Bumi, 2100 AD, tanpa peringatan dan aba aba, seluruh dunia terjadi gempa, sebuah kubah besar berwarna hitam muncul tepat di segitiga bermuda yang berada di samudra atlantik. Dalam sekejap, kubah kegelapan membesar menelan pulau pulau sampai benua di sekitarnya dan akhirnya menutupi separuh dari bumi. Tidak ada makhluk hidup yang bisa selamat di dalam kubah kecuali serangga yang akhirnya bermutasi menjadi monster serangga yang besarnya sama atau jauh lebih besar dari manusia pada umumnya.
Namun dari dalam kubah, muncul tujuh bola cahaya berwarna merah, biru, hijau, kuning, ungu, hitam dan putih yang menyebar ke segala penjuru di luar kubah.
Kisah ini di mulai 100 tahun kemudian ketika fenomena diatas sudah di anggap new normal oleh segelintir manusia yang selamat.
Genre : Fantasi, Sci fi, drama, tragedy, sedikit action.
100% fiksi karangan penulis tanpa berniat menyinggung pihak manapun, kesaamaan nama atau lokasi adalah ketidak sengajaan belaka dan mohon maaf sebesar besarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Tetsuya, Hikari, Fudo dan Aoi saling melihat satu sama lain, Tetsuya kembali menoleh melihat ke arah pria berambut mohawk di depannya.
“Kami tidak lihat, memang kenapa ?” Tanya Tetsuya.
“Kalian tadi bicara dengan dia kan, mana dia ?” Tanya pria itu lagi.
“Mana kami tahu, minggir, kami mau keluar.” Jawab Hikari sewot.
“Kalian jangan main main ya, kami exterminator yang bekerja pada tuan tanah yang paling berkuasa di kota ini, jangan sampai kami kasar kepada kalian.” Balas pria itu.
“Huh ? exterminator yang bekerja pada tuan tanah ? maksudnya exterminator gelap gitu ? kalian tidak terdaftar ya ?” Tanya Fudo.
“Bukan urusanmu.” Jawab pria bertubuh besar dan berkepala botak dengan codet di wajahnya yang berdiri di belakang pria mohawk di depan mereka.
“Ayo dong, Midori ngantuk nih, para ossan minggir dong.” Celetuk Midori.
“Hah diam anak kecil....” Teriak pria mohawk itu sambil menjulurkan tangan kepada Midori.
Tapi tangan pria itu langsung di tangkap oleh Aoi yang tanpa bicara langsung menarik dan memelintirnya sampai pria itu berbalik badan menunduk berteriak kesakitan. Aoi melepaskan tangannya kemudian langsung menendang bokong pria itu, “Bruaaak.” Pria itu menerobos pintu sampai hancur dan terpental keluar. Teman temannya langsung keluar menolong pria itu. Tetsuya, Hikari dan Fudo langsung menoleh melihat Aoi,
“Kenapa ?” Tanya Aoi.
“Pintu....” Tunjuk Tetsuya ke arah pintu.
“Kita sudah makan gratis sekarang menghancurkan pintu, begitu maksud dia.” Ujar Hikari sambil menunjuk Tetsuya.
“Mahal ga ya kalau ganti, apa kita lari saja.” Tambah Fudo.
“Ngantuk....” Ujar Midori.
“Sini oneechan gendong, yuk ke resort.” Aoi menggendong Midori dan berjalan keluar dari kedai.
“Loh...pintu....” Ujar Tetsuya, Hikari dan Fudo.
Akhirnya Tetsuya, Hikari dan Fudo bicara kepada ossan pemilik kedai dan menunduk minta maaf, tapi ossan itu tidak menyalahkan mereka dan tidak meminta ganti rugi, malah dia berterima kasih sebab para pria tadi sebenarnya preman yang bekerja sebagai exterminator untuk tuan tanah besar yang diam diam masuk ke dungeon untuk mengambil batu kristal monster dan menjualnya secara ilegal tanpa sepengetahuan EDD.
Bukti sudah banyak tapi tidak kuat untuk membuat tuan tanah itu di jebloskan ke penjara, alasannya karena pemerintah di kota Neohill berpihak padanya. Para exterminator preman itu kadang suka memeras warga dan makan gratis di kedai kedai yang mereka inginkan.
“Jadi begitu ossan, lalu apa hubungannya dengan Sora-chan ?” Tanya Tetsuya.
“Iya benar ossan, mereka mencari Sora-chan.” Tambah Fudo.
Ossan menceritakan kalau orang tua Sora menjual Sora kepada tuan tanah untuk di jadikan istrinya walau umur Sora masih 16 tahun dan melanggar hukum. Karena tidak mau, Sora melarikan diri dari rumah orang tuanya dan tinggal di kedai ramen milik ossan, tapi karena sekarang keberadaan Sora sudah di ketahui, dia pasti pindah lagi entah kemana.
“Jadi begitu, anak korban orang tua juga....parah.” Gumam Hikari.
“Lalu orang tuanya dimana ?” Tanya Tetsuya.
“Sudah di bunuh oleh tuan tanah itu karena tidak bisa menjaga Sora.” Jawab ossan.
“Hah, aku heran kenapa tuan tanah itu sampai berbuat sejauh itu hanya karena ingin menikahi Sora-chan.” Ujar Fudo.
