Hanum Hanjani sebagai menantu, semula dipuji dan diunggulkan saat masih menjadi staf perusahaan besar. Namun, saat dirinya di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja telah bangkrut membuat sikap ibu mertuanya berubah.
Hari-hari Hanum seperti berada di neraka. Ditambah lagi masa lalu Hanum dan sikap suaminya mulai bertolak belakang mengikuti permintaan ibunya.
Sanggupkah Hanum menjalani kehidupan pernikahan keduanya itu? Akankah dia mampu bertahan hingga akhir dan meluluhkan kezaliman ibu mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Penolakan Ayu
Suasana rumah terasa berbeda saat Hanum tidak ada di sana. Tidak ada lagi yang selalu bangun pagi untuk menyapu halaman, membereskan rumah, dan menyiapkan sarapan pagi lengkap dengan kopinya.
"Bu, ini sangat menyebalkan. Harusnya Ibu bisa menerima Hanum menjadi mantu Ibu. Kalau sudah seperti ini, kita juga yang kewalahan, kan? Hanum itu sudah baik sama kita. Kenapa Ibu nggak pernah kasih kesempatan? Tolong jangan buat dia setres supaya kita segera memiliki momongan," ujar Ismawan terlihat kesal karena dia sedang menyiapkan mi instan untuk sarapan paginya.
Selama Hanum pergi menenangkan diri, di kulkas hanya terisi telor dan cabai saja. Sementara di lemari yang biasanya berisi kebutuhan dapur hanya ada mi instan yang sengaja distok oleh Ismawan.
"Kamu nyalahin ibu, Is? Jahat sekali kamu!"
"Bu, tolong berdamailah dengan keadaan ini. Apalagi Hanum baru saja sakit. Lihat juga dia yang semakin hari malah kurusan begitu. Kapan kami akan mendapatkan anak kalau Ibu terus menekannya?"
Lagi-lagi semua kesalahan ditujukan Ismawan pada ibunya. Selama ini dia memang fokus bekerja dan sama sekali kurang peduli pada istrinya. Terlebih hal apa saja yang telah terjadi selama dia tidak di rumah, Ismawan tidak pernah tahu.
"Kamu bisa cepat punya anak kalau menikah dengan Ayu. Pokoknya ibu mau Ayu. Titik dan jangan bantah lagi!"
Kekesalan Kasmirah semakin meningkat. Apalagi hampir setiap hari harus mengkonsumsi obat dan salep dari dokter. Rumah juga kacau karena Ismawan tidak bisa mengerjakannya sendiri. Kasmirah sendiri juga tidak bisa melakukan apa pun selain rebahan di ranjang.
Ismawan menikmati sepiring mi goreng. Sementara untuk ibunya, dia hanya bisa menyiapkan nasi dan telur dadar. Itu pun saat masak di magic com tetap dipandu oleh ibunya. Ismawan benar-benar tidak bisa diandalkan saat di dapur karena Kasmirah selalu memanjakannya.
Sementara Hanum saat ini pergi ke tempat Wardani. Temannya itu mengajak Hanum untuk menginap di resort selama beberapa hari. Intinya untuk menyenangkan hati Hanum supaya membebaskan pikirannya dari mertua toxic dan suami yang plin-plan itu.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Aku jauh lebih baik, War. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untukku menghirup udara segar seperti ini."
Menikmati secangkir teh di pagi hari dengan cemilan yang sudah disediakan pihak resort membuat suasana pagi semakin nikmat. Hanum hampir tidak pernah merasakan dilayani seperti ini. Biasanya dia yang harus melayani sarapan seluruh penghuni rumah itu.
"Ini karena kamu sendiri, Num. Kamu yang mau untuk melepaskan segala kegundahan yang kamu pendam selama ini. Memang sangat sulit berhadapan dengan mertua bebal seperti ibu mertuamu itu."
Terkadang Hanum punya pikiran untuk melepaskan Ismawan. Namun, menelisik ke belakang bahwa dia juga masih memiliki nilai plus di mata Hanum. Walaupun terkadang banyak juga hal-hal yang menyebalkan dari dirinya.
"Menurutmu aku harus apa?"
"Terserah kamu, Num. Melepaskan pun kamu juga nggak mau. Padahal di luaran sana masih ada pria yang bisa memberikan kebahagiaan lebih dan ibu mertua yang baik. Cuma masalahnya kamu udah menutup pintu hatimu untuk orang lain. Kamu masih punya keyakinan bahwa semua orang itu bisa berubah seiring perjalanan waktu. Iya kalau ibu mertuamu itu power ranger. Masalahnya dia itu hanya manusia toxic yang nggak akan pernah berubah."
