Andini adalah seorang istri yang sudah menikah dengan suaminya yang bernama Fikhi selama 8 tahun dan mereka sudah memiliki dua orang anak yang masing-masing berusia 8 dan 6 tahun. Fikhi adalah suami yang setia dan tak pernah bermain api dengan wanita lain namun Andini merasa bahwa cobaan rumah tangganya bukan dari orang ketiga melainkan mertuanya yang bernama Ismi. Wanita tua itu sejak awal tak suka pada Andini, awalnya Andini tak mau ambil pusing dengan sikap mertuanya namun Fikhi tak pernah bersikap tegas pada Ismi yang membuat wanita tua itu sewenang-wenang padanya. Puncak kesabaran Andini adalah ketika Ismi yang meminta Fikhi menikah lagi dengan Nadine, wanita pilihannya untuk memiliki cucu laki-laki. Arini memberikan pilihan pada Fikihi, memilih dia dan anak-anak atau mereka berpisah saja karena Andini sudah tak tahan dengan sikap Ismi. Bagaimana akhir kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ucapan Terima Kasih
Andini sedang bingung ketika mencoba menghidupkan mesin motornya namun sayangnya mesin motornya tak kunjung hidup. Andini sudah merasa putus asa saja ketika seseorang datang dan menawarkan sebuah bantuan. Andini yang penasaran pun menoleh ke arah orang tersebut dan rupanya orang yang menawarkan bantuan tidak lain dan tidak bukan adalah Fian.
"Bu, anda baik-baik saja?"
"Oh iya."
Andini agak terpesona karena penampilan Fian yang berbeda dari yang biasanya yang ia lihat di sekolah ketika mereka mengajar. Fian kemudian membantu Andini untuk membenarkan motornya hingga motor itu akhirnya bisa hidup lagi mesinnya dan Andini pun bisa bernapas lega karena motornya bisa hidup kembali.
"Alhamdulillah, terima kasih Pak Fian."
"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi dulu."
Fian pamit pergi meninggalkan Andini dan pria itu tadi sama sekali tak membawa kendaraan karena rupanya ia sedang lari sore. Melihat punggung pria itu yang mulai menjauh membuat Andini terpesona namun sedetik kemudian ia segera menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah, aku ini kenapa?"
Andini kemudian segera menaiki motornya yang sudah bisa dihidupkan kembali mesinnya dan gegas ia memacu kendaraannya itu untuk sampai ke rumah. Rupanya saat tiba di rumah kedua orang tuanya sudah menanti di depan teras.
"Assalamualaikum.'
"Waalaikumsalam."
Andini mencium tangan ayah dan ibunya kemudian Pramono dan Sriyati pun bertanya pada Andini apa gerangan yang terjadi kenapa baru pulang jam segini dan Andini pun dengan jujur menceritakan apa yang tadi terjadi pada kedua orang tuanya. Pramono dan Sriyati bisa bernapas lega karena akhirnya mereka bisa menemukan putri mereka pulang ke rumah dengan keadaan selamat.
"Ya sudah kamu masuk dulu, mandi dan ganti pakaian. Ibu sudah masak makan malam untuk kita."
"Maaf ya Bu aku jadi tidak bisa bantu."
"Sudahlah jangan bilang begitu. Ibu senang kok melakukan ini."
Maka kemudian Andini gegas masuk ke dalam rumah untuk mandi dan berganti pakaian sebelum makan malam bersama keluarga.
****
Andini hari ini berencana membuatkan sesuatu untuk Fian sebagai tanda terima kasih pada pria itu karena sudah membantunya kemarin. Sriyati bertanya pada Andini untuk siapa makanan yang sedang ia buat ini dan Andini mengatakan untuk temannya.
"Ini untuk teman Andini yang menolong kemarin, Bu."
"Oh temanmu, baguslah."
Sriyati tak bertanya lebih jauh lagi mengenai teman Andini dan hal itu sangat disyukuri oleh Andini karena sang ibu rupanya tak terlalu kepo mengenai urusan pribadinya.
"Ngomong-ngomong teman kamu ini laki-laki atau perempuan?"
Baru saja Andini bisa yakin kalau sang ibu tak akan memperpanjang topik pembicaraan ini rupanya ia sudah salah menduga. Sriyati kini sangat penasaran dengan jawaban apa yang akan Andini berikan padanya.
"Kok diam saja?"
"Laki-laki, Bu."
"Sudah punya istri?"
"Aku nggak tahu."
"Kok kamu nggak tahu? Katanya dia teman kamu."
"Iya teman mengajar di sekolah namun dia itu guru baru."
"Masih muda?"
"Sepertinya begitu."
"Hati-hati nanti naksir kamu."
"Ibu ini bicara apa, sih?"
