Aku hanya ingin mengetahui aku layak meneruskan kemampuan ayahku sebagai Paranormal atau tidak, tapi aku justru terjebak dalam sebuah petualangan mistis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Ratih
*Braakkk!!!
Teguh melotot kaget saat melihat Ratih berdiri di depan pintu rumah istrinya. Ia tak mengira wanita gila itu bisa tahu keberadaannya.
"Bagaimana kau bisa kesini?" tanyanya gugup
"Kau pasti terkejut ya kenapa aku bisa tahu dimana kamu berada!" serunya dengan menatap kesal kearah suaminya tersebut
Tidak lama terdengar suara tangis bayi membuat Teguh semakin panik. Ia berusaha untuk memenangkan Ratih yang masih dibakar amarah.
"Kamu jangan kemana-mana Ratih, sebentar lagi aku kembali setelah melihat bayiku. Kita perlu bicara!" tutur Teguh
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Mas, aku rasa semuanya sudah jelas!" jawab Ratih kembali menatapnya nyalang.
Sebenarnya Teguh ingin sekali mengusir Ratih dari rumahnya. Namun karena menghormati sang ibu ia tak melakukannya.
Melihat Teguh yang lebih memperhatikan bayinya membuat Ratih semakin kesal. Ia kemudian mengambil tanah basah dan memilinnya menjadi boneka tanah liat.
Ia kemudian menusuk-nusuk boneka itu menggunakan potongan ranting dan tidak lama terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang.
"Kau sudah tega membohongi aku, dengan menikahi aku padahal kamu sudah memiliki istri. Aku tidak tahu apa tujuanmu menikahi aku padahal kau tahu aku bukan wanita normal,"
Tidak lama suara bayi itu menghilang berganti suara tangis seorang wanita. Istri Teguh menangis meraung-raung karena kehilangan putrinya yang baru saja dilahirkan.
Teguh yang mengetahui kematian putrinya karena santet langsung mengira jika Ratih adalah pelakunya.
"Ratih!"
"Dasar wanita iblis!" serunya kemudian berlari menghampiri Ratih yang masih berdiri di depan pintu.
"Dasar Iblis bagaimana bisa kau membunuh bayi yang tak berdosa hah!" hardik Teguh
"Bukankah lebih baik dia yang mati daripada aku membunuh istrimu?" jawab Ratih dengan santai
"Jadi kau ingin membunuh istriku juga hah, kau pikir aku mau menikah dengan wanita gila seperti mu. Jika kau ingin marah, karena maka marahlah terhadap ibuku, karena dia yang memaksa ku menikah denganmu. Jika kau ingin membunuh seseorang maka bunuhlah dia, bukan istriku!" sahut Teguh
"Tapi aku juga harus menyingkirkan orang-orang seperti dirimu yang tega menjadikan seseorang sebagai tumbal hanya demi mendapatkan kekayaan. Kau pikir aku tidak tahu jika sebenarnya kau yang mengirimkan santet tumpes kelor kepada Keluarga Gunawan. Kau bahkan menumbalkan anak-anak tak berdosa untuk mendapatkan sebuah senjata sakti milik penghuni sungai?" jawab Ratih
"Selain itu dosa terbesar mu adalah membohongi ku, dan aku paling tidak suka dengan orang-orang munafik seperti dirimu. Kau selalu menganggap ku sebagai perempuan gila yang pantas dibohongi dan tak perlu di perhatikan. Di depan orang kau bersikap layaknya seorang suami sejati yang memperlakukan istri mu seperti ratu, tapi sebenarnya kau tidak pernah menganggap ku sebagai istri mu,"
"Memangnya siapa yang mau menikah dengan wanita gila hah, sudah untung kami mau mengurus mu. Bukannya berterima kasih kau malah membunuh putriku," Teguh yang sudah terbakar amarah langsung mengambil keris sakti miliknya dan menyerang Ratih.
Ratih tiba-tiba menghilang saat Teguh hendak menikamnya wanita itu kembali muncul di belakang Teguh dan menendangnya hingga Teguh tersungkur ke lantai.
Ia kemudian menggerakkan tangannya membuat pria itu tanpa sadar mendekatinya.
*Grep!
Ratih pun mencekik pria itu membuatnya tak bisa bernafas.