Wardani sangat yakin itu. Kalau dia bisa berubah baik, saat Hanum memutuskan untuk pergi dari rumah harusnya mencegah. Bukan malah menambah masalah dengan berencana menikahkan anaknya dengan gadis lain.
Selain cemilan, di hadapan Hanum saat ini ada sepiring nasi goreng yang spesial dipesan Wardani untuk Hanum. Nasi goreng seafood untuk sarapan pagi. Sudah lama sekali Hanum tidak makan makanan favoritnya itu.
"Aku tidak tahu, War. Kurasa kalau aku melihat nasi goreng ini harapanku tetap sama seperti ibu mertuaku."
"Maksudmu apa, Num?"
"Nasi goreng ini berada di atas piring putih, kan? Nah, setelah aku memakannya, piring ini akan kotor. Tugas cuci piring adalah untuk membersihkan piring ini kembali ke bentuk sebelum nasi goreng itu dihidangkan. Nah, aku berharap ibu mertuaku itu juga seperti itu, War."
"Bisa seperti itu kalau kamu nyucinya pakai berton-ton sabun, Num. Dia itu bukan lagi ular berbisa, tetapi belut yang masuk ke dalam drum oli. Paham nggak sih maksudku? Udah licin, licik pula."
Hanum malah tertawa mendengar penuturan Wardani. Ternyata dia juga kesal sama perlakuan ibu mertuanya selama ini. Jika bukan karena Wardani, Hanum pun tidak akan sampai di titik sejauh ini. Di mana dia bisa survive di tengah gempuran ibu mertuanya yang bersikeras menambah madu untuk Hanum.
"Loh, kenapa ketawa? Kenyataannya memang seperti itu, Num. Ibu mertuamu itu langka. Ditambah lagi punya mantu yang baiknya gak ada obat kayak kamu. Rasanya itu bagaimana, ya? Keenakan dia sih kalau menurutku."
"Udahlah, War. Aku ke sini mau menenangkan pikiran. Jangan bahas beliau terus ih. Nanti orangnya cegukan atau bersin lagi. Tahu kalau kitalah biang keroknya," canda Hanum.
Akhirnya Wardani juga menikmati sarapan paginya. Begitu juga Hanum yang terlihat bersemangat menikmati makanannya.
Sementara kembali ke rumah kediaman Kasmirah. Dia terlihat kesal karena cucian menumpuk. Ismawan diminta untuk mengantarkan ke laundry yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, tetapi anaknya itu lupa dan buru-buru pergi ke pabrik.
Kasmirah meminta Ayu datang ke rumah, tetapi ditolak oleh gadis itu melalui sambungan telepon. Masih ada ganjalan yang membuatnya tidak bisa datang ke rumah itu.
"Kenapa nggak bisa datang, Yu?"
"Maaf, Bu. Ayu tidak mau dituduh menjadi pelakor oleh orang-orang. Ayu setuju menikah dengan mas Is karena Ibu, tetapi kalau mbak Hanum nggak setuju, Ayu bisa apa?"
Ingin menjadi madu, tetapi tidak mau dituduh sebagai orang ketiga di dalam rumah tangga Ismawan. Lucu sekali Ayu ini.
"Ayu, ibu janji sama kamu akan memastikan pernikahan kalian berlangsung. Hanum sedang tidak ada di rumah. Kamu dan Ismawan bisa menikah besok. Ibu yang akan mengurus semuanya."
Ayu tidak mau. Dia mau kalau Hanum lah yang meminta Ayu menikah dengan suaminya. Walaupun Ayu sudah jatuh hati pada pesona Ismawan, tetapi kalau untuk menemani Kasmirah yang sedang sakit, Ayu akan menolaknya.
"Maaf, Bu. Ayu nggak bisa. Lain kali saja Ayu akan datang kalau mbak Hanum ada di rumah," ujarnya kemudian memutuskan sambungan secara sepihak.
Kasmirah malah semakin kesal pada Ayu. Calon mantu keduanya itu menyebalkan sekali. Padahal Kasmirah menjadi seperti ini karena ingin menyiapkan teh untuk calon menantunya itu.
"Awas saja kamu, Ayu. Akan kupastikan Ismawan akan segera menikah denganmu. Setelah itu, kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Hanum lakukan selama ini. Pokoknya harus mau nurut sama aku," geram Kasmirah.