Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Benturan Pertama
“Apa yang gembel sepertimu lakukan di kediaman Rothmere?!”
Bentakan Raline memecah koridor lantai atas.
Kemala yang tersandar di depan lemari hanya bisa memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Pandangannya kabur. Suara-suara di sekelilingnya terdengar seperti gema yang jauh.
Raline berdiri di hadapannya dengan napas memburu. Botol wine yang baru saja digunakan untuk memukul Kemala masih tergenggam di tangannya.
“Aku bertanya padamu!” pekik Raline dengan begitu tinggi.
Namun Kemala bahkan tak sanggup menjawab. Tubuh yang kurus itu limbung. Kepala Kemala terasa semakin berat.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Raline?!”
Suara berat yang penuh kemarahan terdengar dari ujung koridor. Langkah kaki cepat mendekat. Raline langsung menoleh ke sumber suara itu.
Bastian berdiri beberapa meter dari sana dengan wajah yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Terlihat sangat dingin, tajam, dan raut wajah marah yang begitu jelas.
Di belakang Bastian berdiri dokter ketua tim medis yang sebelumnya memeriksa Kemala. Mereka baru saja keluar dari ruang kerja Bastian setelah membahas kondisi Nathan.
Namun suara teriakan Raline terdengar hingga ke sana. Sebelum Kemala benar-benar jatuh, Bastian sudah lebih dulu menangkap tubuhnya.
“Kemala!”
Tangan Bastian menahan bahu Kemala. Tubuh wanita itu terasa ringan. Bastian kini lebih memperhatikan tubuh Kemala yang kurus dan wajah wanita ayu itu juga semakin pucat.
“Dokter!”
Bastian menoleh tajam.
“Panggil tim medis sekarang juga!”
“Baik, Pak!”
Dokter itu langsung berlari meninggalkan lokasi. Raline justru mendecak kesal.
“Kamu serius membelanya?”
Bastian perlahan mengangkat kepala. Tatapan pria gagah itu langsung menghantam Raline.
“Aku bertanya sekali lagi.”
Suara Bastian tetap terdengar rendah namun terasa begitu dalam.
“Sebenarnya apa yang kamu lakukan?”
“Aku seharusnya bertanya hal yang sama!” bentak Raline menunjuk Kemala. “Siapa wanita ini?”
“Kemala,” jawab Bastian singkat masih sambil memeriksa keadaan Kemala.
“Bukan namanya!” bentak Raline melangkah maju.
“Apa yang dilakukan wanita lusuh seperti dia di rumah ini?”
Bastian menahan tubuh Kemala yang semakin lemah.
“Jaga ucapanmu.”
“Kenapa? Tersinggung?” tanya Raline sangat sinis.
“Raline!” tegas Bastian yang sebenarnya begitu enggan berdebat dengan istrinya.
“Setelah menerima anak entah dari mana yang dibawa mamamu, sekarang kamu justru membawa gelandangan masuk ke rumah ini!” kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Raline.
Mata Bastian langsung mengeras.
“Nathan adalah anakku.”
Raline tertawa sinis.
“Anakmu?”
“Ya.” Lagi-lagi Bastian menjawab dengan begitu singkat sekaligus tegas.
“Anak haram!” pekik Raline semakin muak.
Suasana koridor langsung membeku. Para pelayan yang berdiri jauh di belakang bahkan tak berani bernapas terlalu keras.
“Kau dengar baik-baik.” Raline semakin mendekat ke Bastian mulai menunjuk dirinya. “Aku ini istrimu!”
“Lalu?” tanya Bastian singkat.
“Dan bayi itu bukan anakku!” ujar Raline penuh dengan kemarahan sambil menunjuk arah ruangan tempat Nathan berada.
“Karena kamu sendiri yang sejak awal menolak memiliki anak bersamaku.”
Kalimat Bastian membuat wajah Raline langsung berubah.
“Jangan membalikkan masalah!” sergah Raline sama sekali tak terima dengan alasan Bastian.
“Aku tidak membalikkan apa pun.” Respons Bastian begitu tenang.
“Kau mempermalukanku!” Terlihat begitu jelas wajah Raline memerah dan tubuh yang menegang dalam ucapannya itu.
“Cukup.” Bastian mencoba menghentikan perdebatan yang sia-sia itu.