"Agar putrimu tidak kesepian aku akan mengirim mu ke Neraka untuk menemaninya,"'
Teguh tak tinggal Diam, ia berusaha mengerahkan kekuatannya untuk melawan Ratih. Namun sekuat apapun ia ternyata Ratih sulit ditaklukkan.
Tidak lama Roni dan anak buah Teguh yang lainnya berdatangan ke tempat itu. Melihat Teguh yang hampir kehilangan nyawanya membuat mereka langsung menyerang Ratih.
Tak ada satupun dari mereka yang berhasil menyentuh Ratih. Seperti dilindungi oleh pasukan gaib, siapapun yang menyerangnya maka akan berbalik kepadanya.
Roni mundur beberapa langkah saat melihat teman-temannya berjatuhan. Pria itu akhirnya memutuskan untuk melarikan diri saat melihat ribuan lelembut yang mengelilingi Ratih.
Roni berlari menerobos derasnya hujan. Suara petir yang menyambar membuatnya semakin kencang berlari.
Ia kemudian menemui Mbah Paing yang sedang berada di kediaman Gunawan.
Dengan pakaian yang basah kuyup dan nafas yang tersengal-sengal ia masuk ke rumah mewah itu dan memberitahu apa yang terjadi kepada Mbah Paing.
"Dasar gobl*k, sudah ku bilang untuk tidak meninggalkannya malah dia pergi jadi beginilah akibatnya," ucap Mbah Paing dengan nada kesal
"Mbak Sri melahirkan Nyai, itulah alasan Mas Teguh menemuinya," jawab Roni
"Ratih, bagaimana aku bisa menghentikan wanita itu," Mbah Paing tampak panik saat mengetahui Teguh dalam bahaya
"Kalau begitu antar aku ke sana!" seru Mbah Paing
"Maaf Nyai saya tidak berani, semua orang yang ada di sana semuanya tewas. Aku tidak mau jadi korban Mbak Ratih," jawab Roni
"Dasar pengecut!" hardik Mbah Paing
Wanita itu kemudian meminta Anas untuk menemaninya.
"Saya Nyai??" tanya Anas bingung
"Tentu saja, memangnya kau tidak berani mengantarkan aku ke desa sebelah!"
"Berani Nyai,"
Anas segera memakai jas Hujan dan menyalakan sepeda motornya. Ia menerobos hujan deras dan jalanan Licin menuju kampung dimana Sri tinggal.
Setelah setengah jam hujan-hujanan mereka pun sampai di rumah istri Teguh.
"Hentikan Ratih!" seru Mbah Paing saat melihat Ratih hendak menikam putranya
Ratih melepaskan Teguh dan melemparkan pria itu ke dinding.
*Brakkk!!
"Apa kau juga ingin mati Nyai?" tanya Ratih
"Tolong dengarkan aku dulu Nduk," ucap Mbah Paing
"Kau pikir aku ini bodoh apa. Sudah cukup kau bersandiwara di depan ku Nyai. Pura-pura baik tapi sebenarnya kau sama saja seperti putramu, tapi karena aku menghargai mu sebagai seorang ibu, kali ini aku mengampuni mu!" ujar Ratih kemudian melangkah pergi
Tiba-tiba terdengar suara Mbah Paing berkidung membuat Ratih menghentikan langkahnya. Wanita itu tersenyum sinis saat menoleh kearahnya.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku Nyai?"
Mbah Paing terus berkidung, kali ini ia mengambil segenggam bunga tujuh rupa dan menaburkannya di wajah Ratih.
Ratih pun tertawa meringkik membuat Anas seketika mengusap bulu kuduknya.
"Rupanya kau mengincar sesuatu dalam tubuh ku Nyai?" ucap Ratih
Mbah Paing tersenyum menatap gadis itu. "Andai saja kau tidak berulah, mungkin aku bisa membiarkan mu hidup setelah mengambil keris sakti yang ada dalam tubuh mu, tapi sepertinya kau tidak bisa diajak kerjasama. Sifat keras ayahmu sepertinya menurun kepada mu, jadi jangan salahkan jika aku tidak bisa menyelamatkan mu," jawab Mbah Paing
Saat Ratih hendak menyerang wanita itu, tiba-tiba ia jatuh tersungkur ke lantai.
*Bruugghhh!
"Ratih??" Seketika Anas terkesiap saat melihat gadis itu tumbang.
"Selamatkan putriku Anas??" tiba-tiba Anas melihat sosok Rajiman berdiri di depannya.