“Kakek Sora-chan sebenarnya penguasa yang memerintah kota ini. Lalu tak lama setelah Sora-chan lahir, kakeknya meninggal, pimpinan keluarga di ambil alih oleh suami dari anaknya. Sora-chan di musuhi oleh ayahnya dengan alasan dia menuduh ibunya selingkuh dan Sora-chan bukan anaknya, tapi berkat ibunya, Sora-chan bisa tumbuh menjadi gadis yang baik dan manis, sampai setahun lalu ketika ibunya meninggal karena kanker, ayah Sora-chan menjual dirinya kepada tuan tanah di kota ini yang memang juga sudah mengincar Sora-chan sejak lama. Tapi karena Sora-chan kabur, ayahnya di bunuh oleh tuan tanah itu dan sekarang dia mencari Sora-chan untuk di nikahi supaya dia berhak menjadi penguasa kota ini.” Ossan menceritakan semuanya kepada Tetsuya, Hikari dan Fudo.
“Hmm mirip dengan ku rupanya.” Ujar Tetsuya.
“Mirip juga dengan ku.” Tambah Hikari.
“Haah mirip kita bertiga kali.” Tambah Fudo.
“Sekarang tuan tanah itu sedang mengincar tanah panti asuhan terbesar di kota ini, dia mau menjadikannya pusat perbelanjaan supaya menarik banyak turis, padahal panti asuhan itu isinya anak anak yang orang tuanya bekerja sebagai exterminator dan meninggal di garis depan.” Ujar ossan.
“Kurang ajar sekali, siapa sih nama tuan tanah itu ?” Tanya Fudo.
“Namanya Kagemusha Yashu, dia sebenarnya pendatang entah dari mana dan berbuat seenaknya di kota kita.” Jawab ossan.
“Baiklah ossan, kami mengerti, maaf sekali lagi untuk pintunya, kami pergi.” Ujar Tetsuya.
“Tidak masalah, aku senang bisa melihat pemuda pemudi seperti kalian yang makannya banyak hahahaha.” Balas ossan.
Setelah menunduk pamit, ketiganya berjalan keluar dari kedai. Setelah ketiganya keluar, ossan kembali masuk ke belakang counter.
“Mereka sudah pergi.” Ujar ossan.
“Terima kasih ossan.” Balas Sora yang sebenarnya bersembunyi di kolong counter.
Sora keluar dan masuk ke dalam bersama ossan, ossan minta pegawai satunya untuk menutup kedai. Di dalam,
“Ossan cerita semua kepada mereka ya ?” Tanya Sora.
“Ya, aku rasa mereka bisa di percaya dan sepertinya mereka bisa menyelesaikan masalah kota ini.” Jawab ossan.
“Kenapa ossan bilang begitu ?” Tanya Sora.
“Lihat ini.” Jawab ossan.
Dia mengangkat tangannya dan memperlihatkan telapaknya kepada Sora, telapaknya penuh dengan keringat dan terlihat sedikit gemetar.
“Huh baru kali ini aku melihat ossan gemetar seperti ini.” Ujar Sora.
“Itu dia, aku merasakan kekuatan yang luar biasa dari mereka berlima, bahkan aku juga merasakannya dari anak kecil yang bersama mereka. Sepanjang pengalaman ku sebagai exterminator, ini kedua kalinya aku di buat gemetar oleh seseorang. Yang pertama kakekmu dan yang kedua ke empat remaja dan seorang gadis kecil tadi.” Balas ossan.
“Kalau di pikir pikir mereka aneh juga ya, makannya banyak, lalu yang gadis berambut biru itu dengan mudah memelintir exterminator preman bertubuh kekar itu dan mendendangnya sampai pintunya hancur, yang lainnya juga terlihat tenang tenang saja, malah mereka bingung gimana ganti pintunya.” Ujar Sora.
“Mudah mudahan saja mereka bisa membebaskan kota ini dari manusia iblis itu.” Ujar ossan.
“Iya semoga ossan, aku keluar dulu, aku penasaran sama mereka.” Balas Sora yang kemudian keluar dari ruangan dan melompat keluar dari counter kemudian berlari keluar dari kedai.
“Hati hati...ah dia sudah pergi. Kamu juga sama Sora-chan, aku juga merasakan kekuatan besar di tubuhmu, suatu hari nanti kamu akan menggantikan kakekmu.” Gumam ossan.
*****
Sementara itu, Tetsuya, Hikari dan Fudo sudah berkumpul kembali dengan Aoi yang menggendong Midori yang sudah terlelap.
“Ngapain saja sih ? sampai Midori-chan sudah tidur.” Tegur Aoi.
“Minta maaf karena kamu menghancurkan pintunya Aoi-chan.” Balas Hikari.
“Oh iya juga ya, maaf ya jadi merepotkan.” Balas Aoi.
“Telat Aoi, sini biar aku yang gendong Midori.” Balas Fudo.
“Tidak apa apa, kalau di pindahkan nanti malah bangun.” Balas Aoi.
Hikari menoleh melihat Tetsuya yang berjalan paling belakang sambil berpikir, dia langsung memperlambat jalannya dan berjalan di sebelah Tetsuya.
“Kenapa ?” Tanya Hikari.
“Tidak apa apa. Hanya kepikiran sedikit cerita ossan tadi.” Jawab Tetsuya.
“Haaa kirain apa, ingat ya, kita lagi liburan...li-bu-ran. Aku tidak mau kita terlibat masalah.” Balas Hikari.
“Iya iya aku mengerti, baba.” Balas Tetsuya.
“Bagus kalau mengerti, besi karat.” Balas Hikari.
Mereka meneruskan berjalan menuju resort walau sesekali Tetsuya melirik ke belakang karena merasa mereka sedang di ikuti oleh seseorang.