Sebenarnya apa salahku sehingga mereka sangat membenciku, bahkan dia tega memperkosa ku dan terus membuatku menderita.
Aku ingin ingin bertanya pada mereka, tapi aku sama sekali tidak punya keberanian. Apakah hidupku akan terus begini. Lalu, bagaimana dengan janin yang ada di kandunganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'm Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Malu.
Aku terbangun dengan tubuh yang sangat lelah. Setelah berdiam diri cukup lama, otaku memutar kembali kejadian kemaren. Kejadian di mana mampu membuat diriku ingin menghilang di telan bumi saja. Aku sungguh malu pada Xavier dan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa sebin*l itu?
Aku tidak punya muka lagi untuk menemuinya. Aku menggoda dan merayunya. Aku menangis, karena malu sekali. Aku juga berdosa dan hina sekali.
Aku menggenggam erat selimut di dadaku, melihat sekeliling dan mencoba mencari di mana bajuku berada. Xavier sepertinya sudah pergi, dia tidak ada lagi di sini.
Ternyata aku salah, Xavier masih di sini. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan di pinggang terbalut handuk, dan rambut yang basah.
"Menyesal," katanya rendah. Aku menggeleng dan menutup wajahku dengan selimut.
"Aku malu, kak!"
Xavier tertawa mendengar ucapanku. Dia mendekat dan mengacak rambutku.
"Mandilah! Kita akan pulang."
Aku membukus tubuhku dengan selimut dan menuju kamar mandi. Di kamar mandi Xavier sudah menyiapkan air hangat di bathup. Aku merendam tubuhku di sana.
Xavier masuk dan menuangkan sabun cair ke dalam bathup. Busa sabun cair itu sangat melimpah. Aku menyembunyikan tubuh telanj*ngku di balik busa. Aroma sabunnya sangat nyaman dan harum.
"Jadilah anak baik," bisik Xavier dan memijat pundakku dengan lembut.
Aku tau maksudnya dari anak baik. Aku harus menuruti semua permintaan Xavier. Dia tidak akan menyiksaku. Saat bercinta tadi malam Xavier berjanji akan memperlakukan dengan baik jika aku menurutinya. Dia tidak akan menyiksaku lagi. Di juga bilang dia tidak akan membenciku selama menjadi apa yang dia inginkan.
Aku lelah sekali dengan siksaannya, aku juga tidak mau di pukuli lagi, dan yang terpenting aku bisa membuat Bu Lela dan Ribi aman.
Setelah memijat pundakku Xavier menyabuni rambutku lembut dan membilasnya dengan shower hingga rambut dan tubuhku bebas dari busa.
Setelah selesai mandi aku memakai baju, baju yang ku pakai bukan lagi baku kemaren. Xavier membeli baju baru lagi untukku. Aku baru tau sisi lembut Xavier yang seperti ini. Dia menyisir rambutku dan membiarakan tergerai untuk menutupi leherku yang penuh tanda darinya.
Aku tau Xavier sempat marah saat menemukan ku semalam. Aku tau dia akan menghukumku jika aku tidak menyetujui tawarannya.
"Sudah selesai?" tanya Xavier padaku. Aku mengangguk dan menyusulnya untuk keluar dari hotel ini.
"Kakak janji tidak akan menghukumku," kataku khawatir.
"Selama kamu menjadi anak baik."
Xavier mengecup keningku lembut dan memeluk tubuhku.
"Aku janji akan menjadi anak baik."
"Kalau begitu, tidak perlu takut hukuman. Bu Lela dan Ribi juga akan aman."
"Terima kasih kak."
"Jadilah kucingku yang manis. Aku akan memberikan apapun padamu."
Xavier sudah memangil 'kamu' padaku sejak kejadian semalam. Dia juga tidak bersuara sinis atau memandangku penuh marah lagi.
Setiap tatapannya mnuat jantungku berdebar dua kali lebih kencang dari biasnya. Setiap sentuhannya membuatku merona. Setelah kematian bunda baru kali ini aku mendapatkan kehangatan lagi. Xavier memanjakanku, sehingga membuatku terlena dan tidak bisa membencinya. Walaupun dia pernah jahat padaku.
Aku memasuki mobil Xavier dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Xavier menatapku lalu tersenyum. Aku juga membalas senyum Xavier.
"Membenciku karena kejadian semalam?"
"Tidak kak. Aku berterima kasih."