“Tidak!” Suara Raline meninggi. “Kau membawa bayi asing ke rumah ini dan berharap aku menerimanya begitu saja?”
“Kau tidak harus menerimanya,” ujar Bastian tenang.
“Bagus!”
“Tapi kau juga tidak berhak menyakitinya,” sambung Bastian menegaskan batasan.
Raline menggertakkan gigi. “Kau selalu membela anak itu!”
“Karena dia tidak bisa membela dirinya sendiri.” Pernyataan yang begitu teguh dalam diri Bastian.
“Kau–”
Kalimat yang sudah berada di ujung lidah Raline, dipotong begitu tajam oleh Bastian.
“Dan sekarang .…” Tatapan Bastian langsung beralih ke botol wine di tangan Raline. “Kau memukul orang yang bahkan tidak melakukan apa pun kepadamu.”
Raline hanya terdiam sesaat.
“Karena aku Nyonya Rothmere!” Raline berdalih.
“Justru karena itu,” tukas Bastian berdiri tegak setelah menyandarkan Kemala tersimpuh. “Kau harus menjaga wibawamu.”
Bastian kini berdiri lebih tinggi dari wanita yang membawa botol wine itu.
“Wibawa?” Pertanyaan sinis Raline dengan tawanya yang mengejek. “Justru karena aku Nyonya Rothmere, aku harus memastikan rumah ini bersih dari segala hal yang hina!”
Kemala yang mulai kehilangan kesadaran masih sempat mendengar kalimat itu. Membuat dada Kemala terasa nyeri. Bahkan Kemala kalimat itu lebih menyakitkan daripada pukulan tadi.
“Dan siapa lagi gembel ini?” pekik Raline.
Bastian menatap Raline tanpa ekspresi.
“Dia ibu susu Nathan.”
Kalimat itu membuat Raline membeku.
“Apa?”
“Dia ibu susu Nathan.” Bastian mengulanginya kembali.
“Tunggu.”
Raline terlihat tak percaya. Kakinya perlahan mundur setelah mendengar apa yang Bastian katakan. Membayangkan kemungkinan yang paling Raline hindari. Munculnya faktor yang mungkin akan mengganggunya.
“Jadi sekarang wanita seperti dia akan tinggal di rumah ini?”
“Kemala bekerja di sini,” jelas Bastian singkat.
“Kau gila!” pekik Raline cukup kencang.
“Sudah cukup,” ucap Bastian lebih dalam dan suara Bastian berubah lebih tajam. “Tidak ada lagi yang perlu dibahas.”
Tak lama kemudian tim medis datang tergesa-gesa. Beberapa perawat langsung memeriksa kondisi Kemala.
“Tekanan darah turun,” kata salah satu perawat.
“Ada benturan di kepala,” ujar dokter yang memeriksa Kemala secara teliti.
“Kita bawa ke tempat tidurnya,” sambung dokter tersebut memerintahkan ke tim medis.
Namun justru Bastian yang segera membungkuk dan mengangkat Kemala ke dalam gendongannya. Satu lengan menopang punggung Kemala, sementara lengan lain menyangga kedua lutut Kemala. Tubuh wanita itu terasa ringan dan tak berdaya. Kepala Kemala bersandar di dada Bastian, membuat pria itu tanpa sadar mempererat gendongannya seolah khawatir ia akan terjatuh.
Bastian meletakkan Kemala ke tempat tidurnya perlahan, “Lakukan yang diperlukan.”
“Baik, Pak,” sahut dokter yang sekaligus merasa tak enak kepada Bastian sekaligus kepada Raline setelah melihat Bastian menggendong Kemala ke tempat tidurnya.
Sementara Raline masih berdiri dengan wajah merah padam. Wanita itu melihat dengan jelas suaminya menggendong wanita lain tepat di depan matanya.
“Raline,” panggil Bastian yang sudah kembali melihat ke arah istrinya.
Wanita yang barusan membuang mukanya itupun menoleh.
“Hari ini kau sudah membuat terlalu banyak masalah,” sambung Bastian.
“Aku?” tanya Raline sama sekali tak merasa bersalah.
“Aku tidak akan mentolerir lebih dari ini.”
Bastian menatapnya dingin.
“Kembali ke kamarmu!” perintah Bastian tegas.
Raline menggertakkan gigi.
