NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu yang Perlahan Menyakitkan

Satu bulan kemudian...

Bandara selalu dipenuhi dua jenis manusia.

Mereka yang berangkat dengan harapan.

Dan mereka yang ditinggalkan dengan kesedihan.

Pagi itu, Nandin termasuk golongan yang kedua.

Tangannya tak henti-henti mengelus perut yang mulai membesar di balik gamis longgarnya. Kandungannya sudah memasuki bulan kelima. Meskipun belum terlalu besar, rasa pegal di pinggangnya mulai sering datang.

Di depannya, Wisnu sedang mengobrol dengan beberapa calon pekerja yang akan berangkat bersamanya ke Korea.

Mereka tampak bersemangat.

Tertawa.

Bercanda.

Membahas gaji yang katanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Sementara Nandin berdiri sendirian di dekat kursi tunggu.

Entah kenapa, dadanya terasa sesak sejak tadi malam.

Seperti ada sesuatu yang tidak ingin melepaskan kepergian suaminya.

"Nanti kalau sudah sampai langsung kabarin aku ya, Mas."

Nandin akhirnya memberanikan diri bicara.

Wisnu mengangguk singkat.

"Iya."

"Jangan lupa makan." imbuhnya.

"Iya."

"Kalau ada waktu video call."

"Iya."

Jawaban itu terdengar datar.

Pendek.

Seolah ia sedang berbicara dengan teman biasa.

Bukan istrinya yang sedang mengandung anaknya.

Nandin memaksakan senyum.

Meski rasanya sulit.

Di belakang mereka, Ibu Sri justru tampak paling bahagia.

Perempuan itu sibuk memotret.

Berkali-kali.

Lalu mengirimnya ke grup WhatsApp.

Sesekali ia tertawa sendiri sambil membaca balasan para anggota grup arisan.

"Alhamdulillah, Bu Sri. Anak ibu hebat."

"Wah, calon orang kaya nih."

"Nanti jangan lupa traktir kalau sudah kirim uang dari Korea."

Mata Ibu Sri berbinar.

Seumur hidupnya mungkin belum pernah menerima pujian sebanyak itu.

"Makanya," katanya bangga kepada seorang tetangga yang ikut mengantar. "Anak saya memang pekerja keras."

Nandin hanya diam.

Ia tahu.

Jika memang benar ini demi masa depan keluarga mereka, tentu ia akan mendukung sepenuh hati.

Tapi jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal.

Sejak awal keberangkatan ini lebih sering dibicarakan sebagai kebanggaan Ibu Sri daripada kebutuhan keluarga mereka.

Tepat sebelum panggilan keberangkatan diumumkan, Nandin menggenggam tangan Wisnu.

"Mas."

Wisnu menoleh.

"Hati-hati di sana."

Untuk sesaat, Nandin berharap lelaki itu akan memeluknya.

Atau setidaknya menyentuh perutnya.

Mengucapkan selamat tinggal kepada calon anak mereka.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Wisnu hanya menarik tangannya perlahan.

"Lagipula cuma kerja."

Cuma kerja.

Kalimat itu kembali menusuk.

Beberapa menit kemudian, sosok Wisnu menghilang di balik pintu keberangkatan.

Dan tanpa disadari Nandin...

Itulah awal dari penantian panjang yang akan mengubah hidupnya.

Hari pertama.

Hari kedua.

Hari ketiga.

Nandin masih menunggu kabar.

Ia selalu meletakkan ponsel di dekat bantal.

Berharap sewaktu-waktu layar itu menyala.

Berharap nama Wisnu muncul.

Namun tidak pernah terjadi.

Sampai satu minggu berlalu.

Barulah sebuah pesan masuk.

"Aku sudah sampai."

Hanya tiga kata.

Tidak ada pertanyaan tentang dirinya.

Tidak ada pertanyaan tentang bayi mereka.

Tidak ada kalimat rindu.

Tetapi Nandin tetap tersenyum.

Setidaknya Wisnu baik-baik saja.

Ia membalas cepat.

"Alhamdulillah. Jaga kesehatan ya, Mas. Aku sama bayi baik-baik saja."

Centang dua.

Dibaca.

Namun tak pernah dibalas lagi.

Waktu terus berjalan.

Perut Nandin semakin membesar.

Tabungan mereka semakin menipis.

Sementara kabar dari Wisnu semakin jarang.

Kadang seminggu sekali.

Kadang dua minggu sekali.

Bahkan lebih sering hanya berupa satu atau dua kalimat.

"Aku sibuk."

"Lagi kerja."

"Nanti saja."

Padahal setiap hari Nandin menunggu.

Setiap hari.

