Novel ini kisah anak dari Ira da Dave ya, pengemar pengasuh si kembar mampir yuk!
Satriya Bima Sakti, pria kaya dengan sejuta pesona, mapan dan kaya, merasa tertantang dengan tawaran omnya untuk menggantikannya menjadi Guru Matematika di sekolahnya selama setahun.
Di sekolah itulah dia bertemu dengan seorang gadis, tomboy dengan segudang prestasi ,terutama rangking keluar masuk BP. gadis itu bermana Aisha Zafira Adi Nugraha. putri pasangan Davr dan Ira.
Bagaimana pak Satriya menghadapi kenakaln gadis ini bahkan dia dengan terang-terangan mengatakan kalau menyukai dirinya.
Ikuti kisahnya.
jangan lupa budayakan klik Like serta koment di tiap babnya biar othir semangat dan
jauhkan bintang 1,2,3. karena berkarya itu susah. yang tidak suka bisa skip langsung saja tanpa jejak yang buruk
💖💖💖💖💖💖💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilham Dzaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Satria segera beranjak dari tempatnya. Kalau tidak, semuanya bisa kacau apalagi pekerjaannya belum dia sentuh sama sekali.
"Sudah segera di beresi barang-barangnya lalu kerjakan PRnya! Kalau besok kamu tidak mengerjakan tugas kamu maka hukumannya akan aku tambah!" ancam Satria.
"Yah gak asyik, masa harus mengerjakan PR? sebaiknya besok Aish libur saja deh, ini juga sudah malam, ngantuk lagi," jawab Aisha.
"Tidak ada malas-malasan, cepak kerjakan PRnya baru boleh tidur!" Satria menegaskan keputusan dia, bahkan tidak bisa di ganggu gugat lagi.
Aisha manyun, lalu dengan lesu ia bangun menuju ke arah kopernya, mengambil beberapa buku pelarajan hari Senin. Sebelum drama baru Aish segera menyusul suaminya ke kamar sebelah yang sekarang menjadi ruang kerja Satria.
"Bang, aku mengerjakan PRnya dimana?" tanya Aisha yang tidak melihat tempat kosong sama sekali.
Satria tersenyum tipis, lalu dia menyiapkan tempat di depan dia. Mereka kini saling berhadapan, separuh tempat Satria dan separuhnya lagi untuk istri kecilnya.
Dengan cepat kilat, Aisha sudah selesai mengerjakan semuanya, lalu dia segara menutup buku pelajaran, memasukkannya di dalam tas, kemudian menanyakan kembali dia tidur dimana.
"Bang, please aku tidur dimana? Mataku sudah ngantuk banget, nih."
"Aish, please jangan panggil bang juga ya! aku suamimu bukan kakak kamu," Kata Satria.
"Iya, nanti Aish pikirkan lagi, tapi tunjukkan kamar Aish!" pinta Aisha.
"Kamarnya cuma satu, kita akan tidur di kamar itu bersama," jawab atria dengan santai.
"Apa...!" Aisha menjerit mendengar kata-kata Satria.
"Ih kurangi Volume bicaranya! tidak ada kamar lain selain itu, tenang saja! Aku tidak akan memakan kamu, lihat kecil begitu!" Jawab Satria tanpa melihat sama sekali ke arah Aish, dia masih fokus pada kertas-kertas di atas meja kerja tersebut.
"Apa, Bapak bilang kecil? enak saja kecil lihat saja badan Segede ini di bilang kecil, apa coba yang kecil, jarinya? Dan yang pasti saya sudah dapat E-Ktp jadi bukan kecil lagi ya," jawab Aisha dengan kesal.
Satria menutup bolpoinnya dan berdiri mendekati gadis remaja yang sejak pertama bertemu sudah membuat dirinya gemes serta gedek ini.
"Oh ya sudah besar ya? Mana yang besar hemm? berarti sudah siap dong melayani suami?" tanya Satria dengan tatapan misterius, dia menaikkan alis dan mengedipkan sebelah matanya, yang pasti satria juga tersenyum miring.
Pria ini menunjukkan tampang seperti om-om mesum di drama yang sering Aish tonton.
"EH ampun, Pak, Om! I-iya saya masih kecil kok, masih umur sepuluh tahun jadi tolong lepaskan dan beritahu saya dimana saya harus tidur! saya tidak akan mengganggu Bapak, Om, Eh Bang eh Bee," kata Aisha yang benar-benar sudah ketakutan.
Gadis ini baru sadar kalau yang di maksud kecil itu bukan postur tubuh atau usianya, tapi ada yang lain. Satria yang sudah gemes dengan makhluk Tuhan paling aneh ini, segera mengangkat tubuh Aisha seperti karung beras. Pemuda itu menggendong istrinya di bahu kanan dia dan segera meletakkannya di kasur.