Aku menundukkan kepala, jika Xavier tidak datang mungkin aku akan merayu orang yang tidak aku kenal dan di cap sebagai gadis binal. Mungkin juga aku bertemu dengan orang jahat dan merekam ku dan menyebarkan di internet, jika itu terjadi aku lebih baik mati saja.
"Kamu ingat siapa yang memberikan obat perangs*ng padamu?"
"Aku tidak tau siapa yang memberiku obat perangsang."
"Dari reaksi yang terjadi padamu obat itu di berikan dalam dosis yang sangat besar. Dia sengaja ingin mempermalukanmu."
Xavier menggenggam tanganku erat, seakan takut hal itu terjadi padaku. Melihat dia yang mengkhawatirkanu seperti ini, membuat hatiku senang.
Xavier lalu mengecup tanganku lembut. Aku yang terus di sakiti dan abaikan sangat senang dengan perlakuan Xavier.
Bunda dari dulu memanjakanku dan tidak memperbolehkan ku melihaya kejamnya dunia. Saat dia meninggal aku kehilangan segalanya, aku menjadi orang yang lemah dan tidak bisa memebela diri. Aku membiarkan orang lain menindas dan menyakitiku karena takut jika aku melawan mereka semakin jahat padaku. Aku menjadi orang yang terbiasa di tindas dan di sakiti.
Dulu Xavier baik padaku, jadi walaupun dia menyakitiku aku tetap tidak bisa melawannya dan terus membiarkanya.
Saat Xavier baik seperti ini padaku, aku langung bisa melupakan kebencianku padanya. Aku sangat butuh tempat bersandar dan dia memberikannya padaku, jadi aku tanpa sadar menerimanya.
Handphone Xavier berbunyi dan dia langsung mengangkat pengilan itu.
"Iya Arinda. Udah gw bilang gak bisa gw sibuk."
Xavier langsung mematikan handphonenya dan membuangnya ke kursi belakang dia nampak kesal. Jika dulu dia kesal, maka akulah yang mendapat akibatnya, tapi kalo ini dia sangat lembut padaku.
Mengigat Arinda, aku ingin sekali menangis. Aku semalam bercinta dengan kekasihnya sedangkan dia terus mencoba menghubungi Xavier. Aku bersalah pada, tapi aku juga tidak ingin Xavier kembali jahat padaku.
Aku harus menyembunyikan ini dari Arinda jangan sampai dia tau. Aku tidak ingin di benci Arinda, tapi aku juga tidak ingin melepaskan Xavier. Kali ini saja aku ingin egois untuk kebahagiaanku.
"Setelah ini istirahatlah, kamu pasti lelah sekali. Setelah menemui Arinda! Aku akan kembali padamu!"
Aku hanya mengangguk dan turun dari mobil Xavier dan langsung menuju kamarku. Aku sebenarnya tidak reka jika Xavier menemui Arinda. Aku seperti wanita simpanan yang menunggu laki-lakinya menemui wanita sahnya.
Aku menangis melampiaskan sakit hatiku. Ternyata aku juga sudah jatuh pada pesona Xavier begitu dalam. Hanya butuh waktu satu malam saja untuk membalikan keadaan dari membenci menjadi mencintai.
Setelah lelah menangis aku tertidur. Tubuh dan hatiku sangat lelah. Aku butuh istirahat untuk menghadapi kenyataan yang pahit.
Aku bangun dengan kondisi tubuh yang tidak enak dan mata bengkak. Aku memaksakan diri untuk turun ke bawah. Xavier ternyata belum kembali, membuat hatiku nyeri.
Aku berjalan menuju dapur dan meminum air putih. Aku bertemu dengan ibu tiriku dan di mendapat tatapan sinis.
"Dasar bin*l," katanya sinis saat melirik ke leherku. Aku tau dia pasti melihat tanda kepemilikan Xavier di leherku.
"Rugi sekali memelihara wanita bin*l," katanya lagi sambil berlalu.
Hatiku sangat sakit mendengar apa yang dikatakan oleh ibu tiriku. Kebencianya padaku tidak pernah memudar.
Aku memaksakan diri untuk makan, pikiranku terus pada Xavier. Aku ingin dia segera kembali, aku tau jika aku jahat pada Arinda tapi sangat menguntungkan Xavier. Ku mohon maafkan aku untuk ini.
ngapain juga masih disitu...😡😡
hahahah