NovelToon NovelToon
Diam-diam Mencintai Mantan Suami

Diam-diam Mencintai Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Duda / Tamat
Popularitas:245k
Nilai: 4.6
Nama Author: Hasna_Ramarta

Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.

Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Marisa di Bawa Pindah

     Acara pernikahan itu telah selesai. Baik Raka dan Marisa sudah diganti baju dengan pakaian biasa. Mereka rencananya malam ini akan langsung pulang ke rumah Raka. Sebenarnya Marisa masih dilanda bingung dengan semua keadaan ini, meski cintanya pada Raka kini telah tumbuh subuh, meskipun sikap Raka tidak lembut, Marisa bertekad akan berusaha mengembalikan kelembutan itu pada Raka yang dulu. Raka yang dulu tegas tapi lembut penuh kasih sayang.

     Marisa akan berjuang mengembalikan kepercayaan dan cinta Raka padanya. Untuk saat ini Marisa akan berusaha sabar dan menerima perlakuan Raka sebagai hukuman di masa lalu yang tidak bertanggung jawab dan tidak patuh sebagai istri. Sekarang saatnya Marisa menerima hukuman dengan sikap Raka yang judes, anggap saja ini adalah bagian dari penebusan dosa Marisa di masa lalu terhadap Raka.

     "Ayo, ikut aku?" Raka mengajak Marisa keluar kamar yang didesain layaknya kamar pengantin. Raka menghampiri keluarganya yang kebetulan sedang berkumpul di ruang tengah bersama kedua orang tuanya Marisa.

     "Kalian akan merencanakan bulan madu kemana? Nanti biar Papa siapkan segalanya dari tiket dan penginapannya," ujar Pak Mardian Papanya Raka.

     "Aku belum bisa merencanakan bulan madu, Pa. Lagipula kasihan Cila kalau aku tinggalkan beberapa hari, dia pasti selalu nyari aku," sahut Raka cepat, sepertinya dia memang tidak berminat membicarakan perihal bulan madu.

     "Nanti, jika kamu ada waktu senggang di kantor, kamu rencanakanlah bulan madu. Kalian berdua perlu berduaan dulu menikmati masa pengantin. Cila bukan anak yang rewel, jadi dia tidak akan sampai rewel jika tahu Bunda dan Papanya bulan madu," usul Pak Mardian lagi sangat antusias.

     "Tidak , Pa. Kami belum membutuhkan hal itu. Bulan madu di mana saja untuk sekarang ini sama saja, toh kami pernah melewati masa itu saat kami baru menikah dulu." Ucapan Raka mulus bak jalan tol tampa saring mengungkit masa lalu. Marisa jadi malu dia hanya bisa menunduk. Celakanya saat wajahnya akan menunduk, Marqisa sang adik memberikan senyuman mengejek ke arahnya sembari mengarahkan tinju di depan perutnya, dengan maksud mengejek Marisa.

      "Baiklah kalau begitu Papa tidak akan maksa. Itu terserah sampai kamu siap." Akhirnya pak Mardian mengalah dan tidak memaksa lagi kehendak Raka.

     "Kalau begitu, Raka pamit dulu. Dan ijinkan hari ini Raka membawa Marisa ke rumah kami," ucap Raka meminta ijin pada kedua orang tua Marisa, untuk membawa Marisa pulang ke rumahnya.

     "Tentu saja, Mas Raka. Sekarang Mas Raka tidak harus pamit lagi kepada saya untuk membawa anak saya, karena sekarang anak saya sudah menjadi milik sepenuhnya Mas Raka," ucap Pak Maryana mengijinkan sepenuhnya.

     "Kalau begitu saya dan istri saya pamit," ujar Raka sekali lagi terlihat sangat bik memperlakukan Marisa sehingga Bapak dan Ibunya Marisa sangat lega dibuatnya.

     "Assalamualaikum," salamnya seraya memasuki mobilnya. Diikuti Papa dan Mamanya Raka. Ucapan salam itu kompak dibalas oleh Bu Mariam dan Pak Maryana dengan diiringi tatapan dan lambaian bahagia.

     "Alhamdulillah, Pak. Akhirnya kalau sudah jodoh tidak akan kemana. Anak kita yang dulu pernah menikah dengan Mas Raka, lalu sekarang setelah kurang lebih lima tahun, mereka dijodohkan kembali oleh Yang Maha Kuasa. Semoga kali ini rumah tangga mereka bahagia serta selalu dalam perlindungan Allah.

     Keluarga Pak Maryana dan Bu Mariam serta Marqisa saat ini sangat bahagia dengan pernikahan Marisa dan Raka.

***

     Mobil yang dikemudikan Raka kini tiba di depan rumah Raka, diikuti dua mobil lainnya lagi yang sengaja mengantar mobil Raka. Pak Mardian menurunkan cucunya supaya ikut masuk ke dalam.

     Raka memasukkan mobilnya sejenak, lalu diparkirkan dengan gagahnya di depan rumah Raka.

     "Pa, Ma, Rani, apakah mau mampir dahulu?" tanya Raka.

     "Kami tidak akan mampir. Kalau kami mampir kami takut mengganggu kebersamaan kalian. Lain kali saja. Atau kalau tidak, kalianlah sekali-sekali nginap di rumah kami," tukas Bu Marlina sembari tersenyum. Raka paham maksudnya. Mamanya sengaja berkata seperti itu supaya Raka dan Marisa tidak terganggu.

     Setelah kedua orang tua Raka juga Rani berpamitan, Raka segera membawa tubuh Cila yang sepertinya sudah lemas. Dia sebentar lagi tidur karena kelelahan.