"Sudah cepet tidur! Neng Dedes kalau mau aman kamu letakkan saja guling itu di tengah!" kata Satria memberikan sebuah solusi.
Pemuda tersebut naik ke atas ranjang lalu meletakkan guling yang ada di sana sebagai pembatas tidur mereka.
"Nah begini, kamu di situ dan aku di sini! Siapa yang melewati batas guling tersebut berarti melakukan pelanggaran, kalau ada apa -apa jangan menyalahkanku," jawab Satria.
Setelah menjelaskan semuanya, Satria segera keluar dari kamar mereka dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda.
Sementara Aisha bernapas dengan lega, lalu dia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur besar tersebut. "Oke Aish, mulai sekarang lo harus tidur dengan anteng ya." Aisha bicara pada dirinya sendiri.
Gadis itu kembali bangun menuju ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mengganti pakaiannya. Gadis cantik ini mengambil tanktopnya serta mengenakan celana pendek seperti biasa disaat tidur.
Tanpa rasa berdosa sama sekali Aisha merebahkan tubuhnya, tapi anak ini merasa tempatnya kurang luas, dengan percaya diri dia langsung menggeser guling yang saat ini pas di tengah-tengah lansung dia pindak ke kanan sehingga tempat untuk suaminya jadi sempit, hanya pas untuk tubuh ukuran Satria.
" Beres!"
Aisha mulai memejamkan matanya dan langsung mengarungi alam mimpi. Ini juga pertama kalinya dia tidak menonton drakor kesukaannya, entah lupa atau apa hanya Aish sendiri yang tahu.
Pukul setengah dua belas Sattria baru menyelesaikan semuanya dan bersiap untuk istirahat, dia masuk ke dalam kamar tanpa memperhatikan ke arah ranjang, Satria segera menuju ke kamar mandi membersihakan diri dan gosok gigi, selah itu dia mengganti kemejanya dengan piyama tidurnya.
Pemuda tampan tersebut berjalan ke arah tempat tidur, tapi apa yang dia lihat saat ini sungguh bisa menggoyahkan iman siapa saja.
"Astaqfirullahaladzim," Satria melafalkan dzikir supaya dia bisa kuat.
Di ranjang pengantin tersebut, dia melihat sosok gadis dengan tubuh yang sempurna, putih serta sangat seksi, semua terlihat pas. Aisha tidur terlentang hanya dengan menggunakan tanktop dan juga celana yang cukup mini.
"Kalau setiap hati di suguhi pemandangan seperti ini, bahkan tiap malam berdampingan dengannya bisa-bisa aku tidak kuat," batin Satria.
Benar apa yang di katakan Satria, dia adalah pria normal, apalagi mereka sudah sah, serta si gadis nakal ini selalu memancing dirinya. Pria mana yang tidak tergoda.
Satria menarik selimut yang sudah terjatuh di lantai lalu memasangkan kembali pada tubuh istri nakal ini. "Ternyata dia begitu cantik kalau sedang anteng dan diam seperti ini." Sesaat pemuda ini menelan air liurnya dengan kasar, tapi dia segera mengelak, menutup tubuh indah tersebut sampai batas dada.
Dengan reflek Satria mengecup dahi istrinya. " Selamat tidur istri kecilku, semoga ini adalah jalan terbaik untuk kita berdua," kata Satria dengan lirih.
"Aku akan mencoba menerima dan membuka hatiku, semiag kau adalah yang terakhir dalam hidupku."
Satria menuju ke tempatnya yang makin sempit itu, dia langsung merabahkan diri dan memejamkan matanya, capek dan penat sudah dia rasakan, malam ini.
Memang Aish, kalau tidur tidak pernah anteng, lagi-lagi dia menendang selimut yang sudah terpasang, bahkan dia juga menendang guling pembatas tersebut, Aish malah mengira Satria adalah guling yang sebenarnya.
Bocah itu sekarang memeluk erat tubuh Satria dengan erat bahkan kakinya berada di atas perut suaminya.
Pukul tiga pagi sebenarnya Satria terbangun, dia merasakan ada benda berat menindihnya, pemuda ini membuka matanya perlahan, melihat apa yang terjadi.
Satria hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kembali tidurnya, ia kini juga iseng dan memeluk Aisha kembali. Posisi mereka sekarang cukup intim dan sangat mesra.
Pak Guru yang sejak tadi merasa hawa mulai dingin, kini rasa dingin itu menguap begitu saja setelah memeluk sang istri.