata jamu ini masih ada di lemari kamar" ucap Nida. Anggara langsung mempersilahkan bundanya masuk.

"Masih sakit?" Ucap Nida, Luna mengangguk. "Nih minum dulu, ini jamu yang pernah bunda kasih waktu itu " lanjut Nida. Luna meminum jamu tersebut sembari memejamkan matanya karena jamu tersebut sangat pait. Ia langsung meminum sisa air putih yang tadi suaminya bawakan.

Luna ditutun untuk merebahkan badannya oleh Nida. Nida juga merebahkan diri disamping Luna yang memunggunginya karena ia akan dipijat oleh Nida. Nida menyuruh Anggara untuk merebhkan diri juga disamping Luna. Dan mereka tidur bertiga diranjang kingsize itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Anggara terbangun dan mendudukkan diri. Ia melihat kesebelah kirinya, senyum terlukis di wajahnya yang bantal melihat bunda memeluk Luna. Ia menaikkan selimut pada keduanya dan bunda terbangun. Nida mengikuti mendudukan diri sedangkan Luna masih tertidur.

"Ohiya mas, bunda mau tanya sesuatu" ucap Nida.

"Kenapa bun?"

"Hubungan kamu sama Silvi gimana?" Ucap bunda. Anggara terlihat menghela nafasnya.

"Seperti semula bun. Ternyata perselingkuhan itu gak nyata, itu cuma salah faham." Ucap Anggara.

"Salah faham? Silvi bawa laki-laki lain loh ke dalem kamar! Mantan pacarnya pula" ucap Nida sedikit kesal.

"Ya tapi-" Anggara memenggal kalimatnya dengan helaan nafas "pokoknya Anggara bakal bagi waktu buat disini sama disana. Bunda jangan khawatir ya, Anggara bisa urus semuanya" ucap Anggara.

"Ya kamu juga jangan berenti cari bukti dong. Bunda ada hati gaenak" ucap Nida berlalu keluar kamar. Anggara menatap bundanya keluar kamar hingga pintu kamar tertutup. Ia memandang wajah Luna yang polos, bunda benar istrinya ini memang sangat cantik.

"Semoga aku tahan dengan semua ini Lun" ucap Anggara pelan.

***

Luna pov

Pagi ini aku terbangun tak melihat suamiku di sebelah ranjangku juga di sekitar kamar. Saat aku melihat jam didinding, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Pantas saja tuan Anggara sudah tidak ada. Terlebih ku ingat ia bilang semalam bahwa ada rapat pagi.

Kuingat lagi hari apa sekarang, Selasa. Ingin tertawa rasanya aku lupa hari. Memang biasanya begitu kan, tak berangkat kuliah atau sekolah tak hapal juga hari ini hari apa.

Dirasa hari-hariku ini sangat membosankan. Tak ada hal yang menyibukkan. Seharusnya aku sudah kembali ke Yogjakarta pulang kerumah nenek, tapi statusku sudah berbeda sekarang.

Ku ikat rambut panjangku yang berantakkan dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Sudah tidak terlalu perih perutku saat ini. Jamu yang bunda beri memang manjur dari dulu.

Mandi adalah hall yang harus aku lakukan. Ku bersihkan badan rampingku dengan air hangat dan mencuci rambutku dengan lembut. Aku tak percaya pantangan bila wanita yang sedang haid tidak boleh keramas karena akan sakit kepala. Hei bila jangka waktu menstruasiku sampai lima atau enam hari, rambutku akan dibiarkan berminyak dan bau begitu?

Tetapi aku berjaga-jaga untuk itu. Makanya bila sedang datang bulan, aku selalu mandi air hangat dan mencuci rambut juga.

Setelah membersihkan diri, aku berjalan keluar menuju pantry. Tak kulihat siapapun didalam rumah ini. Sisa sarapan memang masih ada, tetapi aku tidak bernafsu untuk memakannya. Kuputuskan mengambil dua buah apel di dalam kulkas dan memakannya.

Ponselku berbunyi di dalam saku celana jogerku. Ku rogoh dan kulihat nama yang tertera diatas layar.

Safira is calling..

"Hm kenapa fir?" Ucapku.

"Lun, nih ada loker dari temen kerja ku. Di perusahaan konsultan gitu"

"Perusahaan apa namanya?"

"Lewis Interior Desain Consultant"

Seketika aku membulatkan mataku dan menutup mulutku yang menganga karena terkejut. Aku menjerit dalam hati, ITU PERUSAHAAN INCARANKU!!

"Lun?" Ucap Safira yang mencariku karena tak bergeming.

"Eh i-iya Fir. Mau dong!" Ucapku semangat.

"Besok terakhir nerima walkinterview katanya. Siapin cv kalo gitu"

"Eh tapikan aku belum wisuda Fir"

"Ah elah surat kelulusan aja dulu di cv nya, mereka sukanya yg fresh graduate beb! Kesempatan nih"

"Hah? Serius gak papa?"

