Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 ~ Kecuali Diizinkan
Brama memilih meja agak sudut, tidak menjadi perhatian dari pengunjung restoran lain. Pilihan itu karena KIran mendadak memeluk lengannya bahkan mencengkram erat, ketika mereka keluar dari lift dan melihat suasana hotel agak ramai.
“Kenapa?” tanya Brama ketika mereka sudah duduk dan Kiran terlihat resah.
Gadis itu hanya menggeleng pelan
“Tetap di sini atau kembali ke kamar?”
“Di sini saja, aku nggak pa-pa.”
Sambil menunggu pesanan, Kiran fokus pada layar ponsel karena Brama sedang menerima panggilan telepon dari Iwan. Tentu saja berkaitan dengan acara yang akan diadakan hari senin.
“Kamu tidak sampaikan ke rumah kalau ikut aku ke Surabaya?” tanya Brama setelah pembicaraan dengan Iwan berakhir.
Lagi-lagi Kiran menggelengkan kepala. Agak ragu untuk berkomunikasi dengan keluarganya karena setelah masalah kemarin semua menjadi canggung dan berjarak, kecuali Erlan. Kiran masih sadar diri dengan membatasi interaksi dengan adiknya. Berharap waktu akan mengembalikan situasi seperti sebelumnya.
Tidak ada percakapan selama pasangan itu menyantap hidangan. Tepat saat desert disajikan, Kiran pamit ke toilet dan meninggalkan ponselnya di meja. Beberapa kali bergetar, membuat Brama penasaran. Dari layar pop up menunjukan pesan dari Emran. Bahkan Brama sampai berdecak membaca pesan tersebut dan mengembalikan ponsel Kiran seperti semula.
Sesuai janjinya, Brama mengajak Kiran keluar dari hotel dengan berjalan kaki menuju alun-alun Surabaya. Tidak ada yang percakapan selama mereka berjalan. Tentu saja Kiran paham, pada dasarnya Brama adalah pria yang cuek dan agak dingin.
“Masih jauh Mas?”
“Itu,” tunjuk Brama.
Kiran mengangguk meski tidak disadari oleh Brama. Berkeliling sebentar dan mengunjungi pameran seni dan berhenti untuk menyaksikan pertunjukan seni oleh seniman lokal.
“bagaimana pekerjaanmu?” tanya Brama agak berbisik.
“Ya begitu.”
“Begitu itu artinya baik-baik saja atau tidak baik?”
Kiran menghela nafasnya pelan.
“Aku sedang dikejar deadline, agak keteteran karena sulit untuk konsentrasi. Tawaran lain sementara aku tolak.”
“Kenapa bisa begitu? Apa perlu suasana baru atau karena kita menikah?”
“Bu-kan, aku hanya … entahlah Mas. Rasanya masalahku kemarin masih mengganjal dan ….”
“Aku paham,” ujar Brama menyela ucapan Kiran. “Tapi semua sudah diatasi, kamu tidak perlu khawatir. Tadinya Tuan Yudis ingin melaporkan masalah ini dan menuntut Indra, aku mendukung keputusan itu.”
Kiran masih mendengarkan kelanjutan ucapan Brama.
“Tapi urung karena sama saja mengungkap masalah ini ke publik dan mengatakan kalau putrinya yaitu kamu Kiran Hanna Yasmin adalah pelaku dari foto dan video asusila yang beredar,” tutur Brama.
“Lalu siapa saja yang tahu masalah ini, maksudku file-file yang dimiliki Indra?”
“Hm. Yang melihat langsung file itu tuan Yudis dan … aku.”
Kiran melayangkan pandangannya ke depan, tidak berani menatap Brama. Tentu saja tidak berani, rasanya malu bahkan ingin sekali segera berlari menghindar karena Brama sudah melihat foto dan video mesum dirinya bersama Indra.
“Yang tahu tentu saja bukan hanya kami, tapi yang tahu detail hanya aku.”
“Detail, maksudnya?” tanya Kiran lirih masih enggan menatap Brama.
“ya detail, aku harus memperhatikan setiap foto dengan teliti termasuk video. Untuk memastikan kalau perempuan itu benar kamu atau rekayasa.”
Kiran berdecak mendengar Brama mengatakan hal itu tanpa beban. Padahal Brama sengaja melakukan itu untuk menumbuhkan percaya diri dan menghilangkan trauma atau rasa takut dan malu yang Kiran rasakan.
“Pengakuan Mas Bram itu bikin aku malu.”
“Ck, bukan itu poinnya.”
Kiran menoleh menatap Brama yang acuh sambil menatap ke depan.
“Masalahnya aku pria normal. Saat mengamati betul file-file itu cukup membuatku … bergairah.”
“Ish, beneran mesum,” ujar Kiran lalu berdiri dan beranjak pergi. Brama kembali terkekeh lalu mengejar istrinya yang terlihat merajuk. Tidak mudah untuk kembali mensejajarkan langkah mereka.
“Mau ke mana lagi?”
“Balik ke hotel.”
“Mau ngapain?” tanya Brama.
“Tidur.”
“Tidur atau ditiduri?”
Kiran berhenti melangkah dan mendengus kesal, sedangkan Brama lagi-lagi terbahak.
***
Sudah hampir tengah malam, tapi Brama belum juga terlelap. Berbaring di sofa membuatnya tidak nyaman. Bagaimana tidak, dengan postur tubuhnya dia harus berbaring sambil menekuk kedua kakinya. Padahal hari ini sudah cukup melelahkan.
“Hah.” Brama beranjak duduk dan menatap pintu kamar yang tidak tertutup sepenuhnya. Perlahan dia melangkah dan membuka pintu kamar. dengan suasana temaram dan Kiran sudah terlelap bergelung dengan selimutnya.
Sempat berdecak pelan karena dilema antara kembali ke sofa dan bergabung bersama Kiran di ranjang. Mengingat janjinya yang tidak akan memaksa atau menyentuh gadis itu meskipun terikat tali pernikahan kecuali mereka berdua sepakat dan menginginkan. Apalagi dia adalah pria dewasa dan normal, berdekatan dengan seorang wanita yang mempunyai daya tarik tersendiri pasti membangkitkan sesuatu dalam dirinya dan Kiran mempunyai daya tarik itu. Gadis dengan pesona dan kecantikan alami dan kadang bertingkah menggemaskan membuatnya ingin mengungkung dan melakukan adegan dewasa.
“Aku hanya ingin tidur,” ujarnya lirih lalu berjalan menuju ranjang. Dengan pelan sudah duduk di sisi ranjang dan merebah di sana. “Hah.” Brama mendessah pelan karena tubuhnya merasa nyaman bisa berbaring sempurna.
Tanpa disadari kalau Kiran terjaga karena kehadirannya,
“Mas Bram, tidur di sini?”
“Maaf Kiran, sofanya terlalu pendek. Aku hanya perlu tidur, tidak akan macam-macam kecuali kamu izinkan.”
“Eh.”
dari awal bab, dah trasa beda aja👍