"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
"Kau lapar?" akhirnya, Lennox pun bertanya.
Serena mengangguk tanpa menatap pria itu.
"Jika begitu, duduklah!"
Mendengar itu, Serena melebarkan mata. Tidak menyangka jika Lennox akan mempersilakannya duduk di satu meja makan dengannya.
"Aku pikir dia akan mengusirku." Ternyata dugaan Serena salah.
"Baik." Serena mengangguk, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang diduduki oleh Kathleen.
Sementara Lennox sendiri duduk di sebuah kursi khusus yang memang berbeda dari kursi yang lainnya. Kursi milik Lennox lebih tinggi dan lebar.
"Pelayan!" Lennox memanggil dua pelayan wanita yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
Ketika dua pelayan itu menghampirinya, Lennox menyuruh mereka untuk menuangkan makanan di piring dirinya dan piring milik Kathleen.
Serena duduk diam menunggu giliran. Namun, setelah setelah mengisi piring Lennox dan Kathleen, dua pelayan itu diperintah oleh Lennox untuk kembali berdiri di tempat mereka semula.
Serena meneguk berat salivanya. Rasa laparnya semakin bergejolak saat melihat menu masakan yang tampak lezat di atas meja makan berukuran besar tersebut.
"Mereka berdua asyik makan. Sementara aku duduk diam seperti orang bodoh. Sebaiknya aku mengisi piringku sendiri saja," gumam batin Serena.
"Apa yang kau lakukan? Siapa yang menyuruhmu menyentuh makanan di atas meja ini?" gerakan Serena yang hendak menyendok makanan pun terhenti karena pertanyaan dingin dari mulut Lennox.
Manik mata pria itu menyorotnya tajam dan menusuk.
"T-tidak ada yang menyuruhku. Tapi aku juga lapar. Tadi kau menyuruhku duduk satu meja makan dengan kalian, kan?" tanya Serena dengan wajah gugup.
Mata Lennox menyipit, lalu ia menarik senyum culas.
"Aku memang menyuruhmu duduk, tapi bukan berarti kau bisa ikut makan dengan kami," balas Lennox dengan tegas.
Serena tercengang. Wajahnya langsung memerah, menahan kesal pada Lennox yang mempermainkannya.
Padahal perut Serena sudah mulai perih karena rasa laparnya.
Diam-diam Kathleen pun menyunggingkan senyum puas sambil mengunyah makanannya.
"Maaf, Tuan Lennox. Tapi kurasa dia sangat lapar. Apa kau tidak bisa berbelas kasih memberinya sedikit saja makanan?" tanya Kathleen dengan nada bicaranya yang anggun. Matanya menoleh pada Lennox.
"Baiklah. Aku akan sedikit berbaik hati padamu. Kau boleh makan, tapi hanya makanan bekasku ini."
Bola mata Serena terbelalak lebar ketika Lennox mendorong piring yang berisi sisa makanannya ke depan Serena.
Kathleen ikut tersenyum senang. Puas melihat wajah kaget Serena.
"Aku bukan anjing!"
"Memangnya siapa yang menyebutmu anjing?" tanya Lennox dengan santai. Menekuk kedua sikunya di tepi meja, sementara kedua jemarinya saling bertautan di bawah dagu.
Mata hazel milik pria itu mengarah pada wajah cantik Serena yang tampak memerah menahan emosi.
"Kau memberiku makanan sisa. Sama saja kau memperlakukanku seperti binatang. Aku tidak ingin. Aku tidak ingin memakan makanan bekasmu," tegas Serena, menolak dengan penekanan.
"Memangnya menurutmu aku harus memperlakukan wanita pembangkang dengan cara seperti apa? Hemm? Memperlakukanmu dengan lemah lembut, atau beramah tamah padamu? Ck! Kau sendiri menolak mentah perasaan ku," Lennox mendorong kursinya ke belakang, kemudian bangkit berdiri dari duduknya.
Langkah Lennox bergerak memutari meja makan, lantas berhenti tepat di samping kursi yang Serena duduki.
Lennox menunduk dengan tangan yang bertelekan di meja. Wajahnya menunduk hingga berdekatan dengan wajah Serena yang mendongak menatapnya.
"Keberadaan mu di sini adalah untuk menebus kesalahan mu. Jadi, terserah ku ingin memperlakukanmu dengan bagaimana. Andai saja kau menerima ku, dan mengucapkan ya dengan mudahnya, kau akan menjadi wanita spesial yang berada di mansion ini. Harusnya kau berterima kasih karena aku masih berbaik hati memberimu makan. Karena seharusnya, wanita yang berani menjatuhkan harga diriku harus dilenyapkan," ucap Lennox di depan wajah Serena.
Senyum seringai terlukis di wajah tampan sang ketua mafia itu.
Serena mengepalkan tangannya dengan kuat, sebelum kemudian ia melakukan sesuatu yang sangat fatal pada Lennox.
CUIH!
Senyum Lennox langsung lenyap bersamaan dengan matanya yang langsung terpejam rapat saat Serena tiba-tiba meludahi wajahnya. Untuk kedua kalinya, ia diperlakukan seperti sampah.
Kathleen terkejut membekap mulutnya dengan telapak tangan kanan. Tidak percaya jika ada wanita yang berani meludahi wajah seorang Lennox Castro.
"Aku lebih baik mati daripada berterima kasih pada iblis sepertimu," balas Serena tegas.
"Tuan Lennox," Kathleen berdiri dan memberikan beberapa lembar tissue pada Lennox. Tangan Lennox menerimanya, lalu ia menegakkan tubuh dan membersihkan wajahnya yang terkena ludah Serena.
Lennox membuka matanya yang tajam. Kini mata setajam elang itu mengarah pada mata Serena selayaknya anak panah yang bersiap melesat ke tujuan.
Dengan rahang yang mengetat, kedua tangan Lennox mengepal kuat. Giginya bergemeletuk seiring dengan emosi yang makin meningkat kala melihat wajah angkuh Serena.
"Jangan berikan dia makanan sampai besok! Kurung dia di kamar!" perintah Lennox dengan nada tinggi sambil mengarahkan telunjuk kanannya pada Serena yang terkejut.
"Baik, Tuan." Para pelayan yang ada di sana mengangguk patuh.
Lennox mendengus kesal dan sempat melemparkan tatapan membunuhnya pada Serena, kemudian pria itu berbalik dan pergi dengan langkah yang cepat. Meninggalkan ruang makan itu yang kini suasananya terasa mencekam.
Bibir Kathleen tersenyum puas.
Kedua tangannya melipat di depan dada.
"Sudah ku peringatkan, jangan main-main dengan Lennox. Turunkan sifat angkuhmu itu. Jika tidak, mungkin Lennox tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu," kata Kathleen dengan senyum yang tetap terpatri di bibirnya.
"Semoga kau tetap hidup sampai besok." Kathleen melambaikan tangan, lantas ikut beranjak dari sana.
Tersisa Serena sendirian yang menelan salivanya susah payah.
Tiba-tiba, dua bawahan Lennox datang dan langsung memegangi kedua tangan Serena. Membuat Serena sontak menjerit kaget dan protes.
"Hei! Lepaskan! Kalian akan membawaku ke mana?"
"Tuan Lennox meminta kami kembali mengurung Anda di kamar," jawab mereka sambil terus menarik paksa Serena.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor