NovelToon NovelToon
Suami Yang Ku Benci

Suami Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Kaya Raya
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arkya

Arumi sangat kesal dengan kedua orangtuanya. Di umurnya yang belum genap 23 tahun sudah di nikahkan dengan laki-laki yang tidak dia sukai. Meski laki-laki yang menjadi suaminya itu sudah ia kenal. Tapi tetap saja ia membenci Akbar. Bahkan di belakang Akbar, Arumi menjalin kasih dengan laki-laki lain yaitu salah satu cowok terpopuler di kampusnya.
Apakah Akbar akan mengetahui kelakuan Arumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menekan emosi

Arumi menaiki anak tangga, suara Akbar yang memanggilnya tidak ia pedulikan. Setelah mengunci pintu dan meletakkan kuncinya di atas nakas, ia menghempaskan tubuh ke ranjang. Menatap langit-langit kamar sambil mengusap kasar kedua pipinya. Kenapa juga ia menangis. Teringat bentakan Akbar, membuat hatinya sangat sakit. Arumi mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ada beberapa pesan masuk setelah benda itu diaktifkan. Dari Rindi, ibu mertuanya dan yang terakhir.. Akbar.

Arumi meletakkan ponselnya sembarangan. Pesan dari Rindi tidak ia balas lalu memeluk guling. Seulas senyum menghias di bibirnya, teringat kebersamaannya dengan Damar sore tadi. Sungguh, ia bahagia tiada terkira. Bisa pergi dengan laki-laki yang dia sukai dan menonton film di bioskop seperti pasangan kekasih yang tengah melakukan kencan.

Arumi tidak menyesali perbuatannya, justru yang ia sesalkan adalah kenapa baru sekarang Damar mendekatinya setelah ia berstatus menjadi seorang istri. Jika saja sedari dulu, ia dan Damar tidak akan kucing-kucingan seperti ini.

Huff.. Arumi mendesah kasar.

***

"Bi, bisa tinggalkan kami." Pinta Bu Ajeng pada Bi Inah. Ia butuh bicara berdua dengan Akbar tanpa adanya gangguan.

"Baik, Nya." Wanita baya itu pun pergi meninggalkan mereka.

Bu Ajeng menggerakkan kursi rodanya ke hadapan Akbar, yang tengah menunduk menutup kening dengan ditumpu kedua siku di atas paha.

Bu Ajeng menghela napas pelan. Sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam berumah tangga, ia akan memberi nasehat pada Akbar.

"Mama tahu Arumi salah. Dan kamu berhak menegurnya karena dia pergi tanpa pamit sama kamu. Tapi jangan sampai membentaknya, Nak. Karena semakin kamu kasari, dia akan semakin memberontak." Ucap Bu Ajeng.

Akbar mendongak menatap wajah Bu Ajeng yang kini tersenyum. Melihat senyum itu, hati Akbar seketika menghangat. Mamanya itu memang tidak pernah marah atau bersikap kasar meski ia pernah melakukan kesalahan sebagai seorang anak sewaktu kecil dulu.

Digenggamnya tangan yang mulai keriput itu.

"Akbar hanya ingin dia tahu kesalahannya, Ma. Di luar sana itu rawan. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Arumi, Akbar tidak bisa memaafkan diri Akbar. Dia tanggung jawab terbesar Akbar." Jawabnya pelan.

"Iya, Mama tahu, Mama juga paham. Tanggung jawab seorang suami itu berat. Apalagi sifat Arumi itu tidak mudah di tebak. Tapi pesan Mama, kamu jangan sampai bersikap kasar. Kamu tahu sendiri kan, Arumi belum bisa menerima pernikahan ini. Mama takut, jika sewaktu-waktu Arumi akan pergi meninggalkan kamu kalau kamu tidak bisa menjaga emosi kamu. Dan itu bisa saja Arumi jadikan sebagai alasan. Biar bagaimana pun, Mama tetap sayang sama Arumi."

"Terima kasih, Mama sudah mengingatkan. Tapi Akbar jamin, ketakutan Mama itu tidak akan pernah terjadi."

"Sekarang kamu naik ke kamarmu. Bicarakan baik-baik sama Arumi." Pinta Bu Ajeng.

Akbar mengangguk. Benar ucapan Mamanya, ia tidak boleh gegabah, bisa saja ini adalah trik yang Arumi lakukan agar dirinya melepaskan istrinya itu. Demi mempertahankan Arumi agar selamanya berada di sisinya, Akbar harus menekan kuat emosinya jangan sampai hilang kendali.

Sampai di depan pintu kamarnya, tanpa mengetuk Akbar menarik handle. Namun pintunya tidak bisa dibuka.

"*ial, dikunci lagi." Kesalnya.

"Arumi, buka pintunya!" Akbar mengetuk keras pintu kamarnya.

"Arumi! Buka pintunya, saya mau masuk. Arumi."

Tetap tidak ada sahutan dari dalam. Tidak kehilangan akal, Akbar turun ke bawah.

"Bi, Bi Inah! Bi Inah!" Di anak tangga Akbar berteriak.

"Ya, Den, ada apa?" Bi Inah yang berada di dapur langsung berlari tergopoh ketika Akbar memanggil namanya.

"Di mana kunci cadangan kamar saya?" Tanya Akbar.

"Di laci nakas depan kamar Nyonya, Den." Jawab Bi Inah.

Segera Akbar ke nakas yang disebut Bi Inah. Setelah mendapatkan kunci cadangan pintu kamarnya, Akbar kembali naik ke atas, membuka pintunya. Ia menghela napas ketika Arumi sudah tertidur pulas bahkan tanpa mengganti pakaian.

Berjalan pelan, lalu duduk di ranjang. Dielus lembut rambut istrinya itu. "Apa yang kamu lakukan di luar sana? Sampai lelah begini, heum?"

.

.

.

Bersambung.

1
Itanasya Tasya
Sudah tamat ke... tergantung jln cerita nya
Arkya: udah🙏🙏
total 1 replies
Anis Rohayati
ko ga up2 ka aku nunggu bgt 😭😭😭
Arkya: crita saya di Watt**d malah lebih seru lho Mams krna genre horor dan romance udah tamat juga dua"nya🤗
total 3 replies
Wela Pky
ngereget
Anis Rohayati
dasar jalang cintya
Anis Rohayati
arumi akbar jadi baper aku 😍😍😍😍😍
Sabiya
Bagus banget
Sabiya
lanjut thor
Sabiya
heh maksudnya..
Sabiya
Tapi lu kan g ngakui Akbar sbg suami.
Sabiya
ngakak
Sabiya
ada ada aja
Sabiya
auto geleng2
Sabiya
Ayo Bu Ajeng tetep beri nasehat ke Arumi
Sabiya
hayo jawab jujur jgn boong lagi
Sabiya
menurut gue lebih nyaman sama Akbar lah
Sabiya
nyesek dah..
Sabiya
hmm..
Sabiya
santai Thor woles,
Sabiya
mau nyosor aja lu Mar,
Sabiya
insting suami emang kuat, peka juga Mas Akbar gue
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!