     Mau tidak mau dengan perasaan yang sangat canggung, Marisa mengikuti Raka dari belakang, kemudian Raka menaiki tangga yang ternyata rumahnya itu cukup luas dengan dua kamar di lantai atas dan berbagai ruangan lainnya lagi, termasuk ruangan kerja Raka.

     Raka langsung memasuki salah satu kamar yang di depan pintunya terdapat stiker ganting hellokity milik Marcila. Rupanya itu memang kamar Cila. Cila segera dibawa ke dalam kamar kemudian dengan hati-hati Raka tidurkan. Bi Rasmi dan Mang Raga malam ini sudah kembali, sebab tugas mereka hanya cukup sampai pukul tujuh malam.

     Setelah menidurkan Cila, Raka segera keluar, lalu mengajak Marisa berbicara di sofa yang berada di situ. Jantung Marisa mendadak berdegup kencang.

     "Walaupun kita saat ini sudah sah suami istri, tapi aku harap kamu menghormati poin-poin yang tertera di sana," ucap Raka seraya melempar sebuah kertas yang berisi poin-poin penting perjanjian setelah menikah.

      Marisa perlahan meraih kertas yang dilempar Raka tadi kemudian dibacanya dengan seksama.

     "Tugasmu hanyalah memenuhi kemauan Cila, sebab kita menikah karena Cila. Apa yang dia minta sebisamu turuti. Termasuk jika Cila memintamu mengantar ke sekolah. Ajarkan dia hal-hal yang baik dan selebihnya, kamu tidak perlu ikut campur privasi aku. Sebab aku menikahi kamu karena demi Cila."

     Marisa selesai membaca surat perjanjian setelah menikah yang poinnya menurut Marisa sangat mudah. Dia bisa melakukan itu semua dengan mudah. Marisa menganggap ringan.

     "Satu lagi, demi menghindari kecurigaan kedua orang tua kita, kamu masih boleh tidur satu ranjang denganku tapi tidak melewati batas tidur kita. Nanti aku yang tentukan batasnya," tegasnya menambahkan poin tentang di mana Marisa harus tidur.

     "Baiklah, Mas. Akan aku jalankan poin-poin ini semampu aku," ucap Marisa mengucapkan kesanggupannya. Raka mulai memasuki kamarnya sembari menggusur koper milik Marisa.

     "Letakkan barang-barangmu di lemari itu. Kamu boleh menempatinya. Dan ingat jangan melanggar batasan yang aku buat. Sampai di situ kamu paham?" tegas Raka menatap tajam ke arah Marisa.

     Besok pun tiba, Cila yang hari ini masih sekolah mendadak merengek meminta diantar. Dengan senang hati Marisa mengantarnya. Dan apa yang terjadi di sekolah sungguh luar biasa. Teman-teman Cila bertanya perihal kedatangan Marisa ke sekolah. Dengan lantangnya Marisa menyatakan bahwa dia adalah Bunda Cila.

***

     "Huek, huek," tiba-tiba di pagi buta Raka dikejutkan oleh suara yang tidak aneh. Suara yang biasa dihasilkan dari seorang perempuan yang sedang hamil. Raka bangkit dan sangat geram. Sebenarnya siapa yang menghamili Marisa? Baru sehari menikah sudah hamil, sedangkan dirinya belum sempat menyentuhnya?

     "Pakai alat itu, dan jika kamu hasilnya garis dua maka pergi dari rumahku hari ini juga," lantang suara Raka mengusir Marisa.

     Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan Marisa, benarkah Marisa hamil?

1
Ririn Nursisminingsih
udah djhina, dicaci kok masih berthan tinggali. ajalah risa pusing bacanya
Ririn Nursisminingsih
minggat ke hotel ke marissa ini kok bodiingggg
Ririn Nursisminingsih
dasar raka dodol kmu laki2 kok ndak jelas bikin kesel
tak gibengae
Ririn Nursisminingsih
ayo digetok rame2 kepalae raka biar otaknya konek
Ririn Nursisminingsih
mulutmu raka klau ngomong
Ririn Nursisminingsih
ya allah risa kasian a bacanya pingin nangis marisa udah berubah raka jg kejam kmu
ayu cantik
suka
Nasir: Mksh byk Kak...
total 1 replies
Muna Junaidi
😍😍😍
Suyatno Galih
ini gak kebalik apa ya dlm poin syarat permintaan, yg mt pernikahan anak siapa???? yg di ksh syarat siapa. wahhh bapak sianak mabok kecubung
ay Susie
piye tow kihhh ,,, dr awal p bab ini kok gitu trs sikap si gandul nie
Atip Suryana
sebesar apapun rasa dendam mu kepada Marisa tapi lebih besar lagi rasa cintamu kepada nya rakaa
Atip Suryana
mampir MBK hasnaa
Nasir: Wahhh trmksh byk Kak, smg suka.
total 1 replies
Nur Hidayah
udah gedhe hukumnya diranjang bikin adiknya cila tp dohalalkan dulu ya
Nur Hidayah
klu dl gagal sekarang bs gol gak ya
Nasir: Lanjut Kka...
total 1 replies
Mustarika
mf kk thor, wa tau sms kk
Nasir: SMS Kak...
total 1 replies
RithaMartinE
luar biasa
RithaMartinE
ku tampolll juga niich mulutnya c'raka 😡
Nasir: Hehhehehe... kesel ya Kak...
total 1 replies
RithaMartinE
sabar ea , Marisa 🤗
Vitriani
Lumayan
Nasir: Makasih byk....
total 1 replies
Indriani Kartini
Ah baru baca novel ini mengapa mata ini ga berhenti menangis sedih bngt, Pi suka dengan ceritanya
Nasir: Makasih Kak...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!