"Bagaimana rasanya jatuh cinta dengan wali yang ditugaskan oleh ayah saya?"
Amara yang muda dan cantik memiliki kehidupan yang bahagia dan sempurna; ia dicintai oleh orang tuanya, sukses dalam studinya, dan telah menjadi direktur perusahaan sejak usia sembilan belas tahun.
Namun, di balik permukaan yang di irikan semua orang itu, ada sesuatu yang membuatnya sedih. Melihat pria yang dikaguminya sejak kecil menikah dengan wanita lain, Amara yang sombong hampir tidak bisa menyembunyikan rasa sakit dan kesedihan di hatinya.
Di sisi lain, Akmal yang tahu dirinya tidak boleh jatuh cinta, namun tanpa sadar dirinya terus memperhatikan Amara. Saat melihat Amara bersama pria lain, ia peduli dan cemburu...
Akankah roda takdir menuntun keduanya untuk saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Party Daniel
Amara keluar dari kamar saat mendapat pesan dari Mikha yang sudah menunggunya, dan benar saja Mikha sudah duduk di ruang tamu yang ternyata ada Evan disana.
"Ara, sudah aku jelaskan pada bodyguard mu yang menyebalkan ini, kalau kita hanya akan menghadiri pesta ulang tahun Daniel saja, tapi dia sepertinya tidak percaya." Adu Mikha dengan wajah sebalnya dan menatap Evan dengan sinis.
Evan hanya diam dengan wajah datar, tanpa terusik dengan ucapan Mikha yang mengadukannya, baginya ocehan Mikha sudah terbiasa terdengar sejak dirinya menjadi pengawal Amara.
"Ev-"
"Jika nona keberatan, saya akan hubungi tuan Maher dan-"
"Oke, fine!" Amara mendelikkan matanya dengan kesal.
"Mikha, ayo kita berangkat!" Amara menarik tangan Mikha agar segera pergi, dan Evan yang melihat dua punggung gadis itu hanya geleng kepala.
"Ish, ngak asik kalau ada dia.Tampan tapi ekspresinya nyebelin, enakan muka Om Jonas kemana-mana." Gerutu Mikha saat sudah duduk di kursi penumpang bersama Amara.
Amara hanya membuang napas, Jonas satu nama yang masih membuatnya penasaran dan belum tahu jawabannya.
"Kemanapun Nona pergi, saya pasti ada. Jadi kamu tidak perlu mengeluh." Ucap Evan yang juga kesal mendengar cibiran dari teman Amara itu.
"Heh, supir ingat pelan-pelan kalau nyupir." Ketus Mikha dengan wajah jutek.
Amara menahan senyum, dua manusia yang seperti kucing dan tikus kalau lagi bertemu, apalagi Evan yang sedikit pendiam justru banyak bicara kalau meladeni Mikha.
Undangan pesta dari Daniel karena pria itu berulang tahun, selama satu tahun Daniel juga dekat dengan Amara dan Mikha sebagai teman. Kerap di bully membuat Amara tidak suka, ia selalu menjadi penolong Daniel meskipun akhirnya Amara juga terkena masalah.
Perjalanan yang hanya di isi oleh Omelan Mikha yang ngak jelas. Amara memilih untuk diam mendengarkan keduanya saling berdebat yang tidak penting.
"Evan, kalau kamu murah senyum pasti kamu itu ganteng. Muka kamu kaya rel kereta lempeng begitu pantas saja jomblo!"
Evan yang merasa memiliki wajah tampan dan garis wajah yang menjual merasa terhina, ia melayangkan tatapan tajam pada Mikha lewat kaca spion dalam yang mana membuat Mikha justru mendelikkan matanya menantang.
"Lama-lama kalian ini nanti jodoh loh." Celetuk Amara.
"Idih, Norway!!"
Mobil Evan memasuki parkiran bar yang cukup terkenal, tempat seperti ini adalah hal lumrah untuk mengadakan party kalangan muda, tidak hanya muda siapapun yang suka party pasti akan memilih bar.
Kedua gadis dengan postur tubuh yang berbeda keluar dari dalam mobil, namun ciri khas kecantikan keduanya memiliki daya tarik tersendiri.
