NovelToon NovelToon
Become A Mother Of My BFF

Become A Mother Of My BFF

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Cintapertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari

Riana Nina Zara adalah seorang wanita yang baik dan punya pembawaan yang ceria. Ia memiliki seorang sahabat baik bernama Alina Raya Wijaya. Mereka sangat dekat karena berteman baik sejak duduk di bangku SMP. Bahkan Riana sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Orangtuanya juga selalu baik kepadanya.

Alina sendiri adalah seorang gadis piatu yang hanya tumbuh besar di bawah pengasuhan ayahnya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun melahirkan dirinya. Sejak itu ayahnya tidak pernah menikah kembali karena fokus untuk merawat dan membesarkan dirinya.

Namun suatu hari ayahnya secara tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita cantik kepadanya. Dan kedepannya wanita itu akan menjadi ibu sambungnya. Sayangnya ia tak menyukai wanita itu.

Apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak penuh kenangan.

Setelah lima hari berada di rumah sakit, Riana memutuskan untuk pulang hari ini. Ia sudah merasa jauh lebih baik.

Hal pertama yang ia lakukan setelah keluar dari rumah sakit adalah mengunjungi makam ayah dan ibunya. Ia pergi seorang diri setelah memaksa Alina untuk pulang.

Alina berpikir jika mungkin Riana memang perlu waktu untuk sendirian saat ini.

Riana membawa dua buket bunga untuk kedua orang tuanya. Setibanya di sana, Riana merasa sedih karena harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya benar-benar telah meninggalkan dirinya sendirian. Namun ia bertahan agar air matanya tidak kembali menetes untuk kesekian kalinya. Ia harus kuat dan tabah menjalani kehidupannya.

Riana duduk di antara makan orang tuanya. Ia meletakkan buket bunga itu di masing-masing makam. Ia juga mencium papan nisan keduanya. Ia sangat merindukan orang tuanya.

"Ayah, ibu! Apa kalian senang di sana?"

"Iya! Tentu saja kalian merasa senang karena bisa bersama-sama selamanya. Hah! Riana baik-baik saja di sini. Riana akan menjaga diri dengan baik. Riana juga akan mengurus rumah kita dan menjaga semua kenangan yang tersisa di sana." ia menarik nafas sejenak lalu terdiam untuk beberapa saat.

Menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang sudah terluka begitu dalam.

"Ayah, ibu! Riana nggak tahu apakah Riana sanggup menjalaninya sendirian atau tidak. Tetapi Riana akan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian ayah dan ibu. Maafkan Riana jika selama ini Riana selalu menyulitkan kalian. Hah! Bahkan Riana tak sempat minta maaf langsung pada kalian. Riana...." ia ternyata tak kuasa menahan air matanya lagi. Riana akhirnya kembali menangis dalam kesendiriannya yang begitu memilukan.

Iya, setelah kepergian orang tuanya, Riana harus mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Tanpa adanya sandaran untuk segala keluh kesahnya. Karena ia tahu masa depan masih sangat panjang di depan sana.

...****************...

Beberapa bulan kemudian....

Hari ini adalah akhir pekan. Riana sudah tampak sibuk sejak pagi tadi.

Kini setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia akan mampir untuk mengunjungi kedua orang tuanya di pemakaman. Baginya saat ini hal itu adalah pengobat bagi rasa rindunya.

Setelah itu Riana kembali ke rumah. Hari ini ia akan mulai untuk membersihkan rumahnya. Sebelumnya ia hanya membersihkan sekedarnya saja. Karena hari ini akhir pekan, ia memutuskan untuk mulai membersihkan rumah dan membereskan pakaian ayah dan ibunya. Rencananya ia akan menyumbangkan pakaian yang masih layak ke tempat yang membutuhkan.

Ia mulai membersihkan ruang tengah dan ruang tamu. Ketika melihat beberapa figura yang tersusun rapi di atas meja, membuatnya sedih. Ia masih merindukan orang tuanya. Terlalu banyak kenangan yang tersisa di rumah ini. Dan hal itu membuat hatinya seperti teriris.

Ia lalu kembali bekerja agar pikirannya teralihkan. Ia lalu membersihkan area lainnya. Saking sibuknya, Riana bahkan tak sadar jika hari sudah hampir siang.

Tiba-tiba.....

Ting tong.... Ting tong..... Ting tong.....

Bel pintu rumahnya berbunyi.

"Siapa yang datang?" tanyanya.

Riana mengintip dari balik gorden terlebih dahulu sebelum membuka pintu.

Ternyata itu adalah sahabatnya. Dita, Alina dan Fina.

"Kenapa kalian datang ke sini?" tanyanya.

"Kami hanya ingin berkunjung." jawab Alina.

"Tapi, kelihatannya kamu lagi sibuk." timpal Fina.

"Iya, aku lagi bersih-bersih." jelas Riana.

"Perlu bantuan?" tanya Dita.

"Hmm .. Sepertinya perlu." jawab Riana.

Ketiganya lalu masuk dan membantunya. Mereka membersihkan sisa ruangan. Jika dikerjakan beramai-ramai, semuanya jadi cepat selesai.

Alina lalu memesan makanan untuk makan siang mereka. Setelah makanan tiba, mereka lalu segera makan. Mereka makan di ruang tengah sambil menonton film di televisi.

"Ri! Apa kamu nggak kesepian tinggal di sini sendirian?" tanya Dita.

"Iya, Ri! Kenapa kamu nggak tinggal sama Tante Salma aja." timpal Fina.

"Nggak, aku nggak mau ngerepotin Tante Salma. Aku lebih suka tinggal di sini dan mengurus rumah ini. " jelas Riana.