Tanpa pernah absen.

Suatu sore, ia membuka buku tabungannya.

Sisa saldo membuat jantungnya berdegup tidak nyaman.

Dua juta tiga ratus ribu rupiah.

Itu saja.

Padahal biaya kontrol kehamilan terus berjalan.

Belum kebutuhan sehari-hari.

Belum biaya persalinan nanti.

Nandin menghela napas panjang.

Ia membuka aplikasi mobile banking.

Berharap ada transfer masuk.

Namun nihil.

Tetap kosong.

Tidak ada kiriman dari Wisnu.

Tidak ada apa-apa.

Sebulan.

Dua bulan.

Tiga bulan.

Tak satu rupiah pun dikirim.

Awalnya Nandin masih mencoba berpikir positif.

Mungkin gaji pertama belum cair.

Mungkin masih ada potongan biaya penempatan.

Mungkin Wisnu sedang beradaptasi.

Namun semakin lama, alasan-alasan itu mulai terdengar rapuh.

Karena hidup tetap harus berjalan.

Dan uang tabungan terus berkurang.

Suatu siang, saat kandungannya memasuki usia tujuh bulan, Nandin duduk di teras kontrakan sambil memegang buku rekening.

Matanya berkaca-kaca.

Saldo terakhir tersisa tujuh ratus ribu rupiah.

Itu pun belum termasuk biaya kontrol bulan depan.

"Nak..." bisiknya sambil mengusap perutnya.

"Kita harus hemat ya."

Air matanya jatuh.

Pelan.

Tanpa suara.

Ia tidak berani menangis keras.

Takut membuat bayinya ikut sedih.

Saat itulah sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Nandin langsung mengenalinya.

Mobil tua milik ayahnya.

"Pak!"

Ia segera berdiri.

Meski tubuhnya terasa berat.

Ayah dan ibunya turun dari mobil.

Membawa beberapa kardus.

Karung beras.

Minyak goreng.

Telur.

Mie instan.

Buah-buahan.

Dan berbagai kebutuhan lainnya.

"Nak..."

Begitu melihat wajah putrinya, sang ibu langsung memeluknya.

Tangis Nandin yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.

"Bu..."

Ibunya mengusap punggungnya perlahan.

"Sudah. Jangan nangis."

"Bu... aku capek."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan membuat kedua orang tuanya ikut menahan air mata.

Mereka tahu.

Anak mereka sedang berusaha kuat.

Terlalu kuat.

Padahal usianya baru dua puluh tiga tahun.

Malam itu mereka makan bersama.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah kontrakan terasa hangat.

Ayahnya menatap sekeliling rumah.

"Listrik aman?"

Nandin mengangguk.

"Masih, Pak."

"Kontrakan sudah dibayar?"

"Sudah sampai dua bulan lagi."

Ayahnya menghela napas.

Lalu menyelipkan sebuah amplop ke tangan Nandin.

"Apa ini, Pak?"

"Pegang saja."

Nandin membuka sedikit.

Lima juta rupiah.

Matanya langsung membesar.

"Pak, jangan."

"Sudah."

"Tapi Bapak sendiri..."

"Kami masih punya."

Nandin tahu itu bohong.

Ia tahu ayahnya hanya seorang pensiunan sopir travel.

Ia tahu uang itu pasti dikumpulkan dengan susah payah.

Tangisnya kembali pecah.

"Aku jadi merepotkan..."

Ayahnya langsung menggeleng.

"Anak tidak pernah merepotkan orang tua."

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Nandin semakin sesak.

Karena orang yang seharusnya bertanggung jawab atas dirinya dan bayi yang dikandungnya justru tidak ada di sini.

Malam semakin larut.

Setelah kedua orang tuanya tidur, Nandin duduk sendirian di ruang tamu.

Ia kembali membuka ponselnya.

Mencari nama Wisnu.

Lalu mengetik pesan.

"Mas, aku kontrol kandungan besok."

Dibaca.

Tidak dibalas.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Satu jam.

Tetap tidak ada jawaban.

Nandin memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi, ia mulai merasa takut.

Bukan takut miskin.

Bukan takut melahirkan.

Melainkan takut bahwa dirinya dan bayi yang dikandungnya sudah tidak lagi menjadi prioritas dalam hidup suaminya.

Dan ketakutan itu perlahan tumbuh.

Diam-diam.

Seperti racun yang menetes sedikit demi sedikit.

Menggerogoti hatinya setiap hari.

Tanpa ia sadari...

Penantian yang selama ini ia pertahankan dengan penuh harapan, perlahan berubah menjadi luka.

Luka yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh hidupnya.

1
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!