“Bastian–”
“Jangan membuatku mengulang perintah.” Bastian menunjukkan tatapan yang sangat tak ramah kepada Raline
Keheningan panjang tercipta. Untuk pertama kalinya malam itu, Raline tidak membalas. Wanita yang sedari tadi menggenggam botol wine-nya sangat erat membuang muka kasar. Lalu berbalik.
“Sial!”
Langkah sepatu Raline terdengar nyaring di koridor setelah keluar dari kamar Kemala. Mira segera mengikuti di belakangnya. Begitu mereka pergi, suasana terasa jauh lebih tenang.
Dokter memeriksa kondisi Kemala sekali lagi.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Bastian.
“Untungnya tidak ada cedera serius.” Dokter menutup alat pemeriksaannya. “Benturannya tidak cukup kuat untuk menyebabkan cedera berat.”
Bastian mengembuskan napas perlahan.
“Syukurlah.”
“Setelah pengobatan dan istirahat malam ini, kondisinya seharusnya membaik.”
“Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik!” perintah Bastian memastikan.
“Tentu, Pak,” ucap dokter itu singkat.
Bastian mengangguk lalu berjalan keluar kamar Kemala. Bastian sempat menatap pintu kamar Kemala yang tertutup. Bastian merasa bersalah.
Hari telah berganti. Pagi hari yang tampak damai. Sinar matahari masuk melalui tirai besar kamar. Kemala perlahan membuka mata. Langit-langit putih mewah menyambut pandangan wanita itu. Butuh beberapa detik sampai Kemala sadar di mana dirinya berada.
“Ah ....”
Kepala Kemala masih sedikit pusing. Kemala mencoba duduk perlahan. Tangan kemala yang kurus itu terasa berat. Wanita itu menoleh dan mendapati selang infus yang terpasang.
Barulah ingatan Kemala kembali. Raline, nyonya Keluarga Rothmere. Botol wine yang di genggam oleh wanita yang mabuk itu. Pertengkaran antara Raline dan Bastian.
Kemala memejamkan mata sesaat. Masih banyak hal yang tak Kemala mengerti. Bastian dan Raline adalah suami istri. Namun mereka tampak seperti dua orang asing yang dipaksa tinggal dalam satu rumah.
Lalu Nathan? Bukankah Bastian mengatakan ibunya sudah meninggal? Tapi bukannya Raline itu istri Bastian? Lalu apa hubungan ibunya Nathan dengan Bastian? Kenapa Raline begitu membencinya? Pertanyaan demi pertanyaan muncul.
Namun Kemala segera menggeleng. Itu semua bukanlah urusannya. Kemala datang ke Jakarta untuk menemukan buah hatinya. Bukan mencampuri masalah keluarga orang lain.
Ketukan terdengar di pintu.
“Silakan masuk,” ucap Kemala yang sedang mengumpulkan tenaganya.
Seorang perawat masuk bersama seorang pelayan yang membawa sarapan.
“Selamat pagi, Bu Kemala,” sapa perawat kepada Kemala.
“Pagi,” jawab Kemala singkat.
“Bagaimana perasaannya?” tanya perawat itu sambil mengecek infus dan mengukur tekanan darahnya.
“Sudah lebih baik,” jawab Kemala.
“Syukurlah.” Perawat itu tersenyum. “Infusnya akan saya cabut, ya.”
Kemala mengangguk.
Perawat itu mulai melepas infus dari tangan Kemala.
“Setelah ini silakan sarapan. Obat dan vitaminnya juga sudah disiapkan,” lanjut perawat itu setelah melepas selang infus dari Kemala.
“Terima kasih,” ujar Kemala.
Pelayan meletakkan makanan di meja kecil. “Ada bubur ayam, sup, buah, dan susu, Bu.”
Kemala langsung merasa tak enak. Makanan itu terlihat terlalu mewah untuk dirinya.
“I-ini terlalu banyak, saya takut tidak sanggup menghabiskannya,” ujar Kemala sungkan.
“Ini instruksi dokter,” jawab perawat itu singkat.
Kemala akhirnya mengangguk. Lalu sebuah pertanyaan muncul dalam benak Kemala.
“Boleh saya bertanya?”
“Tentu,” jawab perawat tersebut.
“Setelah ini ... apakah saya bisa melihat bayi yang akan saya susui?”