"Apa kamu nggak kesepian?" tanya Alina mengulang pertanyaan Dita tadi.

"Nggak kok. Kan ada kalian. Lagipula kalau hari biasa aku kan sibuk kuliah sama ngerjain tugas. Jadi nggak terlalu sepi, kok." jelas Riana yang di sambut dengan tatapan sendu teman-temannya.

Riana memang wanita yang berwatak keras. Ia juga tidak mudah mengubah keputusannya begitu saja tanpa alasan yang kuat.

"Iya. Jika ada apa-apa, kami siap membantu kok!" ucap Fina.

"Oh iya, Ri! Gimana soal katering ibu kamu? Apa nggak mau di lanjutin saja? Sayang, 'kan?" tanya Alina.

"Iya, aku sempat memikirkan soal itu , sih. Tante Salma juga nanya soal itu kemarin. Tapi aku belum tahu apa mau diteruskan saja atau tidak. Aku masih bingung." jelas Riana.

"Kalau menurutku sih, sebaiknya kamu teruskan saja usaha ibumu ini. Kamu kan juga sering ikut terlibat langsung membantu ibu kamu. Tante Salma kan juga bisa bantu kamu. Karena sayang aja kalau nggak diteruskan. Usaha ibumu sudah punya banyak pelanggan, kan?" ucap Alina.

"Iya, Alina benar. Kan lumayan buat tambah-tambah pemasukan kamu." timpal Fina.

"Iya. Nanti aku pikirkan lagi." ucap Riana.

Mereka lalu melanjutkan makan. Setelah selesai makan dan istirahat sebentar. Riana melanjutkan pekerjaannya kembali.

Kali ini ia akan membereskan pakaian ayah dan ibunya. Ia berencana untuk menyumbangkan pakaian itu ke orang-orang yang membutuhkannya.

"Apa lemari orang tuamu hanya ini?" tanya Dita ketika melihat hanya ada satu lemari pakaian di dalam kamar itu.

"Iya. Mereka memang tidak punya waktu untuk berbelanja." jelas Riana mulai membuka lemari itu.

Ayah dan ibunya membagi dua lemari untuk memuat pakaian mereka. Pakaiannya juga tidak terlalu banyak. Riana memilah-milah pakaian yang akan ia sumbangkan. Semua pakaian tampak bagus. Jadi ia akan menyumbangkan seluruhnya.

"Kotak apa ini?" tanya Alina ketika melihat sebuah kotak kayu yang berukuran sedang.

"Oh, itu kotak perhiasan orang tua ku." Riana mengambil kotak itu dan membukanya.

Ada beberapa kalung, gelas dan cincin emas milik ibunya. Juga ada beberapa jam tangan milik ayahnya.

"Aku akan menyimpan kotak ini." ucap Riana.

Lalu mereka kembali melihat ke dalam lemari. Kali ini Fina menemukan sebuah kotak lagi, namun lebih kecil dari yang kotak sebelumnya.

"Ada kotak lagi." ucapnya.

Riana mengambilnya. Ia tak pernah melihat kotak itu sebelumnya. Karena penasaran, ia membuka kotak tersebut. Tubuhnya tiba-tiba gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kamu kenapa, Ri?" tanya Alina cemas.

Ketiga wanita itu mendekati Riana dan mengusap punggungnya.

"Apa isi kotaknya?" tanya Fina penasaran.

"Ini kumpulan memori tentang ku." jelasnya dengan suara bergetar.

Kotak itu berisi tentang hal-hal mengenai dirinya. Mulai dari kumpulan foto USG sampai foto-foto masa-masa ia masuk sekolah. Ada juga beberapa kertas origami yang Riana buat untuk ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya. Juga beberapa hadiah kecil yang ia berikan. Ternyata semua itu di simpan dengan rapi oleh ibunya. Riana baru menyadari satu hal.

"Selama ini mereka selalu memberikan apapun yang aku inginkan. Apapun akan mereka lakukan agar aku bahagia. Tetapi mereka lupa untuk membahagiakan diri mereka sendiri. Dan sekarang mereka pergi begitu cepat. Aku bahkan belum sempat untuk membahagiakan mereka." Jelas Riana lirih.

"Jangan bicara begitu, Ri. Justru kehadiranmu adalah kebahagiaan bagi mereka. Jadi kamu tidak seharusnya merasa menyesal. Kamu sudah memberikan mereka kebahagiaan dengan menjadi putri mereka." jelas Alina.

Riana mengambil foto dari dalam kotak tersebut. Itu adalah foto mereka bertiga. Foto itu diambil ketika Riana berulang tahun yang ke 20 sebulan yang lalu. Riana tak menyangka jika itu adalah foto terakhir yang akan ia ambil bersama kedua orang tuanya.

...****************...

1
SANG
Sembilan belas bunga untuk mu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Bintang lima untukmu dek semangat terus pantang mundur. Keren habis deh, cocok banget, mantap banget, beken deh...
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Asyiknya💪👍
SANG
Makin tambah seru nih💪👍
SANG
Lanjut ya dek💪👍
SANG
Mampir lagi ya dek💪👍
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Iklan untuk mu dek💪👍
SANG
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Bunga untukmu dek💪👍
SANG
Berlanjut terus dengan sebuah bunga untukmu Thor/Rose/
SANG
Lanjutkan aksimu Thor💪👍
SANG
semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
like iklan plus komen💪👍
SANG
Makin asik, tambah asik💪👍
SANG
Makin tambah seru nih💪👍
SANG
🍒 seru dan menarik💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!