Wajah cantik Amara yang indentik dengan garis wajah Asia, sedangkan Mikha indentik dengan kulitnya yang putih dan memiliki bintik dipermukaan wajahnya yang cantik.
Kedua masuk dengan memegang undangan masing-masing, namun saat Evan hendak masuk dan karena tidak menunjukan undangan membuat pria itu kesulitan untuk masuk kedalam.
"Maaf tuan, anda tidak bisa masuk." Sebuah tangan mendarat di dada Evan.
Dari dalam Mikha menjulurkan lidahnya meledek Evan, sedangkan Amara geleng kepala dan kembali berbalik.
"Eh, big no!!" Cegah Mikha yang sepetinya tahu Amara ingin melakukan apa.
"Tapi-"
"Tidak boleh, biarkan saja! dia itu pria sombong!" Mikha menatap Evan dengan sinis.
"Ck, ini tempat umum," Kekeh Evan.
"Tapi tempat ini sudah di booking kecuali anda punya kartu keanggotaan khusus."
Evan berdecak kesal, ia menatap keduanya yang sudah tak terlihat.
"Ck, bagaimana ini." Gumamnya sambil berfikir.
*
*
Masuk kedalam suara dentuman musik begitu keras menyapa telinga keduanya, Mikha yang memang sering nongkrong di bar begitu senang dan menikmati.
Lain dengan Amara yang sedikit tidak nyaman, Amara memang belum pernah masuk bar seperti sekarang, di Indonesia Akmal begitu ketat menjaganya hingga dirinya tidak bisa merasa bebas karena selalu di atur dan di awasi. Begitu juga di sini, Amara selalu di bawah pengawasan Jonas.
"Itu Daniel, ayo beri ucapan dulu!" Mikha menarik tangan Amara, bahkan untuk bicara saja Mikha harus berteriak agar Amara mendengarnya.
"Hey! happy birthday!" Mikha memberikan ucapan selamat pada Daniel dan memeluk pria itu.
"Thanks, Mikha kamu sudah mau datang!" Daniel tersenyum senang.
Giliran Amara yang memberikan selamat, keduanya hanya melakukan cipika-cipiki tanpa adanya pelukan.
"Selamat Daniel,"
"Thank Amara, aku tidak menyangka kalau kamu akan datang." Katanya tak kalah senang melihat Amara datang.
Pasalnya Amara gadis yang susah diajak bergaul, gadis itu selalu di kelilingi oleh pengawal membuat pergerakan mereka terbatas.
"Hm, tentu bukanya kita teman."
Daniel mengangguk setuju, "Kalian nikmati saja, malam ini adalah malam pesta untuk kalian semuanya!"
Huuu
Mikha teriak heboh, gadis itu langsung turun keatas lantai dansa meninggalkan Amara yang duduk di sofa beberapa meter dari lantai dansa.
Seorang waiters datang dan menaruh minuman di atas meja depan Amara.
Beberapa jenis minuman tersedia, namun tak ada satupun yang Amara tahu, ia mencari jus namun tak ada didepanya.
"Sorry, can I just order juice?" katanya sambil menatap waiters pria yang masih menaruh gelas diatas meja.
"Nona, ini ada beberapa minuman yang memiliki kadar alkohol rendah, tidak akan mabuk jika hanya meminumnya sedikit." Jelasnya sambil menggeser minuman yang ia maksud.
"Anda bisa mencobanya lebih dulu, selagi menunggu saya ambilkan jus untuk anda." Setelah mengatakan itu waiters pun pergi.
Amara menatap tiga gelas yang ada didepanya, yang katanya memiliki kadar alkohol rendah dan tidak akan cepat mabuk. Tangannya bergerak untuk mengambil gelas itu, namanya jiwa muda yang selalu terkurung Amara juga ingin merasakan apa yang belum pernah ia rasakan apalagi melihat Mikha yang berjoget sambil minum terlihat happy.
"Hanya sedikit tidak akan membuat mabuk kan." Gumamnya sambil menempelkan ujung gelas ke bibirnya.
*
*
Aooo apa yang akan terjadi 🙈