Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Gak mau tau, pokoknya banyakin like sama vote. kalau gak, aku gantungin. 😝😝
[[]]
Irine benar-benar bosan. Sedari tadi, ia hanya memencet tombol TV dengan ogah-ogahan. Disampingnya, ada Yuan yang tengah serius belajar.
Jika dirinya ditanya, apakah ia sudah belajar atau belom? Tentu jawabannya belom bahkan tidak akan pernah. Karena Irine benar-benar malas belajar. Percuma ia belajar, jika ujung-ujungnya ia merasa dicurangi dengan teman-temannya yang menyontek.
"Yuan, anterin gue pulang," ucap Irine.
"Bentar, gue masih lama nih. Lagian bunda juga belom pulang."
Rena sedang keluar dan belum juga pulang. Alhasil, Irine hanya bisa menghela nafas. Ia sudah benar-benar mengantuk. Kemudian, ia meletakkan kepalanya dengan tangannya sebagai bantal.
Yuan meregangkan semua otot-ototnya karena pegal. Akhirnya ia sudah selesai. Yuan melihat Irine yang sudah tertidur lelap.
Yuan mendecak.
"Ck! ***** amat sih nih cewek."
Irine tidur begitu tenangnya. Yuan yang melihatnya pun tersenyum. Sudah lama ia tidak melihat setenangnya Irine tidur. Irine yang seperti ini terlihat sangat menggemaskan menurutnya.
"Rin, seandainya lo tahu perasaan gue. Apa lo tetep jauhin gue?" lirihnya.
Yuan pun ikut merebahkan kepalanya dengan tangan sebagai bantal. Dan tanpa sadar, mereka terlelap dengan posisi wajah yang saling berhadapan.
[[]]
Irine membuka matanya dengan mengucek-ucek mata agar ia bisa melihat dengan jelas. Ia melihat ke sekitar. Seperti tidak asing.
Irine melihat Yuan yang tidur di sofa dengan tidak memakai selimut. Irine melihat ke jam dinding yang tertempel.
Masih pukul dua pagi. Irine turun dari kasurnya untuk menyelimuti tubuh Yuan. Irine tahu jika udara saat ini sangat dingin dan pasti Yuan akan merasa menggigil.
Irine berjongkok menatap wajah damai Yuan.
"Yuan, gue pengen kalau hubungan kita tetep baik-baik aja. Gue gak mau hubungan kayak gini. Gue takut, Yuan. Gue takut," ucap Irine pelan agar tidak membangunkan tidur Yuan.
Sebelum kembali ke kasurnya lagi, ia sempatkan untuk mengusap anak rambut Yuan yang sedikit menutupi wajahnya.
"Semoga mimpi indah."
Irine kembali lagi ke kasurnya. Yuan yang belum tidur masih sempat mendengar ucapan Irine. Ia pun membuka matanya.
"Gue juga gak mau hubungan kita kayak gini, Rin. Gue bakal udahin semua ini besok." Yuan menatap sebentar ke Irine berada. Hingga ia terlelap ke mimpinya lagi.
Sebenarnya, tidak lama ia baru saja kembali ke kamarnya dengan menggendong Irine dari bawah ke kamarnya. Setelah ia dibangunkan oleh Rena dan dengan keadaannya yang masih mengantuk. Ia disuruh Rena untuk membawa Irine ke kamarnya.
[[]]
Yuan membuka matanya ketika tanpa sengaja cahaya matahari masuk hingga menerpa wajahnya. Yuan sedikit memejamkan matanya karena begitu silau dimatanya.
Ia melihat ke tempat Irine berada. Sudah kosong. Yuan pun segera bangun dari tempatnya.
"Lo udah bangun?"
Yuan hampir terkejut.
"Hm."
"Nih, buat lo." Irine meletakkan nampan yang dibawa diatas nakas.
Yuan melihat jika Irine sudah memakai baju seragamnya. Ia mengernyit.
"Kapan lo pulang?"
Irine langsung mengerti pertanyaan Yuan.
"Tadi, bunda yang bawain baju seragam gue pagi-pagi." Irine tersenyum. "Udah cepet lo mandi, terus makan. Habis itu kita berangkat ke sekolah."
"Iya-iya."
"Rin."
Irine menoleh kembali.
"Iya?"
Yuan terlihat ragu untuk mengatakan pada Irine. Irine yang menunggu pun mendecak kesal.
"Kenapa, Yuan? Lama amat ngomongnya."
Yuan menggeleng. "Gak. Udah sana keluar. Gue mau mandi."
Irine pun keluar kamar Yuan dengan perasaan dongkolnya. Ia pun keluar dengan umpatan kecil.
Sementara Yuan, ia mengacak-acak rambutnya karena bingung harus bagaimana.
"Gimana caranya baikan sama Irine?"
[[]]
"Lo kenapa sih? Tumben jadi diem gini." kata Irine ketika Yuan sedari tadi diam saja. Biasanya, dia yang banyak omong.
"Gue lagi nyetir, wajar kalau gue diem."
Irine mendecak.
"Ck! Yaudah sih gak usah ngegas!"
Yuan menghela nafas.
"Siapa yang ngegas sih? Astaghfirullah." Yuan mengelus dadanya sendiri.
"Lo lah yang ngegas! Kan gue nanya baik-baik sama lo."
"Yaudah, terserah lo."
"Emang terserah gue."
Nih anak kenapa sih? Sensi amat. Batin Yuan sambil menyetir.
[[]]
Teman-temannya sempat heran dengan sikap Irine hari ini. Pasalnya, cewek itu mendadak emosian seharian ini.
