Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
"Azka, dimana putraku?"
Mendengar pertanyaan itu, seketika Azka menatap Airin. "Maksud Mama apa?" Jantung Azka berdetak lebih cepat. Apakah Airin sudah menyadari jika jiwanya ada di tubuh putranya?
Airin hanya terdiam dan menatap wajah Azka. Dia menepis jauh-jauh pikirannya. Satu tangannya perlahan mengusap pipi Azka.
Dia Azka putraku. Ya, mana mungkin jiwa Azka berada di raga ini.
"Mama, kenapa?" tanya Azka lagi. Dia takut jika rahasianya terbongkar karena dia belum menyelesaikan misinya menjadi pemain basket profesional.
"Hmm, tidak. Mama cuma merasa kamu berubah."
Azka mengalihkan wajahnya agar tangan Airin berhenti menyentuh pipinya. Dia harus bisa berakting senatural mungkin agar rahasianya tidak cepat terbongkar. "Apa aku salah kalau berubah, Ma? Kalau aku tidak berjuang sendiri, sampai kapanpun tidak akan ada kemajuan."
"Iya, tidak ada salahnya berubah. Ya sudah, Mama keluar dulu. Kamu cepat makan kalau lapar."
"Aku sudah makan di rumah Amira. Ada titipan dari Mamanya Amira. Aku taruh di dapur," kata Azka mengalihkan pembicaraan.
"Jeng Risa itu kebiasaan jadi sering kasih gini." Kemudian Airin keluar dari kamar Azka dan menutup pintu itu.
Azka menghela napas lega karena Airin tidak memperpanjang masalah itu lagi. Tapi pandangan matanya kini menatap buku yang terbuka di atas meja belajarnya. Seketika dia berdiri dan melihat buku itu.
"Jadi Airin habis melihat buku ini. Pasti dia mengenal tulisanku." Azka menutup buku itu lalu dia membuka kancing seragamnya. "Bagaimana kalau Airin memang sudah menduga jika aku ini sahabatnya? Apa yang harus aku lakukan? Pasti dia menginginkan anaknya segera kembali."
Azka kini melepas seragamnya dan menggantungnya di dekat pintu. "Sepertinya aku harus segera menyelesaikan misiku, lalu aku akan pergi dari raga ini."
Bukannya masuk ke dalam kamar mandi tapi Azka justru menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Amira.
Beberapa saat kemudian, Amira mengangkat video call itu. "Astaga, Azka! Kenapa kamu gak pakai baju?"
"Gerah, aku mau mandi tapi capek." Azka mendekatkan ponselnya agar perut sixpacknya tidak terlihat. "Aku mau curhat sama kamu, soalnya hanya kamu yang tahu siapa aku."
"Iya, cerita aja."
"Mama Airin sudah curiga sama aku. Dia tanya dimana putranya."
"Terus-terus, kamu jawab apa?"
"Ya aku mengelak. Mama Airin gak tanya lagi, tapi aku yakin, Mama Airin masih penasaran karena Mama Airin sangat mengenalku. Dia pasti bisa merasakan perubahan pada anaknya."
"Kita coba tanya sama teman kakek aku ya. Kebetulan Beliau berada di kota ini. Beliau punya kelebihan tapi tidak bisa menutup mata batin aku, siapa tahu Beliau bisa mengembalikan jiwa kamu."
Azka terdiam beberapa saat dan berpikir. Dia belum bertanding dan menjadi pemain basket yang dikenal banyak orang, dia tidak ingin keluar dari raga itu untuk saat ini. "Amira, kali ini sepertinya aku harus egois. Aku ingin bermain basket dulu dan menjadikan Azka pemain basket hebat. Setelah itu, baru aku mencari cara untuk keluar dari tubuh ini."
"Ya udahlah, terserah kamu. Terus ngapain kamu tadi curhat sama aku."
"Karena cuma kamu yang tahu rahasia aku." Azka mengulangi lagi kalimatnya.
"Tapi, kalau kamu pergi dari tubuh Azka, aku akan kembali kesepian karena cuma kamu juga yang bisa mengerti kelebihan aku ini."
Azka tersenyum kecil menatap wajah sendu Amira. "Ternyata kamu sudah jatuh cinta beneran ya sama aku."
"Azka, ih!" Kemudian Amira mematikan panggilan video itu.
