Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 22
Dokter malahan tersenyum menatap kedua pasangan tersebut. Apalagi ia sangat iri kepada Inara yang di begitu di sayang oleh sang suami.
"Terakhir anda haid kapan, Bu?" tanya dokter kepada Inara.
Inara terdiam. Dan mengingat terakhir dia haid. Fatih pun santiasa mengenggam tangan istrinya di bawah kolong meja.
"Mungkin satu bulan lalu, dok. Seharusnya tiga Minggu lalu sesudahnya pernikahan kami, seharusnya saya sudah haid, dok. Tapi saya belum juga haid sampai sekarang."
Dokter itu kembali tersenyum dan sibuk seperti tengah melakukan sesuatu. Inara dan Fatih pun saling menggenggam.
Di dalam benak Inara sudah menebaj jika dirinya hamil. Sebab ia sudah mencari tahu di sosial media tanda-tanda ibu hamil. Dan dia mendapatkan salah satu gejalanya.
Semoga saja dirinya hamil dan bisa memberikan keturunan keluarga suaminya, yang ingin sekali anak dari mereka. Inara tak ingin mengecewakan keluarga besar Fatih yang mendukungnya.
"Alhamdulillah, bu, pak. Selamat, iya. Sekarang bu Inara tengah mengandung," seru dokter itu membuat Fatih menoleh ke arah istrinya.
Begitu pun dengan Inara, ia menatap suaminya yang tiba-tiba saja membeku.
"Usia kandungannya sudah berjalan sebulan."
"Sebulan?" tanya Inara. "Kam-".
"Tenang, usia kandungan anda di hitung paska anda selesai mesturuasi, bukan paska anda pertama kali berhubungan intim suami dan istri," jelas dokter membuat Inara menghela napas panjang.
Sedangkan Fatih hanya terdiam. Entah apa yang dipikirkan lelaki tersebut.
Namun, tiba-tiba saja Fatih menatap serius dokter dan memberikan tahukan apa yang tak bisa dilakukan ibu hamil dan juga bisa dilakukan.
Dokter pun santiasa memberi tahu kannya, sebab ini sudah kewajibannya menjadi dokter kandungan.
Kepulanhan mereka dari rumah sakit. Fatih begitu posesif. Bahkan melewati polisi tidur pun ia pelangi laju mobilnya takut tiba-tiba saja perut istrinya kejedot ke depan.
Sambil menyetir. Tangan Fatih terus mengusap perut rata Inara. Inara pun hanya bisa menghela napa berulang kali, tanpa menghentikan perbuatan posesif suaminya.
Sesampainya di depan rumah. Fatih tak menyuruh Inara turun dari mobil sebelum dirinya membuka ka pintu dan menggendongnya.
"Astaga, mas. Enggak perlu di gendong, aku bisa jalan sendiri," celetuk Inara.
Namun, seakan tuli. Fatih tetap kekeh menggendongnya sampai ke dalam rumah.
Umi Tifa dan abi Farhan yang melihat mereka langsung terkejutnya melihatnya. Mengira terjadi sesuatu kepada sang menantu.
"Kenapa dengan istrimu, Fatih?" tanya abi Farhan.
Fatih mendudukan dengan pelan istrinya di sofa. Setelah itu menatap kedua orang tuanya secara pergantian.
"Menantu kalian sedang hamil, jadi harus di jaga ketat," jawab Fatih membuat mereka menutup mulut dan saling memandang.
Inara hanya menunduk. Semakin posesif keluarga itu kepadanya. Astaga gini amat jadi istri seorang gus Fatih.
"Jadi dalam perut Inara ada cucu kita, dong umi?" tanya Farhan tak kalah senangnya.
Umi Tifa mendekati menantunya dan memeluknya begitu erat. Rasa sayangnya seakan bertambah tujuh kali lipat dari sebelumnya.
"Makasih, nak." Umi Tifa menciun pipi menantunya membuat Inara terkekeh lalu mengangguk.
Fatih membawa istrinya ke kamar. Menidurkannya di ranjang dengan sangat pelan setelah itu menaroh bantal di sisi ranjang. Takut istrinya terjatuh.
"Mana pernah aku jatuh, mas? Kamu kira aku bayi yang kiri dan kanan aku ada bantal guling gini?" tanya Inara mendengus.
"Diam deh, sayang. Ikutin aja apa kata mamasmu ini," ketus Fatih seraya melepas kerudung Inara dan mengecup bibirnya singkat.
Inara pun hanya mampu menghela napas dan menutup matanya.
"Mas mandi dulu." Fatih mengambil handuk di dalam lemari.
Melihat Inara yang ingin beranjak bangun membuat Fatih menghentikannya.
"Mas bisa ambil sendiri, sayang. Kamu istirahat aja sama baby." Fatih berjongkok dan mengecup singkat perut rata Inara.
Inara terkekeh lalu mengangguk. Walaupun sedikit lebay menurutnya, tapi ia beruntung mendapatkan suami seperti Fatih.
Beberapa saat kemudian. Fatih keluar dari kamar mandi, berganti pakaian dan menaiki ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Fatih menarik tubuh istrinya ke arahnya. Inara pun berbalik badan, membelakangi Fatih, Fatih pun mengusa perut istrinya.
"Nyaman enggak?"
"Hem..."
"Sayang, kok perut kamu enggak besar sih? Padahal udah ada dedek di dalamnya."
Seketika Inara memutar bola matanya jengah.
"Iyakan belum waktunya mas, lagian usia kandunganku juga baru sebulan. Sepertinya bakal kelihatan kalau udah 2 bulam atau 3 bulan," jelas Inara.
Akhirnya Fatih hanya manggut-manggut saja. Ia mengira orang hamil, perutnya langsung besar. Sebab di hari Fatir di kandung, dirinya masuk pondok pesantren makanya dia tak mengatahui adiknya brojol bagaimana, perut uminya sebesar apa saat Fatir masih di dalam perut.
"I love you, habibatiku."