Sriyati hanya tertawa mendengar Andini yang tak suka dengan apa yang barusan ia katakan, Andini kini sudah selesai menyiapkan kotak bekal untuk ia berikan pada Fian sebagai tanda terima kasih untuk pria itu yang sudah mau menolongnya kemarin dan Andini berharap kalau Fian akan suka dengan ini.
****
Ismi akhirnya sudah diizinkan untuk pulang namun ada yang berbeda dengan hari ini karena Nadine tak datang ketika Ismi pulang dari rumah sakit padahal sebelumnya Ismi yakin sudah memberitahu Nadine kalau hari ini dia akan pulang.
"Kok dia tidak datang?"
"Ibu sedang membicarakan siapa?"
"Tentu saja Nadine. Rasanya Ibu sudah memberitahu dia kemarin kalau hari ini dokter sudah mengizinkan Ibu pulang namun kok dia tidak datang? Mustahil kalau dia lupa karena dia kan sangat sayang dengan Ibu."
"Mungkin saja dia sibuk."
"Tidak mungkin!"
Fikhi nampak menghela napasnya karena malas berdebat dengan sang ibu yang mana kalau ia tanggapi maka debat ini akan terus saja memanjang tanpa ujung dan membuatnya kesal pada sang ibu yang masih saja dengan semangat membuat dirinya mau mencintai Nadine.
"Apalagi sih yang membuat kamu ragu? Nadine itu wanita baik dan sayang sama Ibu tidak seperti Andini yang sudah miskin dan kasar sama Ibu."
"Ibu ini jangan bicara sembarangan tentang Andini."
"Bela saja terus wanita tak tahu diri itu, dia pikir dengan menjadi guru itu pekerjaan yang bisa dibanggakan apa? Gaji tidak seberapa tapi sombongnya luar biasa beda dengan Nadine yang mana orang tuanya kaya raya."
Fikhi tak bicara apa pun lagi saat ini karena rasanya juga percuma ia bicara kalau ujung-ujungnya ia kesal dengan Ismi yang terus menjelekan Andini.
****
Ismi dan Fikhi sudah tiba di rumah dan Ismi langsung saja menghubungi Nadine untuk bertanya pada menantunya itu kenapa Nadine tak datang ketika ia pulang dari rumah sakit.
"Halo Bu?"
"Halo Nak, kenapa kamu tidak datang tadi ke rumah sakit? Hari ini Ibu pulang dari rumah sakit tidak mungkin rasanya kalau kamu lupa karena Ibu kan sudah memberitahu kamu kemarin."
"Iya Bu, aku ingat dan aku minta maaf karena tidak bisa datang untuk mengantarkan Ibu pulang dari rumah sakit."
"Kamu sedang ada masalah? Ayo cerita sama Ibu."
Maka Nadine pun mengatakan bahwa ia ingin berpisah saja dengan Fikhi karena tak sanggup dengan sikap Fikhi yang tak pernah bisa membuka hati untuknya. Ucapan Nadine barusan membuat Ismi terkejut bukan main, ia mengatakan pada Nadine untuk jangan mengatakan hal seperti itu.
"Aku serius Bu, rasanya aku tak bisa bertahan lebih lama lagi kalau sikap mas Fikhi saja seperti itu."
"Ibu akan bicara dengan Fikhi pokoknya jangan sampai kamu dan Fikhi berpisah."
Ismi kemudian menutup sambungan telepon dan gegas saja menemui Fikhi untuk membahas masalah ini.
"Pokoknya kamu jangan pernah berpisah dengan Nadine, bagaimanapun juga Ibu mau kamu tetap menikah dengannya dan kalau bisa segera sahkan pernikahan kalian di mata hukum!"
****
Andini tiba di sekolah dan ia mencari di mana Fian berada namun sayangnya ia sama sekali tak menemukan Fian saat ini. Andini tak punya banyak waktu pagi ini karena ia sudah ada kelas yang harus ia ajar. Andini gegas masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran, selepas ia selesai mengajar dan hendak kembali ke ruang kelas dirinya bisa melihat Fian tengah ada di lapangan bersama anak didiknya.
"Rupanya dia masuk, aku pikir tadi dia tidak masuk."
Andini kemudian gegas masuk ke dalam ruang guru dan menunggu Fian selesai mengajar seraya memandangi kotak bekal yang sengaja ia persiapkan untuk pria itu.
sdng fian dan Andini hnya orang biasa, berapa sih kekuatan seorang guru. sdng meisya dah sat set melakukan sesuatu tnp jejak.
janda menikah dng laki yg masih perjaka mang hrs siap punya anak, buat penerus nya kcuali laki itu mang mandul baru deh bisa di Terima.
kl andini gk mau punya anak lagi jng nikah ma bujang nikah saja ma duda yg punya anak jd gk usah repot hamil lagi.
seperti artis Ririn dan jamilo itu, mereka spakat gk punya anak lagi gk papa kn masing masing dah bawa anak mereka bisa akur jd deh tinggal mnikmati hidup.
tega banget ngomong gitu sama anak perempuan nya