"Yah, dimatiin." Kemudian Azka kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Amira," gumam Azka sambil turun dari ranjangnya dan tersenyum kecil. Tentu saja, wajah cantik dan tingkah menggemaskan itu berhasil menyita perhatiannya juga. "Sayang, kita dari dunia yang berbeda, Amira."
...***...
"Azka, kamu benar-benar yakin ingin menjadi kapten basket dan membentuk tim sendiri?" tanya Pak Zaki pada Azka saat jam istirahat waktu itu.
Azka memang sengaja menemui Pak Zaki untuk memastikan persetujuan pembentukan tim basketnya karena dia akan segera memulai latihannya dan mengikuti banyak pertandingan. "Iya, Pak, saya yakin. Saya ingin segera mengatur jadwal latihan dan juga mengikuti pertandingan. Saya juga sudah menemukan beberapa pertandingan di luar sekolah. Saya akan mengikuti secara mandiri."
"Ya sudah. Kamu bisa mulai latihan dan saya akan mengevaluasi perkembangan tim kamu juga. Jika tim kamu lebih baik dari tim Ezra, tim kamu akan menjadi tim utama yang akan mewakili sekolah kita bertanding," jelas Pak Zaki.
Azka menganggukkan kepalanya mengerti. "Baik Pak. Saya mengerti."
Di dekat pintu, Ezra mendengar semua percakapan mereka berdua. Dia mengepalkan tangannya lalu pergi dari tempat itu. Sepertinya prestasinya memang akan segera berakhir. Dia juga akan segera kehilangan beasiswanya karena Adam dan juga Rendi terus mengancamnya.
Dia berjalan menuju gudang sekolah dan duduk di salah satu bangku yang telah rusak. Dia mengambil sebungkus rokok yang dia sembunyikan di tempat itu. Selama hampir dua tahun dia bersekolah di tempat itu, dia memang tidak mempunyai sahabat karib. Ketika kesal, dia hanya menghabiskan waktunya seorang diri di gudang itu.
"Sepertinya gue memang harus cari kerja sampingan." Ezra menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap rokok itu dari mulutnya. Dia merenungi sendiri nasibnya saat ini. Selama ini keangkuhannya hanyalah untuk menutupi semua kekurangannya.
"Kak Ezra."
Ezra terkejut mendengar panggilan itu. Dia menoleh dan menatap Vania yang sedang berdiri di ambang pintu. Ezra mematikan rokoknya lalu mendekati Vania. "Ngapain lo ke sini?"
"Aku ikuti Kak Ezra."
Ezra kembali duduk di bangku usang dan menyandarkan punggungnya. "Buat apa? Lo keluar aja. Nanti ada guru yang tahu kita bisa dihukum."
Vania tak peduli. Dia kini duduk di sebelah Ezra. "Kak Ezra merokok?"
Ezra menjatuhkan rokok itu lalu menginjaknya. "Gue lagi kesel."
"Kalau kesal gak harus merokok. Kan Kak Ezra atlet."
"Atlet apa? Sebentar lagi juga sudah bubar."
"Kak Ezra harus berusaha. Kak Ezra itu hebat loh."
Ezra hanya terdiam. Dia menatap tembok yang dipenuhi debu itu.
"Jangan mudah menyerah, ya." Vania kembali berdiri. Saat dia akan melangkahkan kakinya, dia menginjak sesuatu. "Cincin?" Vania mengambil cincin itu dan melihatnya.
Ezra juga melihat cincin perak yang sekarang dipegang Vania.
"Punya cewek Kak Ezra?"
"Cewek gue? Gue gak punya cewek. Lagian ngapain gue ajak cewek ke sini." Ezra mengambil cincin itu lalu memakaikannya di jari manis Vania. "Pas lo pakai." Kemudian Ezra berjalan keluar dari gudang itu.
Vania menatap cincin yang terlihat cantik di jarinya. "Cantik juga cincin ini, Kak Ezra lagi yang masangin. Meskipun cincin nemu tapi berkesan." Vania tersenyum kecil lalu keluar dari gudang itu.
Seketika gudang itu tertutup dengan keras yang membuat Vania menoleh ke belakang. Dia mengangkat bahunya lalu melanjutkan langkah kakinya.
💞💞💞
Like dan komen ya...