Ayda adalah wanita muda berusia 30 tahun yang mempunyai sifat lembut dan penyayang. Ia menerima pinangan pria bernama Fattah dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Hingga sebuah kekecewaan Fattah dan kehadiran wanita dalam kehidupan mereka membuat keadaan rumah tangganya jauh dari kata harmonis. Ayda merasa Fattah semakin jauh darinya dan lebih dekat dengan Anita.
Akankah Ayda mampu menerima keadaan baru itu dan apakah Fattah mampu mengembalikan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TRIO A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Dalam pikiran Fattah sudah terpecah , ia terbayang akan kelakuan Anita yang sempat membuat dirinya emosi.
Namun pesan yang ia berikan meminta aku untuk datang di kios ibunya.
/ Apa mungkin ada yang berusaha mengganggu mereka lagi , atau hanya sekedar tipuan Anita agar aku bisa menemuinya /.
Banyak pikiran yang menggangu Fattah saat ini. Ayda yang sedari tadi memperhatikan suaminya penuh kegelisahan berusaha mencari tahu tentang apa yang kiranya mengganggu pikiran suaminya.
" Mama tahu saat ini Papa bingung, boleh pinjam ponselnya sebentar saja ... " ucap Ayda sambil menadahkan tangan kanannya.
Fattah tambah bingung, atas permintaan Ayda, bagaimana kalau Ayda tersinggung. Dan berpikir yang macam - macam setelah membaca pesan yang dikirim Anita untuknya.
" Mana Pa ... " pinta ulang Ayda.
" Ini Ma ... " ucap Fattah sambil memberikan ponsel yang terasa berat saat ia keluarkan dari kantong celananya.
Perlahan Ayda membuka ponsel suaminya dengan mudahnya, karena antara mereka sudah saling tahu kode sandi ponsel masing - masing-masing.
Tatapan matanya juga geseran jarinya terhenti pada sebuah pesan yang baru masuk 10 menit lalu dan sudah terbaca.
Pesan dari Anita, Ayda membaca pesan tersebut dan memalingkan wajahnya ke arah suaminya yang dari tadi tampak gelisah.
" Jadi, ini yang membuat suamiku kebingungan ... " ujar Ayda sambil mengembalikan ponsel suaminya.
Ayda menghela nafas panjang, dan terdiam sejenak.
" Ya sudah ... , Papa pergi saja , siapa tau Anita perlu pertolongan Papa, bukannya dulu pernah terjadi suatu keributan ... ," ujar Ayda.
" Memang Mama ijinin Papa ke sana sekarang ... ?" tanya Fattah seolah tak percaya , bakal dikasih ijin istrinya ke tempat Anita.
" Kan memang antara Papa dan Anita cuma sebatas teman biasa ... gak lebih ... , kenapa Mama melarang suamiku untuk menolong teman yang memang membutuhkan bantuan ... " .
Perkataan Ayda membuat Fattah semakin tersudut , seandainya Ayda tahu kejadian yang terjadi kemaren malam , mungkin Ayda tak akan mengijinkannya menemui Anita saat ini.
Tak mungkin pula Fattah menceritakan semuanya pada Ayda saat ini . Dan tak mungkin pula ia menyimpan semua itu sendiri .
Pertentangan sedang bergejolak dalam pikiran Fattah saat ini.
" Ya ... sudah , sekalian habis sholat Isya
nanti Papa ke kios ibunya Anita , Ma " ucap Fattah pelan.
" Nah ... gitu dong Pa, coba dari tadi Papa mau cerita, pasti Papa gak gelisah seperti tadi ... " kata Ayda kalem sambil mengecup kening suaminya.
Fattah menikmati ciuman di keningnya, dan membalas mencium pipi Ayda.
Tak berapa lama terdengar suara lantunan adzan Sholat Isya, begitu adzan selesai Fattah bergegas mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat Isya' sendirian.
Sedangkan Teguh tetap sholat di masjid, ia baru pulang setelah selesai sholat Isya'.
" Ayda ... , Ayda ... ," suara Nenek Yati memanggil - manggil Ayda dari dalam kamar.
Ayda masuk ke kamar nenek, memenuhi panggilan nenek.
" Iya Nek ... , ada apa Nek ... ,".
" Coba cek tekanan darah aku, aku merasa sangat pusing ," ujar Nenek Yati sambil terus menggosok - gosok pelipisnya dengan jari tangannya.
Tak berlama - lama Ayda langsung mengambil tensimeter yang letaknya tak jauh dari tempat nenek tidur.
" Coba Nek, " ujar Ayda.
Ayda memasangkan alat tersebut di lengan kiri Nenek. Sambil terus memperhatikan pergerakan angka tekanan darah Nenek. Sesaat angka tersebut terhenti di angka 160 bagian atas , bagian bawah 70 sedangkan tekanan detak jantung cuma 50.
" Tekanan darahnya memang tinggi Nek ... , sedangkan tekanan bawahnya normal, tetapi tekanan detak jantung Nenek sangat lemah ... ," ucap Ayda.
Sementara Fattah sudah mau berangkat menemui Anita. Saat mau berpamitan pada istrinya, tampak Ayda sibuk merawat nenek. Fattah masuk ke kamar Nenek Yati dan berkata pada Ayda.
" Ma ... , Nenek gimana kondisinya ?" tanyanya pada Ayda.
" Tekanan darah Nenek tinggi dan tekanan detak jantung Nenek bisa dibilang lemah Pa ... " jelas Ayda.
" Ini Mama lagi mencari obat yang biasa diminum Nenek ".
" Alhamdulillah ... ketemu juga obatnya , tunggu sebentar Nek ... , aku seduhkan air gula hangat biar Nenek tidak lemas ," kata Ayda sambil meletakkan obat di dekat Nenek dan beranjak ke dapur.
Tak butuh waktu lama Ayda membuat seduhan air gula.
" Nek ... , minum dulu seduhan air gula ini , baru minum obat penurun tekanan darahnya," ujar Ayda .
Nenek meminumnya pelan - pelan sampai tersisa sekitar tiga tegukan. Baru menelan obat penurun tekanan darah yang sudah diletakkan di tangannya, ia menelan obat dengan sisa air gula tersebut.
" Sudah Pa, berangkat sana ... biar gak kemalaman nanti pulangnya ... ".
" Setelah meminum obat, Nenek sudah lebih baik " ujar Ayda menenangkan Fattah.
" Mau kemana kau Fat ...?" tanya Nenek pelan.
" Ada urusan Nek ... " jawab Fattah.
" Ya sudah, berangkatlah hati - hati , jangan terlalu malam pulang ," pesan Nenek pada Fattah.
Mendengar pesan Nenek, Fattah segera berangkat dan tak lupa mencium kening Ayda.
- bersambung ...
Yuk, ikutin terus kelanjutan ceritanya ya...jangan lupa tinggalkan jejak, dengan cara kasih like dan komentar yang sebanyak-banyaknya, terimakasih ...