Sarah dan Arya, pernah kecewa akan cinta lalu dipersatukan sebagai Direktur dan asisten pribadi. Sifat Sarah yang tegas dan perfeksionis bertentangan dengan Arya yang cengengesan dan masih kinyis-kinyis alias berondong.
Disebabkan oleh kondisi, Arya pun hanya pasrah ketika Sarah memanfaatkannya. Bukan hanya diakui sebagai asisten priadi, Arya dikenalkan sebagai kekasihnya.
===
“Mana mungkin aku suka dengan bocah polos begitu.” -- Sarah Alesha --
“Cinta itu buta bahkan kadang juga tuli, seperti aku yang klepek-klepek padamu seakan tidak mendengar ocehan mulutmu yang memekakkan telinga.” -- Arya Bimantara --
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 ~ Aku Yang Takut
“Kamu tahu siapa Sarah Alesha, mana mungkin kamu menikah dengannya sebagai Arya asistennya?”
“Aku serius Kak, dia terima aku apa adanya.”
Ares menghela nafasnya, Arya bukan hanya membuat frustasi tapi akan menyebabkan masalah. Ke depan hal ini akan menjadi masalah.
“Lihat Doni, seharusnya kamu laporkan lebih awal agar hal ini tidak terjadi,” sentak Ares.
“Maaf Pak.”
“Ini bukan salah dia Kak, aku bilang akan bahagia tanpa membawa status Bimantara dan aku sedang buktikan itu.”
“Papi akan tahu hal ini, dia sudah melihat fotomu dengan Sarah di salah satu media online.”
“Kak Ares, uruslah masalah itu. Jangan sampai Papi datang dan mengacaukan segalanya atau aku akan pergi lebih jauh dan kalian tidak akan bisa menemukanku lagi.”
“Arya, apa susahnya kamu kembali. Belajar bisnis dan utarakan niatmu menikahi Sarah. Papi tidak akan masalah dengan hal itu.”
“Itu menurutmu bukan menurut Papi. Aku tidak suka dikekang, sudah cukup selama ini aku turuti permintaan Papi."
Ares mengusap kasar wajahnya, tidak terbayang bagaimana Adam akan bereaksi mendengar ancaman Arya. Memang Adam selalu menekan Arya, mungkin karena bisa diprediksi kalau Arya mudah berontak dan membelot.
***
Sarah masih terlelap, menjelang pagi dia baru bisa memejamkan mata. Wanita itu sedang dilanda cinta dan penasaran siapa yang ditemui Arya. Ingin menelpon Arya, tapi urung dan tidak ingin terlihat kalau dia mulai mencintai pria itu.
Arya sudah tiba di apartemen Sarah, tidak melihat ada pergerakan dan terlihat sepi ia memberanikan diri membuka pintu kamar Sarah karena ketukan pun diabaikan.
“Bu Sarah,” panggil Arya. Sarah masih bergelung dengan selimut bahkan tidak mengganti dengan lampu tidur.
Sempat ragu membangunkan atau membiarkan, malah duduk di tepi ranjang dan menatap wanita itu. Tangan Arya terulur akan mengusap wajah itu, lalu tangannya mengepal urung menyapukan tangan nya pada wajah yang masih lelap.
Pria itu malah ikut berbaring miring menghadap Sarah, terus memusatkan pandangannya hanya pada wajah cantik Sarah Alesha. Mengingat masalah keluarganya yang jelas akan menolak rencananya untuk menikahi Sarah, tapi Arya tidak akan goyah.
Akhirnya Sarah pun terjaga, dia mengerang pelan dan menggeliat lalu mengerjapkan matanya dan menatap Arya yang berbaring di hadapannya.
“Hahh, bahkan dalam mimpi pun kamu selalu mengganggu. Kayaknya aku benar jatuh cinta sama kamu Ar, tapi aku nggak yakin kamu benar cinta aku.”
Sarah menghela nafasnya lalu kembali memejamkan mata.
“Ini bukan mimpi dan saya benar cinta sama ibu.”
Sarah kembali membuka matanya dan beranjak duduk, menatap sekeliling kamar dan memastikan kalau dia benar tidak bermimpi.
“Arya kamu ngapain ada di ranjang aku?”
Arya berbaring menatap langit-langit kamar dan tersenyum, sedangkan Sarah langsung mengoceh dan mendorong tubuh Arya agar segera bangun.
“Saya cinta, Ibu juga ternyata cinta. Fix mulai hari ini kita pacaran, nanti malam kita kencan ya bu,” ungkap Arya yang sudah beranjak duduk lalu mengecup pelan bibir Sarah. “Bu Sarah mandi dulu deh, aku tunggu di luar atau mau aku mandikan?”
“Dasar bocah mesum, bisa-bisanya kamu ajak aku pacaran.” Sarah memukuli Arya dengan bantal agar segera keluar dari kamar itu.
“Terus maunya apa? Langsung kawin? Gaskeun,” teriak Arya dan sukses membuat Sarah semakin emosi jiwa.
***
Entah karena mood Arya sedang baik atau karena dia mendengar pengakuan cinta Sarah. Pria itu tampak sangat bahagia, bahkan terus bersiul dan bersenandung pelan. Saat tiba di kantor dan berjalan di belakang Sarah, siapa pun yang mereka temui selalu di sapa.
“Selamat Pagi Pak Amir, sehat selalu,” sapa Arya pada security yang berdiri di pintu lobby.
“Mas Kohar, semangat ngepelnya ya. Mana tahu bulan depan kamu duduk senayan jadi asisten dewan,” ujar Arya pada office boy.
“Mouwning Mbak Melan yang baik hati dan tidak sombong, jangan lupa bahagia ya,” seru Arya menyapa Melan lalu mendahului Sarah memasuki ruangan.
Sarah dan Melan saling tatap menanggapi tingkah aneh Arya.
“Selamat pagi, Ibu Sarah.”
“Hm, apa jadwal hari ini?”
“Tidak ada pertemuan dan hal urgen, hanya sidak ke divisi tapi tadi ada telepon kalau dari Ibu Nella.”
“Mama telepon ke sini?”
“Iya Bu, beliau bilang ponsel Ibu tidak aktif. Pesannya makan malam di rumah dan ajak Arya.”
Sarah mengangguk pelan dan bergegas menuju ruangannya. Ternyata Arya sudah memastikan meja kerja sudah siap digunakan termasuk laptop dalam keadaan on.
“Ini berkas yang harus di approve, tanda tangani Bu sudah ditunggu bagian keuangan,” ujar Arya.
“Kamu kenapa sih, kelincahan banget.”
“Bukan kelincahan Bu, tapi full semangat. Jelas semangat dong, kerja bareng calon istri.”
Sarah hendak tersenyum, tapi urung dan berusaha menahannya dengan berdeham. Setiap aksi Arya memang mengundang perhatian, baik itu ingin tersenyum, marah bahkan mungkin membuat wajahnya merona.
“Arya, nanti malam ….”
“Nanti malam kita kencan,” sahut Arya.
“Ck, Mama minta kita makan malam di rumah. Pasti masalah pernikahan lagi.”
“Siapa takut,” jawab Arya tanpa beban.
“Aku yang takut.”
pantesan dapet menantu Rama sama kelakuannya 🙉🙉🙉