"Ah tau ah. Kamu minta kalo ada loker dikasih tau. Giliran ada malah pusing nanya-nanyanya"

"Hehe.. iyaiya Safiraku yang baik hati. Makasih infonya yaa mwah" ucapku

"Yaudah. Minta foto ktp Lun, nanti biar temenku titipin kamu ke temennya yang disana"

"Oke. Aku kirim lewat pc yaa"

-

-

Disinilah aku berdiri. Didepan gedung bertingkat lima namun luas. Terlihat desain bangunan ini sangat modern dan minimalis. Senyumanku tersungging karena bahagia. Semoga saja hari ini aku beruntung. Aku masuk dan seperti biasa dismabut satpam yang membukakan pintu.

"Selamat pagi mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya ramah.

"Saya mau anterin cv dan katanya sedang ada walkinterview kan?"

"Oh betul. Mari ikut saya" ucapnya dan aku mengekorinya ke salah satu ruangan ujung. Mungkin ini bagian HRD.

Aku masuk dan karena tidak ada antrian, aku langsung dipersilahkan duduk. Seperti biasa ditajyai perihal pengalaman dan lain-lain. Untungnya surat kelulusanku diakui dan aku langsung sipersilahkan ke ruangan CEO paling atas.

Ntahlah untuk apa juga aku menemui CEO. Tak mengerti prosedur apa yang sedang aku jalankan, aku tetap haris mengikuti aturan.

Kakiku sudah ku pijakkan di lantai lima. Menuju ke resepsionis dan menanyakan ruangan CEO. Ia langsung menelfon seseorang yang mungkin bagian HRD dan menganngguk-anggukkan kepalanya. Dituntunnya aku ke ruangan CEO.

Sebelum masuk sang wanita resepsionis ini membisikkanku "kamu beruntung bisa sampai sini, semoga berhasil" ucapnya lembut. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Diketuknya pintu oleh mbak-mbak bergelung rapi ini dan suara bariton didalamnya mempersilahkan aku masuk.

Aku terkejut saat melihat interior ruangan yang sangat sangat sangat elegan tetapi simpel. Aku berjalan kearah meja CEO berada, dan semakin terkejut saat kami beradu pandang.

***

Siapa ya kira-kira CEO yang buat Luna kaget?

Spesial deh episodenya makin panjang😘

Harus like ya! Kalo likenya dikit, aku jadi sedih nantinya☹️

Makasihya untuk readerku yang setia nunggu cerita Luna, coba komen harapan kalian tentang nasib Luna kedepannya😍

Tbc-

1
Amilawati
cerita versi pelakor ini,,,pelakor ttp pelakor yg menjijikan TDK ad pelakor baik, cerita ini hanya hayalan seorang pelakor
Siska Siswanto
kapan ni up-nya?
🐧 Pororo 🐧
please, jangan stop lagi yah kak 🙏
Zenecka
ah happy bgt novelnya lanjut lg... sehat selalu kaaaa /Kiss/
Yovita Sintadewi
ya selalu aku lihatin, tidak ada kelanjutannya, dah hampir 1 thn thor
Tiwik Firdaus
emang udah diurus surst cerai terus udah diserahkan kembali kepada kefua orang tuanya dan menjelaskan semuanya bahwa anak yang dikandung silvi bukan anaknya
Tiwik Firdaus
ceraikan saja silvi udah selingkuhan kamu aja katanya diselidiki kok ngak ketauan2 sekingkuh to silvi kapan terbongkarnya masak nunggu sampai lahir baru ketsuan
Tiwik Firdaus
kebanyakan mikur anggara jadi bodoh sekarang
Tiwik Firdaus
makanya jadi laki jangan diam saja seperti kambing congek selidiki yang serius mana ada wanita hamil diantar kedokteran suaminya ngak mau masuk akal ngak hadi oria bodoh banget kamu katanya pinter jadi ceo kok bodoh jadi suami
Tiwik Firdaus
jangan percaya anggara kalau kamu udah lama ngak berhubungan badan sama dia kan twrus katanya kamu mengawasi silvi tau dong kalau silvi sering ketemuan sama mantan pacarnya
Tiwik Firdaus
biasa ngak ada tampan2nya sama sekali
Qorie Izraini
karena terlalu cinta kang Angga jd begi dan labil

kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Qorie Izraini
si jalang kena karma 😀😀😀
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
Qorie Izraini
lah udah taumlm pertama ny sama silvi jln tol, msh saja cinta setengah mati, gsk bisa mov on lg.
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
Qorie Izraini
dasar jd suami kok bego amat
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
Qorie Izraini
dasar istri jalang...
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
Qorie Izraini
sombong banget kang anggara, bikang gak tertarik.ntar bucin baru tau rasa.atau....
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.
nino
thor ini upnya 2 tahun lagi ya
amalia
keren bgtt cerita nyaaa👏👏👏👏👏
amalia
apa suami nya nadine.selingkuh sm silvi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!