Perawat dan pelayan saling berpandangan. Perawat tersenyum lebih dulu.
“Semalam karena kondisi Ibu belum memungkinkan, kami memompa ASI ibu terlebih dahulu.”
Kemala langsung menegakkan tubuh.
“Lalu?”
“Kami sudah memberikannya kepada Nathan,” jelas perawat yang sudah menata bekas infus di baki medisnya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Kemala penasaran.
“Tidak ada penolakan sama sekali.”
Mata Kemala langsung berbinar. “Syukurlah.”
“Dokter juga cukup senang dengan hasilnya.”
Mendengar pernyataan tersebut, Kemala merasa sangat lega.
“Jadi saya boleh melihatnya?” tanya Kemala mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.
“Setelah sarapan dan minum obat,” jawab Perawat tersebut juga ditemani pelayan tersenyum ramah.
Beberapa waktu kemudian. Kemala berjalan perlahan menuju ruang bayi. Tubuh Kemala masih lemah dan terlihat kurus. Walau demikian, Kemala merasakan langkahnya jauh lebih ringan.
Saat sampai di depan pintu, seseorang baru saja keluar. Terlihat pria gagah yang sudah sangat rapi pagi itu, Bastian. Pria tegap itu tampak terkejut melihatnya.
“Kamu sudah berjalan-jalan begini?” tanya Bastian yang khawatir melihat kondisi Kemala.
“Saya sudah merasa lebih baik, Pak,” ujar Kemala yang hatinya selalu terdorong untuk melihat Nathan sejak bangun dari tidurnya.
“Kamu masih butuh istirahat,” ujar Bastian kepada Kemala.
Kemala menggenggam jemarinya sendiri. Ada kegundahan dalam diri Kemala yang mendorongnya begitu ingin menemui bayi itu. Seperti rindu yang tak tertahan.
“Izinkan saya melihat bayinya sebentar,” pinta Kemala.
Suara yang begitu lirih menyiratkan kerinduan yang tidak bisa disembunyikan. Bastian menatap Kemala beberapa detik. Permintaan Kemala terdengar begitu tulus bagi Bastian. Lalu Bastian mengangguk.
“Masuklah,” ucap Bastian akhirnya.
Terlihat masih kurus dan lemah, tetapi tergambar jelas kecantikan yang meneduhkan dalam senyuman yang terukir indah di wajah Kemala.
“Terima kasih,” sahut Kemala sopan.
Kemala kemudian berjalan masuk. Bastian tetap berdiri di dekat pintu. Bastian mencoba mengawasi Kemala, karena tubuh Kemala masih terlihat mengkhawatirkan bagi Bastian.
Nathan sedang tertidur di dalam boks bayi yang mewah. Terdapat beberapa ornamen yang menghiasi boks bayi tersebut. Nathan, tak terlihat gelisah. Tubuh mungil itu tampak jauh lebih damai dibanding kemarin.
Kemala mendekati Nathan perlahan. Mata Kemala langsung memanas. Begitu jelas mata Kemala semakin memantulkan cahaya dari ruang itu. Mata Kemala berlinang.
Bayi itu mengingatkan Kemala pada putranya. Putra yang belum sempat Kemala peluk cukup lama. Putra yang bahkan belum sempat mendapatkan doa terbaik Kemala, sebuah nama.
Dengan sangat hati-hati, Kemala mengulurkan tangan. Kemala mulai mengangkat Nathan. Bastian refleks bergerak hampir menghentikan Kemala. Namun langkah Bastian berhenti.
Nathan yang biasanya mudah rewel saat digendong justru tampak tenang. Bahkan lebih tenang daripada sebelumnya. Bayi kecil itu meringkuk nyaman di pelukan Kemala. Seolah menemukan tempat yang selama ini dicarinya.
Kemala tersenyum sambil menahan air mata. Sedangkan Bastian hanya bisa memandang dalam diam. Tepat saat suasana hangat itu tercipta dalam ruangan yang biasanya selalu penuh dengan tangisan Nathan, suara wanita tua yang berwibawa terdengar dari belakang.
“Jadi dia ibu susu yang kamu temukan, Bastian?”
Bastian langsung menoleh. Sementara Kemala yang fokus terhadap Nathan tak menyadari kehadiran wanita tua itu.
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