Seperti sekarang ini, Laura tak sengaja menyenggol lengan Irine. Tapi Irine justru membesar-besarkan masalahnya hingga keduanya adu bacot.
"Heh! Kalau jalan tuh liat-liat kenapa sih!" omel Irine.
"Ya maaf kali. Gue gak sengaja. Gitu aja pake marah."
"Ya tapi jalan masih lega. Kenapa masih nyenggol gue juga? Lo punya dendam sama gue? Hah!?" sentak Irine.
Laura mengernyit.
"Eh, lo gak lihat kalau jalan disebelah sana tuh ditutup sama mereka? Ya jadi cuma jalan ini yang bisa gue lewati. Salah lo juga, udah tahu gue mau lewat, lo malah gak mau ngalah dulu," balas Laura dengan sengit.
"Lo tuh ya, udah salah bukannya minta maaf malah terus jawab ucapan gue. Mau gue ruqyah lo?"
"Lo tuli ya? Dari tadi gue udah minta maaf ke elo. Elo nya aja yang nyerocos gak berhenti-henti."
"Hisss, pengen gue lakban juga tuh mulut. Biar gak berani jawab mulu," greget Irine pada Laura.
"Ra, udah biarin si Irine. Mungkin lagi kurang asupan kali," ucap Bima.
Irine yang mendengar itu langsung menoleh tajam ke Bima.
"Heh, endut! Apa lo bilang? Gue kurang asupan? Lo tau gak, tadi pagi itu gue makan sampai nambah-nambah?" Irine berkaca-kaca pinggang dihadapan Bima. Sementara Laura yang bebas, ia langsung duduk di kursinya.
"Enak aja lo bilang gue endut. Gue bohay tau!" ucap Bima tidak terima.
"Iya bohay, kalau dilihat dari ujung Monas terus pake sedotan!" ucap Irine dengan pedas.
"Ck! Sialan lo."
Irine pun duduk dibangkunya kembali dengan kesal. Ia tidak jadi ke toilet karena Laura tak sengaja menyenggolnya.
Secil yang duduk disebelahnya langsung memegang kening Irine.
"Gak panas kok, Vin."
Irine langsung menepis tangan Secil dari keningnya.
"Maksud lo apa ngomong gitu? Hah?"
"Dia kenapa sih? Gila? Sakit? Apa kesurupan?" tanya Secil ke Vinkan. Sementara Vinkan menggidikkan bahunya saja.
"Mana gue tahu. Kayaknya kita harus bawa dia ke dukun deh."
"Lah, kenapa gak dibawa ke dokter aja?"
Vinkan menggeleng.
"Gak usah. Gak bakal mempan karena yang ngerasukin di tubuh Irine benar-benar dahsyat. Dokter gak mampu ngelawannya," jawab Vinkan dengan asal.
Irine mendecak.
"Gue gak sakit. Gue gak gila. Gue gak lagi kesurupan. Kalian kenapa sih?"
"Habisnya lo tuh aneh seharian ini!" jawab Secil dan Vinkan secara bersamaan.
"Ya emang kenapa kalau gue aneh seharian ini? Gue pengen beda kali," ucap Irine dengan santai.
"Tapi kita berdua yang was-was. Takutnya malah kita kenaan juga lagi."
"Dasar laknat kalian."
"Gak boleh mengumpat. Gak baik," ucap Secil.
"Bodo amat!"
[[]]
Saatnya ke kantin. Awalnya, Secil dan Vinkan tidak ingin mengajak Irine bersama mereka karena tingkah Irine yang masih berbeda drastis itu. Tapi cewek itulah yang maksa dan akhirnya mereka bertiga kekantin bersamaan.
"Lo ngapain sih ngikut segala? Emang lo gak bawa bekal?" tanya Vinkan.
Irine menggeleng.
"Tumben. Kenapa?"
"Kemarin gue nginep dirumah Yuan. Jadi gak sempet nyiapin bekal."
"Hah!? Nginep dirumah Yuan?!" tanya Secil dan Vinkan bersamaan. Irine mendelik tajam pada mereka berdua.
"Kalian makan apa sih tadi pagi? Makan toa ya?" sinis Irine.
"Pantes," ucap pelan Vinkan.
"Lo udah baikan sama Yuan, Rin?" tanya Secil.
"Belom."
"Sumpah! Kalian tuh aneh banget ya, udah kemana-mana bareng lagi, tapi belom baikan. Maksudnya apa coba?" Secil geram dengan Yuan dan Irine.
"Belom baikan sebelum Yuan bilang minta maaf ke gue," jawab Irine.
Secil mendecak.
"Serah lo, bayi dugong!"
"Kalau gue bayi dugong, berarti kalian dugong juga dong?" tanya balik Irine ke Secil.
"Iya, kalian berdua yang dugong!" Lama-lama, Vinkan pusing mendengar obrolan kedua sahabatnya ini. Udah tadi pagi, Irine berubah drastis, kini Secil ikut-ikutan juga.
"Eh, Vin! Tungguin gue elah. Ntar gue yang kena serangan dari si bayi dugong ini lagi!" Secil segera berlari mengejar Vinkan didepan nya.
Irine mendecak kesal melihat tingkah Secil.
"Dasar alay," cibirnya.
Brukk
"Eh, kalau jalan tuh liat-liat dong! Nabrak gue nih!"
Irine menatap lekat pada cewek dihadapannya yang justru marah padanya.
To be continued
Nah lho, apa yang bakal dilakuin Irine pas dia lagi gitu?
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung