Bening gadis tompel dijodohkan dengan Bayu, pria tampan dan kaya dengan imbalan uang untuk pengobatan sang ibu yang mengalami gangguan mental.
Perjodohan yang tidak biasa karena yang menjodohkan Bening adalah Naura istri Bayu sendiri. Tentu Bayu menolak dengan tegas permintaan Naura istrinya. Wanita cantik yang profesinya sebagai artis terkenal.
Sementara Bening sebenarnya gadis manis tetapi wajahnya tompel tentu bukan selera Bayu.
"Kamu sudah gila Ra! Mana ada istri yang rela menjodohkan suaminya dengan wanita lain?!"
"Mas... tolong, dengan kamu menikahi Bening, jika aku syuting film ke luar negeri kamu ada yang mengurus."
Bayu terpaksa menikahi Bening, tetapi hanya demi menyenangkan hati Naura. Bayu bingung, apa tujuan Naura memaksa dirinya menikahi Bening. Ketika Bayu tanya alasan Naura tidak memuaskan.
Lalu apa yang akan terjadi setelah pernikahan Bening dengan Bayu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Pa, lihat anak kita, kenapa menjadi dekat begitu dengan art," Ujar Leanna heran, tidak biasanya Bayu dekat dengan pembantu kecuali bibi.
Malik menoleh ke belakang, dimana Bayu dan Bening menuruni tangga. Namun, hanya sekilas kemudian memutar kepalanya. "Mungkin, anakmu itu mulai nakal, Ma, mau mencari istri kedua," Kelakar Malik.
Tatapan tajam mata Leana tertuju pada Malik yang tidak ada ekspresi sama sekali, justru menyeruput kopi buatan Bening.
"Orang tua itu kalau bicara dijaga Pa, kata-kata itu doa, kalau ada malaikat lewat bagaimana?!" Omel Leanna. Namun, tidak ada jawaban dari suminya itu.
"Bayu, makan dulu... mama baru tahu kalau asisten kamu ini pandai memasak," Puji Leanna, ketika Bayu dan Bening sudah berada di dekatnya, Leanna tersenyum menatap Bening.
Deg
Hati Bayu merasa terpalu, terpahat, seketika menoleh Bening yang tampak biasa saja justru malah tersenyum mendengar ucapan Leanna.
Bayu berdiri mematung memegangi kursi, entah apa yang akan diucapkan. Satu sisi ia ingin mengatakan siapa Bening, tetapi disisi lain, Bayu belum berani mengungkapkan sebelum tahu apa tujuan Naura.
"Tuan Bayu... silahkan duduk," Bening memecahkan keheningan menarik kursi untuk suaminya itu.
"Terimakasih" Jawab Bayu lalu lungguh di depan papa mama nya itu. Sementara Bening memilih menjauh menghampiri bibi.
"Ning... kok malah kesini?" Bibi menatap meja makan bersamaan dengan Bayu yang masih menatap Bening. Jarak meja makan ke dapur tidaklah jauh.
"Nggak apa-apa Bi, saya makan bersama bibi saja," Jawab Bening lalu menyendok nasi hendak makan bertiga.
"Memang loe tuh bukan siapa-siapa, jadi tempat loe memang dimari!" Ketus Munah.
"Munah!" Bibi menahan marah, jika tidak ada bos nya yang sedang makan rasanya ingin membentak Munah.
"Bi... sudah..." Bening memegang punggung tangan bibi agar tidak melanjutkan marahnya.
"Sudah... makan yuk," Bening pun akhirnya makan bersama di meja dapur. Walaupun Munah bibirnya seperti pantat ayam bertelur. Namun, Bening tidak memperdulikan.
Jam 9 malam, Leanna dengan Malik pamit pulang. "Kenapa tidak menginap disini saja Ma." Cegah Bayu.
"Hais... kamu saja tidak pernah menginap di rumah Mama kok! Enak banget kamu!" Dengus Leanna. Ia menyangkutkan tas besarnya ke pundak.
Bayu garuk-garuk kepala tersenyum. "Hari minggu Ma, aku menginap disana," Lanjutnya.
"Mama tunggu Bay, ajak Bening juga, mama mau dibuatkan masakan yang enak. Kamu mau kan Ning," Leanana menoleh Bening yang berdiri agak jauh dari Bayu.
"Tentu saja saya mau Nyonya," Bening tersenyum. Ia menyandak telapak tangan Leanna kemudian menempelkan di hidung.
"Terimakasih," Leanna menutup pembicaraan lalu meninggalkan kediaman Bayu.
Bening kemudian ke kamarnya merebahkan tubuhnya di kasur. "Huh! Bohong itu tidak enak" Gumam Bening, tetapi merasa lega.
Klek
Pandangan Bening menuju ke arah pintu, rupanya Bayu menyusulnya.
"Maaf ya Ning, aku belum bisa menceritakan kalau kamu istri aku kepada papa mama," Bayu merebahkan tubuhnya di samping Bening.
"Lebih baik begitu, karena sebentar lagi kan kita akan berce... eemm... eemm..." Bening belum melanjutkan ucapanya mulutnya dibungkam dengan mulut Bayu. Namun, kali ini Bening merasakan sensasi yang berbeda. Bayu melakukan dengan lembut hingga Bening terbuai.
"Jangan katakan itu lagi aku bilang, jika kamu ulangi lagi aku akan berbuat lebih dari ini!" Ancam Bayu menatap wajah Bening sudah tidak merasa geli dengan tompel.
"Aku tidak bisa hidup satu ranjang 3 nyawa," Mata Bening mengembun. Ia sudah tidak mampu lagi bergerak dalam kungkungan Bayu.
Bayu lagi-lagi mengulangi, kali ini lebih lembut dan tidak hanya fokus dalam satu tempat, melainkan menjarah tempat-tempat sensitif milik Bening.
Bening akhirnya terlena merasakan belaian Bayu, tidak ingat lagi posisi dirinya predikat istri kedua. Walaupun Bening memahami tidak ada niat untuk menjadi yang kedua. Namun, rupanya takdir berkata lain. Kini Bening pasrah siap tidak siap dituntut untuk selalu bersabar dalam mengarungi hidup dipoligami.
Begitu juga dengan Bayu. Pria yang mempunyai istri dua tetapi terasa duda itu sudah tidak tahan lagi menahan hasrat, kala melihat tubuh mulus, padat, berisi dan kenyal tidak membuang waktu lagi.
"Beniiing..." Ucapnya serak-serak basah saat tiba di puncak kenikmatan surga dunia. Pria itu lalu jatuh terkulai di perut Bening.
Jika Bayu segera memejamkan mata dengan senyum bahagianya. Namun, berbeda dengan Bening.
Wanita yang sudah tidak gadis lagi itu, air matanya mengalir deras. Kini ia kalah, nyatanya na*su menghancurkan rencananya. Bukan tidak senang mempunyai suami seperti Bayu. Namun, ia harus siap menghadapi terjalnya jalan saat menjadi istri kedua.
"Hiks hiks hiks..." Tangis Bening semakin kencang ketika ingat poligami sangatlah tidak mudah menjalaninya. Seperti kisah yang ia baca dibuku-buku maupun yang ia lihat di sekitar.
Walaupun ada yang mampu menjalani itu hanya 1000 satu. Kendati nabi Muhammad mampu menjalankan itu. Namun, Bayu tentu hanya pria biasa, wajar jika Bening meragukan suaminya itu. Apakah bisa adil terhadap dirinya dengan Naura.
Satu jam sudah Bening menangis di tempat tidur, bayangan Lisa yang sedang berteriak-teriak di rumah sakit, seketika melintas di benak.
"Cepat sembuh ibu... aku rindu ibu," Rancau Bening menarik napas panjang. Ia bersihkan air matanya. "Aku harus hadapi apapun yang terjadi. Aku bukan wanita lemah" Batin Bening menyemangati diri sendiri. Ia kembali lagi ke niat awal, semua ini ia lakukan demi ibunya.
Tidak ada gunanya menyesali, toh selama ini pahit getirnya hidup selalu ia lewati dengan ikhlas. Allah berkali-kali mengujinya Bening yakin ia kuat.
Ditinggalkan ayahnya begitu saja, dilecehkan pria, dibuli karena tompel, ibunya sakit jiwa, dan yang membuat dadanya semakin sesak, jodohnya pria sudah beristri. Bening hanya bisa berdoa, jika semua kesulitan bisa ia pecahkan. Semoga rumah tangganya pun bahagia menuju surga yang indah bersama Bayu dan juga Naura.
Perlahan Bening mendorong tubuh Bayu dari perutnya ke ranjang, tampaknya Bayu sudah pulas maka tidak menyadari. Ia tutup tubuh polos Bayu dengan selimut, sebelum akhirnya Bening beranjak ke kamar mandi.
Pagi harinya Bening sudah selesai mandi kemudian membangunkan Bayu. "Terimakasih ya" Kecupan manis di kening Bening tiba-tiba di hadiahkan oleh Bayu.
Wajah Bening pun memerah, menatap Bayu yang belum berpakaian. "Kamu mau lagi" Bayu terkekeh.
"Sudah mandi sana." Bening mendorong tubuh Bayu hingga ke kamar mandi. Saat Bayu mandi, Bening menyiapkan keperluan Bayu untuk ke kantor termasuk pakaian. Bening memilih kemeja yang cocok untuk suaminya.
Deerrttt... Deerrttt..
Telepon Bayu di atas meja bergetar, Bening ingin tahu siapa yang telepon pagi-pagi begini. Dia melihat nama di layar bertuliskan Cute. "Cute" Bening bergumam.
...~Bersambung~...