mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: jejak darah dunia luar
Udara di luar gua warisan terasa berbeda. Dingin, namun tidak menusuk; hangat, tapi tidak menenangkan. Lin Xieng berdiri di tepi tebing, menatap hutan luas yang terbentang di bawah kaki Gunung Tanpa Bayangan. Awan menggantung rendah, seolah menanti sesuatu yang besar akan terjadi.
Yufei berjalan di sampingnya, diam-diam mengamati wajah Lin Xieng yang kini tampak… lain. Tatapannya lebih tajam, posturnya lebih tegak, dan setiap langkahnya menggetarkan udara. Aura Alam Bintang terpancar dari tubuhnya secara alami, namun yang membuat bulu kuduk berdiri adalah bisikan samar dari kekuatan naga kuno yang masih mengalir dari dantiannya.
“Setelah kita turun,” kata Yufei pelan, “apa yang akan kau lakukan?”
Lin Xieng terdiam sesaat, lalu menjawab, “Aku akan kembali ke Akademi Langit Timur. Tapi kali ini… bukan sebagai murid yang datang untuk belajar, melainkan sebagai warisan yang tak bisa diabaikan.”
Mereka menuruni lereng dengan langkah ringan. Namun sebelum mencapai kaki gunung, mereka mendapati sesuatu yang membuat langkah mereka terhenti.
Mayat.
Empat mayat penjaga berpakaian hitam—bukan Penjaga Senyap, melainkan pembunuh dari Sekte Bayangan Hitam. Di tubuh mereka, luka bersih yang membelah dada hingga ke tulang belakang. Darah mereka sudah mengering, tapi sisa aura pembunuh masih menggantung di udara.
Yufei memeriksa salah satunya. “Ini tidak dilakukan oleh kita…”
“Bukan kita, dan bukan binatang buas.” Lin Xieng memejamkan mata, merasakan getaran qi yang tertinggal. “Ada seseorang yang bergerak dalam kegelapan. Seseorang yang membunuh mereka lebih cepat dari bayangan sendiri.”
Langkah mereka berlanjut ke arah hutan. Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak jejak aneh yang mereka temui: tanah terbakar, batang pohon tertancap belati, simbol-simbol kuno yang terukir di batu—semuanya mengarah pada satu hal.
Seseorang sedang memburu mereka.
**
Di dalam sebuah pondok sederhana di lembah bawah, seorang lelaki tua duduk bersila. Rambutnya putih, matanya tertutup, namun tubuhnya memancarkan aura tenang dan berat. Di hadapannya, berdiri dua orang: satu lelaki muda berambut keperakan dan satu wanita dengan mata ungu tajam.
“Kabar terobosan itu telah menyebar,” ucap lelaki muda. “Semua faksi mulai bergerak. Bahkan Lembah Pengasingan membuka kembali saluran bayangan mereka.”
Lelaki tua membuka matanya perlahan. “Darah Naga telah bangkit. Itu berarti perang lama akan terulang. Jika Lin Xieng benar-benar pewaris… maka Klan Giok Langit akan mencarinya. Dan yang lebih mengerikan… mereka yang mengkhianati klan itu akan mencoba membunuhnya sebelum ingatannya pulih sepenuhnya.”
Wanita bermata ungu mengangguk. “Aku akan mengawasinya dari jauh. Tapi jika ia mengancam keseimbangan…”
“Tidak,” potong lelaki tua. “Jangan ganggu dia. Jika dia gagal, tak perlu kita campur. Tapi jika dia berhasil…”
Ia tersenyum samar.
“Maka kita akan tahu apakah takdir benar-benar bisa ditulis ulang.”
**
Sementara itu, Lin Xieng dan Yufei tiba di sebuah desa kecil bernama Ci’ruan. Di sana, kehidupan tampak normal—anak-anak bermain, para petani menjemur hasil panen, dan tak ada tanda-tanda bahaya.
Namun Lin Xieng bisa merasakan ketidakwajaran. Qi di tempat ini terlalu... tertata. Terlalu tenang.
Mereka memutuskan beristirahat di sebuah penginapan tua di pinggir desa. Saat malam turun, Lin Xieng duduk di balkon, menatap langit yang gelap tanpa bintang. Yufei duduk di sampingnya, diam.
“Pikiranmu berkecamuk,” katanya.
Lin Xieng mengangguk. “Setiap kali aku menutup mata, aku melihat bayangan pertempuran. Dan suara itu… suara Lin Taizhun… terus memanggil. Tapi aku belum tahu siapa musuh sebenarnya.”
Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil terdengar dari pusat desa.
BOOM!
Lin Xieng dan Yufei langsung melompat ke atap, menatap ke arah sumber suara. Api menyala dari sebuah rumah. Tapi bukan itu yang membuat Lin Xieng terpaku—melainkan sosok bertopeng putih yang berdiri di depan api.
“Dia…” bisik Lin Xieng.
Yufei mengepalkan tangan. “Itu dia. Wanita bertopeng yang mengawasi kita di hutan dua hari lalu.”
Tanpa pikir panjang, Lin Xieng melesat turun. Ia mendarat tepat di depan sosok bertopeng.
“Siapa kau?”
Wanita itu menatapnya tanpa berkata apa pun. Ia mengangkat tangannya, dan dari dalam lengan jubahnya meluncur belati pendek yang bergetar oleh qi murni.
Tapi Lin Xieng sudah lebih cepat. Dalam sekejap, ia sudah berada di belakang wanita itu, menahan lengannya.
“Kau bukan pembunuh biasa.”
Wanita itu tertawa kecil. “Tentu saja tidak, Lin Xieng. Aku—adalah penjaga kunci ingatanmu.”
Seketika, ia memutar tubuh dan menusukkan belati ke arah dada Lin Xieng. Namun saat belati itu menyentuh kulitnya—ia terpental.
Pola naga di dada Lin Xieng bersinar, menolak serangan.
“Kau tak bisa menyentuhku… bukan sebelum kau menjawab satu hal,” kata Lin Xieng, nadanya berat. “Apa maksudmu… penjaga ingatan?”
Wanita itu tidak menjawab. Ia melompat mundur, menghilang dalam kabut ungu samar—sama seperti kabut milik Yufei, tapi lebih tua, lebih dingin.
Di tempat ia berdiri tadi, tertinggal satu gulungan kecil berwarna hitam.
Lin Xieng membukanya. Di dalamnya, ukiran tangan kuno—dan tulisan dari bahasa naga purba: Tiga Matahari, Tujuh Segel, dan Darah Keabadian.
Yufei memandang gulungan itu, keningnya berkerut. “Apa arti ini semua?”
Lin Xieng menggenggam gulungan itu erat.
“Aku tak tahu,” katanya. “Tapi yang jelas, aku bukan satu-satunya yang mewarisi darah naga. Dan tidak semua pewaris… berada di pihak yang sama.”
🤣🤣🤣🤣🤣🤣